
“Kamu tunggu sini, cukup awasi aku dari sini. Aku aman, percayalah,” Biru menempelkan tangannya di dada Dipa yang hendak ikut mendampingi Biru masuk ke dalam sebuah café. Dipa yang merasa khawatir harus berfikir beberapa kali untuk mengikhlaskan Biru masuk ke dalam café.
Biru mengedipkan matanya, kembali meyakinkan Dipa. Akhirya Dipa mengangguk, dia memilih duduk di balik kaca dan tetap memantau keberadaan Biru.
Biru melenggang masuk dan menemui Mario yang sudah berada di dalam Café tersebut, dia berdiri menyambut kedatangan Biru. Dia menarik sebuah kursi untuk Biru.
“Terima kasih sudah mau datang,” ucap Mario dengan wajah ramah, tidak seperti biasanya yang arogan dengan cuek. Biru hanya mengangguk kecil.
“Oh ya, kamu mau makan apa?” tanya Mario sambil membalik menu, mempersilahkan Biru memesan makanan dan minuman.
“Oh nggak usah, gue sudah makan tadi, dan gue juga nggak lama kok,” jawba Biru bohong, karena nyatanya perutnya sedang berontak di dalam sana, dia belum makan, bahkan makan siang pun kelewat tadi. Untuk menjaga gengsinya agar semakin sempurna, dia pura-pura sudah makan.
“Oh ok,” jawab Mario. Laki-laki yang ada di hadapan Biru itu nampak sedang tidak bertaring, nampak ompong kekuasaan. Biru melipat kedua tangannya di dada, menunggu sepatah dua patah kata dari Mario. Dia ingin mendengar apa yang ingin dia dengarkan dari dulu.
“Aku minta maaf sama kamu Bi, aku banyak salah,” akhirnya kalimat itu yang meluncur dari mulut Mario. Biru menatap laki-laki itu dengan angkuhnya, dia merasa menang.
“Aku salah sudah berbuat seenaknya,”
“Iya, lo jahat…jahat banget jadi manusia, nggak nyangka gue,” Biru memainkan kukunya yang berwarna pink.
“Iya aku tahu, aku jahat sudah menyia-nyiakan kamu gadis berhati malaikat,” ocehnya, membuat Biru ingin muntah mendengarnya.
“Nggak usah peres, hanya karena gue minta bokap gue agar tidak mencampur adukkan urusan gue sama kerjaan bokap lo,” Biru menatap Mario dengan tajam. Iya, Biru meminta agar Papanya tidak mencabut investasi di perusahaan yang sedang dipegang oleh Papanya Mario. “Hanya karena itu lo mint ague kemari? Hanya karena ini lo kirim pesan waktu itu ke gue,?” Biru mengingatkan pesan I love you yang dikirim Mario beberapa hari yang lalu. Mario masih terdiam. Dia merasa sedang dikuliti oleh Biru.
__ADS_1
Dia sudah putus dengan Sonya, tapi bukan itu maksudnya.
“Gue tahu lo sudah putus dengan Sonya kan? Dia milih nikah dengan orang yang lebih dari segalanya dari elo,” Biru benar-benar berada di atas angin. “Dan itu pasti nggak enak banget rasanya jadi elo,” Biru masih saja menaburkan dapur di atas luka Mario.
Mario diam saja, dia terima dengan apa yang keluar dari mulut Biru, dia memang lebih kehilangan Biru daripada Sonya.
“Boleh nggak aku jujur,?” tanya Mario dengan datar.
“Loh…dari tadi sedang bohong,?” tanya Biru, mereka beradu pandang. Mario menggeleng.
“Aku mau balikan sama kamu,” Mario membuang rasa malunya, dia nggak peduli dengan apa penilaian Biru. Dia merasa kehilangan Biru, sangat kehilangan.
Biru menghela nafas panjang, ekspresi wajahnya datar. “Gue bukan tipe elo, gue nggak cantik, gue nggak seksi, gue penyuka dangdut yang gue tahu elo benci banget dengan kebiasaan gue. Sejak pacaran sama elo, gue harus diam-diam buat menikmati kesukaan gue, dan parahnya lagi kali ini gue nggak tahu jangan-jangan elo punya maksud terselubung ke gue, lo mau jadiin gue barang taruhan lagi,” cerocos Biru. Seolah gunung yang sedang memuntahkan laharnya, terasa plong kini di dadanya.
