
Denis terlihat langsung berlari begitu turun dari dalam mobilnya. Dia membuka pintu cafe dengan keras hingga membuat para karyawan yang sedang bersiap-siap melakukan pekerjaan mereka, tersentak kaget. Untungnya belum ada tamu sehingga tidak terlalu menarik perhatian.
"Pagi, Pak Denis!" sapa para Karyawan sembari membungkukkan badan.
"Mana , Ibu Bella?" Denis sama sekali tidak membalas salam dari para karyawannya.
"Emm, Bu Bella gak datang, Pak. Tadi beliau kirim pesan kalau dia sudah berhenti kerja," jawab salah satu karyawannya.
"Tidak kerja lagi!" suara Denis meninggi, kaget mendengar kabar itu. "Apa kalian ada yang tahu di mana ibu Bella tinggal?" Semua karyawan saling silang pandang dan kemudian menggelengkan kepala.
Denis, mengembuskan napas dan berjalan lemas masuk ke dalam ruangannya, hingga menimbulkan tanya pada para karyawan.
Denis menghempaskan tubuhnya duduk di kursinya dengan kedua siku yang bertumpu di atas meja, dan telapak tangan berada di tas kepala.
"Sial! apa yang harus aku lakukan sekarang?" bagaimana aku bisa menemukannya kalau alamatnya saja aku tidak tahu di mana?" Denis merutuki kebodohan. Pria itu benar-benar frustasi.
"Oh iya, dia kan ada CV, waktu melamar kerja? di situ pasti ada tertera alamatnya," Denis langsung bangkit berdiri dan mencari berkas surat lamaran kerja Bella.
"Ini dia," sorak Denis ketika berhasil menemukan apa yang dia cari.
Denis meraih photo copy KTP yang memang ikut dilampirkan. Pria itu mengrenyitkan keningnya di saat membaca alamat yang tertera di KTP itu.
"Bukannya ini, kawasan elit? ah gak mungkin!" gumam Denis meragukan apa yang dia baca.
"Tapi, ini benaran,Bella kan? Isabella Alicia Permana. Sepertinya aku pernah mendengar nama Permana. Tapi dimana ya?" kening Denis berkerut, pertanda kalau pria itu tengah berpikir keras.
"Ahhh, aku gak bisa ingat. Lagian yang menggunakan nama Permana banyak," batin Denis lagi.
"Tapi, sebaiknya aku pergi ke alamat ini dulu untuk memastikan, apa benar dia tinggal di alamat ini," Denis berdiri kembali dan langsung keluar dari dalam ruangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Denis melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, karena benar-benar ingin bertemu dengan Bella.
Sekitar 20 menit, Denis berhenti di depan sebuah rumah mewah. Sekali lagi dia melihat kembali ke arah photo copy KTP dan ke arah rumah mewah untuk memastikan apa dia sudah tiba di alamat yang benar atau tidak.
"Iya ini alamatnya. Tapi apa mungkin dia tinggal di rumah sebesar ini? Sepertinya aku salah alamat," Denis hendak berlalu pergi lagi. Namun dia urungkan.
"Ah, sepertinya aku harus turun dan bertanya. Tidak ada salahnya untuk memastikan," Denis keluar dari dala mobil dan langsung menghampiri Satpam yang berjaga di depan.
"Permisi, Pak numpang tanya, apa benar ini tempat tinggal Isabella Permana?" tanyanya dengan sopan.
__ADS_1
"Benar sekali, Pak." jawab Satpam itu dari balik pagar yang masih belum dibuka.
"Wah, jadi benaran ini rumahnya? rumah seperti ini setidaknya pasti orangtuanya punya usaha, tapi kenapa dia masih mau bekerja di cafe ku?" Denis membatin sembari menatap rumah mewah di depannya.
"Pak, apa ada perlu dengan non Bella?" Denis seketika tersadar, begitu mendengar suara satpam itu lagi.
"Apa ibu Bellanya ada?"
"Maaf, Pak Ibu Bellanya sudah keluar dari jam 8 pagi tadi," Denis tersentak kaget mendengar kabar yang baru saja terlontar dari mulut satpam itu.
"Keluar? kalau boleh tahu kemana, Pak?" tanya Denis was-was.
"Kalau tidak salah katanya mau ke__"
Tin tin ....
Ucapan sang satpam berhenti di udara, begitu suara klakson mobil.
Satpam itu terlihat dengan sigap langsung membuka pintu pagar dan mempersilahkan mobil itu masuk.
Sementara itu, Denis yang belum dipersilahkan masuk, memicingkan matanya berharap yang keluar dari dalam mobil adalah Bella. Namun pria itu sontak menghela napas kecewa, begitu melihat kalau yang keluar dari dalam mobil bukanlah orang yang dia cari, melainkan sepasang suami istri yang sudah seusia orangtuanya.
"Lho, Nak Denis kamu ngapain ke sini?" Denis terkesiap kaget, tidak menyangka kalau pria setengah baya itu mengenalnya.
"Kenapa tidak? oh ya kenapa kamu masih berdiri di sana, ayo masuk! soalnya ada hal yang ingin aku tanyakan juga padamu. berikan saja kunci mobilmu pada pak Tarjo, biar dia nanti yang membawa masuk mobilmu ke dalam!" titah pria itu yang Denis yakini adalah papanya Bella.
