Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Bertemu kembali setelah lama tidak bertemu


__ADS_3

Nayla terlihat membereskan meja prakteknya karena memang sudah waktunya dia pulang. Setelah dirasa beres, wanita yang merupakan dokter kandungan itu, berjalan keluar dari ruangannya.


"Eh, Dokter Nayla sudah mau pulang ya?" tanya seorang wanita yang juga merupakan dokter di rumah sakit itu.


"Eh, iya nih! kamu juga mau pulang?" tanya Nayla pada wanita yang di jas putih menggantung name tag, Dr, Meta Sundari SP.A, yang berarti wanita itu adalah dokter anak di rumah sakit itu.


"Iya, cuma aku masih nunggu calon suamiku," jawab dokter yang bernama Meta itu.


"Wah, kamu sudah mau nikah ya?"


"Iya, bulan depan. Nanti aku bakal undang kamu kok," Meta tersenyum ke arah Nayla.


Satu hal yang bisa Nayla tangkap, senyum yang ditunjukkan oleh rekan dokternya itu bukanlah senyuman tulus. Namun Nayla tidak mau terlalu bertanya karena baginya itu bukan urusannya.


"Kalau begitu kita ke depan aja yuk! aku akan temani kamu sampai calon suami kamu datang,"


"Aduh, baik sekali kamu. Jadi gak bosan deh aku nantinya," wajah Meta terlihat berbinar.


"Eh, tunggu dulu! sepertinya aku mengenal siapa wanita itu?" Nayla tiba-tiba menahan tangan Meta, karena melihat seorang wanita yang wajahnya sangat pucat seperti menahan sakit dibawa ke ruangan UGD


"Kamu mengenalnya?" Meta mengrenyitkan keningnya.


" Emm, iya aku ingat! dia Maya, satu kelas denganku dulu di SMA. wanita yang suka menghina sahabatku," jawab Nayla setelah berhasil mengingat wajah wanita itu.


"Oh seperti itu?" Meta mengangguk-anggukan kepalanya.


"Dia kenapa ya? kenapa wajahnya bisa se pucat itu?" gumam Nayla dengan suara yang sangat pelan. Walaupun Nayla sangat tidak menyukai Maya, entah kenapa Nayla tetap penasaran apa yang terjadi dengan mantan teman sekelasnya itu.


"Kalau kamu penasaran, coba aja kamu tanya,"


"Udah ah gak penting juga. Ayo kita jalan lagi," pungkas Nayla sembari melanjutkan langkahnya.


Nayla tiba-tiba berhenti lagi, ketika seorang perawat keluar dari ruang UGD.


"Sus, pasien di dalam kenapa? soalnya dia temanku," Nayla yang katanya tidak peduli tetap saja penasaran, hingga membuat Meta berdecak sembari menggelengkan kepalanya.


"Oh, ibu Maya teman anda, Dok?" Nayla menganggukkan kepala membenarkan.


"Ibu Maya, mengalami pendarahan hebat karena menggugurkan kandungannya dengan meminum pil aborsi secara berlebihan," terang sang perawat.


"Apa? aborsi?" Nayla terkesiap kaget. Maya yang dia kenal memang angkuh, tapi dia tidak menyangka kalau wanita itu sanggup untuk membunuh janinnya sendiri.


"Iya, Dok. Dan sekarang sedang diperiksa sama dokter Rizal, untuk mengetahui apa ada infeksi dan kerusakan pada rahim," sambung Perawat itu lagi.


"Oh, seperti itu? terima kasih ya, Sus!" Perawat itu menganggukkan kepalanya,dan meminta izin untuk pergi.


"Wah, kasihan sekali ya, kalau sempat rahimnya rusak," celetuk Meta buka suara.


"Ya, mudah-mudahan tidak sampai terjadi ke arah sana," jawab Nayla, yang walaupun dia sedikit meragukan asumsinya.


"Ayo, kita jalan lagi! besok aja aku temui dia. Takutnya calon suami kamu sudah di depan menunggu. Kan kasihan dia kalau menunggu lama,"


Meta terlihat mendengus dan wajahnya langsung berubah masam.

__ADS_1


"Kamu kenapa? biasanya kalau mau bertemu calon suami, pasti senang, walaupun tiap hari bertemu," Nayla mengrenyitkan keningnya.


