
“Permisi” sapa sebuah suara dari luar rumah.
“Hih sudah datang!” pekik Syakila bahagia. Abang ojek membawa sebuah kue ukuran sedang.
“Ini kue untuk aku mang,?” tanya Syakila dengan wajah bahagia.
“Dengan kak Biru,?” tanya abang ojek.
“Iya bang,” jawab Biru yang mengekor di belakang Syakila yang sudah antusias menyambut kue ulang tahunnya. Biru menyerahkan uang dan juga tips untuk abang ojeknya.
“Terima kasih kak,” pamit abang ojek. Tak berapa lama datang kembali abang ojek yang lain. Syakila sudah masuk ke dalam rumah dan sedang melihat kue ulang tahunnya dengan hiasan frozen.
“Permisi…dengan kak Biru?” tanya abang ojek tersebut.
“Iya,” jawab Biru yang masih di depan rumah.
“Ini kak pesanannya,” sebuah boneka besar warna pink diserahkan ke Biru.
“Terima kasih bang,”
“Sama-sama kak,”
Biru membawa boneka raksasa tersebut masuk ke dalam rumah, betapa Syakila sangat senang dibuatnya saat melihat boneka tersebut.
“Ini hadiah dari tante buat Syakila, selamat ulang tahun sayang,” ucap Biru sambil menyerahkan boneka tersebut, hampir menutupi badan Syakila.
“Wow….besar sekali, lucu, terima kasih banyak tante dan om,” Syakila benar-benar bahagia sekali.
Acara ulang tahun sederhana dimulai dari menyalakan lilin, bernyanyi bersama, berdoa, dan tiup lilin. Syakila yang baru pertama kali merayakan ulang tahunnya sangat bahagia, Ibunya sampai tidak bisa berkata-kata, sesekali Ibu Syakila mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya. Teryata orang baik bener-bener ada.
“Yeeeeeey……selamat ulang tahun, semoga makin pintar, sehat selalu sayang,” Biru kembali mengucapkan.
“Yeeeeyyyy,” Syakila mengangkat kedua tangannya.
“Terima kasih ya non dan mas, sudah sangat baik dengan kita, kalau tidak ada kalian yang membantu, entahlah nasib Syakila,” Ibu Syakila nampak terharu. Biru menatap Ibu Syakila dengan tatapan syahdu. Apa yang dilakukan tidak seberapa, tapi sudah sangat membuat mereka bahagia seperti ini.
“Semoga non Biru dan Mas Dipa selalu bahagia, sehat selalu, sukses di hidupnya dunia akhirat, Amiiin”
“Amiiiin.” Jawab Biru dan Dipa hampir bebarengan. Bahkan doa tulus itu mengalir dari bibir mereka. Biru mendapatkan lebih banyak dari apa yang dia lakukan.
“Om, bolehkah aku buka hadiah dari om Dipa,?” tanya Syakila polos.
“Makan dulu yuk,” ajak Ibunya.
“Bentar Bu,”
__ADS_1
“Boleh,” jawab Dipa sambil tersenyum.
“Horeeee,” Syakila meraih bungkusan kado dari Dipa, dengan semangat dia membukanya. Dan matanya berbinar saat melihat sebuah gelang dengan gantungan boneka mungil.
“Wow cantik sekali, terima kasih Om,”
“Sini tante bantuin pakai,” Biru menawarkan diri. Syakila langsung beringsut mendekat ke arah Biru dan mengulurkan tangan kirinya. Biru memasangkan gelang rantai imut itu di pergelangan tangan Syakila.
“Ya Allah…kalian baik sekali,” Ibu Syakila kembali trenyuh, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian ya…Ibu nggak bisa balas apa-apa,” ungkapnya.
“Bu….Ibu tidak usah merasa bagaimana-bagaimana, Ibu dan Syakila adalah salah satu bagian rasa bahagiaku, Ibu dan Syakila sehat-sehat ya,” ungkap Biru sambil mengelus tangan Ibu Syakila. Lantas mereka saling berpelukan hangat.
Dipa menelan ludahnya, inilah kehangatan seorang Ibu dan anak. Yang tidak pernah dia rasakan. Dipa tersenyum hangat, benar apa yang dikatakan Biru, melihat begini saja sudah membuatnya bahagia.
Terima kasih orang baik, Biru memang gadis yang tak biasa.
“Ini buat kamu,” Dipa menyerahkan sebuah barang yang hanya terbungkus paperbag mungil.
“Apaan,?” tanya Biru cuek.
“Nanti saja lihatnya,” perintah Dipa. Biru mengedikkan bahunya, lalu meletakkan benda tersebut ke dalam tasnya.
