
Biru masih tidak menyangka jika ini kedua kalinya dia harus masuk rumah sakit untuk dirawat gara-gara berkaitan dengan Mario. Otaknya mulai berpikir keras, apa benar Mario sengaja melakukan ini semua? Ah tidak. Biru menggeleng masih dengan posisi berbaring, otaknya sedang berdebat. Apakah ini memang hanya kebetulan atau disengaja.
Tubuh Biru sudah terasa hangat setelah diganti, tangannya juga sudah dipasang infus. Biru meraba keningnya dan menggaruknya. Terdengar langkah kaki kembali seusai beberapa perawat meninggalkan dia, Biru membuka matanya, dan di sampingnya Dipa berdiri mematung menatapnya, Biru membuang pandangan. Bukan karena sebel kali ini, tapi lebih ke merasa malu. Meskipun tidak tahu prosesnya saat menyelamatkan dia di kolam tadi, yang jelas Dipa lah orangnya yang menyelamatkan dia. Ah rasanya dia ingin menghilang ditelan bumi saat ini juga.
“Apakah saya perlu mengabari nyonya,?” tanya Dipa memecah kesunyian di antara mereka, untuk mengabari nyonyanya dia harus menunggu persetujuan dari Biru. Dilihatnya wajah Biru, sudah lebih baik dari awal dia membawanya kesini, Dipa sangat bersyukur.
“Jangan, jangan kasih tahu bunda atau siapapun, please bilang aja gue setelah ini mau ke apartemen, dan jangan lupa lo ngawal gue,” jawab Biru, dia sudah memikirkan jawaban ini matang-matang, Biru tidak ingin orang tuanya kembali cemas gara-gara ulahnya. Biru menggigit bibirnya, perasaannya campur aduk.
“Baik nona,” jawab Dipa singkat, dia menurut saja, yang terpenting Biru baik-baik saja. “Sebentar lagi pindah ruangan,” imbuh Dipa. Biru mengangguk kecil, lalu kembali melihat ke arah lain dan kemudian dia memejamkan matanya.
Dipa berjalan menjauh dari Biru, mengawasi gadis itu dari kursi yang ada di sudut IGD, sambil menunggu Biru masuk ke kamar perawatan. Dipa memainkan ponselnya dan sesekali melihat Biru yang masih berbaring miring memunggunginya. Entah apa yang sedang ada di pikiran gadis itu. Dipa sedang memandang video yang ada di
ponselnya, masih ragu apakah dia akan menunjukkan apa yang diperoleh di tempat acara tadi. Dipa mengusap wajahnya, menghela nafas dan tidak habis fikir gadis itu disakiti sedemikian rupa.
Biru membalik wajahnya dan berusaha bangun, Dipa yang melihat Biru sedang mencari sesuatu pun segera mendekat.
“Apa yang sedang nona cari,?” Dipa sudah berdiri di samping ranjang Biru.
“Ponsel gue mana,?” tanya Biru.
“Ini,” Dipa mengulurkan ponsel Biru yang dia simpan di saku jaketnya. Biru mengambil ponselnya dan memencet salah satu nomer yang tersimpan di kontaknya.
“Nggak jadi, kirim ke rumah aja, nanti gue kirim alamatnya,” ucapnya tanpa basa basi. Biru lantas menyudahi panggilannya dan kembali menyerahkan ponselnya pada Dipa.
__ADS_1
Kamar perawatan menjadi terasa sunyi, tidak ada percakapan antara Dipa dan Biru. Biru berada di atas
ranjangnya, sedang menatap langit-langit kamar, sesekali menggaruk kepalanya. Dia benar-benar bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Sementara Dipa juga sedang bergelut dengan nuraninya.
“Nona,” ungkap Dipa akhirnya, Biru yang sedari tadi sedang bimbang itu menoleh.
Tapi Dipa kembali ragu, dia hanya mendekat dan kembali diam.
“Lo tahu kenapa gue nggak mau ngabarin nyokap? Bunda itu terlalu baik, baiiiiik banget, dan gue tau gue bukan anak yang baik, gue selalu ngecewain Bunda sama Papa,” Biru mengungkapkan isi hatinya. Dia menggigit bibirnya, dia merasa sudah membuat kecewa orang tuanya. “Gue yang badung, suka keluyuran, kuliah nggak serius, mabok, dahlah bad banget gue yak,” Biru menertawakan dirinya sendiri, matanya menerawang melihat ke arah lain, sedangkan Dipa menatap wajah Biru dengan seksama. “Sampai-sampai gue dapat pengawal, dan gue nggak bisa bebas seperti dulu,” Biru kembali menertawakan dirinya sendiri.
“Maaf jika membuat nona tidak nyaman,” Dipa menganggukkan kepalanya.
“No, ini bukan salah lo, bunda baik banget, abang gue, bang Rendra, dan juga Papa, baik banget mereka, gue aja yang keterlaluan,”
Dipa masih berdiri di dekat ranjang Biru sambil mendengarkan dengan seksama.
Dipa terdiam, dia menata hatinya dengan mencoba tersenyum. Biru masih menunggu cerita Dipa.
“Mama adalah orang yang baik,” ada yang sakit saat kalimat itu keluar, ya…tenggorokannya terasa sakit. “Sama seperti ibu yang lainnya,” hanya itu yang keluar, karena dia tidak bisa menceritakan apapun lagi. Batinnya kembali sakit.
Biru tersenyum, dan akhirnya tertawa. Dipa menatap Biru heran, apakah ceritanya ada yang lucu sehingga membuat gadis itu tertawa.
“Lo itu ya…bahkan cerita aja sesingkat itu,” gumam Biru masih mengulum senyum, Dipa pun ikut tersenyum.
__ADS_1
Nyatanya tidak buruk-buruk amat punya pengawal seperti Dipa, dia tidak neko-neko dan baik memang, sangat professional.
“Lo bisa bela diri nggak sih, perasaan lempeng-lempeng aja, palingan cuma gendongin gue aja, secara gue nggak gemuk, badan gue proporsional jadi jelas lo bisa banget angkat gue,” ledek Biru.
Dipa hanya tersenyum tipis, tidak perlu menunjukkan apa yang dia bisa kepada Biru terang-terangan.
“Ah lo pasti nyogok abang gue buat jadi pengawal gue, lo pasti sudah kenal abang gue, jadi lo dapat jalur khusus,”
“Nona harus sembuh, dan nona berhak bahagia,” Dipa tidak menanggapi Biru dengan serius, dan kalimat itu yang meluncur. Andai Biru tahu apa yang sebenarnya terjadi, pasti gadis itu akan terluka.
“Tapi gue penasaran banget, rendang yang lo bawa beli di mana? Gue mau!” pekiknya. Dipa yang sudah membalikkan badannya pun kembali melihat ke arah Biru.
“Uti yang buat,” jawabnya.
“Nenek lo,?”
Dipa mengangguk.
“Gue mau,”
“Setelah nona sehat, nanti saya bilang ke Uti,”
“Gue ikut,” pekiknya semangat, Dipa kembali menyunggingkan senyumnya melihat Biru sebahagia ini. Dia tidak ingin sama sekali Biru terluka, biarkan Biru bahagia seperti ini. Inilah harapannya.
__ADS_1
“Eh beneran kan lo nggak ngasih tahu bunda atau siapapun kalau gue di sini,?” Biru memastikan. Dipa mengangguk.
“Makasih ya,” ucapnya dengan tulus. Ternyata Dipa tidak seburuk apa yang dia kira. “Makasih untuk semuanya, lo udah nyelametin gue” senyum Biru memudar, dia berbicara dengan nada serius.