
“Apa kamu pernah merasakan patah hati,?” tanya Biru, dia melihat ke arah Dipa yang sedang menatap lurus ke depan. Sejurus kemudian Dipa melihat ke arah Biru, melihat dengan datar tanpa ekspresi. Pertanyaan yang tidak sulit, hanya perlu menjawab iya atau tidak. Tapi nyatanya Dipa masih terdiam.
Merunut ke belakang, Dipa belum pernah sama sekali menjalin hubungan dengan seorang gadis. Yang suka dia banyak, tapi dia memilih untuk menyendiri dan tidak ingin terlibat dengan hatinya.
“Saat kita patah hati, rasanya sakit banget kala itu, dunia rasanya benar-benar tidak baik-baik saja, aku yang tidak gampang nangis pun harus menahan malu menangis di hadapanmu,” Biru tersenyum tipis mengingat kejadian kala itu, menangis di kala hujan dan Dipa yang mengulurkan payung untuknya. “Patah hati itu nggak enak,” imbuhnya, bibirnya mencebik, lalu tersenyum miring. Menertawakan dirinya sendiri yang pernah merasakan sebagai manusia bodoh kala patah hati.
“Tapi aku sudah baik-baik saja kini, dia memang bukan yang terbaik buat aku,” senyum kecilnya mengembang. Sudah bisa melepas dengan ikhlas. Biru melihat kembali ke arah Dipa, lawan bicara masih diam saja.
“Kamu diam saja ih, atau jangan bilang kamu nggak pernah pacaran,” Biru menebak, Dipa melengos. “Hiiissh…jujur,” Biru memegang pundak Dipa agar laki-laki itu melihat ke arahnya. Akhirnya Dipa menoleh dan menahan senyumnya. Biri tertawa terbahak-bahak, sangat tidak percaya jika Dipa belum pernah pacaran sama sekali.
“Eh seriusan kamu belum pernah patah hati,?” tanya Biru kembali. “Atau jangan-jangan…” Biru menggantung kalimatnya. Dipa menyunggingkan senyum tipis.
“Jawab donk….jangan cuma senyum aja, masa iya orang secakep dan sekeren kamu nggak doyan cewek,?” Biru menceploskan apa yang ada di pikirannya, beberapa detik kemudian dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kenapa juga dia harus mengatakan cakep dan keren?. Biru melihat ke arah Dipa, laki-laki itu tertawa kecil.
“Ih kamu jahat ih,” Biru memukul lengan Dipa.
“Kenapa,?” tanya Dipa masih dengan tawanya.
“Jadi beneran nggak kamu nggak suka cewek,?” Biru masih penasaran.
“Ya emang kenapa,?” Dipa masih menahan tawanya.
“Yakali ada cewek yang naksir kamunya nggak suka cewek, kali aja jeruk minum jeruk,”
__ADS_1
“Nggak ngaruh juga kan…,” Dipa masih kekeh, toh rasanya lucu melihat Biru seperti ini.
“Sungguh menyebalkan,” Biru melipat kedua tangannya di dada. Eh bentar, tapi Ayu kan suka sama dia nggak mungkin juga Dipa suka sama cowok. Eh lagian kenapa dia jadi mempermasalahkan Dipa. Toh bukan urusan dia juga.
“Ih terserah deh terserah, bukan urusanku,” Biru mengibaskan tangannya dan meninggalkan Dipa begitu saja. Dipa melihat Biru melangkah dengan langkah cepat, hampir berlari. Senyumnya mengembang.
Apakah akan menjadi mimpi yang sulit digapai jika Biru adalah orang yang dimaksud hatinya? Setelah perjalanan hidupnya mengantarkannya hingga usia sekarang, baru kali ini dia merasa tergugah hatinya untuk mencintai. Dipa merasa menyalahkan dirinya sendiri, jangan sampai menjadi mimpi yang tak akan pernah bisa digapai.
Biru menjejak jejakkan kakinya di setiap titian anak tangga.
“Ih dasar, gitu aja nggak mau jawab, yakali aku suka sama cowok yang nggak doyan cewek?” Biru masih ngedumel nggak jelas hingga sampai di kamarnya. Biru baru saja masuk ke dalam kamarnya, menitup pintunya. Dia masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Tok…tok…
Terdengar bunyi pintu diketok dengan nyaring, mengagetkannya yang sedang melamun gegara pertanyaan yang tidak terjawab tadi. Biru bergegas membukanya, tepat berada di depannya, Dipa berdiri di sana.