“Gue sudah maafin lo, tapi gue nggak akan pernah lupa dengan apa yang elo lakuin ke gue, semuanya” jawabnya.
“Beri aku kesempatan untuk kembali,”
“Nggak akan ada lagi kesempatan apapun, paham?” Biru menegaskan, sorot matanya benar-benar menguliti Mario. Dia berada di atas angin, sangat lega rasanya. “Kita jalani kehidupan masing-masing, gue sudah bahagia dengan hidup gue, begitu juga elo, kalaupun sekarang elo sedang ditinggalkan Sonya, itu berarti elo akan dapat yang lebih baik lagi dari Sonya,”
Biru mengambil tasnya dan melenggang pergi, bahkan makanan dan minuman yang dipesan Mario belum sampai di meja. Mario melihat Biru berlalu begitu saja meninggalkannya, tanpa menoleh kembali ke arahnya. Mario meraih sebuah tisu dan meremasnya dengan kasar.
Apa dia marah? Iya dia marah pada dirinya sendiri karena memperlakukan Biru dengan buruk di masa lalu, membuatnya bahan taruhan, cuek, dan tidak menganggap Biru ada. Meski Biru anak dari konglomerat, tapi dulu sama sekali dia tidak tertarik dengan gadis itu. Bahkan dia ingin sekali merusak gadis itu. Tapi apa? Kini Biru terlihat benar-benar berhati malaikat, dia memilih untuk mendebat Papanya yang hendak menggunakan kekuasaan agar tidak jadi berinvestasi di perusahaan yang dipegang oleh Papa Mario. Biru memang beda.
__ADS_1
Dipa menyambut kedatangan Biru, Biru lantas melenggang menuju mobil. Dengan langkah sigap Dipa membukakan pintu untuk Biru dan memastikan jika Biru baik-baik saja. Dari raut wajah Biru yang terlihat sekilas olehnya, Biru menampakkan wajah tenang dan terlihat baik-baik saja.
“Lapar, mari kita makan,” ajak Biru sambil memegang perutnya yang sudah tak lagi bisa menahan rasa laparnya. Cacing-cacing di perutnya benar-benar berbunyi, demo.
Biru sudah bisa melepaskan Mario, hatinya tak lagi galau. Dia benar-benar sudah lega dengan apa yang di
hadapinya. Ternyata waktu yang menyembuhkan. Biru tersenyum kecil di depan cermin kamarnya. Langit yang tadi cerah mendadak agak mendung, Biru yang hendak bepergian mendadak malas.
Biru merebahkan diri di kamarnya, sebuah ranjang empuk dengan ukuran besar itu menjadi teman malamnya, benar-benar ingin menghabiskan waktu di kamar saja sembari ingin melihat hujan turun. Tapi urung, hujan nampak enggan turun malam ini, hanya mendung saja yang menemani.
Rumahnya kembali sepi, kedua orang tuanya pergi keluar kota untuk sebuah acara. Biru meniti anak tangga menuju dapur mewahnya. Dibuatnya segelas kopi dan membawanya keluar rumah, Biru melihat Dipa sedang berada di taman samping dekat kolam ikan. Biru mendekat.
Sadar dengan kedatangan seseorang, Dipa menoleh dan melihat Biru datang dengan secangkir kopi. Biru mengangkat cangkirnya.
“Mau,?” Biru menawarkan.
“Terima kasih,” Dipa berdiri dari kursinya dan mempersilahkan Biru duduk.
“Belum tidur,?” tanya Biru basa-basi. Dipa menggeleng, jika tidak capek banget, Dipa akan tidur agak larut malam. Ini dilakukan untuk menjaga Biru juga, terlebih saat rumah sedang sepi seperti ini.
“Kenapa kamu juga belum tidur,?”
“Nih nyeduh kopi dulu,” Biru kembali mengangkat cangkir kopinya, terlihat asap mengepul. Biru benar-benar penyuka kopi.
__ADS_1
Dua insan itu sedang berbicara santai sambil menatap langit yang pekat karena mendung.