
Sari keluar dari kamar Maya dengan senyum kemenangan. Wanita itu seakan puas, sudah menemukan partner untuk bisa membalaskan sakit hatinya pada keluarga Gavin khususnya Jelita. Entah kenapa wanita itu setelah keluar dari rumah mewah keluarga Maheswara, bukannya merasa bersalah, malah sebaliknya, rasa benci pada Jelita justru semakin dalam, apalagi ketika dia mendapat amarah dari Bik Narti, budenya sendiri.
Sari sempat merasa kalau memang jalannya untuk membalas Jelita, sangat buntu karena dia tahu kalau sekarang dia seperti tidak punya akses lagi untuk bisa menyingkirkan Jelita dari kehidupan Gavin, disebabkan wanita itu sudah tidak bekerja lagi di kediaman orang tua Gavin. Namun, hari ini, dia seakan mendapatkan jalan untuk bisa membuat Jelita hancur. Untuk sekarang tujuan utama Sari adalah bukan untuk mendapatkan Gavin kembali, tapi hanya untuk bisa menghancurkan Jelita, membuat Jelita terusir dari keluarga Maheswara adalah impian terbesarnya sekarang.
Dua hari yang lalu.
Sari merasa beruntung di saat dia bingung dua hari yang lalu, antara mau pulang kembali ke kampung atau mencari pekerjaan kembali di Jakarta, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang wanita, yakni mamanya Maya yang pada saat itu sedang kesal saat membawa belanjaan yang berupa bahan-bahan makanan.
"Sial! kenapa sih pembantu sialan itu harus pulang kampung dan nggak datang lagi? aku jadi susah seperti ini kan? harus belanja, bersihkan rumah, masak. Mana si Maya pake sakit lagi," wanita itu menggerutu tidak jelas.
"Wah, kebetulan sekali. Aku lebih baik melamar jadi pembantu wanita itu sebelum nanti aku dapat pekerjaan yang lebih baik," batin Sari bersorak gembira.
"Permisi, Bu! apa Ibu lagi butuh bantuan? kalau iya aku akan bantu ibu?" tanya Sari dengan ramah.
Wanita setengah baya itu tidak langsung menjawab, tapi lebih dulu menyelidik Sari dari atas sampai ke bawah dan berhenti pada tas besar bawaan Sari.
"Bagaimana kamu membantuku? kamu aja sedang membawa tas besar," ujar wanita itu dengan nada meremehkan.
"Ibu tenang saja, aku sudah terbiasa membawa benda-benda berat seperti ini. Aku ini seorang pembantu dan baru saja mau pulang kampung, karena majikanku udah banyak pembantu."
"Wah,kebetulan! apa kamu mau langsung pulang atau kamu mau bekerja di rumahku? tenang aja, rumahku tidak terlalu besar, jadi kamu tidak akan terlalu capek untuk mengerjakannya," tiba-tiba wajah wanita setengah baya itu, berubah berbinar.
"Apa Ibu tidak lagi bercanda? tentu saja aku mau, Bu," sahut Sari tidak kalah senangnya.
"Tentu saja aku tidak bercanda. Mulai sekarang kamu bekerja di rumahku. Nih kamu bawa semua belanjaannya ke mobil itu!" Wanita itu menunjuk ke sebuah mobil yang terparkir cukup jauh.
"Iya, Ibu!" sahut Sari dengan nada yang lemas.
__ADS_1
Wanita setengah baya itu seketika berjalan dengan angkuh meninggalkan Sari yang kesulitan dengan semua bawaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu berjalan dengan begitu cepat, tidak terasa sudah hampir sebulan Denis berada di negara Canada dan selama itu pula pria itu berusaha untuk meluluhkan hati Bella, tapi sama sekali tidak membuahkan hasil. Wanita itu benar-benar keras kepala dan tetap pada keputusannya.
Denis mengedarkan pandangannya ke segala penjuru apartemennya, dua hari lagi masa sewa apartemen itu akan habis. Denis bingung antara ingin melanjutkan menyewa kembali atau menyudahi dan kembali ke Indonesia.
"Apakah sudah saatnya aku menyerah?" batin Denis dengan tatapan kosong.
