Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Dasar para pria emang tidak peka


__ADS_3

Gavin sudah selesai makan malam, dan kini pria itu sudah kembali ke dalam kamarnya. Sementara Jelita masih sibuk di dapur untuk menyiapkan semua bahan yang dia perlukan untuk membuat kue-kue untuk cafenya Denis, besok.


Gavin merebahkan tubuhnya, dan menatap langit-langit kamarnya. Pikiran pria itu menerawang jauh entah kemana. Dia ingin sekali tidur, tapi karena sudah tidur seharian, matanya sekarang tidak bisa diajak untuk kompromi.


Bunyi dering dari ponselnya, mengakhiri lamunan Gavin. Pria itu duduk kembali dan meraih ponselnya.


"Reynaldi? ngapain dia meneleponku malam-malam begini? awas aja kalau dia telepon hanya mau nanyain Jelita." Gavin menekan tombol jawab dan meletakkannya pada telinga.


"Ada apa?" suara Gavin terdengar sangat dingin, karena jujur saja, dirinya masih kesal pada sahabatnya itu.


"Kok, ketus banget, Sob?"


"Jangan banyak basa-basi! kamu menghubungiku ada apa? kalau mau tanya tentang Jelita, dia sudah tidur,"


Tawa Reynaldi seketika pecah dari sebrang sana, mendengar tuduhan Gavin.


"Astaga, Sob. Kamu masih cemburu padaku? aku kirain sudah selesai lho," ucap Reynaldi di sela-sela tawanya.


"Siapa yang cemburu? aku nggak cemburu sama sekali. Aku tuh cuma kesal, karena suara kalian yang kencang, aku jadi tidak bisa istirahat," sangkal Gavin.


"Ah yang benar? tapi menurutku kamu itu sedang cemburu, dan siapapun yang mengenal dekat kamu, pasti tahu, karena sangat jelas terlihat dari wajahmu. Jadi, kamu tidak usah menyangkal lagi,"


"Sekali lagi aku tekankan, kalau aku tidak cemburu sama sekali!"!suara Gavin mulai meninggi, masih kekeh kalau dirinya tidak cemburu sama sekali.


"Iya, iya deh. Maaf kalau aku salah. Kalau begitu, kalau kamu tidak sakit, aku bisa dong main-main ke rumahmu? soalnya masakan istrimu enak." pancing Reynaldi.


Tanpa sadar Gavin menggeram, sembari mengepalkan tangannya. Wajah pria itu juga memerah, dengan rahang yang mengeras.


"Terserah!" ucap Gavin di sela-sela rasa marahnya.


"Yes! terima kasih, Sob!" sorak Reynaldi, yang sebenarnya sudah yakin kalau wajah Gavin pasti terlihat kesal saat ini.

__ADS_1


"Itupun kalau kamu masih bisa masuk ke dalam apartemenku. Soalnya aku akan mengganti nomor PINnya," Gavin membatin sembari tersenyum licik,


"Apa tadi tujuanmu menghubungiku hanya untuk mengatakan itu? kalau iya, aku akan tutup teleponnya. Kamu benar-benar membuang waktuku," Gavin bersiap-siap untuk mematikan panggilan.


"Eh, tunggu, tunggu! sebenarnya ada hal penting yang ingin aku katakan,"cegah Reynaldi dengan cepat sebelum Gavin mematikan panggilannya.


"Apa ini tentang pekerjaan? kalau iya, besok saja."


"Tidak! ini bukan masalah pekerjaan. Tapi, kalau boleh, kamu tolong bicara seperti biasa aja. Jangan ketus seperti itu, seperti menganggap aku musuh yang ingin kamu habisi cepat-cepat,"


Gavin, menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya kembali ke udara dengan cukup panjang. "Ya udah,kamu katakan ada apa?" suara Gavin sudah terdengar lebih bersahabat sekarang.


"Begini, Sob, tadi sepulang aku dari apartemenmu, aku bertemu dengan Denis yang rencananya juga ingin menjengukmu, tapi tidak jadi, karena aku melarangnya. Dia sempat memintaku untuk mencarikan seseorang yang bisa mensuplay kue-kue ke cafenya, karena orang yang biasa, harus ikut suaminya ke luar kota. Tadi, aku sempat ingin menawarkan istrimu, tapi aku ragu karena bagaimanapun aku tidak ingin melangkahimu. Aku tidak mau, udah aku tawarkan, kamu malah marah padaku," Reynaldi berhenti sejenak, karena tidak ada tanda-tanda Gavin menyahut.


"Sob, apa kamu dengar aku? kamu masih di sana kan?" tanya Reynaldi, memastikan.


"Iya, aku masih di sini. Terus?" sahut Gavin sembari merebahkan tubuhnya kembali.


