Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Audisi Dimulai


__ADS_3

Rencana sudah tersusun rapi, Biru sudah mendapatkan laporan dari Ros sejak semalam. Ros benar-benar bergerak dengan cepat mencari sosok bodyguard pesanan Biru. Seseorang yang sudah dia dapatkan sesuai kriteria, tampang biasa, dan yang terpenting adalah dia mau menjadi bodyguard suruhan Biru, yang bisa diatur


kapan saja. Itu yang paling penting.


Pagi ini semua harus beres, karena besok Kawa dan Rendra akan kembali bekerja ke tempatnya.


“Gimana abang-abang tampanku, sudah berapa orang yang mendaftar,?” Biru menepukkan tangannya saat menemui Kawa dan Rendra yang tengah bersiap melakukan audisi bodyguard untuk Biru.


Rendra mengangkat selembar kertas. Ada sekitar 30 yang akan datang audisi, itu sudah melewati kualifikasi yang ditentukan oleh Kawa dan Rendra. Semoga saja ada yang cocok.


“Nih,” Kawa meletakkan kertas di meja, Biru mendekat dan melihatnya. Biru mengerutkan keningnya, jangan sampai rencananya gagal. Dia mencari tahu sebuah nama yang dia dapatkan dari Ros. Biru bernafas lega karena nama yang dimaksud ada di sana.


“Kenapa,?” Kawa penasaran.


“Oh enggak apa-apa, aku antusias pengen melihat bagaimana calon-calon bodyguard untukku,” senyum Biru mengembang sempurna.


“Ileh…,” Rendra mencibir gemas.


Biru menarik kursi, duduk bersebelahan dengan Kawa. Sementara Rendra berada di sebelah kanan Kawa.


                        Kandidat pertama masuk, seorang laki-laki dengan perawakan tegap berumur sekitar 40 tahunan.


“Nama saya Hendra, umur 40 tahun. Pengalaman kerja menjadi security, saya siap menjadi bodyguard dari Nona Biru,” laki-laki itu mengedipkan matanya pada Biru yang sedang mengamatinya. Biru membulatkan matanya, belum-belum sudah genit padanya. Biru mengibaskan tangannya.


“Skip,”


“Eh apaan, kan aku dan abangmu yang menilai,” protes Rendra sambil tertawa kecil.


“Duh masa abang tega sih aku dapat bodyguard genit macam dia,” bisik Biru. Rendra menahan tawanya.


Kandidat kedua masuk, seorang perempuan berumur 30 tahun. Wajahnya nampak tegas, tanpa senyum. Baru masuk dia sudah memperagakan gerakan meninju dan menendang orang. Kakinya hampir saja mengenai meja Biru.


Biru menutup matanya. “Waduh,” ujarnya.

__ADS_1


Kawa melihat perempuan itu, sedangkan Rendra menopang dagunya. Apa jadinya jika bodyguard Biru sekaku itu?.


Kandidat ketiga masuk. Seorang laki-laki dengan perawakan kurus memakai bando warna pink muda, berjalan nampak gemulai. Biru yang semula mengantuk, kini membelalakkan matanya menatap apa yang ada di depannya. Apakah dia serius mau melamar pekerjaan ini.


“Nama kamu siapa,?” tanya Rendra, meski di daftar suah ada, dia ingin mendengar perkenalan dari yang bersangkutan. Sebelumnya Kawa dan Rendra sudah hopeless duluan dengan apa yang ada di hadapannya. Yang benar saja.


“Nama eke Dendi, kalau malam Dinda,” jawabnya dengan lemah gemulai saat menyebut nama “Dinda”.


Biru menepuk dahinya, Kawa menatap dengan tatapan super heran tanpa berkedip. Sedangkan Rendra langsung terbahak, tidak bisa menahan tawanya. Tawanya benar-benar menyembur. Iya, laki-laki yang ada di depannya itu memakai celana jeans super ketat warna kuning dengan kaos warna hitam. Benar-benar tidak matching dengan bando pink mudanya.


“Ok, apa kelebihan kamu,?” tanya Kawa masih tenang.


“Jadi eke bisa nyetir mobil, bisa menemani Nona Biru kemana-mana, pokoknya eke mah teman paling kece,” ujarnya dengan suara lebay.


“Ini bukan nyari teman, tapi nyari bodyguard,” sergah Rendra yang sudah bisa menahan tawanya.


“Eke juga bisa nyanyi, nanti kalau misalkan Nona Biru bosan, eke bisa nyanyiin buat desye,” telunjuknya menunjuk ke arah Biru.


“Bisa lagu dangdut nggak,?” ceplos Biru.