"Setidaknya aku sudah berjuang kan? setidaknya aku tidak akan memiliki penyesalan lagi, di masa yang akan datang karena sudah berusaha," lagi-lagi Denis mengajak hatinya untuk berbicara, walaupun dia tahu kalau tidak akan ada jawaban dari hatinya.
"Tapi, bagaimana kalau ada laki-laki lain yang mendekatinya? kenapa aku tidak rela ya?" Denis langsung membayangkan ada pria yang bersanding dengan Bella dan entah kenapa pria itu menggeram sendiri pada apa yang ada di bayangannya.
"Kenapa ini? kenapa aku bisa semarah ini? masih dipikirkan saja aku sudah semarah ini, apalagi nanti kalau kenyataan? apa ini berarti aku sudah mencintanya? dan bukan hanya karena ingin bertanggung jawab lagi?" batin Denis berperang di dalam sana.
Pria itu seketika duduk kembali, dan menyentuh dadanya yang bergejolak. "Tidak bisa dibiarkan ini, sepertinya Bella sudah benar-benar mencuri hatiku, aku harus tetap berjuang untuk bisa membawa dia pulang, bagaimanapun caranya," tekad Denis di dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di dalam sebuah kamar yang ditempati oleh Bella, kegundahan juga sepertinya menyerang hati wanita berparas cantik itu.
Entah kenapa,malam ini Bella seperti merasakan kesedihan yang amat sangat. Wanita itu, tiba-tiba merasakan rindu yang sangat besar pada pria yang selama sebulan ini selalu menggangu hari-harinya. Tanpa dia sadari butiran bening sebening kristal menetes membasahi pipinya. Dia tidak pernah merasa sesedih ini sebelumnya, dan benar-benar ingin bersembunyi di bawah pelukan Denis.
"Bella! buka pintunya sebentar! kamu belum makan dari tadi!" terdengar suara Jessie istri Brian kakaknya dari depan pintu.
"Iya, Bella, tolong buka pintunya! kamu tidak apa-apa kan?" Terdengar lagi suara Brian sang kakak yang dibarengi dengan ketukan di pintu.
__ADS_1
Bella menghela napasnya, lalu menyeka air matanya. Kemudian wanita itu berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu.
"Iya, Kak?" tanya Bella setelah dia membuka pintu.
"Bella? apa kamu sakit? kenapa wajahmu pucat seperti ini?" Brian tiba-tiba panik.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Aku hanya merasa sedikit pusing dan entah kenapa seperti lelah sekali, padahal aku tidak ngapa-ngapain," sahut Bella sembari menyenderkan tubuhnya di daun pintu.
"Apa kamu baru saja menangis?" Brian mengrenyitkan keningnya, curiga
"Nggak kok, kak. Tadi ada debu yang masuk ke dalam mataku, jadinya sedikit perih dan sampai mengeluarkan air mata," sangkal Bella yang masih berusaha untuk tersenyum.
"Ya udah, kalau begitu kamu makan dulu, habis itu kamu minum obat dan langsung tidur," Jessie buka suara.
"Aku tidak berselera untuk makan, Kak. Aku justru sekarang sangat ingin makan soto. Emm pasti rasanya sangat enak," Bella menelan ludahnya sendiri, saat membayangkan soto.
Brian dan Jessie saling silang pandang dengan kening yang berkerut. Karena mereka tidak menemukan jawaban, dengan saling silang pandang,Brian kembali menatap ke arah Bella.
"Soto? tapi ini sudah malam,Bel. Restoran makanan Indonesia juga cukup jauh dari sini. Bagaimana kalau besok saja kamu dan Jessie pergi ke sana?" tanya Brian dengan lembut.
Mendengar, kalau dia tidak bisa makan soto malam ini, tiba-tiba Bella menangis. Dia sendiri bingung kenapa dia bisa jadi secengeng ini, hanya karena soto.
"Bella, kenapa kamu menangis? kamu kenapa sih sebenarnya?" Brian kembali panik, demikian juga dengan Jessie.
"Baiklah, kebetulan kita masih ada bahan untuk membuat soto, aku buatkan ya? kalau kamu mau kamu bisa bantu aku," pungkas Jessie yang memang sudah belajar masakan Indonesia, semenjak dia menjalin hubungan dengan Brian.
"Siap, Kak!" wajah Bella seketika berubah cerah dan bersemangat begitu memikirkan kalau dia akan tetap bisa makan soto malam ini.
__ADS_1
Tbc