Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Pilih Mana


__ADS_3

Uti menyiapkan makan siang di samping rumah di bawah pohon manga yang rindang. Dengan senang hati Dania membantu Utinya membawa makanan keluar, begitu juga Biru tak mau kalah. Dengan sangat antusias dia membantu membuat minuman untuk makan siang bersama.


Tiba-tiba Dipa berada di dapur, berada di belakang Biru.


“Biar aku yang bawa,” Dipa hendak meraih sebuah wadah yang digunakan untuk wadah minuman tersebut.


“No, biar aku saja yang bawa,”


“Kamu nampak kelelahan,” Dipa merasa tak enak hati, Biru terlihat lelah. Barangkali Biru kecapekan karena mobilnya mogok, dan kelelahan harus naik ojek sampai di sekolah Dania tadi. Ditambah lagi jarak sekolah Dania dan rumah Uti juga lumayan, lagi-lagi Biru naik motor dibonceng Dipa.


“Enggak, lagian aku baik-baik saja, nih masih strong,” Biru mendongakkan wajahnya, menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Dipa tersenyum kecil melihat Biru berlalu begitu saja meninggalkan dia.


Biru meletakkan minumannya di tikar samping rumah, Dania dan Uti sedang berganti baju sebelum makan siang bersama. Biru kembali ke dapur untuk mengambil beberapa gelas. Dipa masih di sana.


Biru menata gelas dan hendak membawanya keluar. Betapa dia merasa nyaman berada di tengah keluarga ini. Dari keluarganya sendiri juga tidak ada kekurangan, karena keluarganya juga sangat harmonis. Hanya saja dia merasakan kehangatan juga di keluarga Dipa.


Tapi Biru masih penasaran, di mana Ibu dan Ayah Dipa selama ini? Mereka tidak pernah terlihat sekalipun.


“Mau aku bantu,?” kembali Dipa menawarkan bantuan.


“Sudah aku bilang, aku bisa ih,” Biru masih saja ngotot tidak mau dibantu oleh Dipa. Biru dengan cekatan membawa gelas tersebut keluar, Dipa mengekor. Baru melangkah keluar, nampak sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah Dipa. Seorang gadis yang tidak asing di mata Biru. Sejenak Biru memandang gadis itu, lalu dia tetap


berjalan menuju tikar dan meletakkan gelas-gelas tersebut. Dipa masih berdiri di tempatnya tadi, dia menatap Ayu yang datang dengan buket uang yang lumayan besar.


“Maaf….aku telat, soalnya tadi kerjaan di kantor lagi banyak banget,” Ayu melepas kaca mata hitamnya sambil celingukan.


“Nggak apa-apa, repot-repot banget,” Dipa merasa tak enak hati.


“Ih enggak, soalnya kapan hari pas ketemu Dania udah pernah ngobrol mau datang ke acara dia, tapi ternyata tadi ada rapat penting nggak bisa ninggalin, jadi kesiangan deh,” Ayu menyesal melewatkan momen kelulusan Dania.


“Mbak Ayuuuu,” teriak Dania dari dalam.


“Oh hai….selamat sayang…..,” Ayu memeluk Dania dengan hangat, lalu memberikan buket tersebut untuk Dania.


“Wow….terima kasih mbak Ayu yang cantik,” Dania merasa sangat senang menerima hadiah dari Ayu.

__ADS_1


“Maaf ya aku telat datangnya,” Ayu meminta maaf.


“Nggak apa-apa ih mbak, aku tahu kok mbak Ayu lagi sibuk banget di kantor. Dania tidak mempermasalahkan meskipun Ayu pernah berjanji akan datang di wisuda kelulusannya.


“Eh ada tamu, ayok sekalian makan siang.” Uti yang baru muncul dari dalam rumah lantas mengajak Ayu sekalian gabung untuk makan siang bersama.


“Uti…maaf aku cuma sebentar, soalnya ini mau ketemu klien,”


“Ih bentar aja lah Yu, pasti kamu juga belum makan siang kan. Ayok lah bareng-bareng, itung-itung merayakan kelulusan Dania, yuk bentaran aja,” Uti menarik lengan Ayu dan mengajaknya berkumpul di tempat yang sudah mereka sediakan di samping rumah.


Ayu melihat sosok gadis berparas cantik yang sedang menata piring di sana. Ayu melemparkan senyumnya sebagai sapaan awal.


“Hai…” sapa Ayu ramah.


