
Kepala terasa berputar-putar saat melihat genangan air kolam berwarna biru itu, Biru mencoba fokus pada acara yang akan diselenggarakan oleh kekasihnya itu. Hanya saja kolam itu benar-benar menganggunya. Semewah-mewahnya rumah yang dia huni, tidak ada kolam renang di sana. Hanya ada kolam ikan yang kecil, dia benar-benar
nggak suka air yang tergenang begitu banyaknya.
Biru memegang keningnya sambil tetap berusaha mengembangkan senyumnya, menyambut kedatangan Mario yang terlihat antusias melihatnya datang.
Sebuah kue berada di pinggir kolam. Biru ingin protes, kenapa harus di pinggir kolam. Dia benar-benar tidak suka.
“Hey beb,” Mario mengecup dahi Biru dengan mesra, terdengar beberapa suara yang bersorak. Melihat dua pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.
“Hah, lo bener-bener kalah,” Lukas kembali memanasi Sean.
“Bonusnya kan belum,” ujarnya sambil tertawa sinis.
“Habis ini lah,” Lukas berbisik, mereka berdiri tak jauh dari Biru dan Mario yang kini bergandengan tangan. Menjadi pusat perhatian.
MC laki-laki yang super heboh itu sedang bercuap-cuap, suasana semakin ramai. Para teman-teman Mario sudah memenuhi area pesta bersiap merayakan pesta. Mereka berpenampilan hampir sama, mengenakan pakaian sesuai warna yang ditentukan, yakni hitam.
Mario dan Biru menjadi bintangnya, Biru benar-benar bahagia merasa disayangi oleh Mario. Tangannya tak lepas dari genggaman Mario. Suasana begini membuatnya sejenak lupa jika merasa cemas berada di pinggir kolam yang menakutkan itu.
“Terima kasih untuk sohib gue yang sudah datang ke acara gue, selain acara ulang tahun gue, kalian semua tahu jika ini juga perayaan satu tahun gue sama kekasih,” Mario melihat ke arah Biru sambil mengerlingkan mata ke Biru. Biru pun tersipu, senyumnya mengembang sempurna. Dia merasa benar-benar diratukan oleh Mario.
“Terima kasih sayang,” Mario mengecup dahi Biru. Kembali suara sorakan dan tepuk tangan bergemuruh.
__ADS_1
Tiup lilin ala-ala pun sudah dilakukan, beberapa kali dia merangkul Biru.
“Terima kasih beb, lo udah bikin semua ini, I love you,” bisik Mario di telinga Biru.
“I love you more beb,” balas Biru lalu mengecup pipi Mario.
Tiba-tiba Mario membopong Biru dan tanpa ba bi bu, Mario melemparkan Biru ke kolam. Suara tepuk tangan dan sorak sorai pun terdengar. Mario terlihat tertawa kencang melihat Biru basa kuyup ke dalam kolam.
Suasana mendadak hening, semua tawa dan sorak sorai mereda seketika saat seseorang masuk ke dalam kolam di mana Biru sedang berjuang di sana. Biru gelagapan hingga hampir tenggelam ke dasar kolam. Dengan cekatan laki-laki dengan jas hitam dan sepatu lengkap itu masuk ke dasar kolam dan mengangkat Biru yang sudah lemas, nampaknya Biru sudah tidak sadar. Rambutnya basah, wajahnya sudah benar-benar pucat.
Mario menatap situasi yang ada di depannya, begitu juga dengan yang lainnya. Ros dan Luna tak kalah panik melihat keadaan Biru. Untung saja Dipa dengan gerak cepat menyelamatkan Biru.
Dipa membawa Biru ke pinggir kolam dekat tangga, dia membopong Biru dan mengangkatknya keluar, membaringkan di pinggir kolam sambil memberikan pertolongan pertama dengan menekan dada atas agar airnya keluar dan Biru segera sadar. Untung saja dia pernah mempelajari teknik ini pada saat dia SMA, Dipa yang selalu rajin ikut kegiatan Pramuka dan juga PMR. Dipa merasa panik karena Biru masih belum sadarkan diri, Dipa berusaha lagi membuat Biru sadar.
