Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Ada Rendang, Pusing Hilang


__ADS_3

Nafas Biru sudah teratur, itu artinya dia sedang tidur. Baru saja seorang perawat masuk ke ruangan Biru untuk menyuntikkan obat dari infus.


“Sudah mas,” ujar perawat perempuan tersebut dengan ramah.


“Terima kasih sus,” ungkap Dipa.


Sepeninggal perawat tersebut, Dipa kembali ke ranjang penunggu, seharian dia belum berbaring, dan baru jam 3 dinihari ini dia bisa berbaring. Rasa kantuknya hilang entah kemana, otaknya masih dipenuhi rasa bersalah. Andai saja dia berada di dekat dengan Biru, maka dia bisa sesegara mungkin. Ah tapi sama saja, toh bencana tidak ada yang tahu. Semoga hasil tesnya besok baik-baik saja.


Dipa memejamkan mata sejenak, merasa ada rasa kantuk yang mulai menghinggapinya.


Biru terbangun, kepalanya masih terasa pusing. Tangannya memegang kepala dan memijitnya.


“Kenapa masih pusing banget? Mana gue kebelit pipis lagi, arrrgh,” Biru mengeluh. Bersiap untuk bangun. Jika biasanya dia akan dengan sigap bangun dari terlentang, kini dia merasa sangat kesulitan.


“Duh,” Biru yang baru berhasil mengangkat kepalanya sedikit kembali terhempas lagi.


“Arrrgh,” Biru mengerang.


Dipa membuka matanya mendengar suara dari arah Biru. Mengusap matanya dan memperhatikan Biru berusaha bangun. Tanpa diminta, Dipa bergegas meninggalkan bednya dan menghampiri Biru.


Dipa menyangga leher Biru belum tahu apa tujuan Biru ingin bangun dari bednya. Biru berhasil duduk di bednya, tapi membayangkan berjalan ke kamar mandi terasa berat.


“Apa yang bisa saya bantu,?” tanya Dipa.


“Gue pengen kesana,” Biru menunjuk kamar mandi, Dipa melihat telunjuk Biru dan memahami maksud Biru. Dipa mengerjabkan matanya.


“Maaf, saya akan gendong Nona,”


“Buruan gue kebelet,” Biru kehabisan akal karena benar-benar kebelet.


Dipa segera menggendong Biru, Biru memegang infusnya. Sampai di kamar mandi, Biru memegang tembok untuk bisa duduk di toilet.


“Lo tungguin di depan pintu,” titah Biru.


“Baik Nona,” Dipa mengangguk, tanpa diminta dia juga akan berjaga di sana.

__ADS_1


Biru menopang kepalanya dengan sebelah tangan yang tidak berinfus, dengan susah payah Biru membenarkan bajunya. Kenapa dia merasa begitu pusing, padahal tadi tidak separah ini.


“Aduh,” Biru berteriak saat menyadari cairan infus yang dia letakkan di pangkuannya jatuh begitu saja.


Dipa yang berada tepat di depan pintu kamar mandi pun mendengarnya, nalurinya ingin mengecek apa yang terjadi di dalam, jangan-jangan Biru terjatuh. Tangannya hendak membuka pintu, tapi batinnya melarang. Tidak etis.


“Nona…Nona baik-baik saja,?” tanya Dipa akhirnya untuk memastikan, tidak ada jawaban dari dalam. Membuat Dipa semakin khawatir.


“Nonaa….,” ulangnya lagi.


“Lo nggak usah masuk, gue baik-baik saja,” jawab Biru akhirnya, padahal kepalanya masih pusing.


“Gue beres,” teriaknya dengan sekuat tenaga.


Dipa membuka pintu dengan segera, takut terjadi apa-apa dengan Biru, takut jatuh atau pingsan. Tanpa berkata apa-apa, Dipa mengangkat Biru kembali ke bednya.


Setelah Biru kembali ke bednya, dia menepuk dahinya.


“Kenapa gue bodoh banget, ngapain jug ague minta antar Dipa? Bukannya ada suster, kalaupun minta kan gue bisa pakai kursi roda,” gumamnya. “Ah bodo ah,” Biru meraih selimut dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepalanya tidak kelihatan.


Dan herannya lagi, kenapa Mario mendadak hilang saat kejadian itu. Salah satu hal yang dia sayangkan. Biru menghela nafas panjang di balik selimut.


“Ponsel gue…,” Biru membuka selimutnya, melihat Dipa yang baru saja kembali ke kamarnya.


