
Karena masih terlalu sore, maka balapan pun belum dihelat. Hanya para anak muda sedang nongkrong di tempat tersebut. Biru melambaikan tangan pada Mario yang sudah duduk-duduk di sana. Dia sudah mewanti-wanti pada Dipa agar tidak menjelaskan apapun keberadaannya kepada siapapun. Untuk sementara Dipa masih tutup mulut sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Dipa pun menunggu di mobil, jaraknya jauh dari tempat tersebut. Meski begitu, Dipa pun harus berjaga-jaga agar tidak terjadi apa-apa pada Biru.
Dipa keluar dari mobil dan mencari tempat untuk duduk, beberapa mobil modif masuk ke area di mana Biru masuk ke area tersebut. Dipa sudah sangat kenal tempat ini, ini adalah tempat balapan illegal di tempat ini.
Dipa menggelengkan kepalanya, dia tahunya Biru izin mau ke pesta ulang tahun. Dia mulai tahu bagaimana Biru.
“Jadi inikah kamu,?” gumam Dipa sambil tersenyum kecil. Dipa masih berada di tempatnya dan masih memperhatikan sekeliling, semakin malam semakin ramai kendaraan yang datang. Tujuannya tidak lain adalah untuk balapan liar. Dipa melirik jam tangannya, sudah hampir tengah malam. Dan tak jauh darinya suara
berisik semakin terdengar, suara deru mobil yang sengaja dibunyikan keras disambut suara teriakan manusia.
Dipa berdiri dan memperhatikan dari jauh, matanya mencari keberadaan Biru. Tapi dia belum berhasil menemukannya.
Meskipun sudah malam, Dipa mengambil topi dan masker di dalam mobil untuk dikenakan. Dia mencoba masuk ke arena dengan pertimbangan keselamatan Biru, jika ada sesuatu terjadi, maka dia akan merasa gagal.
Biru terlihat sangat bahagia, ternyata tidak sesulit itu untuk bisa keluar. Biru bergelendot manja di lengan Mario.
“Mau ikut masuk,?” tanya Mario. Biru melirik ke arah Mario, lalu mengangguk. Dia akan ikut masuk ke dalam mobil saat nanti Mario akan balapan.
“Wuuuuu……..aku bahagiaaaaa,” teriak Biru sambil mengangkat kedua tangannya. “Makasih beb, kamu sudah membuat duniaku berwarnaaa,” teriaknya sambil menatap Mario dengan wajah bahagia.
Dipa memperhatikan Biru dari jarak jauh, dia sengaja tidak terlihat. Dia memantau dan memastikan Biru dalam keadaan baik-baik saja.
Balapan pun dimulai, kali ini Mario belum beruntung karena dia harus puas berada di posisi kedua alias kalah. Raut wajahnya nampak kesal.
“Beb….jangan sedih donk…santai aja,” bujuk Biru setelah keluar dari dalam mobil. Tidak ada jawaban dari Mario.
“Brengs*k!”
Mario menarik tangan Biru lalu mengajaknya menjauh dari arena, dia mengeluarkan beberapa minuman keras dari dalam mobilnya.
“Minum…biar sumpeknya hilang,” Mario membuka tutup botol minuman oleng itu.
Biru menatap Mario, agak ragu.
__ADS_1
“Ayo beb, nggak biasanya kamu diam aja,?” Mari menyipitkan matanya, dia sudah meneguk minuman tersebut dari botolnya.
Biru agak ragu, jika biasanya dia bisa mabuk sesukanya, itu tidak jadi masalah. Namun sekarang akan jadi masalah.
“Aku agak pusing beb,” ujar Biru.
“Hum? Kamu sakit,?” tanya Mario yang baru saja meneguknya lagi.
“Enggak…tapi agak pusing aja,” ungkapnya.
“Minum sedikit lah,” Mario membujuk.
“Ok deh,” Biru akhirnya bersedia, tapi dia tidak mau hingga mabuk.
Dipa masih menahan dirinya, tapi netranya masih tetap memantau di mana Biru berada. Dipa mengambil ponselnya dan menuliskan pesan untuk Biru. Nomer itu masih belum bernama di ponselnya.
Biru tidak membuka ponselnya dan mengabaikan pesan itu. Dia masih terus minum. Dipa mengambil langkah selanjutnya, dia memencet nomer tersebut.
“Siapa noh yang telpon? Nyokap,?” tanya Mario.
