
Sebuah kaos berwarna hitam dengan tulisan sebuah merk di depan dan celana yang kedodoran tapi juga tidak melorot dipakai. Semua milik Dipa, berasa aneh saja memakai baju seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, bajunya basah dan lengket. Semua kesialan ini dimuali dari mobilnya yang mogok, baju ganti yang selalu dia siapkan di mobil pun tidak terbawa ke rumah Uti.
Selepas makan siang bersama dan bercengkerama, Biru membantu membersihakn sisa makan siang bersama. Uti sudah melarangnya, karena dia tahu pasti di rumahnya Biru jarang bahkan tidak pernah melakukan hal ini.
“Tidak usah nak, biar Uti saja,”
“Nggak, Biru bisa Uti…percaya deh,” Biru kekeh ingin mencuci piring kotor yang ada di bawah kran cucian piring. Dengan kikuk Biru mencoba mencuci piring, mungkin ini pertama kalinya dia mencuci piring setelah beberapa puluh tahun lalu dia melakukannya karena ada tugas jaman SD. Biru melakukannya dengan hati-hati, jangan sampai piring itu meloncat jatuh dan pecah. Dania membantu membilas piring yang sudah tersabun dan meletakkannya di rak basah.
Dania memperhatikan cara Biru yang memang lain dari kebanyakan orang, kaku dan sungguh lucu menurutnya.
“Eh maaf ya,” Biru terkikik.
“Sini biar aku saja kak, tuh kasian tangan kakak nanti kasar loh,” Dania hendak mengambil alih, lagi-lagi Biru kekeh tidak mau dan menyelesaikan tugasnya hingga selesai.
Biru menghela nafas lega, akhirnya dia rebahan di kamar Dania. Dengan kipas angin yang menyala, ini juga pertama kalinya dia menggunakan kipas angin di kamar.
“Kak Bi…,” pekik Dania yang berada di depan cermin.
“Ya,?” Biru melihat ke arah Dania yang sedang mencoba sepatu pemberian Biru, sebuah sepatu kets warna hitam berpadu dengan warna putih. Ini sepatu keluaran terbaru, dan setahu Dania harganya mahal. Bahkan uang sakunya selama 3 bulan tak akan mampu membelinya.
“Kak Biru kok tahu ukuran sepatuku,?” tanya Dania penasaran, karena begitu mencoba sepatu itu, ukurannya pas di kakinya.
“Tahu donk….,” Biru nampak senang sambil tersenyum penuh misteri.
“Penasaran banget, mas Dip yang cerita,?”
Biru kembali tersenyum penuh misteri. “Rahasia, yang penting muat, kamu suka nggak,?” tanya Biru, dengan antusias Dania mengangguk senang. Siapa yang nggak senang dikasih hadiah yang bagus begini.
“Terima kasih banyak kak Bi, ya Allah seumur hidup baru kali ini dapat sepatu begini, mana mahal banget, ih malah ngrepotin kakak,” Dania menatap Biru dengan tatapan penuh terima kasih.
“Sama-sama, ih nggak usah dipikir sih, pakai aja,” Biru mengibaskan tangannya. “Kamu bahagia kan di hari kelulusan kamu ini,?” tanya Biru. Wajah Dania yang tadi berseri-seri mendadak murung, Biru yang menyadari ada yang salah dengan kalimatnya buru-buru mencari topik.
“Maaf ya Dania kalau aku nyinggung,” Biru merasa tak enak hati.
__ADS_1
“Enggak apa-apa kak, enggak kok. Aku bahagia banget, bisa merayakan bareng keluarga dan juga kakak, terima kasih banget kak,”
Biru menyunggingkan senyumnya.
“Oh ya kak, siapa sih yang nggak kenal kakak. Bahkan sebelum mas Dip kerja bareng kakak pun aku sudah tahu kakak lho,” ungkap Dania sambil duduk di ranjangnya, dia sudah menyimpan sepatu pemberian Biru di atas mejanya. “Tapi kenapa kakak mau begini,?”
“Hah, mau begini gimana maksudnya,?” tanya Biru heran.
“Ya…gimana ya…ngumpul di rumah kita yang bukan siapa-siapa gini, aku merasa wow gitu,” Dania bersemangat.