“Oh,” Biru mengambilnya dan kembali menutup pintunya. Beberapa detik kemudian dia kembali membuka pintunya, Dipa masih di sana.
“Makasih,” Biru mengucap dengan datar lalu menutup pintunya kembali. Dipa menggelengkan kepalanya dan kembali turun ke lantai bawah.
***
Karena kesiangan, Biru membawa semua alat make up nya ke dalam mobil, berlari menuju mobil hanya dengan sandal jepit saja. Dia menenteng sepatunya menuju mobil. Dipa dengan sigap membantu memasukkan barang-barang Biru. Meskipun punya status sebagai anak sang pemilik perusahaan, tapi Biru tidak mau menggunakannya untuk terlihat tidak baik. Dia bergegas meminta Dipa segera menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Sementara dia mulai berdandan. Sial, gegara semalaman memikirkan orientasi Dipa. Sehingga dia tidak bisa tidur dan menyebabkan dia kesiangan.
Biru mulai memakai bedak dan membenahi alisnya, karena sudah professional, sehingga di dalam mobil yang dengan sedikit guncangan pun alisnya jadi bagus. Tak lupa blush on dan juga lipstiknya.
“Hah…dasar, gegara kesiangan nih,” Biru menggerutu sendirian. Dipa diam saja sambil sesekali melihat Biru dari vision mirror. Gadis itu nampak lucu saat mengoceh.
Dipa sedikit bergegas membawa mobilnya, agar Biru tidak terlambat untuk meeting pagi. Meeting pagi adalah kewajiban yang harus diikuti sebagai anak magang. Tepat sebelum jam 8, Biru sudah sampai di kantor. Biru turun menggunakan sandal karena lupa.
“Tunggu…,” Dipa memanggil Biru yang sudah hampir berlari. Biru menoleh. Dipa mengangkat sepatu Biru. Biru menepuk dahinya dan kembali ke arah Dipa. Dipa berjongkok dan memakaikan sepatu untuk Biru.
Perlahan dia melepaskan sandal Biru, Biru yang harus mengangkat kakinya agak kehilangan keseimbangan.
Dipa menepuk pundaknya agar Biru berpegangan pundaknya, dengan sedikit membungkuk Biru mengikuti arahan Dipa. Jantungnya menjadi tidak tenang, tidak baik-baik saja saat Dipa memakaikan sepatu untuknya. Kenapa terasa seperti di film-film romantis begini. Pipi Biru terasa panas, mungkin saja bersemu merah saat ini.
“Jadi, aku belum pernah merasakan apa yang dinamakan patah hati, karena saat ini aku mencintainya,” ujar Dipa sambil masih memakaikan sepatu yang sebelahnya.
Biru mendengarkan dengan seksama, apalagi yang dia dengar ini? Masih mencintai? Apakah ini cinta pertamanya?.
“Bisa dikatakan ini cinta pertamaku,” ujar Dipa lalu berdiri, kedua sepatu itu sudah berada di kaki yang tepat, terlihat cantik. Dipa mengangguk di hadapan Biru, bahwa Biru sudah siap untuk masuk ke kantor.
Cinta pertama? Ah yang benar saja? Lalu siapa? Dia perempuan kan?
Beberapa pertanyaan semakin menjejali pikirannya. Membuatnya semakin terlihat ngang ngong. Ah dasar Dipa, pagi-pagi sudah membuatnya oleng begini.
__ADS_1
“Tapi cewek kan,?” malah pertanyaan ini yang kembali muncul. Dipa kembali tertawa, lalu mengangguk. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Sumpah, visual Dipa pagi ini dengan kemeja warna putih dan celana panjang hitam, rambut rapi. Membuat Biru ingin menatapnya seharian, kalau perlu Dipa harus di sampingnya sepanjang waktu.
Ok, Dipa suka cewek. Pikiran jelek tadi malam sudah tersingkirkan, cuma timbul masalah baru. Siapakah Dia? Ah masa iya dia harus patah hati lagi?