"Kalau kita cinta sih, senang. Ini aku tidak cinta sama sekali," jawab Meta yang membuat kerutan di kening Nayla semakin bertambah.


"Tidak cinta? tapi kenapa kamu bisa mau menikah dengannya?" tanya Nayla yang akhirnya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Aku sama dia itu dijodohkan, Nay. Dulu waktu SMA aku sudah punya pacar, tapi papa dan mama suruh putusin karena dia tidak sekaya calon suamiku ini. Orang tua calon suamiku ini, sudah membantu usaha papa yang hampir bangkrut. Jadinya papa dan mama berhutang budi pada keluarga itu. Saat itu aku masih SMA dan calon suamiku, sudah kuliah yang lokasi sekolahku dan kampusnya sama. Dia katanya jatuh cinta padaku, jadi meminta orang tuanya untuk meminangku. Mau tidak mau aku harus setuju dan akhirnya memutuskan pacarku dulu. Yah walaupun setelah berhubungan dengan calon suamiku ini, aktivitasku dibatasi. Tidak boleh ini, tidak boleh begitu. Aku mengatakan kalau aku akan menikah dengannya, setelah aku bisa lulus menjadi seorang dokter. Sekarang sudah terpenuhi, ya mau tidak mau aku harus memenuhi janjiku," terang Meta dengan panjang lebar.


"Jadi selama ini, kamu belum bisa mencintainya? Meta menggelengkan kepalanya.


"Belum. Aku tidak tahu kenapa? padahal dia selalu menuruti apa mauku dan selalu memanjakanku. Mungkin karena dia terlalu posesif, membuat aku susah untuk mencintainya," tutur Meta.


"Hmm, gimana ya? tapi saran aku cobalah untuk membuka hatimu. Apa kamu pernah berterus terang kalau kamu tidak suka dengan cara dia memperlakukanmu?"


"Tidak sama sekali. Karena menurutku bakal sama aja," jawab Meta, lirih.


"Belum tentu, Meta. Dalam hubungan itu kamu harus jujur apa yang kamu mau dan tidak mau. Aku yakin kalau dia benar-benar mencintaimu, dia pasti akan bisa mengerti. Selama ini, mungkin dia mengira kalau kamu nyaman dan baik-baik saja dengan perlakuan dia padamu," ucap, Nayla diplomatis.


Meta bergeming, berusaha untuk mencerna ucapan Nayla. Karena terlalu asik berbincang, di saat mereka berbelok, Nayla hampir terjatuh karena dia menabrak sebuah dada yang cukup keras. Untungnya sang pemilik dada dengan sigap langsung menangkap tubuh Nayla.


"Hati-hati, Dok!" ucap pemilik dada itu dengan sopan.


"Maaf, tadi aku ...." Nayla membulatkan matanya, begitu melihat sosok pria yang ada di hadapannya. Bukan hanya Nayla, mata Meta juga membesar melihat sosok pria yang sedang menahan pinggang Nayla.


"Kamu? tunggu aku sepertinya ingat siapa kamu. Bukannya kamu ini anaknya Tante Rosa?" tanya Nayla setelah berhasil keluar dari rasa kagetnya.


"Eh, iya. Kamu Nayla kan?" tanya pria itu yang ternyata adalah Reynaldi sembari menyelipkan senyum di bibirnya.


"Oh, kamu masih ingat aku?" nada bicara Nayla berubah ketus.


"Kamu ngapain di sini? kamu buntutin aku ya?" tanya Nayla dengan kening yang sedikit terangkat ke atas, curiga.


"Nggaklah! kamu jangan terlalu percaya diri! mamaku tadi malam jatuh di dapur, jadi kakinya bermasalah lagi, jadinya aku bawa ke sini," jawab Reynaldi.


"Jadi bagaimana sekarang kondisi Tante Rosa?" wajah Nayla berubah khawatir.


"Mama baik-baik saja,"


"Rey!" Meta buka suara dengan suara lirih.


"Ya ...." Reynaldi menoleh ke arah suara yang memanggilnya, dan pria itu seketika tertegun begitu melihat Meta yang merupakan sosok wanita yang pernah singgah di hatinya, sosok yang membuat dirinya mengenal kata jatuh cinta untuk pertama kali.