“Wow gimana? Biasa saja ah, lagian mas kamu kan kerja sama aku, udah seperti keluarga aja gitu,” Biru merasa ini bukan hal yang patut dianggap wah.
“Ya ngerasa tersanjung aja sih, hihi,” Dania meringis.
“Aku ikut senang kalau kamu juga senang,” Biru merasa senang melihat kebahagiaan Dania.
Dania merasa benar-benar senang bisa mengenal Biru secara langsung, tak pernah menyangka sebelumnya jika Dipa akan bekerja bersama Biru. Siapa yang nggak kenal Biru, si anak konglomerat yang terkenal badung itu. Tapi kini beritanya tak lagi tentang kebengalan gadis itu, sekarang lebih adem. Cantik banget aslinya, dan Dania benar-benar senang bisa mengenal Biru secara langsung.
“Kenapa sih kamu senyam-senyum gitu,?” Biru melihat Dania yang terus saja tersenyum.
“Ih kamu, biasa aja, aku juga manusia biasa seperti kamu, kapan-kapan main deh ke rumah,”
“Hah serius kak? Boleh,?”
“Boleh lah, kenapa enggak” ucap Biru santai. Jika bagi Biru ini hal yang biasa, beda lagi bagi Dania, merasa tersanjung berkali-kali lipat. “Mau,?” ulang Biru. Dania mengangguk mantap.
“Oke lah, kapan-kapan aku jemput kita main ke rumah,” Biru berjanji.
“Iya kak,”
“Nanti aku kenalin sama Bunda aku, papa, oma juga,”
“Bunda,?” Dania mengulang kata Bunda.
__ADS_1
“Iya, bundaku,”
“Oh iya kak,” mimik wajah Dania berubah, mendengar kata bunda, kembali mengingatkannya pada sosok mama yang sangat dia rindukan.
“Kenapa.?” Biru menyadari perubahan wajah pada Dania.
“Aku rindu mama,” Dania berucap lirih lalu menunduk. Biru mendekat ke arah Dania lalu memegang pundak gadis itu.
“Aku salah ngomong ya? Sorry….,” Biru merasa bersalah. Dania menggeleng.
“Enggak kok kak,”
“Eh beneran sorry ya Dan…aku nggak ngerti…”
“Nggak aku, memang aku saja yang rindu sama mama,”
“Maaf kalau boleh tahu, memang mama kemana?” Biru mencoba mencari tahu, karena ini salah satu pertanyaan yang ada di benaknya, selama ini belum pernah melihat kedua orang tua Dipa.
Lagi-lagi Dania menggeleng, “Ayahku sudah meninggal sejak aku kecil kak, kata Uti sekitar aku umur 2 tahunan, sedangkan mama entahlah,” Dania menerawang. Ingatannya tidak dapat menembus kala itu, wajah mamanya juga jelas dia tak akan ingat. Foto pun tidak ada sama sekali, hanya ada foto ayahnya. “Makanya itu kak, pengen banget
lihat mama, pengen banget merasakan bagaimana dekat dengan mama,” Dania menatap Biru dengan sendu.
Biru menelan ludahnya, iba melihat Dania. Tidak terpikirkan bagaimana hidup dari bayi tanpa seorang Ibu. Biru mendekat ke arah Dania lalu memeluknya dengan erat.
“Kamu hebat,” Biru menepuk pundak Dania menenangkan. “Kamu keren, aku doakan suatu saat kamu akan bertemu dengan mama kamu,” doa Biru tulus.
“Terima kasih kak,” Dania tersenyum, merasa sedikit lega dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Dia memang sangat merindukan mamanya.
“Yap, lain kali kita main ke rumah, silahkan anggap bunda aku mama kamu, so sorry…sudah buat kamu ingat tentang mama kamu yang sama sekali kamu tidak ingat wajahnya,”
“Iya kak,” Dania tersenyum. Lagi-lagi mereka saling berpelukan erat. Dania merasa sangat beruntung bisa mengenal Biru, sungguh Biru adalah gadis yang sangat baik.
“I’m your sister now,” ucap Biru dengan senyuman sumringah.
__ADS_1
“Thanks you kak Bi….,”
Biru adalah gadis yang baik di tengah berita kontriversinya yang lalu-lalu, ah sebahagia ini punya saudara baru.