Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Uti Sakit


__ADS_3

Semua tak sama, hatinya berasa ada yang koyak. Sejauh ini, ini luka batinnya yang terasa menyayat. Mungkin saja sudah tumpukan, sudah dia tahan hanya saja dia sangkal. Mario sejahat ini.


“Non, mau dikemanain motornya?” Pak Budi mengelus sebuah motor baru di garasi. Biru bersedekap sambil mengamati motor baru tersebut. Sore hari, saat dia berada di IGD rumah sakit dia sengaja menelpon dealer untuk menggagalkan pengiriman ke alamat pesta Mario, akhirnya dikirimlah motor tersebut ke rumah. Sebuah motor mahal, motor impian Mario.


“Biarin aja dulu,” jawab Biru singkat.


“Bagus nih non motornya,”


“Emang,”


Biru menarik kursi kecil dan duduk di sana, matanya menerawang ke segala arah.


“Nggak kuliah non,?” biasanya Biru sudah bersiap ke kampus.


“Nggak, lagi males,” jawabnya sekenanya. Pak Budi meringis, dia mengambil kursi dan duduk agak jauh dari Biru. Nona yang sekarang agak kalem, sudah lama Pak Budi tidak mengambil surat kendaraan karena tilangan.


“Apakah Pak Budi merindukan aku ditilang,?” tanya Biru tiba-tiba, senyumnya mengembang, bahkan bahunya agak terguncang. Pak Budi menatap Biru lalu ikut tertawa, seolah Biru tahu isi hatinya.


“Iya non, sudah lama nggak ketemu petugas tilang,” kekehnya, Biru ikut tertawa, dan semakin terbahak.


“Iya ya…rasanya udah lama banget nggak kena tilang, bahkan gue lupa rasanya nyetir itu bagaimana,” Biru mengelus lututnya.


“Sudah aman begini non, udah jangan balapan, rasanya tenang begini,” Pak Budi tertawa.


“Hish pak Budi ih, oh ya Dipa mana,?”


“Ehem…” Pak Budi berdehem, Biru melihat ke arah Pak Budi dengan tatapan mata tajam. “Adanya saya non, Dipa nggak ada,”


“Kemana,?” Biru spontan. Pak Budi semakin terkekeh, Biru menghembuskan nafas kasar. Kenapa bisa seperti ini?


“Nggak ada non, tadi pagi pamitan…” Pak Budi belum melanjutkan kalimatnya.


“Seenaknya, gue nggak ngizinin kenapa dia pergi gitu aja,”


“Nyonya yang kasih izin non, soalnya neneknya sakit,” imbuh Pak Budi.


“Hah, neneknya sakit? Kapan,?” tanya Biru dengan wajah cemas.

__ADS_1


“Kurang tahu non,”


Biru bergegas masuk ke dalam rumah, Pak Budi bengong dibuatnya.


            Tak berapa lama naik ke kamarnya, kini sudah kembali meniti anak tangga menuruninya dengan agak tergesa. Tas sudah ada di tangannya.


“Pak Buuuud, siapin mobil,” teriak Biru sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.


“Mau kemana non? Saya antar,?”


“Nggak usah, aman, gue nggak bakalan ngebut pak Bud, nggak akan ketilang udah deh,” Biru menunggu Pak Budi mengeluarkan mobil yang biasanya dia kendarai.


“Siap non,” Pak Budi ikut saja, nampak Biru juga sedang buru-buru. “Non, hati-hati ya…”


“Iya, aman,” Biru masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukain oleh Pak Budi, Biru memasang sabuk pengaman dan bergegas menyalakan mesin mobilnya. Pak Budi mengangguk, sambil komat-kamit, semoga saja Nonanya menetapi janjinya untuk tidak ngebut di jalanan.


“Nona mau kemana,?” Pak Budi masih penasaran.


“Hish kepo,” Biru segera berlalu, Pak Budi menggaruk kepalanya. Mobil pun menghilang dari pandangannya.


Tak lupa Biru menyalakan lagu dangdut, salah satu lagu favoritnya. Sambil mengangguk mengikuti alunan lagu tersebut, kaca mata hitam menghiasi wajahnya agar pandanganya tidak terlalu silau dengan cahaya matahari di luar. Sudah lama sekali dia tidak memegang kemudi.


