
“Bun, jangan lupa nanti siapkan kamar yang nyaman untuk Dipa,”
“Iya mas, tadi sudah ketemu Pak Budi, sudah aku suruh menyiapkan semuanya,” ungkap Ganis pada suaminya.
Biru mengerjab, bergantian melihat wajah Papa dan Bundanya bergantian. Apa lagi yang akan dilakukan orang tuanya padanya kali ini. Kamar? Untuk Dipa? Biru mengoleskan selai kacang pada rotinya.
“Kenapa Bun? Buat apa,?” hasrat keponya sudah tak tertahankan untuk bertanya.
“Mulai hari ini Dipa akan full 24 jam di sini, jadi dia butuh kamar,” jawab Bundanya.
“What,?” mata Biru membulat, tidak peduli ada Papanya di meja yang sama.
“Kenapa,? Nggak nyaman,?” tanya Saga menatap Biru, Biru melihat Papanya sambil tersenyum kaku, lalu menggeleng.
“Enggak…nggak apa-apa Pa…,” Biru menjawab.
“Kamu mau ke kampus kan,?” tanya Saga lagi. Biru mengangguk. “Bareng Papa sekalian,” ujarnya menawarkan. Biru buru-buru menggeleng. Lebih mending bareng Dipa, karena jika bersama dengan Papanya, dia khawatir akan mendapatkan ceramah gratis.
“Ok kalau memang bareng Dipa, dia sudah siap sejak pagi menunggu kamu, jadilah anak baik dan manis ya…” Saga bangkit dari duduknya, dia sudah menyelesaikan sarapannya. Dia mendekat ke arah Biru dan mengelus rambut Biru lalu mengecup puncak kepala putrinya itu.
Ganis segera bangkit dari kursinya dan membuntuti Saga ke dapan, mengantarkannya hingga masuk ke dalam mobil.
Biru menyudahi sarapannya, hari ini ada kuliah pagi. Dan semenjak ada Dipa, dia benar-benar merasa tidak bebas dan selalu diawasi, hingga dia tidak punya kesempatan untuk membolos kuliah, tidak ada kesempatan untuk party seperti dulu, dan jam kencannya pun sangat berkurang drastis.
Biru mendengus sebal di gazebo depan kelasnya, dia malas kemana-mana setelah kuliah pagi ini, sambil menunggu jam kuliah selanjutnya, Biru duduk santai di sana sambil membuka media sosialnya. Dengan wajah tersenyum dia mengupload foto bareng Mario berdua.
“Ih…upload lagi,” gumam Ros.
“Apaan,?” Luna kepo.
__ADS_1
“Ini,” Ros menunjukkan media sosial Biru yang muncul di berandanya.
“Hah…bucin banget lo Bi,” ujar Luna.
“Biarin donk…cowok cowok gue,” Biru nggak peduli. Luna menyenggol lengan Ros.
“Bisikin nggak nih,?” tanya Luna pada Ros.
“Apaan kalian,?” Biru melihat Luna dan Ros bergantian.
“Lo pernah nggak sih masuk beranda media sosialnya Mario,?” tanya Ros tanpa basa-basi. Biru menatap Ros, mencoba mengingat. Memang benar, tidak sekalipun fotonya masuk ke media sosialnya Mario.
“Ya nggak apa-apa donk, dia memang nggak suka begitu, tapi yang jelas dia suka sama gue,”
Ros menatap Luna dengan tatapan aneh, antara tega dan nggak tega menyampaikan apa yang dilihatnya semalam. Saat mereka pergi party berdua, dia melihat Mario datang bersama dengan cewek sexy, entah siapa dia tidak mengenal cewek itu. Mario sedang mabuk berat dan menci*m cewek itu, mesra banget. Bahkan belum
pernah dia melihat Mario mesra dengan Biru seperti itu.
“Apaan? Jangan buat penasaran deh,” Biru menatap Ros dan Luna.
“Bi, semalem gue lihat Mario,” ungkap Ros.
“Ya biasa kan…Mario emang suka keluar malam, terus kenapa,? Kalian party,?” tanya Biru.
“Bukan gitu maksudnya,” Ros mengambil ponselnya dan menunjukkan kepada Biru, sebuah foto dan juga video yang memperlihatkan kemesraan Mario dengan cewek tersebut. Diam-diam dia mengambil foto dan video semalam.