Rendra mengangkat tangan menandakan dia menolak, sebelum seharian telinganya akan sakit. Karena dia yakin suaranya tidak akan merdu dan enak didengar.


“Lantas kalau adikku ada bahaya, ada orang jahat yang mau jahatin dia, lalu kamu gimana,?” tanya Kawa.


Nampak Dendi melihat ke atas, memikirkan apa yang akan dia lakukan. Dia menutup mulutnya lalu tertawa.


“Gini-gini aku bisa tinju lho mas…mas tampan…,” gumamnya. Rendra menutup wajahnya, melihat Dendi di sela-sela jarinya. Sumpah dia ingin ngakak, tapi masih dia tahan.


Biru menggaruk dahinya, bisa-bisanya Kawa dan Rendra bisa menerima pendaftar macam dia. Sekalipun bisa diajak bekerja sama, tapi nggak gini juga kali.


“Mas tampan banget sih,” Dendi menunjuk Kawa, Kawa menghela nafas panjang. Salah satu hal yang menakutkan adalah dirayu lawan jenis, apalagi jenis yang unik begini.


“Ok, kita nanti bakal umumin siapa yang akan lolos, jadi sekarang bisa meninggalkan tempat ya…sudah cukup,” Kawa memungkasi, agar tidak semakin lama mereka tertekan dengan keadaan ini. Rendra tubuhnya sudah terguncang karena menahan tawa. Biru pun ikut tertawa ngikik.

__ADS_1


“Loh yakin sudah selesai mas,?” tanya Dendi dengan lebaynya.


“Iya selesai,” Rendra menyilangkan tangannya.


“Duh…beneran pilih aku ya mas…soalnya aku ngefans banget sama Nona Biru yang cantik itu, dia itu kiblat fashionku,” ucapnya. Biru membulatkan matanya, Dendi bilang jika dialah kiblat fashionnya. Sejak kapan dia memakai baju yang serba nabrak warna begitu? Biru memegang dahinya, menunduk dan menggeleng.


“Iya…nanti kita pertimbangkan,” ujar Rendra mempercepat agar Dendi segera keluar.


Satu…dua…tiga…dan seterusnya telah usai, hingga urutan terakhir yang akan masuk ke dalam ruangan. Inilah calon abal-abal dari Biru yang disodorkan oleh Ros.


Badan tegap, wajah tampak meyakinkan. Biru manggut-manggut nampak suka dengan pilihan Ros. Usianya sekitar 40 tahunan, mengenalkan diri dengan nama Messi, tapi dia bukan pemain bola.


“Aku suka dia bang,” gumam Biru sambil mengangkat jempol.


“Eits…tunggu dulu, kita belum mempertimbangkan,” Rendra menahan Biru untuk memutuskan. Biru berdecak, iya juga…karena kesepakatan nantinya akan ada dari kedua belah pihak, dia dan Kawa yang bergabung dengan keputusan Rendra.


“Ya udah, karena sudah selesai aku mau naik dulu lah, nanti kabari kalau sudah menemukan yang pas, dan aku kira Messi lah yang cocok buat jadi bodyguardku ya abang…abang,”


                        Biru menaiki anak tangga, sedangkan Kawa dan Rendra nampak kelelahan karena melakukan wawancara satu per satu dengan calon pengawal Biru.


“Kamu curiga nggak,?” bisik Rendra pada Kawa. Kawa mengangguk, karena dia merasa calon terakhir adalah skenario Biru.


“Lantas siapa yang pantas,?” tanya Rendra. “Masa iya Dendi,?” gumam Rendra. Mereka  pun tergelak.


“Kan kita masih punya plan B sih, ya udah siapa yang mau kamu kenalin,?” tanya Kawa.


“Oh oke, nanti malam kita ajak ketemuan,”


“Bisa mendadak begini,?”


“Bisa lah, tenang saja, pasti nanti kamu bakalan suka sama dia,” Rendra amat yakin.


Diam-diam Biru menguping pembicaraan Kawa dan Rendra, dia masih duduk di salah satu anak tangga dan memasang pendengarannya baik-baik.

__ADS_1


“Sial…mereka kok tahu kalau itu skenario,” kesalnya. Biru bangkit dari duduknya dan berlari menuju kamarnya. Langkah kakinya terdengar oleh Kawa dan Rendra, keduanya melihat ke belakang, ke anak tangga. Lalu Rendra dan Kawa tersenyum.


Audisi usai, namun mereka belum bisa menentukan siapa yang akan menjaga Biru. Karena ini bukan hal yang sepele.


__ADS_2