Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Saran Nayla


__ADS_3

"Jelita, sini!" Nayla melambaikan tangannya, memanggil Jelita yang terlihat celingukan mencari keberadaannya.


"Sudah lama, Nay?" tanya Jelita begitu dia sudah berada dekat dengan sahabatnya itu. Sahabat yang statusnya sangat berbeda dengan dirinya yang hanya seorang anak pemulung, sedangkan Nayla adalah putri dari kalangan orang berada yang sekarang sudah menjadi seorang dokter kandungan di sebuah rumah sakit besar, yang belakangan ini dia tahu adalah rumah sakit milik keluarga suaminya. Kenapa mereka bisa bersahabat? ya karena Nayla merasa, orang yang tulus berteman dengan dia, hanyalah Jelita.


"Belum terlalu lama kok, Jel. Ihh ... aku benar-benar kangen sama kamu," Nayla memeluk Jelita dengan erat seakan sudah lama tidak bertemu.


"Aku juga kangen,Nay. Kamu sibuk pasti ya, makanya tidak menghubungi aku seminggu ini? terakhir kali, kamu datang ketika orang tuaku dimakamkan," protes Jelita dengan bibir yang mengerucut.


Nayla terkekeh seraya mengangkat jarinya yang membentuk huruf V. "Ayo, duduk dulu, Jel! aku sudah pesan makanan dan minuman kesukaan kamu,"


"Aduh, aku jadi gak enak nih, Nay. Kamu selalu mentraktir aku makan setiap kita bertemu. Makanya aku jadi segan setiap kamu ajak bertemu,"


Ya seperti itulah selalu. Hampir setiap mereka bertemu, Nayla selalu yang membayar makanan dan minuman mereka, membuat Jelita selalu merasa tidak enak hati. Namun untuk menolak sahabatnya itu juga dia tidak merasa enak.


"Apaan sih? kamu seperti orang lain saja. Udah ah, kamu jangan bahas itu lagi," Nayla memperlihatkan raut wajah tidak sukanya, pada kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Jelita.


"Oh ya, tadi kamu bilang, ada hal yang mau kamu bicarakan, apa tuh?" Nayla, langsung to the point, karena jujur saja, wanita itu benar-benar dilanda rasa penasaran dari tadi.


"Emm, Nay kamu jangan kaget ya! sebenarnya aku sudah menikah, makanya __"


"Apa?! menikah?" pekik Nayla tanpa sadar, sampai berdiri, hingga membuat pandangan orang-orang di sekitarnya, beralih ke arahnya.


"Sttt, Nay, gak usah teriak-teriak, napa? kamu duduk lagi dong!" Jelita mencengkram pundak sahabatnya itu dan memaksa wanita itu untuk duduk.


"Habis, kamu bikin aku kaget. Bagaimana kamu bisa mengatakan kalau kamu sudah menikah? kan benar-benar tidak masuk akal. Kamu sedang bercanda kan?" tukas Nayla, yakin.


"Aku benar-benar serius, Nay. Aku sudah menikah kemarin." Jelita berusaha meyakinkan Nayla.


"Jel, aku benar-benar tidak mengerti, tolong kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jangan buat aku over thinking dengan lelucon kamu ini. Ini sama sekali benar-benar tidak lucu. Kalau kamu berniat mau membuatku kaget, selamat, kamu berhasil!" Nayla sama sekali belum bisa percaya dengan kabar yang baru saja didengarnya dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Nay, harus berapa kali aku mengatakan kalau aku benar-benar sudah menikah."


"Jadi benar,Jel? dengan siapa?"


"Aku menikah dengan putra orang yang telah menabrak papa dan mama. Mereka mengatakan kalau mereka merasa bersalah dan rasa bersalah mereka tidak akan hilang, kalau aku tidak menjadi menantu mereka," jelas Jelita, yang masih tetap membuat Nayla bingung.


"Tolong kamu jelaskan dengan detail dan jelas, bagaimana ceritanya?" Nayla menatap Jelita dengan tatapan menuntut penjelasan.


Sebelum menceritakan cerita sebenarnya, Jelita terlebih dulu mengatur napasnya. Kemudian, wanita itu menjelaskan dari awal sampai akhirnya dia bisa menerima untuk menikah dengan Gavin dan tentang pernikahan mereka yang tertutup.


"Apa kamu tahu siapa suamiku?"


Nayla menggelengkan kepalanya.


"Gavin Melviano Maheswara, putra tunggal dari Ganendra Maheswara pemilik the sky group."


"What? apa kamu serius? wah berarti kamu sekarang sudah istri seorang sultan dong, selamat ya!" sorak Nayla dengan wajah yang berbinar bahagia. Sumpah demi apapun, wanita itu benar-benar bahagia mendengar sahabatnya bisa menikah dengan pria konglomerat, pewaris tunggal, perusahaan besar.


"Bagaimana tampang suamimu itu? pasti dia tampan kan? Pak Ganendra dan Ibu Melinda aja Tampan dan cantik begitu, pastilah produk mereka tidak gagal," Nayla sibuk berceloteh sendiri, sampai tidak terlalu memperhatikan perubahan wajah Jelita.