***
Biru merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk, baju yang dikenakan tadi masih menempel di tubuhnya. Terasa lelah tapi menyenangkan. Ternyata Dipa diam-diam rajin menemui Syakila.
“Duuuuh bosen banget, apa gue clubbing ya…,” gumamnya pada dirinya sendiri. Belum juga mendapatkan wangsit dari batinnya. Pintu kamarnya diketuk.
“Ini bunda…,” terdengar suara dari balik pintu dari luar.
“Ya Bun….,” balas Biru. “Nggak dikunci,” imbuhnya. Ganis masuk ke dalam kamarnya.
“Loh kenapa masih belum bersih-bersih udah rebahan aja,” protes Bundanya.
“Males bun, masih pengen rebahan,”
Ganis duduk di samping Biru.
“Ada apa bun? Tumben,?” Biru duduk di bundanya, menatap bundanya tanpa tahu maksud kedatangan bundanya.
“Gimana kabar kamu,?”
“Baik lah bun, bunda lihat sendiri kan?” Biru merentangkan kedua tangannya.
“Jangan ke atas, bau nih,” Ganis meledek putrinya.
__ADS_1
“Ish bunda ini,” Biru mengembalikan tangan ke posisi semula, Ganis tersenyum melihat tingkah putrinya.
“Terima kasih sudah menjadi putri bunda yang semakin cantik sekarang,” Ganis memuji, dia merasa senang sekali dengan perubahan putrinya. Biru mengangkat kedua alisnya. “Tetap seperti ini,” Ganis memegang tangan Biru, merasa bangga putrinya sudah menjadi lebih baik kini.
“Memangnya dulu aku nggak baik gitu bun,?” Biru merasa tak berdosa dengan apa yang dulu dilakukannya.
“Lebih terkontrol sekarang nak,” Ganis mengusap rambut Biru dengan lembut. “Apa kamu sedang jatuh cinta,?” pertanyaan yang tak disangka-sangka itu terdengar mengagetkan.
“Bun…apaan sih,?” Biru kaget. Ganis tersenyum.
“Hih kok gitu reaksinya,?” Ganis semakin terkekeh.
“Lagian bunda tanya aneh-aneh, nggak ih, Biru lagi nggak mau cinta-cintaan dulu,” Biru mengelak, lagian dia sendiri juga belum memproklamirkan dia jatuh cinta.
“Ya sudah, bunda turun dulu, oh ya sampai lupa. Besok malam ada acara di rumah, jangan kemana-mana,”
“Acara apaan,?”
“Itu biasa…arisan sama Ibu-ibu yang lain,”
“Memang buat apa aku hadir bun?”
“Ya ngapain kek, ketemu sama anaknya teman bunda atau apalah,”
“Macam anak kecil aja bun,” Biru protes.
“His sudah, pokoknya di rumah aja kamunya ya,”
Biru menggaruk kepalanya, baru saja kepikiran pengen keluar malam, pengen clubbing, Bundanya malah minta di rumah saja. Sepertinya bundanya punya radar mendeteksi sekarang. Ganis meninggalkan kamar Biru. Biru bergegas masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Biru berada di kamar mandi hingga satu jam lamanya untuk benar-benar menyegarkan tubuhnya. Rambutnya masih basah, berbalut bathrobe, Biru keluar dari kamar mandi. Menengok sebentar keluar jendela. Terlihat suasana taman dan kolam ikan dari atas kamarnya. Nampaknya hari ini cuaca cukup terik.
“Padahal biasanya hujan, hari ini terik banget,” Biru membuka lemari pendingin dan mengambil segelas minuman kaleng, membuka pengaitnya dan meneguknya. Biru teringat sesuatu dan bergegas mencari tasnya.
“Di mana barangnya tadi?” ujarnya sambil mencari sesuatu yang dia masukkan ke dalam tasnya tadi.
Sebuah paperbag mungil, Biru memperhatikan benda yang berada di tangannya itu.
“Apaan? Bikin penasaran aja,” Biru senyum-senyum sendiri.
Dibukanya perlahan, dan sebuah gelang berwarna putih dan ada inisial hurufnya di sana, “B”. biru memperhatikan dengan seksama, senyumnya mengembang.
“Apa maksudnya,?” Biru senyum-senyum salting.
Terdengar bunyi pesan masuk di ponselnya, buru-buru Biru mengecek pesan tersebut.
__ADS_1
Bi…so sorry, But I love you
Maaf ya...re-upload karena ada episode yang terlewat, biar nyambung akhirnya aku benahin. makasih....