Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Perasaan Bersalah


__ADS_3

Setelah meneguk air, Biru masih nampak syok dengan kejadian yang baru saja terjadi. Dia merasa bahwa dia sudah berada di alam lain. Badan Biru terasa lemas tidak bertenaga, dia benar-benar menyandarkan tubuhnya di kursi dan hampir merosot ke bawah. Dengan sigap Dipa memegang Biru dan bergegas membopongnya menuju mobil selepas Biru selesai minum. Tanpa menunggu persetujuan Biru Dipa segera membopong Biru ke dalam mobil.


Perjalanan terasa lama menuju rumah sakit, Dipa tidak mau ambil resiko. Dia bergegas membawa Biru ke rumah sakit agar bisa dipastikan Biru tidak kenapa-napa, sebenernya di lokasi kejadian sudah ada tim kesehatan yang hendak membawa Biru, tapi Dipa lebih membawa Biru pergi ke rumah sakit sendiri.


Dipa melihat ke kursi belakang, Biru masih terlelap. Perasaannya berkecamuk, dia menyalahkan dirinya, kenapa dia tidak bisa melindungi Biru. Dipa mempercepat laju kendaraannya. Dalam hati dia berdoa penuh harap jika Biru baik-baik saja.


                        Biru segera mendapatkan perawatan, Dipa diminta menunggu sembari melengkapi data pasien. Dia nampak kebingungan karena tidak tahu tentang Biru.


“Anda pacarnya,?” tanya seorang perawat pada Dipa yang tengah berdiri di depan meja pendaftaran. Dipa terdiam sesaat. “Saya butuh data pasien,” sambung perawat tersebut. Dipa teringat sesuatu, bahwa tas Biru ada di dalam mobil.


“Sebentar sus,” belum juga suster menjawab, Dipa segera berjalan cepat menuju mobil dan mencari barang yang dimaksud.


Bukan bermaksud kurang ajar karena membuka tas dan dompet Biru, tapi Dipa benar-benar membutuhkan identitas Biru. Setelah Dipa mendapatkannya dari dompet Biru, dia lekas kembali dan memberikan identitas Biru kepada perawat tersebut untuk dimasukkan dalam data computer.


“Ini mas,” ujarnya sambil mengembalikan identitas Biru.


Dipa meraih kartu identitas tersebut dan menyimpannya ke dalam dompetnya agar tidak hilang atau lupa, nanti dia akan mengembalikan setelah urusan ini selesai.


Baru saja Dipa hendak menghubungi keluarga Biru, tiba-tiba dokter memanggilnya. Dipa yang hendak duduk di kursi tunggu pun tidak jadi duduk dan bergegas menuju dokter dan perawat yang memanggilnya.


“Anda masih keluarga dengan nona tadi,?” tanya perawat.


Dipa mengangguk saja karena biar cepat.


“Dia syok, tidak apa-apakah jika dirawat di sini barang sehari dua hari,?” tanya perawat. Dipa meneguk ludahnya.


“Apakah dia baik-baik saja dok,?” Dipa benar-benar mengkhawatirkan Biru, benar-benar dia merasa bersalah, dia merasa tidak bisa menjaga Biru dengan baik.


“Besok pagi kita lakukan cek keseluruhan,”


“Baik dok, terima kasih,” Dipa menganggukkan kepalanya, dokter dan perawat pun berlalu meninggalkan Dipa yang masih mematung di dekat gorden yang menyekatnya dan Biru. Dipa menyibak gorden perlahan, terlihat Biru yang masih terlihat memejamkan mata, tapi sudah diinfus.


“Apakah dia masih pingsan,?” gumamnya sambil memandang Biru yang nampak tidur pulas. Tidak disangka, Biru membuka mata dan melihat Dipa di luar.


Dipa meneguk ludahnya.

__ADS_1


“Ponsel gue mana,?” tanya Biru dengan nada lemah.


“Ada di mobil, saya ambilkan,?” Dipa menawarkan, dia memang meninggalkan semua barang Biru di mobil.


“Lo bawa ponsel kan,?”


Dipa mengangguk dengan cepat.


“Duh gimana ya…lo sudah hubungin orang rumah,?”


Dipa menggeleng.


“Ah ya sudah, nanti aja ini urusannya. Gue kan harus opname, please gue mau kamar yang VVIP, bilang sama susternya,” ujar Biru sambil memijit kepalanya yang terasa pusing, dia terasa sedang berputar-putar, Biru kembali memejamkan matanya berharap pusingnya menghilang atau setidaknya berkurang.


