
Sisa-sisa air mata masih terasa kaku di pipinya, Dania memandang halaman lewat jendela kamarnya. Hanya lampu temaram yang menyidari sebagian dedaunan di luar sana.
Tok..tok…
Terdengar suara pintu kamar diketuk.
“Mas boleh masuk,?” suara itu dari Dipa. Setelah berbincang bertiga seusai makan malam tadi, Dania masuk kamar agar Utinya juga beristirahat.
“Ya mas,” balasnya sambil menoleh ke arah pintu, tanpa menunggu lama. Dipa membuka pintu tersebut dan melihat Dania menyambutnya dengan senyuman. Terlihat beberapa buku berserakan di ranjang tempat dia tidur. Dipa melihat sebuah buku yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.
Sebuah novel, ya. Dania suka membaca novel, terutama genre romansa.
“Fokus ujian,” nasehatnya. Dipa membuka novel tersebut dan membuka halaman per halaman dengan cepat, karena dasarnya tidak hoby membaca, maka hanya terlewat begitu saja.
Dania mengangguk. “Hanya selingan mas, saat aku jenuh belajar,” ucapnya. Iya, Dania harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian SMA. Selain itu dia juga harus menyiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.
Dipa meletakkan novel tersebut di meja belajar Dania. Kemudian dia mendekat ke arah adiknya. Sebuah kursi tak jauh darinya diambilnya dan didekatkan di dekat Dania duduk. Daun jendela terbuka, sehingga angin sepoi-sepoi menerpa mereka berdua. Bahkan anakan rambut Dania menari-nari.
“Kamu kenapa dek,?” tanya Dipa memperhatikan wajah Dania yang sembab. “Nggak suka kalau mas pulang,?” tanya Dipa mencoba menghibur, jelas bukan karena itu adiknya menangis.
Dania buru-buru menggeleng,” Justru aku kangen banget sama Mas,” Dania mengerucutkan bibirnya. Dipa tersenyum tipis, begitulah adiknya. Dia juga merindukan Dania.
“Mas bisa nggak sih kerja nggak usah nginep gitu,” gumamnya.
“Aku nggak bisa tiap hari ketemu sama mas,” imbuhnya.
“Ya, nanti…nanti kalau mas sudah dapat kerjaan yang pas dan kontrak kerja mas selesai dengan pekerjaan ini,” Dipa menatap adiknya. Dia belum puas karena belum mendapatkan jawaban kenapa adiknya habis menangis.
“Kapan,?”
“Iya nanti lah, sekarang kamu fokus belajar, katanya mau masuk perguruan tinggi seperti mas,”
Dania mengangguk, salah satu cita-citanya adalah masuk perguruan tinggi yang sama seperti Dipa. Dipa adalah salah satu idolanya, bagi Dania Dipa adalah sosok yang sangat pintar, cerdas, dan keren pokoknya. Mandiri hingga bisa lulus kuliah dengan nilai yang sangat baik.
“Nah makanya, fokus itu dulu, selebihnya mas yang mikir,”
__ADS_1
“Mas….,”
“Hum? Ada yang kau sampaikan,?” Dipa menatap adiknya, angin kembali menerpa wajahnya.
“Mas Dipa apa nggak rindu sama Mama,?” Dania dengan lugas menanyakan hal ini pada Dipa. Dipa mengedipkan matanya lalu melihat ke arah jendela. Meneguk ludahnya, rasanya dia tak ingin mengingat kembali tentang sosok yang dipanggil Mama dalam hidupnya.
“Kenapa,?” Dipa berusaha terlihat biasa-biasa saja meskipun dia menahan marah.
“Aku kangen Mas,” ucap Dania, terasa aneh saja. Bahkan saat ditinggalkan oleh Mamanya begitu saja, Dania masih sangat kecil, lecil kemungkinan dia mengingat tentang sosok wanita itu. “Aku ingin nanti pas kelulusan ada Mama,” Dania berharap.
“Kan ada Uti, ada Mas,” Dipa masih berusaha agar Dania tidak berharap.
“Tapi beda Mas, kita masih punya Mama,”
Dipa menghela nafas panjang, perbincangan ini semakin terasa menyakitkan.
“Mas bisa kan nyari info tentang Mama,?” Dania mengiba, dia menatap Dipa dengan penuh harap.
Dipa beranjak dari kursinya dan mendekat ke arah Dania, mengusap puncak kepala adiknya. “Sudah malam, tidurlah, Mas juga capek,” Dipa mengembangkan senyumnya.
