
Rumah mewah keluarga Biru yang biasanya lengang, mulai sore tadi sudah terlihat ramai. Para tamu sudah datang, mereka adalah teman bunda Biru. Biru yang merasa mudah bosan saat berkumpul dengan para teman bundanya masih berada di kamarnya, malas-malasan enggan turun.
Masih teringat pesan yang masuk kemarin, Biru masih membiarkan begitu saja tanpa membalasnya. Berani-beraninya Mario mengirimkan pesan dengan tulisan begitu.
“Lo bener-bener nggak punya malu,” Biru mendengus sebal. Iya, kemarin yang mengirimkan pesan adalah si Mario. “Saat gue bucin banget sama elo, elo mainin gue” imbuhnya.
“Nooon,” sebuah panggilan dibarengi dengan ketukan pintu.
“Ya buke…,” sahut Biru yang sudah hafal suara tersebut.
Pintu terbuka, sebuah kepala terlihat. Iya Marni datang ke kamarnya.
“Dipanggil nyonya,” bisik Marni. “Diminta turun,” imbuhnya.
Biru menghela nafas, bundanya juga lucu. Bisa-bisanya dia disuruh untuk berkumpul dengan emak-emak arisan di bawah.
“Iya,” jawabnya dengan ogah-ogahan. Dengan tanpa dandan dan berpakaian kaos dan celana pendek Biru keluar dari kamarnya.
“Apaan sih bunda,” gerutunya saat menapaki anak tangga.
Di ruang pertemuan yang ada di samping garasi rumah sudah terlihat ramai, Biru melihat dari jarak jauh. Nampak bundanya melambaikan tangannya pada Biru.
“Bi sini nak, sini Bunda kenalin sama temannya bunda yang baru,” nampak Ganis sangat bersemangat. Tiba-tiba Bundanya menjadi suka keramaian. “Ini tante Mela,” Ganis menunjuk seorang perempuan berhijab yang sangat cantik. “Dan ini tanye Denanda, beliau punya anak yang seumuran dengan kamu juga, nanti mau nyusul kesini,” ujar bundanya. Biru mengulurkan tangannya secara bergantian dengan orang yang dikenalkan tersebut.
“Cantik banget,” puji tante Denanda.
“Terima kasih tan,” sahut Biru sambil nyengir, bukan ini yang dia inginkan. Dia nggak nyaman.
“Bun, aku kesana dulu ya..,” Biru menunjuk deretan kursi yang sepi, yang memang dikhususkan untuk anak-anaknya tersebut.
“Iya,” sahut Ganis.
Indadari menatap halaman rumah keluarga Ganis yang sangat mewah, rumah ini lebih mewah dari rumah yang dia tinggali dengan suaminya. Wanita cantik itu masuk ke dalam rumah, sementara suaminya yang mengantarnya langsung pergi untuk bermain golf bersama teman-temannya. Indadari menghela nafas panjang.
“Tante…,” sapa Biru saat melihat Indadari melintas, yang dipanggil pun lantas menoleh ke arah sumber suara.
“Hai cantik,” Indadari menghampiri Biru, Biru menglurkan tangan untuk mencium punggung tangan wanita tersebut. Lantas Indadari cium pipi kanan dan kiri Biru.
“Apa kabar?” tanya Indadari yang sudah lumayan lama tidak bertemu dengan Biru.
“Baik tante, tante sendiri gimana,?”
“Baik sayang, tambah cantik aja,” puji Indadari.
“Tante bisa aja, tapi makasih tan,” Biru tersenyum lebar.
__ADS_1
“Udah punya cowok belum,?” bisik Indadari menggoda.
“Kenapa tan? Mau dicarikan yang cocok buat aku,?” Biru tak mau kalah melemparkan candaan.
“Iya boleh juga, kayaknya cocok sama anak tante,” Indadari kembali berbisik. Kedua mata Biru membulat, selama ini dia belum pernah melihat Indadari bersama anak-anaknya, bahkan bundanya juga tak pernah menceritakan hal ini.
“Iya kah? Kapan-kapan boleh lah tan dikenalin,” Biru masih senyam senyum bercanda. Indadari tersenyum kecil, lalu memejamkan matanya.
“Yap, doakan segera bisa ketemu ya..,” jawabnya penuh tanda tanya.
“Siap tante,” jawab Biru enteng sambil mengangkat kedua jempolnya.
“Tante ketemu bunda dulu ya…,” Indadari pamit untuk masuk ke dalam.
“Iya tante…,”
Indadari menghela nafas panjang, kenapa juga dia harus mengatakan itu. Dia sendiri tidak tahu kapan akan bisa bertemu dengan anak-anaknya, dan apakah anaknya masih mau bertemu dan mengakuinya sebagai ibunya.
***
Pertemuan para sosialita baru saja berakhir, Indadari masih berada di rumah Ganis karena menunggu suaminya menjemputnya.