Ya, Ganendra dan Melinda memang selama ini belum pernah memperkenalkan putra satu-satunya itu ke publik, jadi banyak yang belum kenal dengan wajah Gavin kecuali orang-orang terdekat.


"Kamu kenapa,Jel?" tanya Nayla yang seketika menyadari kalau sahabatnya itu tampak sedang tidak bahagia. "Apa putranya itu, tidak tampan, atau tidak normal? apa dia ...." Nayla menyilangkan jari telunjuknya di keningnya.


"Bukan! dia itu pria tampan, bahkan sangat tampan dan sempurna. Sayangnya dia tidak menyukaiku bahkan terlihat sangat membenciku. Dia menuduhku wanita yang materialistik, yang menikah dengannya hanya demi harta. Bahkan dia terlihat sangat jijik melihatku karena penampilanku yang seperti ini." jelas Jelita dengan wajah sendu.


"Brengsek!" tanpa sadar,Nayla menggebrak meja, hingga lagi-lagi perhatian orang mengarah ke arahnya.


"Nay, bisa tidak kamu tenang! ini tempat umum. Nanti kalau orang dengar bagaimana?" ucap Jelita dengan sangat perlahan, bahkan hampir mirip seperti berbisik.

__ADS_1


"Aku geram, Jel. Bagaimana bisa dia menuduh kamu seperti itu? apa perlu aku yang bicara? dan apa yang salah dengan penampilanmu? kamu itu cantik, sangat cantik malah." ucap Nayla dengan kekesalan yang masih terlihat jelas di raut wajah cantik itu.


Nayla tiba-tiba memicingkan matanya, memperlihatkan penampilan Jelita yang memang jauh dari kata modis. Namun, kalau diperhatikan dengan jelas, sahabatnya itu memiliki wajah yang sangat cantik, dengan rambut lurus, hitam panjang, wajah oval, hidung mancung, kulit putih dan bentuk tubuh yang ideal. Hanya saja memang kurang dirawat, sehingga terlihat kusam.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? apa ada yang aneh dengan diriku?" Jelita menelisik tubuhnya tiba-tiba merasa tidak nyaman karena tatapan Nayla.


"Hmm, penampilan kamu memang harus dirubah, Jel. Aku yakin kalau suami kamu nanti pasti akan kaget dan menyesal telah menghina wanita secantik kamu. Dan untuk masalah itu, serahkan padaku!" ucap Nayla dengan penuh semangat.


"Sepertinya, itu tidak perlu, Nay. Aku tidak punya uang untuk perawatan." Tolak, Jelita lugas dan tanpa pikir panjang.


"Kamu bisa menggunakan uangku,"


"Kalau aku harus menggunakan uangmu, aku benar-benar menolak. Gavin pasti akan menuduhku memanfaatkanmu, karena aku tahu, apapun yang aku katakan untuk membela diri, Gavin tetap tidak akan percaya. Sebaiknya kamu bantu aku untuk cari pekerjaan saja, supaya aku bisa menunjukkan, kalau aku bisa bertahan tanpa uang dari dia."


Nayla bergeming, mendengar ucapan Jelita. Dari lubuk hatinya, dia membenarkan ucapan sahabatnya itu. Dengan Jelita berhasil tidak mengemis uang dan bisa menghasilkan uang sendiri, pasti bisa membuat Gavin pelan-pelan merasa tertampar dengan perlakuannya pada Jelita.


"Baiklah, aku setuju! Bagaimana kalau kamu membuat usaha sendiri? karena untuk mencari pekerjaan sekarang sangat susah, apalagi hanya tamatan SMA seperti kamu. Bisa sih kamu melamar jadi SPG, tapi itu akan memakan waktu yang lama. Belum lagi, kalau tiba-tiba mertua kamu melihatmu."


"Hmm, usaha seperti apa yang kamu maksud?aku benar-benar tidak tahu,"


Nayla terlihat berpikir untuk beberapa saat. Kemudian wanita itu tiba-tiba menjentikkan jarinya, begitu menemukan sebuah ide.


"Bagaimana kalau kamu membuat kue saja? kamu kan pintar membuat kue. Untuk masalah modal, biarkan semuanya dari aku, eih kamu tidak boleh menolak kali ini," ucap Nayla begitu melihat Jelita yang hendak menolak.


"Kalau kamu tidak mau menerima secara cuma-cuma, kamu bisa membayarnya begitu penjualan kamu sudah ramai. Dan untuk masalah pembeli, aku akan membantu kamu untuk mencari pembelinya. Aku yakin rekan-rekan kerjaku akan mau membeli kue darimu. Kalau mereka puas, mereka pasti juga akan menginformasikan pada teman-teman mereka, bagaimana?" Nayla terlihat sangat antusias,dan juga terlihat sangat yakin.


Jelita seketika tersenyum. Semangat yang ditunjukkan oleh sahabatnya itu, seketika menular padanya, "Baiklah, kalau begitu, aku setuju!"


Tbc

__ADS_1


Bantu like,vote dan komen dong, guys. Karena dukungan dari kalian merupakan penambah imun buatku, 🙏🏻😍🤗


"Hmm,


__ADS_2