
Biru baru saja selesai mandi, rambutnya basah. Dia sengaja berlama-lama berada di kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Masih dengan bathrobenya, Biru duduk di tepi ranjang sambil menyalakan ponselnya.
Sudah ada beberapa pesan masuk, dari Ros, Luna, dan juga Mario.
Beb, lagi di mana?
Isi pesan tersebut, Biru menghela nafas. Tangannya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk putih. Antara sebel dan juga lelah tapi masih berharap. Biru meletakkan ponselnya begitu saja. Belum juga semenit, ponsel tersebut berbunyi nyaring.
My love calling
Biru memejamkan matanya, lalu akhirnya dia menjawab panggilan tersebut.
“Iya,?” Biru menjawab dengan jutek. Sekitar 2 menit pembicaraan berlangsung, wajah Biru kembali cerah. Dia bangkit dan membuka lemari pakaiannya, mencari baju yang kece untuk dipakai.
Biru memilih celana hotpan dengan atasan polos warna putih lengan pendek. Segera dia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer untuk mempercepat dandannya. Biru membuka alat make up nya dan memoles wajahnya dengan cepat. Nampak sangat sempurna, tak perlu banyak make up di wajahnya.
Harusnya dia marah, tapi kekuatan bucin menghempaskan semuanya. Biru telag selesai dengan make up nya, bergegas dia memanggil Dipa untuk segera mengantarnya. Dipa yang baru saja selesai mandi pun bersiap mengantarkan Biru. Segera dia berganti baju dan bergegas keluar menuju garasi.
“Mau kemana mas.?” Pak Budi melihat kedatangan Dipa. “Ganteng amat, sampai saya kalah pamor.” Guraunya.
“Bisa saja Pak Bud,” jawab Dipa sambil membuka pintu mobil. “Mau mengantar nona,”
“Kemana,?” Pak Budi ternyata kepo juga.
Dipa mengedikkan bahu, pertanda tidak tahu kemana.
“Yang sabar mas,” bisik Pak Budi lalu terkekeh.
Terdengar langkah kaki mendekat, Pak Budi mengambil jarak dari Dipa. Dipa menganggukkan kepala dan mempersilahkan Biru naik ke dalam mobil. Biru segera naik, Dipa menutup pintu dan masuk ke dalam untuk mengemudi.
Biru menunjukkan alamat yang dituju, sebuah restoran elite. Dipa tak banyak bertanya perihal tujuan perjalanannya. Sekilas dia melihat wajah Biru nampak bahagia tidak seperti tadi. Syukurlah.
Mario berdiri saat melihat Biru datang menghampiri, senyum terbaiknya dia sunggingkan untuk
menyambut kedatangan Biru. Tak lupa buket bunga yang super jumbo dia berikan untuk menyambutnya.
“Aku tahu, kamu sudah mendengar semuanya…tapi kamu tahu beb, semua itu hanya…ah kamu tahu lah kalau aku sedang mabuk, aku sedang frustasi karena kekalahan malam itu,” Mario beralasan. Ini adalah salah satu jurus untuk membuat Biru tak lagi marah padanya perihal aksinya dengan seorang gadis di club beberapa hari lalu.
“Kamu jahat beb,” Biru memukul dada Mario gemas.
__ADS_1
“Yas…aku jahat, membuat gadis cantik kekasihku yang cantik ini menangis, I’m so sorry beb…,” Mario memeluk Biru. Ini yang terakhir kalinya,” janjinya.
“Ini buat aku,?” Biru melihat buket tersebut. Mario mengangguk.
“Tunggu…,” Mario mengangkat tangannya. Lalu merogoh saku celananya, sebuah gelang yang indah berada di sebuah kotak kecil. Mario berlutut di depan Biru.
“Maafkan aku beb….sebagai tanda jika aku memang serius sama kamu, terserah apa kata orang di luar sana, yang pasti ini untukmu,” Mario menepuk dadanya.
Biru merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh Mario. Dari yang awalnya marah, kini senyumnya merekah.
“Jangan seperti itu lagi,” Biru meminta.
“Iya beb, so sorry…,” Mario mengusap rambut Biru lalu mengecupnya.
Dipa keluar dari mobil dan mencari tempat duduk yang nyaman, ada sebuah bangku panjang tak jauh dari mobil. Dipa duduk dengan santai sambil menunggu Biru kembali untuk pulang. Terlihat dua orang yang sedang ngobrol tak jauh darinya, mereka nampak melihat ke dalam.