Biru mengamati dengan seksama, dan nampak meskipun dari jauh itu adalah Mario. Biru merasa panas dada, mereka benar-benar mesra.
“Ah dia lagi mabuk,” sergahnya mencoba menepis rasa panas di dadanya.
__ADS_1
“Semabuk-mabuknya dia, pernah nggak sih dia mesra sama elo,?” tanya Luna. Biru kicep, seingatnya tidak pernah sekalipun Mario mesra sama dia.
“Dan Mario datang sama Sean dan Lukas juga, ini loh ada Sean dan Lukas juga, mereka akrab banget,” Luna ikut menjelaskan. Ini memang kenyataan pahit, tidka hanya sekali ini Mario menyakiti Biru, tapi nyatanya Biru masih saja bucin dengan Mario.
Biru menghela nafas panjang, mencoba menahan amarahnya. Ini memang bukan yang pertama Mario melakukannya, tapi dia masih bisa memaafkan. Biru menahan rasa sakit di tenggorokannya, dia juga nggak tahu mengapa dia bisa sebucin ini sama Mario. Biru mengambil tasnya dan meninggalkan Ros dan Luna.
“Mau kemana Bi? Kan masih ada kuliah,”
“Balik, kepala gue pusing banget,” ujar Biru sambil berlalu. Luna dan Ros saling bertatapan heran. Merasa jahat, tapi labih jahat lagi kalau dia tidak memberiktahukan pada Biru.
Biru berjalan cepat menuju parkir mobilnya, rasanya air matanya sudah ingin tumpah. Dipa yang berada di dalam mobil pun heran dengan kedatangan Biru yang katanya baru akan selesai kuliah jam 12 nanti. Buru-buru Dipa membukakan pintu untuk Biru.
Biru menghempaskan tubuhnya di kursi, air matanya benar-benar lolos dari pelupuk matanya. Hatinya terasa sakit, dadanya terasa sesak. Biru mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
“Jalan,” Biru meminta Dipa menjalankan mobilnya. Dipa segera menyalakan mesin mobil dan keluar dari area parkir. Tangan Dipa mengulurkan tisu untuk Bira. Biru yang sudah tidak peduli dengan keadaannya sekarang pun mengambil uluran tisu tersebut, mengambilnya dan membersihkan air matanya. Beberapa waktu dia menuntaskan tangisannya tanpa peduli bagaimana Dipa menilainya.
“Bawa gue ke mana saja,” ujar Biru setelah dia bisa menguasai air matanya, suaranya memang masih parau. Tapi dia sudah bisa menguasai tangisannya.
Dipa nampak terdiam, bukan karena tidak mendengarnya. Karena dia sedang berfikir mau diajak kemana. Meskipun dia tidak tahu masalah yang sedang dialami oleh Biru, tapi dia tahu jika Biru benar-benar terluka. Dia butuh tempat untuk menenangkan diri. Jika pergi ke mall rasanya kurang pas, Dipa masih berfikir.
“Pantai,?” tanya Dipa. “Ehm..maksud saya kan ada itu café yang ada di pinggir pantai, mungkin nona sudah pernah kesana, cukup tenang dan menyenangkan,”
Biru menyipitkan matanya yang masih sembab dan memerah, dia belum pernah tahu tempat yang dimaksud oleh Dipa.
“Terserah lo.” Jawabnya cuek.
Dipa segera berbalik arah mengganti rute perjalanannya. Agak sedikit memakan waktu memang, karena hampir satu jam lebih sampai di tempat tersebut. Sepanjang perjalanan memang sangatlah indah, karena banyak pepohonan. Dan herannya, Biru belum pernah sama sekali ke tempat tersebut. Sepanjang perjalanan menuju tempat tersebut, Biru melihat keluar jendela. Tiba-tiba lupa saja dengan apa yang dialaminya hari ini, dia begitu menikmati perjalanannya.
Mobil mulai melambat saat memasuki area parkir, Biru bergegas mencari kacamata hitamnya di dashboard mobil dengan cara mengulurkan tangannya ke depan. Sadar dengan apa yang dilakukan Biru, Dipa membantunya. Biru menemukan kacamatanya dan segera memakainya, tidak lucu jika matanya harus kelihatan bengkak.
__ADS_1
Dipa keluar dari mobil, Biru mengikutinya. Mereka mencari tempat yang sekiranya pas, dan Dipa meminta Biru yang menentukan.