Dipa menuruti apa yang Biri katakan, Dipa menuju meja di mana dia bisa memesankan kamar VVIP untuk Biru.


                        Ponsel Dipa berdering, sudah tengah malam lebih. Dan Dipa baru bisa memegang ponselnya.


“Iya Nyonya…” Dipa mendapatkan panggilan dari Ganis, dia sudah mendengar berita kisruhnya konser gegara ledakan yang belum jelas sumbernya.


“Nona dalam keadaan baik Nyonya, saya akan menjaganya di sini, nanti saya akan kirimkan fotonya untuk Nyonya guna memastikan keadaan Nona saat ini, saya minta maaf,”


Panggilan pun diakhiri.


            Ganis mendapatkan panggilan dari Saga menanyakan perihal Biru, karena Saga mendengar jika terjadi kekacaun di konser kampus Biru. Saga tidak tahu menahu jika Biru hadir di sana. Niat memastikan bahwa Biru di rumah, malah dia mendapatkan kabar jika Biru benar-benar berada di konser tersebut.


Setelah mendapatkan kabar dari Saga, Ganis lantas mencoba menghubungi ponsel Biru, namun nihil. Tidak ada jawaban, hal inilah yang membuatnya semakin khawatir, hingga lebih tengah malam pun Biru belum sampai rumah.


Dipa adalah sosok yang akhirnya menjadi informan, karena dia adalah orang yang bertanggung jawab atas keselamatan Biru saat di luar.


Betapa runtuhnya perasaannya saat tahu jika Biru harus masuk rumah sakit, apa yang terjadi dengan Biru. Apakah dia baik-baik saja?


            Biru sudah berada di ruang perawatan, kamar yang sangat luas lebih mirip hotel itu tidak terlihat seperti rumah sakit.


“Maaf Nona, saya harus memotret anda, Nyonya ingin tahu keadaan Nona,”

__ADS_1


Biru menengok ke arah Dipa sambil mengernyitkan dahinya.


“Jadi bunda sudah tahu,?” Biru menepuk dahinya. Dipa mengangguk.


“Lo…,” kalimat Biru terputus.


“Nyonya yang menelpon saya, beliau khawatir keadaan Nona, beliau mendengar berita ledakan bukan dari saya,” Dipa memperjelas sebelum Biru protes, hal ini akan membuat Biru semakin pusing nanti kalau banyak omong, Dipa tidak menginginkan itu.


Biru meneguk ludahnya, iya…kepalanya memang pusing sekarang, Biru menggaruk rambutnya dengan tangan kanannya yang bebas dari infus, rambutnya terasa berantakan baginya.


“Tas gue mana,?” tanya Biru.


“Di mobil,”


“Ah sial, gue nggak bisa pakai lipstick,” gumamnya.


Dipa memicingkan matanya, di saat seperti ini Biru masih mencari lipstick. “Perlu saya ambilkan di mobil Nona,?”


“Ah nggak usah,” Biru kembali merapikan rambutnya, lalu mencoba bangun.


“Aduh…,” baru juga akan mencoba duduk, Biru sudah kliyengan, Dipa yang tak jauh dari Biru segera menolong Biru, Dia memegang lengan dan menopang tubuh Biru agar tidak langsung terjatuh di ranjang. Mata mereka beradu pandang. Dipa meletakkan kepala Biru ke bantal perlahan.


“Jangan banyak gerak Nona, istirahatlah,” Dipa mengangguk kecil.


Biru terdiam.


“Maaf saya potret sebentar,”


Biru menghadap ke kamera, mengangkat tangan kanannya dan membentuk huruf V di jarinya, tak lupa senyum manis menghiasi wajahnya.


“Bilang ke bunda kalau gue baik-baik saja, nggak usah kesini,” titah Biru.


Dipa mengirim potret Biru yang nampak baik-baik saja itu, meskipun sedang pusing berat, nyatanya Biru masih bisa senyum semenawan ini. Dipa tersenyum kecil, sadar jika Biru berada di dekatnya, dia segera membuang jauh-jauh senyumnya itu.


                        Ganis membuka ponselnya, dia melihat potret Biru yang terbaring di ranjang rumah sakit.

__ADS_1


“Dasar bocah nakal,” Ganis nampak kesal, bisa-bisanya Biru nampak santai dan tersenyum ke arah kamera. Paniknya sedikit berkurang melihat Biru nampak sehat, dia akan ke rumah sakit besok pagi. Dia membalas pesan Dipa dan meminta Dipa tetap berada di sana.


__ADS_2