“Nggak apa-apa saya nunggu sini Nis,?” tanya Indadari pada Ganis.
“Begini nih mas Bagas kalau sudah main golf lupa waktu, mau minta jemput sopir juga nggak boleh, katanya sekalian nanti pengen keluar makan malam,”
“Duh romantis banget sih,” Ganis membenahi posisi duduknya.
“Ya…sekali-kali lah Nis,”
“Emang ada acara apa,?”
“Nggak ada, ya cuma sesekali aja, biar selalu awet, bahagia, dan menjaga kualitas pernikahan, kata suami sih begitu,” gumam Indadari.
“Iya deh…kapan-kapan bisa nih aku minta sama suamiku.” Ganis terkikik.
“Harus tuh, bilang sama big bos,” Indadari kembali tertawa.
“Iya bener banget, aku sudah lama banget nggak romantisan berdua, eh tapi aku kangen banget liburan bareng keluarga sih,” Ganis bersemangat.
“Oh iya, bisa tuh liburan sama keluarga, menyenangkan,”
“Iyap, udah lama banget nggak liburan sama anak-anak, mantu juga sih,”
Indadari mengangguk, merasa betapa sempurnanya hidup Ganis dan keluarganya. Bukan iri dengkin, dia hanya merindukan keluarga yang utuh. Kini dia bersama dengan suaminya, Bagas. Hanya saja mereka hanya berdua.
__ADS_1
“Aku ke toilet dulu ya,” pamit Indadari.
“Oh iya, masih ingat kan kemana arahnya,?” Ganis tersenyum.
“Iya tahu kok,” Indadari bergegas menuju arah toilet yang berada tak jauh dari tempatnya duduk bersama Ganis.
Agak lama dia brada di toilet, batinnya terasa sesak. Kembali teringat akan anak-anaknya, apakah dia harus nekat benar-benar mencari anak-anaknya. Indadari mengusap wajahnya di depan cermin toilet.
“Di mana kalian,?” tanyanya dalam hati.
Tidak ingin dicari sang punya rumah, Indadari segera keluar dari toilet, dan tanpa sengaja berpapasan dengan Dipa.
“Oh maaf nyonya,” ujar Dipa saat melihat orang yang hampir dia tabrak. Indadari mendongak dan melihat paras Dipa, wajah yang tak asing baginya.
“Oh tidak apa-apa, saya yang salah,”
“Tidak, saya yang salah, maaf,” Dipa mengangguk.
“Bagaimana kabar nenek kamu,?” tanya Indadari sambil merekahkan senyumnya. Sadar jika yang ditemui adalah pemuda yang berada di rumah sakit tempo hari, dia merasa sangat senang dipertemukan dengan pemuda yang ada di depannya itu.
“Nyonya…” Dipa mencoba mengingat.
“Jangan nyonya, bukankah tempo hari kamu memanggilku dengan panggilan Ibu?,” Indadari tersenyum.
“Iya maaf, yang kita pernah bertemu di rumah sakit,?” Dipa memastikan.
“Iya benar,” jawab Indadari dengan senyuman yang berasa campur aduk.
Dipa ikut tersenyum, ternyata tebakannya tidak salah.
"Oh ya, siapa nama kamu,?" Indadari baru sempat menanyakan siapa nama pemuda yang ada di depannya itu.
"Dipa Bu...saya pengawal nona Biru,"
Seketika dunia terasa berhenti berputar, Indadari mengedipkan matanya, jantungnya berdegup lebih kencang. Apakah ini hanya kebetulan semata? apakah memang namanya sama? batin Indadari.
“Bolehkan aku melihat tanganmu, Dipa,?” tanya Indadari dengan sedikit keberanian. Instingnya kuat sebagai seseorang yang sedang mencari anaknya. Dipa mengernyitkan dahinya, bingung dengan permintaan yang diutarakan wanita yang ada di depannya. Tapi akhirnya dia mengulurkan tangan kirinya.
Indadari memegang tangan Dipa, jantungnya berdegup dengan kencang. Apakah dia sosok yang dia cari? Kenapa setiap kali melihat Dipa batinnya bergejolak, sorotan mata pemuda yang ada di depannya begitu kuat mengingatkannya akan sosok putranya dulu.
Indadari memegang tangan kiri Dipa, lalu membaliknya perlahan. Mata Indadari memejam sejenak sebelum melihat kenyataan yang ada di depan matanya. Dia masih sangat ingat jika Dipa kecil memiliki tanda lahir di pergelangan tangan kirinya.
Indadari menelan ludahnya, terasa kelu. Apakah yang di depannya adalah sosok anaknya yang dia cari selama ini?
Seketika sekelilingnya menjadi gelap, Indadari sudah tidak ingat apa yang terjadi padanya.
__ADS_1