"Meta? kamu kerja di sini ya?" ucap Reynaldi, berusaha untuk tenang dan bersikap biasa saja.


"Iya. Kamu kelihatannya banyak berubah ya," ucap Meta, dengan suara yang sedikit bergetar.


"Ah, masih seperti dulu kok, tidak terlalu banyak berubah," Reynaldi masih berusaha untuk santai.


"Kalian saling kenal ya?" celetuk Nayla sembari melihat Reynaldi dan Meta bergantian.


"Iya, Nay. Dia ini__"


"Dia teman satu kelas waktu SMA," potong Reynaldi dengan cepat.

__ADS_1


"I-iya, Nay. Dia teman SMA," timpal Meta dengan raut wajah yang sedikit kecewa.


"Oh, begitu?" Nayla mengangguk-anggukan kepala.


"Apa mantan pacar Meta, yang diceritakannya tadi, anak Tante Rosa ini ya? sepertinya sih iya,"


batin Nayla dengan menatap curiga kedua orang di depannya dengan bergantian.


"Kamu lagi mikirkan apa?" Reynaldi tiba-tiba menyentil kening Nayla, sehingga Nayla mengaduh sembari mengelus-elus jidat bekas sentilan Reynaldi. Semua yang dilakukan oleh Reynaldi tentu saja tidak luput dari tatapan Meta dan gadis itu hanya bisa tersenyum kecut. Hatinya tiba-tiba sakit seperti ada mencubit keras hatinya itu


"Meta!" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Meta.


"Em, i- iya, Sayang!" sahut Meta dengan gugup.


"Kamu ternyata di sini. Aku kirain kamu ada apa-apa, makanya belum keluar."


"Aku baik-baik saja kok," Meta tersenyum terpaksa.


"Em, Sayang kenalkan ini Nayla. Nayla ini calon suamiku,"


"Reno"


"Nayla,"


"Emm dan ini __"


"Aku Reynaldi," ucap Reynaldi yang langsung memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tangannya.


Pria bernama Reno itu tidak langsung membalas uluran tangan Reynaldi. Pria itu justru memicingkan matanya, berusaha mengingat wajah Reynaldi.


"Tunggu, bukanya kamu ...." Pria itu menoleh ke arah Meta dengan tatapan tajam untuk meminta penjelasan.


Melihat tatapan tajam dari Reno, membuat Meta langsung menundukkan kepalanya.


Reynaldi menyadari kalau calon suami Meta, sedang cemburu. Seketika dia langsung melangkah maju selangkah dan langsung menepuk pundak Reno.


"Bro, kamu jangan cemburu! aku tidak sengaja bertemu dengan Meta. Aku ke sini juga mau menjemput calon istriku. Ini calon istriku," Tanpa izin Reynaldi langsung merangkul pundak Nayla. Nayla yang merasa kaget ingin membuka mulutnya menyangkal, tapi di mengurungkannya begitu melihat gerakan mata Reynaldi yang seakan memintanya untuk mengiyakan.


Sementara itu, Meta yang melihat tangan Reynaldi merangkul pundak Nayla, merasakan sesak di dalam hatinya.


"Maaf, Bro kalau aku salah sangka! kalau begitu kami pamit pulang dulu," Reno meraih tangan Meta dan mengajak calon istrinya itu untuk pergi.


"Lepaskan tanganmu! enak aja main ngaku-ngaku," Nayla menepis tangan Reynaldi dengan wajah masam.


"Sok marah, padahal kamu mau kan?" goda Reynaldi.


"Dih, gak sudi!" Nayla mendengus dan berlalu pergi.


"Hey, Nayla! mamaku mencarimu," panggil Reynaldi lagi, sebelum Nayla jauh.


Nayla menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Ya udah, bawa aku ke ruangan Tante Rosa!" ucap Nayla dengan nada suara yang masih ketus dan wajah masam. Wanita itu bahkan berjalan mendahului Reynaldi. Sementara itu, Reynaldi hanya bisa tersenyum tipis melihat ekspresi Nayla.

__ADS_1


Tbc


Mohon dukungannya selalu ya,guys. Please like vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh 😁🙏🏻


__ADS_2