“Lo yakin nggak dia bakalan maafin Mario,?”
“Dari caranya masuk ke tempat ini sih gue yakin kalau dia bakalan maafin,” kekehnya. Dan akhirnya mereka berdua tertawa.
“Hah…menang lagi dia,”
Nampak Biru berjalan menuju keluar, Dipa yang melihat dari tempatnya dia duduk tadi segera bergegas masuk ke dalam mobil agar tidak terlihat oleh Mario atau Biru jika dia berada di luar mobil.
“Aku antar ya beb,?” Mario menatap Biru saat mereka sudah ada di dekat parkir, Biru tersenyum manis menatap Mario.
“Nggak usah, aku balik sama sopir aja,”
“Tumben sekarang sama sopir? Biasanya selalu bawa mobil sendiri,?” Mario mengangkat kedua alisnya.
“Oh itu…ehm…karena aku habis kena tilang, jadi disuruh Bunda bawa sopir, iya…begitu,” Biru berbohong.
“Ah begitu rupanya, ya sudah…hati-hati di jalan ya sayangku,” Mario mendekat lalu mengecup puncak kepala Biru.
“Iya, kamu juga ya beb,” Biru melambaikan tangan pada Mario yang hendak meninggalkan Biru. Biru bergegas ke arah mobilnya. Dia membuang nafas panjang pertanda lega, Mario tidak bertanya lebih lanjut sopir siapa yang mengantarnya.
“Untung saja.” Biru menutup pintu mobil setelah dia masuk, diletakkannya buket bunga itu di sampingnya. Dia memegang gelas yang tadi diberikan oleh Mario.
“Pulang Non,?” tanya Dipa sambil menatap ke depan dan bersiap menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
“Iyap, pulang,” jawab Biru.
Sepanjang perjalanan, wajah bahagia tak berhenti memancar dari wajah Biru. Sangat bertolak belakang dengan apa yang dilihatnya siang tadi. Semakin cerah dan bahagia.
Dipa sedang mengobrol dengan Pak Budi di taman samping dekat garasi. Ini adalah malam pertama Dipa berada di rumah Biru.
“Bagaimana Dip kerja bareng Nona,?” tanya Pak Budi seolah sedang menertawakan Dipa, karena dia sudah sangat hafal dengan perangai Biru.
“Sejauh ini baik-baik saja pak,”
“Wih hebat kamu,” Pak Budi menyesap rokoknya, pria yang umurnya lebih dari paruh baya itu terkekeh. “Nona itu unik,”
Dipa melihat ke arah Pak Budi, menyunggingkan senyum pada laki-laki itu.
“Seharian tadi kemana saja,?” Pak Budi kepo.
“Habis kuliah ke pantai,” ujar Dipa.
Pak Budi agak terhenyak kaget saat mendengar pantai.
“Pantai,?” matanya menyipit, dahinya sedikit berkerut.
“Iya, kenapa Pak,?” Dipa penasaran karena Pak Budi nampak terkejut begitu mendengar kata pantai.
“Kamu nggak tahu kalau Nona itu sebenarnya nggak suka air,? Phobia air yang banyak dia,”
Dipa membulatkan matanya, tak kalah terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Kalau benar begitu, berarti tadi dia sudah membuat Biru tidak nyaman.
“Iya, dulu waktu kecil, dia pernah hampir tenggelam di air, sejak itu dia tidak suka main ke tempat yang ada banyak airnya, termasuk laut,” beber Pak Budi. Dipa meneguk ludahnya, ini murni kesalahannya, dan dia tidak akan mengulanginya lagi.
Nyatanya, gadis yang terlihat sempirna hidupnya itu juga memiliki masalah dalam hidup. Dipa menghela nafas panjang, setidaknya dia harus bersyukur dengan hidupnya yang meskipun juga tidaklah mudah.
Dipa menatap langit kamarnya, kamar untuk sekelas dirinya pun sangat luas dan dilengkapi dengan fasilitas AC dan kamar mandi. Sungguh mewah.
Terdengar ponselnya berbunyi, Dipa segera menggeser tombol hijau.
“Iya, aku baru saja masuk kamar. Iya, pekerjaanku menyenangkan, terima kasih sudah selalu mendoakan. Kamu tidur dulu ya…maaf belum bisa ketemu,” ujar Dipa. Wajahnya nampak datar, biasa saja.
“Iya, selamat malam, selamat istirahat,” tutupnya. Pantai, ya…dia sudah melakukan kesalahan besar hari ini pada Biru.
__ADS_1