
“Pakai dress code warna putih beb,” ucapan terakhir Mario sebelum menutup panggilannya. Bukan Mario kalau nggak serba mendadak. Untung saja Biru sudah siap baju beraneka ragam. Biru mengangguk. Tangannya membuka pintu lemari dan membukanya, mencari baju yang pas nantinya.
Sebuah baju dengan belahan dada pendek dan jika dipakai bisa sampai atas lutut panjangnya. Salah satu model baju favorit Mario. Baju ini belum pernah dipakai sekalipun.
“Ok pakai ini aja,” gumamnya, baju itu dia gantung di gantungan yang tak jauh dari lemarinya, untuk memudahkannya nanti.
Pesta akan dimulai malam nanti, dia harus benar-benar menonjol, karena dia akan menjadi salah satu bintangnya. Seseorang yang sangat special bagi Mario. Biru mematut tubuhnya di depan cermin, jangan sampai terlihat gemuk, karena Mario tidak suka gadis yang terlihat gemuk. Setidaknya badannya harus proporsional.
“Aman,” Biru memutar tubuhnya.
Terdengar ketukan pintu kamarnya, Biru menoleh dan bergegas menuju ke pintu. Biru membuka pintu kamarnya, terlihat 2 orang MUA berada di depan pintunya yang diantar oleh Buke.
“Ini non, sudah datang MUA pesanan non Biru,”
“Oh makasih Buke, tolong Buke siapain minum sama cemilan ya,”
“Siap Non,” selepasnya, Buke bergegas turun ke lantai bawah, sedangkan dua MUA masuk ke dalam kamar Biru.
“Silahkan kak,” Biru mempersilahkan.
“Permisi ya kak,” salah satu MUA berbicara dengan sopan sebelum masuk ke kamar Biru yang super mewah dan luas itu.
“Di sini kak,?” tanya MUA saat melihat meja rias Biru yang super mewah dan lengkap dengan lampu juga. Sehingga dia tidak usah mengeluarkan lampu untuk rias.
“Iya kak, sebentar ya gue ganti baju dulu,” pamit Biru, bergegas dia masuk kamar mandi dan mengganti bajunya.
“Kosepnya bagaimana kak,?” tanya MUA kembali memastikan. “Apa masih sama sesuai pesanan kemarin,?”
“Iya kak, buat pesta ulang tahun kekasihku, dan bajuku warna putih ya kak…mohon dirias secantik mungkin,” Biru duduk di kursinya dan bersiap untuk dirias.
__ADS_1
“Kakak sudah sangat cantik, jadi agak sulit jika meminta yang lebih cantik lagi,” salah satu MUA terkikik, Biru tersenyum kecil.
“Non,” sapa Buke sambil membawa dua gelas minuman dan juga cemilan.
“Ya Buke, taruh di meja ya,”
“Iya non,” sahutnya, lalu dia meletakkan minuman dan makanan kecil di atas meja yang berbeda dari meja rias tersebut.
“Makasih ya Buke,”
“Iya non, saya turun dulu, kalau nanti butuh apa-apa, non teriak aja dah,” ujar Buke, ini adalah salah satu kebiasaan Biru, teriak keras dan Buke juga akan dengar.
“Iya,”
“Makasih ya Buk,” sahut salah satu MUA yang tengah mempersiapkan alat make up.
“Iya sama-sama mbak cantik,” Buke tersenyum manis.
“Memang dasarnya sudah cantik banget sih, mau digimanain juga cantik banget,” puji salah satu MUA.
“Ih kakak buat aku GR aja,” Biru menatap wajahnya di depan cermin, dia merasa sangat puas dengan kinerja MUA yang dia pesan. Dirinya terlihat berbeda, berharap Mario akan menyukai dengan tampilannya ini. Baginya dia sudah
maksimal.
“Kakak ganti baju dulu, nanti jika ada kurangnya kita bisa benahi kak,” pinta MUA lagi.
“Iya kak,” Biru berdiri dan segera mengambil baju putihnya dan berganti baju di kamar mandi. 10 menit Biru kembali keluar dan berdiri, kedua MUA yang tengah membereskan barangnya melihat Biru yang sudah berganti baju, terlihat sangat sempurna.