“Hah enak juga bisa nyetir begini, udah lama banget,” Biru bergumam sendiri sambil manggut-manggut, tangannya meraih tombol volume. Dan menaikkan volume suaranya, dan dia semakin manggut-manggut mengikuti irama lagu yang dia dengarkan.


Masih sekitar 1 jam an untuk sampai di lokasi yang mungkin saja itu rumah Dipa, ah nggak ada salahnya dia jalan-jalan untuk membuang suntuk di hatinya. Sudah ada beberapa pesan masuk dari Mario dan beberapa nomer yang tidak dia kenal, tapi dia sengaja mengabaikannya. Dia benar-benar lelah, dan tumben-tumbennya tak lagi kemakan rayuan Mario.


                        Sementara itu di rumah Dipa, Dipa sedang merayu Utinya agar berkenan di bawa ke rumah sakit untuk dirawat, karena neneknya sudah terlihat lemas.


“Uti…kalau Uti sakit gini kan aku jadi sedih, mending Uti dirawat di rumah sakit biar dapat penanganan yang tepat Uti,” Dipa duduk di samping Uti yang sedang tertidur di ranjang.


Pagi tadi sehabis subuh Dipa mendapatkan panggilan dari Dania, Utinya lemas sejak semalam namun Utinya tidak mau dibawa ke rumah sakit.


“Nggak usah, nanti Uti juga baikan,” sambungnya.


Dipa menghela nafas panjang. Terdengar suara pintu diketuk, hanya ada Dipa dan Uti di rumah. Sementara Dania masuk sekolah karena ada ujian akhir.


“Sebentar ya Uti, ada tamu,” Dipa mengelus tangan Utinya, Uti mengangguk. Dipa meninggalkan Uti sejenak dan menuju ruang depan, membuka pintu.

__ADS_1


“Eh Yu,” Dipa menyapa seseorang yang ada di depan pintu, Ayu dengan wajah cemasnya berada di depan pintu itu.


“Uti mana? Uti baik-baik saja kan,?” Ayu bergegas masuk, dia amat cemas saat Dania memberikan kabar tadi. Dipa menutup pintu kembali dan mengekor pada Ayu yang segera menemui Uti.


“Uti….,” gumamnya melihat Uti yang sudah pucat. “Uti sakit apa? Ayok ke rumah sakit ya,” ajak Ayu sambil mengelus tangan Uti.


“Uti hanya kecapekan,” jawab Uti.


Ayu menggeleng, “Uti nggak kecapekan ini, Uti sakit, yuk ke rumah sakit,” Ayu kembali merayu. Uti menghela nafas panjang.


“Dipa mana,?” tanya Uti, Ayu menengok ke belakang, Dipa sudah ada di belakang Ayu.


“Iya Uti,” Dipa berjongkok.


“Kalau Uti nggak ada umur…”


“Utiiii,” pekik Ayu, tangannya semakin erat menggenggam tangan Uti. “Uti jangan ngomong yang tidak-tidak,” Ayu menambahkan.


Dipa bergegas membopong Utinya, Ayu mengikutinya dan membuka pintu mobil untuk Uti dan Dipa. Ayu menutup pintu rumah setelah Dipa membawa Uti masuk ke dalam mobil.


Ayu menyerahkan kunci mobilnya dan meminta Dipa segera menyetir menuju rumah sakit. Ayu menemani Uti di bangku belakang.


“Uti sehat,” Ayu memegang tangan Uti, berdoa dengan tulus agar Uti baik-baik saja.


            Hanya memakan waktu 15 menit, mobil memasuki parkiran sebuah rumah sakit. Dan Uti segera mendapat penanganan. Infus sudah dipasang, dan Uti juga kelihatan agak membaik.


“Sebentar lagi akan dibawa ke kemar perawatan,” ujar seorang perawat pada Dipa dan Ayu yang menunggui Uti.


“Iya terima kasih sus,” jawab Ayu.


“Terima kasih ya Yu, sudah banyak membantu,” terlihat Dipa duduk di dekat Uti berbaring, dilihatnya neneknya itu tengah memejamkan mata. Istrirahat.


“Maaf baru sempat datang, tadi ada kepentingan sebentar ke kantor,”


“Maaf merepotkan kamu,” Dipa merasa tak enak hati.


“Nggak ah, Uti udah seperti nenek sendiri, nggak usah merasa nggak enak,” Ayu tersenyum manis. Gadis di sampingnya ini memang selalu baik hati, tak hany Ayu. Tetapi Pak Wahono Juga.

__ADS_1


__ADS_2