"Tidak! aku tidak marah sama sekali. Mungkin Rejeki Jelita bukan bekerja sama dengan Denis. Hari ini, Jelita bilang ada cafe yang memintanya untuk menyediakan kue-kue di cafe juga. Jadi, walaupun bukan di tempat Denis, setidaknya Jelita sudah bekerja sama dengan sebuah Cafe juga."


"Syukurlah! aku tidak jadi menyesal." sahut Reynaldi, sembari mengembuskan napas lega.


Tidak berapa lama, akhirnya obrolan dua sahabat itupun berakhir. Gavin nyaris menutup matanya,tapi tiba-tiba dia buka kembali karena ingat sesuatu. Apalagi coba, kalau bukan mengganti nomor pin pintu apartemennya dengan angka yang susah ditebak Reynaldi dan Denis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Bella yang sudah terbiasa datang lebih awal, terlihat sedang membersihkan ruangannya sendiri. Karena Cafe memang buka, pukul 10 setiap harinya.


"Bel, apa Jelita sudah datang mengantarkan kue-kuenya?" Bella yang sedang fokus melap mejanya terjengkit kaget, karena mendengar suara Denis yang muncul tiba-tiba.


"Eh, Pak Denis! bikin kaget saja," Bella menepuk-nepuk pelan dadanya, untuk menetralkan rasa kagetnya.

__ADS_1


"Tumben pak, Denis sudah datang jam segini? biasanya dia baru datang di jam-jam setelah makan siang. Sepertinya pak Denis, benar-benar tertarik pada Jelita," batin Bella yang raut wajahnya tiba-tiba merasa sedih. Karena memang Denis kemarin mengatakan, kalau dia ingin Jelita, yang datang sendiri mengantarkan kue-kuenya bukan kurir ataupun ojek online.


"Bel, apa kamu dengar aku? kenapa kamu diam saja?" Denis kembali buka suara dengan nada yang tidak sabar.


"Eh, be-belum, Pak. Sepertinya sebentar lagi dia akan datang," ucap Bella berusaha untuk bersikap tenang.


"Oh, seperti itu?" sahut Denis sembari melihat ke arah arlojinya.


"Selamat pagi!" terdengar suara seorang wanita yang datang dari arah pintu. Senyum Denis sontak merekah, begitu mendengar suara yang dia yakini adalah wanita yang membuat dirinya tidak bisa tidur semalaman, siapa lagi dia kalau bukan Jelita.


Tanpa pamit pada Bella, Denis langsung melangkah untuk menemui Jelita. Sementara itu, Bella menatap ke atas untuk menahan agar air matanya tidak jatuh. Kemudian, setelah dia berhasil menetralkan perasaannya, dia menyusul Denis untuk menemui, Jelita.


"Hai, Jelita, bagaimana? apa kamu ada kesulitan untuk membuat kue sebanyak ini?" tanya Denis, berbasa-basi.


"Emm, kalau dikatakan tidak ada, tidak mungkin. Tapi memang tidak terlalu sulit,sih Pak. Hanya cuma lebih capek saja dari sebelumnya karena aku melakukannya sendiri," jawab Jelita seadanya, yang tentu saja disertai dengan senyuman yang lagi-lagi berhasil membuat Denis terpukau


"Emm, boleh aku meminta sesuatu dari kamu, Jelita?" tanya Denis dengan sangat hati-hati.


Jelita mengrenyitkan keningnya, melihat sikap Denis. Bukan hanya Jelita, Bella juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Denis.


"Apa, Pak Denis mau mengungkapkan rasa sukanya sekarang juga? apa ini tidak terlalu cepat?" batin Bella yang sudah menyiapkan hatinya untuk tidak menangis nantinya.


"Selagi yang Pak Denis minta masih wajar, ya boleh aja, Pak," sahut Jelita.


"Emm, tidak aneh kok. Aku hanya ingin supaya kamu jangan terlalu bersikap formal dengan memanggiku, pak. Kalau boleh, panggil aku Denis saja,"


Bella sontak menoleh ke arah Denis yang berdiri di sampingnya. Seumur-umur, pria itu tidak pernah memintanya untuk tidak memanggilnya Pak, seperti yang dimintanya pada Jelita sekarang. Hal itu membuat manik mata gadis itu kembali berembun.


"Emm, aku permisi sebentar ke toilet ya," Bella beranjak pergi, tanpa menunggu jawaban dari Denis dan Jelita. Hal ini tentu saja tidak luput dari pandangan Jelita.


"Emm, sepertinya mbak Bella, suka pada Pak Denis." bisik Jelita pada diri sendiri sembari menatap kepergian Bella. Kemudian wanita itu kembali menoleh ke arah Denis yang sekarang masih tetap tersenyum ke arahnya. "Dasar para pria emang tidak peka, ada wanita secantik itu, di sampingnya masa dia gak bisa merasakan kalau Mbak Bella menyukainya," Jelita menggerutu di dalam hati, sembari mengingat wajah Gavin.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2