“Itu ada panggilan ponselmu,”
“Oh,” Biru mengernyitkan dahinya, tangannya meletakkan botol cap oleng lalu merogoh ponsel yang ada di saku jaketnya.
“Bodyguard,?” Biru mengernyitkan dahi, ya nama itu yang dia tulis sebagai nama kontak di ponselnya. “Ya?” Biru menggeser tombol hijaunya, tapi keburu panggilan sudah dipungkasi oleh Dipa. Biru kembali mengernyitkan dahi. Ada pesan masuk, dan ternyata dari Dipa.
Sudah terlalu larut, mari kita pulang.
Pesan itu terbaca oleh Biru. Biru menghela nafas panjang, Dipa mengingatkannya kembali bahwa dia punya pengawal sekarang. Biru memejamkan mata sejenak.
“Siapa,?” suara itu membuyarkan lamunannya.
“Oh..nyokap, karena tadi aku bilang akuagak pusing, jadinya Bunda khawatir,” Biru berbohong.
“Disuruh pulang,?” tanya Mario. Biru mengangguk. Mario menatap Biru dengan wajah kecewa.
__ADS_1
“Ok pulanglah, kamu bisa kan pulang sendiri,?” tanya Mario, tidak pernah sekalipun dia mengantar Biru pulang.
“Oh iya,” Biru mengangguk meskipun dia sedikit kecewa, sebenarnya dia ingin sekali waktu Mario mengantarnya, sedikit memberikan perhatian padanya.
Biru mengusap wajahnya dengan tisu, lalu melambaikan tangan pada Mario dan meninggalkannya. Mario membiarkan Biru berjalan sendirian keluar arena menuju tempat dia memarkir mobilnya. Biru lega, karena Mario tidak bertanya apapun.
Biru berjalan ke arah mobilnya dengan wajah bersungut-sungut, merasa sedang diperintah oleh Dipa.
Biru masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Dipa. Biru melirik ke arah Dipa dengan tatapan tajam. Dipa tidak peduli.
“Gue tidak suka kalau lo ikut campur urusan gue,” sungut Biru.
“Ini sudah terlalu malam untuk nona, dan ini tanggung jawab saya,” jawab Dipa enteng.
“Lo dibayar berapa sama abang,? Biar gue bayarin dengan syarat lo nurut sama gue,? Gue nggak bisa kalau dikekang seperti ini,” teriaknya.
“Saya akan tetap loyal dengan Mas Kawa,”
“Hiiish,” Biru mendesis, sebal. “Lo menyebalkan! Pasti lo jomblo, makanya sangat menyebalkan,” Biru mengatai Dipa.
Mendengar kalimat itu Dipa tersenyum kecil.
“Minumlah, nona sedikit mabuk,” Dipa mengulurkan sebotol minuman air putih. Biru menghela nafas panjang dan menerima air tersebut.
“Gue itu senang kalau di luar, dapat kesenangan daripada di rumah jadi anak manis yang hanya ngejogrok di kamar,” racaunya setelah meneguk air putih dari Dipa. “Ini nggak lo kasih racun kan,?” Biru mencurigai Dipa. “Gua anak orang kaya, gue cantik, gue menarik, jangan-jangan lo tertarik sama gue. Eh tunggu! Ini nggak lo kasih obat perangs*ng kan,?” Biru kembali menuduh Dipa.
Mendengar semua ocehan Biru yang semakin kemana-mana, Dipa tersenyum. Menganggap ini terjadi karena Biru sedang sedikit mabuk.
“Lo malah senyum-senyum…heh ingat ya, jangan sampai Mario tahu lo, sembunyi dan jangan sampai bilang kalau lo pengawal gue,”
“Maaf nona, saya mengajak nona pulang karena saya takut nona mabuk dan nanti orang tua nona akan melarang nona keluar kemanapun,” ungkap Dipa.
“Ish…sok perhatian,” Biru memiringkan bibirnya. “Gue nggak butuh perhatian dari lo,” Biru mengibaskan tangannya.
“Bukan karena perhatian, tapi tanggung jawab,” pungkas Dipa. Biru melotot, harga dirinya terasa jatuh berkeping-keping. Biru memiringkan bibirnya lagi, sebal dengan apa yang diucapkan oleh Dipa. Biru melemparkan botol air minumnya di sebelahnya lalu memejamkan mata dan meyenderkan tubuhnya.
__ADS_1
“Lo menyebalkan,!” gumamnya masih dengan memejamkan matanya.