Dipa masuk ke dalam kamarnya, merebahkan dirinya. Badannya terasa nyaman saat merebah di ranjangnya sendiri. Sudah beberapa minggu dia tidak pulang ke rumah, tidak merasakan empuknya kasur di kamarnya.
Dipa melihat langit-langit kamarnya, terngiang ucapan adiknya yang merindukan Mamanya. Tapi semakin adiknya merindukan mamanya, hatinya semakin membenci mamanya. Tangan Dipa mengepal. Bisa saja dia mencari Mamanya, hanya saja dalam waktu sekarang, dia tak akan pernah mencarinya.
Waktu yang sudah berlalu belum juga menyembuhkan luka hatinya, masih terasa sakit, luka itu masih belum mengering baginya.
Suasana pagi di pasar yang tak jauh dari rumahnya terlihat sangat ramai, Dipa dengan sigapnya mendampingi Uti berbelanja di pasar. Membeli sayur dan segala macam kebutuhan rumah, dia sangat senang Dipa bisa menemaninya, sementara Dania sudah berangkat sekolah.
“Itu cucunya Buk Nih,?” tanya seorang pedangan sayur, Uti yang dipanggil Buk Nih itu mengangguk tersenyum, dia menepuk lengan Dipa.
“Tampan sekali,” puji pedagang tersebut. Dipa yang berada di samping Utinya sambil membawa tas belanja mengangguk memberikan tanda santun pada pedagang yang usianya mungkin sekitar 45 tahunan. “Bisa lah nanti kita besanan,” ujarnya sambil tertawa.
“Ha…ada saja kau, cepat kasih aku bayam dan kangkung,”
“Siap buk Nih,” ujarnya dengan cekatan. Setelah selesai, Dipa menurunkan tas belanjaan, membukanya dan memasukkan belanjaan Uti yang baru saja dia terima dari pedagang tadi.
__ADS_1
“Sering-sering kesini lah Buk Nih,” ujarnya.
“Kan sudah kesini terus, langganan kan,” ujar Uti.
“Ah iya ya…hah gara-gara itu anak tampan di samping kau, aku jadi lupa segalanya,” ujar pedagang itu sambil menepuk dahinya, selebihnya mereka tertawa.
“Ya sudahlah, aku balik dulu, sudah lengkap belanjaanku hari ini,” pamit Uti.
“Ya lah Buk Nih, hati-hati di jalan,”
“Iya lah, laris-laris ya,” doa Uti. Disambut uluran dua jempol tangan dari pedagang yang sudah akrab dengan Uti. Lagi-lagi Dipa mengangguk dan membuntuti Utinya dengan membawa tas belanjaan yang sudah penuh.
“Sudah ganteng, mau pula nganter neneknya ke pasar, bawa tas belanjaan, jarang-jarang anak muda nggak gengsian,” gumam pedagang itu sambil memperhatikan Dipa dan Utinya meninggalkan lorong dagangannya.
“Beli apa lagi Uti,?” tanya Dipa memastikan, tidak ingin ada yang ketinggalan. Karena Uti memang tidak setiap hari ke pasar, meskipun pasar ini tidak terlalu jauh dari rumahnya.
“Sudah cukup, nanti kalau kurang Uti bisa ke pasar sendiri, naik becak,” jawab Uti seraya berlalu, mereka menuju tempat parkir.
“Ya kan mumpung Dipa lagi di rumah,”
“Iya iya…sudah cukup kok, hayuk lah kita pulang, Uti sudah kepanasan pengen mandi,” Uti mempercepat langkahnya, wanita sepuh itu jalannya tidak bisa diremehkan, cepat juga langkahnya. Dipa segera membuntuti.
“Memangnya Uti belum mandi,?” tanya Dipa.
“Mandi lagi nanti, gerah kalau habis dari pasar.”
“Oh.” Mereka sudah tiba di parkiran, Dipa menata barang belanjaan tadi di depannya, dan meminta Uti untuk bersiap diboncengnya.
“Hati-hati Uti, pegangan yang erat ya,?” Dipa menoleh ke belakang, memastikan neneknya sudah naik dengan aman.
“Iya, nenek sudah sangat aman,” Uti mengangkat jempol tangan kanannya, helm juga sudah terpasang di kepalanya.
“Siiiip, mari kita pulang,”
Dipa menyalakan mesin motornya dan bergegas pulang, hatinya gembira. Inilah yang dia inginkan, hanya dengan Dania dan neneknya saja sudah cukup, Mama hanya akan melukai keluarga kecil mereka. Itu yang selalu Dipa pikirkan.
__ADS_1