Setelah Biru sadar, Dipa melepas jasnya yang juga basah itu. Segera menyelimutkannya di tubuh Biru, karena pakaian yang minim dan warna putih itu membuat baju Biru terlihat menerawang. Tanpa berkata-kata, Dipa kembali membopong Biru dan membawanya ke mobil.
Tatapan dari para tamu pun bermacam-macam, apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang membawa Biru?.
Lukas dan Sean saling bertatap, Mario nampak marah melihat pemandangan ini. Niat hati ingin bercanda, ingin lucu-lucuan, tapi tak sangka ini akibatnya.
“Lo jahat sih,” Luna mendorong tubuh Mario yang gempal itu.
“Apa maksud lo,?” tanya Mario dengan wajah galak.
__ADS_1
“Lo bego atau pura-pura bego sih,?” tanya Luna dengan kesal, matanya memicing, ingin rasanya dia menerkan Mario.
“Biru itu trauma dengan air yang banyak, salah satunya kolam. Eh malah lo ceburin ke kolam dengan tiba-tiba, sakit lo,” Ros menambahkan. Mario masih terdiam. “Gue tahu maksud lo, gue tau kalau Biru hanya bahan taruhan lo, tapi setidaknya lo nggak ngebunuh dia,” Ros mengacungkan jarinya lalu dia pergi, Luna ikut berjalan di belakangnya.
Dipa membaringkan tubuh Biru di kursi tengah mobil, dia mencari-cari selimut yang biasanya dia siapkan di kursi belakang. Dan akhirnya ketemu. Mau mengganti baju Biru pun rasanya tidak mungkin, Dipa segera membungkus tubuh Biru yang masih berbalut baju basah itu dengan selimut dan bergegas membawanya ke rumah sakit terdekat.
Kecepatan mobil yang dia kendarai pun terasa kencang tidak seperti biasanya, Dipa tidak ingin melihat Biru semakin kedinginan. Dia ingin memastikan jika Biru baik-baik saja saat diperiksa di rumah sakit nanti.
Biru membuka matanya, dia merasa kedinginan memang. Tapi dia juga tidak punya tenaga untuk bangun dan melepas pakaian basahnya di toilet. Ah kepalang basah ya sudah menunggu hingga tiba nanti.
Mobil berhenti dia latar depan IGD salah satu rumah sakit, seorang perawat datang dengan membawa brankar dan segera membantu Dipa untuk menurunkan Biru. Nampak Biru terlihat kedinginan, terlihat dari bibirnya yang sedikit membiru. Bahkan warna lipstick pun tak bisa menutupi jika Biru sedang kedinginan.
Dipa yang masih mengenakan kemeja putih panjang dan celana hitam basah itu pun ikut masuk ke IGD. Menemui seorang perawat perempuan.
“Tolong ganti baju dia dulu sus, tolong ya,” pintanya.
“Iya mas,” perawat perempuan itu dengan cekatan mengganti pakaian Biru. Sementara Dipa juga segera mengambil baju ganti yang dia simpan di jok mobil, untung saja dia selalu menyiapkan baju ganti. Tidak mau lama-lama, setelah berganti baju dia kembali ke IGD dan mencari keberadaan Biru yang sedang dibantu oksigen untuk
bernafas. Hal itu bertujuan untuk membuat efek panik Biru berkurang. Saturasi oksigen pun berkurang.
Dilihatnya gadis yang tadi saat berangkat dengan wajah berbinar-binar itu harus berakhir di IGD. Kenapa setega itu melakukan hal ini pada Biru. Dipa mengepalkan kedua tangannya, menguatkan rahangnya menahan amarah.
“Mas, penanggung jawab pasien ya, silahkan mengurus administrasinya,” Dipa terdiam sejenak, haruskah dia melaporkannya pada orang tua Biru?. “Mas silahkan,” perintah perawat perempuan itu lagi. Tanpa menunggu lebih lama, Dipa mengurus administrasinya.
__ADS_1