Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Terlalu Bucin


__ADS_3

“Duh Bi….lo kok sampe opname begini,?” tanya Luna sambil mengupas buah apel untuk Biru, Biru sudah bisa duduk santai, pusing kepalanya sudah lumayan mereda.


“Kalian itu yang kenapa ninggalin gue,?” Biru bersungut-sungut, mengambil buah apel yang sudah dipotong oleh Luna.


“Bukannya lo yang minta kita ngejauh dari Lo yang mau kencan sama Mario,?” balas Ros. Biru terdiam, benar juga apa yang diucapkan Ros. Semalam dia tidak mau diganggu, bahkan mengelabuhi Dipa yang membuntutinya.


“Gimana Mario,?” Biru melihat Ros dan Luna.


“Lo nggak dikabarin gitu sama dia,?” tanya Ros. Biru menggeleng, dia melirik ke arah ponselnya, dan sama sekali nggak ada kabar dari Mario, dia mengirim pesan sejak subuh tadi pun belum terbaca.


“Dih…kok gitu sih, Lo yakin sama dia,?” Luna bertanya dengan sinis, Ros menatap Luna dan memejamkan matanya.


“Dia baik-baik saja,” jawab Luna akhirnya.


“Syukurlah,” Biru merasa lega.


“Terima kasih ya Dipa tampan, Lo udah nyelametin sohib gue,” teriak Luna dan melihat ke arah Dipa. Dipa mengangguk kecil.


Biru mengunyah apelnya sambil sejenak melihat ke arah Dipa, diakui atau tidak, Dipa adalah orang yang menyelamatkannya. Ah, Biru harus menepiskan perasaan bapernya karena memang itulah tugas Dipa.


“Hish centil amat jadi manusia,” Ros menyenggol lengan Luna, sekaligus membuyarkan lamunan Biru.


“Biarin,” Luna memeletkan lidahnya ke arah Ros.


                        Terdengar suara pintu diketuk, nampak Ganis masuk ke dalam kamar beserta dengan Saga.


“Anak Bunda gimana kabarnya,?” tanya Ganis saat baru melangkah masuk diikuti oleh Saga, suaminya. Dipa bergegas berdiri dan mengangguk memberikan hormat kepada Saga dan Ganis. Sementara Ros dan Luna memberikan ruang untuk Ganis dan Saga mendekat ke arah Biru setelah mereka bersalaman.


Ganis memeluk Biru dengan erat, melihat dengan detail bagian mana yang luka.


“Aku baik-baik aja Bun, nggak usah khawatir,” Biru memastikan. “Nih kepalaku juga baik-baik saja sekarang,” Biru menggelengkan kepalanya yang sudah jauh membaik rasanya.


“Syukurlah” Ganis menghela nafas lega.


Ros dan Luna beringsut meninggalkan Biru dan memberikan ruang untuk Papa dan Bunda Biru, mereka duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Biru. Sedangkan Dipa keluar dari ruangan untuk mencari udara segar.

__ADS_1


“Tidak biasanya kamu keluar nonton konser bebas,” ujar Saga dingin.


“Maaf Pa,” Biru melihat wajah Papa dan Bundanya bergantian dengan wajah datar dan merasa bersalah. Membuat mereka khawatir keadaannya.


“Sudah mas, yang penting Biru baik-baik saja,” Ganis mengusap lengan suaminya agar tidak membuat suasana menjadi tidak enak. Saga mampir sebelum berangkat ke kantor.


“Kalau kamu masih berbuat sesukamu, nanti Papa akan buat aturan baru buat kamu,” ancam Saga. Biru cemberut mendengar ancaman Papanya. Begini saja sudah tersiksa, apalagi harus ada aturan baru buatnya.


“Pa…,” Ganis kembali mengusap lengan suaminya.


“Ya sudah, makanlah yang banyak, dan lekaslah pulang,” pungkasnya.


Biru mengangguk dan mengacungkan jempolnya, Saga berpamitan dan keluar dari kamar perawatan Biru.


                        Nampak Dipa sedang duduk di kursi yang ada di depan ruangan Biru, begitu melihat Saga keluar, Dipa berdiri dan mengangguk kecil. Saga melihat Dipa dan lalu duduk di kursi tersebut, Dipa ikut duduk di samping Saga.


“Maafkan saya Tuan, kurang bisa menjaga Nona dengan baik,” ungkap Dipa dengan perasaan bersalah.