“Hai, gue Biru,” Biru memperkenalkan dirinya, sebelumnya dia mengingatkan pada dirinya sendiri agar bisa menguasai dirinya, agar dia tidak terlihat jutek, marah atau cemburu. Oh wait? Cemburu? Nooooo! Buat apa dia harus cemburu. Tidak ada kaitannya dengan hidupnya.


“Ayu,” Ayu membalas memperkenalkan dirinya. Dania, Uti, dan Dipa sudah ikut nimbrung di sana.


“Ayo makan, dihabiskan semua ya…jangan sungkan,” Uti mempersilahkan. Dania sibuk membantu membagikan piring, sedangkan dengan sok sibuknya juga Biru membagi minuman yang sudah dia siapkan sejak tadi. Es buah segar yang cocok diminum siang begini.


“Ups,” ungkap Biru. Bergegas Dipa meraih gelas tersebut dan mengamankannya agar tidak membasahi baju Biru lebih parah. Biru berdiri agar tidak semakin basah, Dipa mengambil tisu dan membersihkan tumpahan es. Biru memegang bagian bajunya yang basah, lumayan banyak es yang membasahi bajunya.


“Wih basah kak,” Dania menunjuk pakaian Biru yang basah.


“Nggak apa-apa, nanti kena angin juga kering,”


“Eh enggak kak, kak Biru harus ganti baju, biar nggak masuk angin,”


“Nggak usah, cuma sedikit kok,” Biru masih menolak.


“Biar aku ambilkan baju gantimu di mobil,” Dipa hendak bergegas.


“Eh tapi mobilku kan lagi dibawa derek ke bengkel,” Biru mengingatkan Dipa, Dipa yang sudah hendak kabur pun mendadak menghentikan langkahnya. Benar juga apa yang dikatakan Biru.


“Lalu bagaimana,?” Dipa menatap Biru.

__ADS_1


Nampak Ayu sibuk mengunyah makanan, sesekali menatap Biru dan Dipa bergantian. Seperti ada sesuatu di antara mereka berdua. Kedatangannya sepertinya tidak tepat. Ponselnya berdering, Ayu mengangkatnya dan berbicara dengan orang yang ada di balik ponsel.


“Iya, saya kesana sekarang,”


Ayu meletakkan piring yang baru beberapa suap isinya masuk ke dalam lambungnya. Tapi dia memang benar-benar harus segera ke kantor karena sudah ditunggu oleh kliennya.


“Uti….masakan Uti enak bangeeeeet, tapi maaf ini sudah ditelponin orang kantor, harus balik sekarang,” Ayu dengan sangat menyesal harus segera kembali.


“Habisin dulu,” Uti masih meminta.


“Kapan-kapan Uti, beneran ini gugup banget, maaf ya Uti…,” Ayu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


“Iya, ya udah hati-hati jangan ngebut,” ujar Uti.


“Iya Uti, oh ya Dania selamat sayang mbak balik dulu, Dip…Biru aku balik dulu ya,” Ayu melambaikan tangan dan bergegas pergi.


“Iya hati-hati ya,” ujar Biru, dia masih berdiri di samping Dipa.


“Jadi gimana ini,?” tanya Dania.


“Gimana apanya?” tanya Dipa.


“Baju kak Biru?”


“Pinjamin bajumu Dania buat nak Biru,” Uti memberikan saran.


“Muat nggak sih Uti,?” Dia mengernyitkan dahi, secara Biru tinggi sedangkan Dania lebih pendek dan berat badannya juga lebih lebar dari Biru. “Pakai kaos mas Dip aja,” ungkap Dania.


“Ih,” Biru kaget, tapi kalau dilihat-lihat, baju Dania memang tak akan muat dipakai dia.


“Nggak apa-apa kak, baju mas Dipa wangi kok,” Dania menutup mulutnya yang hendak tertawa, Dipa menghela nafas panjang. Dipa mengangguk sambil memejamkan mata. Mengajak Biru segera bangkit dan ikut masuk ke dalam rumah. Dipa bersiap mengambilkan baju untuk Biru.


“Silahkan pilih sendiri baju yang sekiranya nyaman dipakai, biar baju yang ini aku jemur,” Dipa menawarkan diri untuk membantu.


Biru mengekor masuk ke dalam kamar Dipa yang rapi, sebuah ranjang yang tidak luas, terdapat lemari kayu dan sebuah meja beserta kursi di samping ranjang. Tertata sangat rapi dan juga wangi. Dipa membuka lemari kayu yang menyimpan pakaiannya. Deratan

__ADS_1


baju tertata sangat rapi di dalam.


__ADS_2