“Udah sih, spek bidadari sekali,” pujinya, membuat Biru merasa di atas langit.
__ADS_1
“Berlebihan sekali” Biru meringis. “Tapi memang sih, tangan kakak keren banget, lain kali aku bisa pesan jasa kakak lagi di lain waktu.
“Siap kak, semoga kakak nggak kecewa dan puas dengan kinerja kami,” ujarnya merasa bangga, siapa yang tidak tahu Biru, ini sama dengan promosi jika dia dipakai oleh Biru.
Selepasnya, MUA sudah kembali pulang. Biru memakai sepatu heels berwarna perak, sangat cantik dan cocok dengan dandanannya. Dia bersiap berangkat sore ini.
Biru meniti anak tangga turun ke bawah. Dipa yang sudah diberi mandat sejak tadi pun sudah siap, mobilnya pun sudah siap.
Dipa memakai jas, karena sudah diperingatkan oleh Biru supaya tidak memalukan. Meskipun nanti Dipa nggak usah masuk ke dalam lokasi pestanya.
Biru sudah sampai di samping mobil, Dipa bergegas berdiri dan menyambut Biru. Bak terkena sihir, makhluk yang ada di depannya itu membuat seolah waktu mendadak berhenti. Benar-benar berhenti, dia melihat makhluk cantik di depannya. Sungguh cantik.
“Woooiii,” Biru berteriak sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Dipa. Dipa yang baru sadar akan keadaan dirinya pun segera menggelengkan kepalanya dan mengerjab.
“Maaf, silahkan Nona,” Dipa membuka pintu mobil dan mempersilahkan Biru segera masuk dengan nyaman.
Biru melirik dengan wajah kesal pada Dipa. Tapi dia juga besar kepala, nampaknya pemuda itu terkesima dengan penampilannya.
Dipa yang merasa salah tingkah berdehem dan menutup pintu mobilnya, dia sudah berada di balik kemudi, memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesinnya. Dia melirik ke arah kanan, di mana dia melihat Pak Budi sedang menahan tawanya. Dia yakin Pak Budi sedang menertawakan dia. Dipa tersenyum kecil dan membungkuk kecil, Pak Budi mengangkat tangannya pada Dipa.
Sepanjang jalan menuju tempat pesta, Dipa fokus mengemudi dan sama sekali tidak melihat ke arah vision mirror. Dia takut berdetak saat melihat kecantikan Biru. Sedangkan Biru sibuk mantengi layar ponselnya, sudah tidak sabar dia bertemu dengan Mario.
Ruang pesta berada di mansions mewah, Biru salah satu penggagas dan penyumbang dana terlaksananya pesta ini. Sebuah kolam renang besar terdapat di sana. Awalnya Biru kurang setuju jika ada kolam renang, tapi Mario kekeh karena dia menyukainya. Akhirnya Biru pun menyetujui, yang penting Mario senang.
Dipa membukakan pintu mobil untuk Biru, Biru turun dari mobilnya dengan hati-hati, benar-benar gadis itu penuh pesona. Baru saja turun dari mobil, Luna dan Ros sudah berteriak dan melambaikan tangan menyambutnya, Biru mencari Mario. Dia tidak menyambut kehadirannya.
“Ada di dalam noh yang dicari,” Luna menjawab sebelum Biru bertanya. Karena dia tahu dan hapal jika Biru sedang mencari Mario. “Yuk.” Luna menggamit lengan Biru dan mengajaknya masuk ke area pesta. Ros mengekor dari belakang. Semua memakai baju dengan warna hitam, dan hanya Biru dan Mario yang memakai baju warna putih.
Biru melihat dari kejauhan Mario sedang tertawa ngobrol dengan beberapa sohibnya, dan begitu sadar dia datang. Mario berjalan ke arah Biru menyambutnya, dia segera memeluk kekasihnya itu.
__ADS_1
“Selamat datang beb,” sahutnya. Dia senang Biru datang dengan begitu cantiknya.