“Harusnya kamu lebih peka, lebih bisa menjaga,”


“Iya Tuan, maaf saja rasanya tidak cukup,”


“Adakalanya kamu harus lebih berkuasa, dan saya berharap kamu bisa,” Saga menepuk pundak Dipa. Dia memberikan tanggung jawab pada Dipa. Dipa mengangguk, mau tidak mau dia harus melaksanakan tugas ini. Harus bisa menaklukkan bagaimana keras kepalanya Biru nanti.


“Terima kasih sudah menolong Biru, saya tahu tidak mudah mengawasi dia, tapi saya yakin kamu bisa,” imbuhnya.


Semakin kesini, serasa tanggung jawabnya semakin besar. Dan semakin besar pula keinginannya untuk melindungi Nonanya.


“Iya Tuan,” jawabnya. Saga tersenyum ke arah Dipa, lalu dia bangkit untuk pergi ke kantor. Dipa ikut berdiri, hendak mengantarkan hingga ke area parkir.


“Tetaplah di sini, jaga Biru, nanti segala keperluan kamu dan juga Biru akan diantar pak Budi,”


“Terima kasih Tuan,” Dipa memberikan salam dengan mengangguk sambil melihat Saga meninggalkannya.


Dipa kembali duduk selepas Saga masuk ke dalam lift, Dipa menunggu di luar saja sembari ada Ganis dan juga sahabat Biru di dalam.

__ADS_1


Terdengar suara pintu terbuka, Ros dan Luna muncul dari dalam. Mereka memilih keluar dan memberikan waktu untuk Ganis dan Biru bercengkerama.


Ros duduk di samping Dipa.


“Thanks lo udah nyelametin dia,” Ros berbicara tanpa menatap wajah Dipa. Sementara Luna menghempaskan tubuhnya di samping Ros, mendengaran pembicaraan mereka. “Kalau nggak ada lo, nggak tahu nasib dia,” imbuhnya.


“Ini sudah tugas saya,” jawab Dipa singkat.


“Gue aja nggak tau di mana dia semalam, karena sebegitunya ingin berduaan sama Mario, untung saja lo gerak cepat,” Ros membuang nafas dari mulut, terasa lega.


            Kembali terdengar suara pintu terbuka, nampak Ganis keluar dari kamar perawatan Biru. Dipa segera bangkit berdiri dan memberikan salam.


“Saya pulang dulu, nanti pak Budi akan kesini mengantar baju,” ujarnya pada Dipa.


“Iya nyonya, terima kasih,” Dipa mempersilahkan Ganis berjalan dan dia akan mengantarkannya hingga ke bawah.


            Ros dan Luna kembali masuk ke kamar, terlihat Biru sedang duduk di ranjangnya. Dia nampak bosan hanya berada di kamar saja. Biru celingukan ke arah pintu.


“Nyariin siapa,?” tanya Luna sambil ikut melihat ke arah pintu. “Oh…nyari Dipa? Dia lagi antar nyokap lo ke bawah,” imbuh Luna menjawab pertanyaannya sendiri.


Biru mencebikkan bibirnya, kenapa Luna menebaknya.


“Cieee, nyariin,” Luna kembali jahil.


“Hish,” Biru mengibaskan tangannya.


“Gimana enggak, dia pahlawan elo yang nyelametin elo, lebih berguna daripada si Mario,” ceplos Luna.


“Lun,” Ros mencubit kecil lengan Luna.


“Aduh,” protes Luna sambil menarik lengannya dan menjauhkannya dari Ros. “Emang iya kan, gue gedek sama dia, di saat lo ketakutan dan kita nggak tahu lo di mana, dia malah kabur nggak nyelametin lo,” decihnya.


“Kita kan nggak tahu apa yang terjadi sama Mario malam itu kan,?” Ros mencoba netral. Biru diam saja, matanya kembali melihat ke layar ponselnya. Tidak ada tanda-tanda pesan masuk dari Mario.


“Pikir-pikir deh sama dia,” Luna menambahkan.

__ADS_1


Biru meneguk ludahnya sendiri, sebenarnya dia tidak menghiraukan kalimat sahabatnya itu. Karena dia amat mencintai Mario, dan apapun yang dilakukan Mario semuanya terlihat benar saja.


Bantu author ya...kasih like, komen, vote...biar karyanya naik dan author semangat buat nulisnya. makasih....^^


__ADS_2