“Ini ponsel Nona,” Dipa meletakkan ponsel Biru di meja samping bed Biru. “Besok saja, sekarang Nona istirahat,” belum juga Biru meraih ponselnya, Dipa sudah meberikan peringatan. Biru pun menurut, dia kembali menyelimuti tubuh hingga kepalanya dan mencoba tidur.


“Kruuuuk,” terdengar suara perut Biru.


“Dih….kenapa ini perut nggak mau diajak kerjasama sih,?” Biru menggerutu sambil mengusap perutnya.


“Gue lapar, cariin gue makan sekitaran sini, atau nggak gitu Lo bantu orderin gih,” pinta Biru.


Dipa yang baru saja hendak merebahkan diri pun tidak jadi, dia dengan seksama mendengarkan permintaan Biru.


“Nona mau ini,?” Dipa mengangkat sekotak rendang yang dibawa dari rumah Uti tadi, benar-benar rendang itu masuk ke dalam kamar rumah sakit di mana Biru dirawat, karena dia tadi tidak sempat meletakkan ke dalam kamarnya. Sejatinya dia akan membaginya dengan pak Budi.

__ADS_1


Apa boleh buat, Biru mengangguk kecil. Dan saat mendengar rendang, rasanya cacing-cacing di perutnya sudah tidak sabar lagi untuk bisa merasakannya. Pasti nikmat, karena ini adalah salah satu makanan favoritnya.


“Ini.” Dipa beranjak dari tempatnya dan membawa sekotak rendang dengan aroma yang benar-benar menggoda selera.


“Saya carikan nasi di bawah, pasti ada yang jualan sekitar sini,” Dipa menawarkan, rendang dengan nasi hangat sudah sangat nikmat.


Biru menggeleng.


Dipa membantu Biru untuk duduk perlahan agar bisa makan dengan nyaman. Menyangga tubuh Biru dengan bantal.


“Lo jangan buat gue gendut, gue nggak mau karbo, ini cukup,” Biru mulai menyendok rendang dan menyuapkan ke mulutnya, mengecapkannya, sekali, dua kali. Dan rasanya membuat matanya membulat.


“Wo…Lo dapat dari mana,? Beli di mana,?” tanya Biru merasa takjub dengan rasanya. Dipa tersenyum tipis. “Bangun nanti pasti pusing kepalaku akan hilang dengan rendang ini,” guraunya, dan kembali lagi Dipa tersenyum mendengarnya.


“Habiskanlah jika Nona suka,” Dipa dengan senang hati mempersilahkan.


“Lo benar-benar mau buat gue gendut,” protes Biru, berbeda dengan kalimat yang meluncur dari bibirnya, nyatanya lidah dan perutnya masih mau menghabiskan apa yang ada di depannya.


Dipa melihat Biru yang sedang makan agak-agak merepet matanya, bukan takut jika Biru menghabiskan makanannya, tapi takut Biru nanti sakit perut.


"Kenapa Lo lihatin gue? nggak ikhlas makanan ini gue makan?" ujar Biru yang diam-diam melihat ekspresi wajah Dipa. Dipa gelagapan tak menyadari jika Biru memperhatikannya.


"Buk...bukan," jawabnya sambil mengibaskan kedua tangannya.


"Tenang aja, perut gue aman, kalau ini mah nggak bakalan buat perut gue diare," ujarnya pongah, karena sejatinya dia suka makanan pedas, dan memang sekuat itu.


Dipa mengangguk, semoga saja benar apa yang diucapkan Biru, semoga tidak timbul masalah baru bagi kesehatan Biru.


Biru mengelus perutnya, Dipa mengambilkan segelas air untuk Biru. Terasa kenyang perutnya kini, lumayan untuk ganjel perut sebelum sarapan datang nanti.Biru melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi. Setelah membereskan kotak makan dan juga gelas bekas air minum Biru, Dipa pamit untuk keluar sebentar.


Biru kembali berbaring dan berusaha untuk tidur, namun dia teringat belum tahu kabar Mario sejak semalam. Biru mengambil ponsel yang ada di sampingnya, ingin mengecek ponselnya dan memastikan jika Mario baik-baik saja.


Saat melihat ponselnya, tidak ada satupun pesan dari Mario. Yang ada pesan masuk dari Ros dan Luna. Serta ada berapa puluh panggilan dari Dipa semalaman. Ternyata Dipa mencarinya sebegitunya.


Biru menatap layar ponselnya dengan raut wajah sayu, entah apa yang ada di pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2