Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar
Kasak Kusuk


__ADS_3

“Ini buat lo,” Biru menyodorkan sebuah paperbag yang berisi sebuah tas mahal kepada Jennara. “Jangan lihat apa isinya, tapi ini tulus dari hatiku,” ungkap Biru. Mereka berada di kantin kampus. Sembari menunggu jam kuliah dimulai, Biru meminta Jennara menunggunya di kantin.


“Apa ini,?” tanya gadis berkaca mata itu.


“Ini tas, tas buat kamu, buka,” Biru mempersilahkan. Nampak ragu, Biru meraih tangan Jennara dan menuntun tangan itu untuk segera menyentuh dan membuka barang yang sudah berada di meja itu.


“Buka Jenna….” ujar Biru. Jennara membuka perlahan paperbag tersebut, nampak sebuah bungkus kain dengan merk ternama di kain tersebut, dan saat mengintip, Jennara terkejut saat melihat tas mahal itu berada di dalamnya. Jennara menggeleng.


“Kenapa,?” tanya Biru heran.


“Ini…ini  berlebihan Bi, lagian yang aku lakuin buat kamu itu tulus kok,” ungkap Jennara. Tangannya menjauh dari tas yang ada di depannya, lalu dia mengambil gelas yang berisi jus jeruk.


“Hey…ini bukan sogokan, apa ya…lo terlalu baik, lo banyak bantuin gue, nggak ada yang bisa gue lakuin buat lo, jadi…ini yang bisa gue lakuin,” ungkap Biru dengan nada serius. Jennara menatap Biru. “Please…terima ini ya,” Biru mendorong paperbag tersebut mendekat ke arah Jennara.


“Gue juga nggak bakalan koar-koar kok kalau ngasih ini ke lo,” Biru menegaskan, senyumnya meyakinkan Jennara.


“Tapi Bi….,”


“Nggak ada tapi-tapian, terima kasih banyak…dan please…kalau gue butuh bantuan, gue masih mengandalkan lo,” Biru mengerlingkan sebelah matanya.


“Terima kasih Bi…,”


“Ok, gue yang terima kasih,” Biru tersenyum senang. Biru melambaikan tangannya dan bergegas masuk ke dalam kelasnya. Tanpa dia sadari, dia kini menjadi rajin ke kampus tanpa harus lari-larian karena kesiangan. Dan yang paling kejutan adalah, dia tidak lagi mendapat surat tilang lagi. Sampai-sampai Pak Budi rindu untuk membayar tilangaan.


                        Jennara masuk ke dalam toilet, sebenarnya dia tidak mau Biru melakukan ini, membuatnya merasa sedang disogok. Karena apa yang dilakukan itu tulus membantu Biru, yah meskipun memang sebenarnya nggak baik juga karena membuat Biru ketergantungan akan dirinya.


Jenna masuk ke dalam satu bilik toilet. Terdengar langkah kaki dari luar.


“Lo tahu nggak, tadi gue lihat si Biru sama Jenna di kantin,” ujar salah satu suara yang dikenali Jennara itu adalah suara Luna.


“Ngapain Biru sama si buluk,?” tanya Ros, terdengar juga suara kran air yang mengalir. Jennara sengaja memperlama keberadaannya di dalam. Khusyu mendengarkan Luna dan Ros cuap-cuap di luar, suaranya terdengar jelas.

__ADS_1


“Lo tahu kan kapan hari pas kita dibeliin tas sama dia, nah itu Jenna dibelikan juga,” gumam Luna.


“Serius,?”


“Iya, uuuh….sebel banget nggak sih si cupu itu dapat perhatian dari Biru, si kaya raya bank berjalan kita,” Luna terkikik.


“Iya juga, jangan-jangan nanti kita tergeser dengan keberadaan dia,” Ros merasa khawatir.


Jennara mengelus dada mendengar percakapan dua orang yang katanya sahabat Biru itu, kenapa kalimat itu bisa meluncur begitu saja dari orang yang Biru sayangi.


“Ah nggak bakalan ih, kan dia cupu, mana mau Biru circle an sama dia, jauuuuh,” Ros mengibaskan tangannya.