Raut wajah Denis semakin terlihat bingung, tapi dia menurut saja dan memberikan kunci mobil pada satpam itu dan mengayunkan kakinya melangkah mengikuti sepasang suami istri itu masuk ke dalam rumah.
"Silahkan duduk, Nak Denis!"
"Waduh, kenapa auranya jadi kaya menyeramkan seperti ini ya? apa Bella sudah memberitahukan apa yang sudah aku perbuat padanya?" batin Denis sembari duduk dengan napas tertahan dan sedikit gemetar.
"Nak Denis, pasti kamu bertanya-tanya kenapa aku bisa mengenalmu, aku Indra Permana, papanya Bella. Kamu pasti pernah dengar nama Indra Permana dari papamu kan? Aku dan papamu itu sahabatan dari kecil," jelas Pria yang ternyata bernama Indra itu.
"O-Om Indra? jadi, itu berarti Bella ...gadis yang di ...." Denis kelihatan kesulitan untuk berbicara.
"Iya, Bella gadis yang dijodohkan denganmu, tapi kamu tolak, hingga membuat putri om itu meradang. Dia kesal makanya memutuskan untuk melamar kerja di cafe kamu, untuk melihat siapa dan bagaimana pria yang berani menolaknya. Karena selama ini dia tidak pernah ditolak oleh laki-laki, justru dia yang selalu menolak. Hanya kamu yang berani menolak putri kami, bahkan sebelum melihat wajahnya kamu sudah berani menolak," jelas Indra yang disertai dengan tawa, mengingat wajah manyun putrinya dulu.
Denis ikut tertawa tapi terlihat sangat terpaksa, bahkan terlihat seperti sedang meringis.
"Oh iya, Om tadi mau tanya, apa kamu dan Bella ada masalah? apa dia mengungkapkan cintanya, kamu tolak makanya dia memutuskan untuk pergi ke luar negeri?"
__ADS_1
"Apa, Om? ke luar negeri!" Denis tanpa sadar memekik sampai berdiri dari duduknya.
"Iya, ke luar negeri. Ini Om sama Tante baru pulang dari bandara, mengantarkan dia. Emangnya ada apa? kenapa kamu sekaget itu?" Indra mengrenyitkan keningnya.
"Ke mana dia pergi, Om? London, Amerika, Singapura atau ke mana, Om?" desak Denis.
"Maaf untuk itu, Om tidak bisa kasih tahu karena Bella minta untuk tidak memberitahukan siapapun. Karena katanya dia mau tenang, menata hatinya di sana."
"Om, aku mohon tolong kasih tahu aku ke mana dia pergi?" Denis kembali mendesak dengan raut wajah yang seperti ingin menangis.
"Lho, buat apa, Nak? bukannya seharusnya kamu senang ya? apa ada sesuatu yang berharga yang dibawa putri saya dari cafe kamu tanpa izin?" sekarang mamanya Bella yang buka suara.
"Ada, Tante. yang berharga itu dia. Jadi tolong kasih tau aku ke luar negeri mana dia pergi?"
"Sekali lagi maaf, kami tidak bisa memberitahukanmu," tegas Indra kembali.
"Tapi aku ingin menikahinya ,Om, Tan karena aku sudah merenggut kehormatannya tadi malam!" pekik Denis tidak sengaja mengakui perbuatannya.
"Apa!" pekik Indra ikut berdiri.
"Apa maksud kamu?" Indra mencengkram kerah kemeja yang dipakai Denis, menatap tajam menuntut penjelasan.
"Tadi malam aku tidak sengaja menodainya, karena aku mabuk berat, Om. Aku minta maaf, Om!" ujar Denis yang akhirnya memilih untuk berterus terang.
Bugh
Tangan Indra melayang memukul wajah Denis.
"Brengsek kamu! bagaimana kamu bisa setega itu, Bajingan!" Indra kembali memberikan pukulan di wajah Denis.
Denis sama sekali tidak ada niat untuk melawan,dia pasrah mendapat pukulan dan makian dari Indra papanya Bella.
"Om, Aku benar-benar minta maaf! aku berani bersumpah kalau aku tidak sengaja. Aku datang ke sini juga mau niat tanggung jawab,Om." Denis berlutut dengan air mata yang sudah merembes. Pria itu tidak malu lagi terlihat lemah di hadapan orang tua, wanita yang sudah dia hancurkan itu.
Indra yang tadinya mengepalkan tangannya, perlahan-lahan merenggangkan kepalannya dan menghempaskan tubuhnya duduk kembali di atas sofa. Dari sudut matanya, terlihat butiran cairan bening yang langsung disekanya cepat. Pria setengah baya itu itu tidak bisa membayangkan apa yang dialami oleh putrinya itu tadi malam.
"Baiklah! Om ingin melihat tanggung jawabmu. Om tidak akan memberitahukan kemana dia pergi. Kalau kamu memang niat untuk bisa bertemu dengannya, om kasih kesempatan untuk kamu cari sendiri dia kemana," pungkas Indra dengan nada yang lemas tapi tetap disertai dengan tatapan yang sangat tajam.
"Tapi, Om kenapa__"
"Tidak ada tapi-tapi! kalau kamu memang benar-benar niat, kamu pasti akan berusaha untuk mencari tahu sendiri. Ayo, Ma kita tinggalkan dia!" pungkas Indra sembari beranjak pergi disusul oleh sang istri.
__ADS_1
Tbc
Mohon untuk tetap meninggalkan jejaknya ya, guys. Like, vote dan komen. Thank you 🙏🏻