“Ya kali Ros, nanti kalau kita terdepak, gaya hidup kita nggak akan sama lagi,” Luna menyisir rambutnya sebelum masuk ke kelas.


“Berbuat baiklah sama dia, biar dia tetap menganggap kita sohib,” ujar Ros.


“Yee…lo juga lah,” Luna menoyor lengan Ros.


Akhirnya mereka menyudahi ghibah di depan cermin toilet kampus, kemudian mereka berjalan masuk ke dalam kelas menyusul Biru yang sudah duduk cantik di kelas sambil mengecek ponselnya.


mencuci tangannya sebelum kembali ke kelas.


Jennara menghembuskan nafa, kok ada teman macam begitu. Jennara menggelengkan kepalanya, mengusap tangannya dengan tisu. Meraih tas tersebut dan memasukkannya ke dalam ranselnya yang besar, kemudian dia melenggang menuju kelas.


“Hai Bi……,” Luna melambaikan tangan dan duduk di kursi yang ada di samping Biru. “Serius, semenjak lo punya Dipa, lo jadi rajin banget dah,”


“Ih nyinyir terus,” Biru tetap menatap layar ponselnya.


“Nggak nyinyir, tapi kenyataan,” Luna meringis.


“Ntar malem lo datang kan,?” tany Ros, seolah mengingatkan undangan Lukas, sohibnya Mario.

__ADS_1


“Iya donk,” jawab Biru. “Gue udah izin sama nyokap, dan boleh,”


“Sama Dipa,?” Ros memperjelas. Biru mengangguk dengan pasrah.


“Tapi aman lah, Dipa kan jaga jarak, daripada gue nggak boleh datang kan,”


“Iya juga sih,” Ros menyahut lagi.


Beberapa hari yang lalu dia mendapatkan undangan pesta ulang tahun Lukas yang akan dihelat di sebuah hotel mewah milik keluarganya. Hampir semua circle nya mendapat undangan. Kesempatan ini tentu tidak akan disia-siakan oleh Biru untuk bisa keluar dan kencan dengan Mario. Karena semenjak kejadian baku hantam itu, keluarganya membatasi Biru untuk keluar sembarangan. Kalaupun mau keluar harus ada izin dan harus bersama dengan Dipa.


“Asyiiik, nanti kita bisa party….,” ujar Luna sambil mengepalkan kedua tangannya di udara.


“Kangen party lanjut pulang ke apartemen lo Bi,” Ros menatap Biru dengan senyum mengembang, sambil mengingat masa-masa itu. Di mana setelah puas party, mabuk, mereka akan pulang dan tidur di apartemen Biru dengan leluasa.


“Hisss, susah mah itu, entah kapan akan datang waktunya,”


“Ajak aja sekalian di Dipa pengawal lo itu party, beres kan,?” sahut Luna dengan ide yang mustahil itu.


“Ish lo jangan ngimpi, sepertinya nggak akan mungkin terjadi,” Biru pesimistis. Karena yang dia tahu, Dipa itu kekeh pendirian dan professional, jika sampai Dipa mabuk juga, ah…enggak…jelas enggak akan terjadi. Biru menggelengkan kepalanya.


Terdengar langkah kaki masuk ke dalam kelas mereka, dosen telah tiba.


“Kumpulkan tugas kalian di meja,” titahnya, belum-belum sudah menagih tugas. Biru mengambil sebuah makalah dari dalam tasnya dan meletakkan sendiri ke meja dosen.


“Ini tugas saya pak,” ujar Biru dengan wajah centilnya, membuat dosen yang ada di kursinya itu menatap Biru dari balik kacamata yang melorot.


“Hem…” sahut pak dosen. Biru tersenyum, menganggukkan kepala, lalu membalik badannya dan kembali ke kursinya.


“Ih bisa-bisanya sok manis dia,” Luna menowel lengan Biru.


“Itu adalah strategi agar gue terlihat beneran ngerjain tugas gue, gimana sih lo”

__ADS_1


“Ye lah yang paling strategi,” Luna terkikik.


Kuliah pun dimulai, setelah kuliah pagi ini akan ada jeda, seperti biasa, Biru akan menghabiskan waktu bersama Luna dan Ros sambil menunggu wkatu kuliah dimulai kembali siang nanti.


__ADS_2