
Maya memukul alat kemudi mobilnya de gan keras Wajah wanita itu terlihat sangat marah karena dari tadi panggilannya selalu ditolak oleh Gavin.
"Ah, sial! sepertinya kamu tidak takut dengan ancamanku. Kali ini aku tidak akan sungkan lagi, aku akan mendatangi orang tuamu hari ini juga," Maya menggerutu sembari melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Maheswara.
Setelah menempuh jarak sekitar 30 menit, mobil yang dikendarai oleh Maya kini berhenti, persis di depan mansion mewah milik keluarga Maheswara.
Maya sedikit mengalami kesulitan untuk bisa masuk karena dihadang oleh satpam. Namun bukan Maya namanya kalau tidak bisa meyakinkan satpam itu, kalau dia adalah salah satu orang penting yang ingin bertemu dengan sang pemilik rumah.
"Wah, besar sekali mansionnya! aku tidak sabar menjadi salah satu penghuni rumah ini, nantinya," batin Maya, mengagumi mansion, dengan mata yang berbinar dan mulut yang setengah terbuka.
Maya kemudian melangkah menuju pintu masuk dan langsung menekan bel. Tidak menunggu lama, seorang wanita yang memakai seragam pembatu, membukakan pintu untuknya.
"Maaf, Nona, anda sedang mencari siapa?" tanya pembantu itu segala sopan.
"Aku mau mencari Pak Ganendra dan Ibu Melinda. Mereka ada di dalam kan?" jawab Maya dengan angkuhnya.
"Ada, Nona. Anda siapa dan ada keperluan apa?" pembantu itulah masih berusaha untuk ramah.
"Aku Maya. Aku datang ke sini tentu saja ada hal yang sangat penting. Dan hal penting itu akan aku sampaikan pada orang yang penting juga, bukan orang seperti kamu," ucap Maya, ketus. Wanita itu kesal karena merasa kalau pembantu itu terlalu banyak bertanya.
Raut wajah pembantu itu seketika sedikit berubah, kesal. Namun sang pembantu itu berusaha untuk tidak menunjukkan kekesalannya.
"Tunggu sebentar, aku akan panggilan Tuan dan Nyonya," pembantu, hanya cukup melangkah beberapa langkah dan menekan-nekan nomor pada sebuah telepon yang menempel di tembok.
"Maaf, Tuan! ada tamu yang mencari Tuan dan Nyonya," ucap Pembantu itu.
"...."
__ADS_1
"Katanya namanya Maya dan dia ada urusan yang sangat penting,"
"...."
"Baik, Tuan!" Pembantu itu, meletakkan kembali gagang telepon dan kembali menemui Maya.
"Silakan masuk,Nona. Tuan dsn Nyonya akan segera datang ke sini." Pembantu itu memberikan jalan buat Maya dan mempersilahkan wanita itu duduk.
"Ada urusan apa kamu datang kemari?" tanya Melinda dengan nada dingin dan ekspresi datar, setelah duduk di samping suaminya.
"Aku datang ke sini tentu saja ingin meminta pertanggungjawaban anak Tante dan Om, Gavin." jawab Maya, tidak merasa gugup sama sekali.
"Pertanggungjawaban? maksudnya?" Ganendra buka suara dengan dahi yang berkrenyit.
Om, Tante! aku tahu kalau Gavin sudah menikah, tapi dia tetap harus bertanggung jawab, karena aku sedang mengandung anaknya, yang berarti cucu kalian berdua," Maya tersenyum miring.
Ganendra dan Melinda terlihat shock sampai mata mereka membulat dengan sempurna.
"Apa?! kamu mengandung anak Gavin? tidak mungkin!" pekik Melinda, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.
"Apanya yang tidak mungkin,Tante? Kami berdua sudah saling mencintai sejak dulu,"
"Diam! kamu jangan asal bicara! aku tahu jelas kalau anak saya sangat mencintai istrinya, Jelita. Aku mendengar sendiri bagaimana dia mengungkapkan rasa cintanya pada menatuku itu." bentak Melinda dengan mata yang berkilat-kilat penuh amarah.
"Apa Tante percaya begitu saja? itu hanya sandiwara Gavin. Dia hanya tidak ingin harta kekayaan kalian benar-benar jatuh ke tangan Jelita. Mau tidak mau dia harus berpura-pura untuk terlihat mencintai Jelita. Dia itu masih sangat mencintaiku, Tante." ucap Maya tidak kalah berapi-apinya dari Melinda.
"Kami tetap tidak percaya! sekarang kamu keluar dari rumah ini, dan jangan coba-coba untuk muncul lagi di depan kami!" usir Melinda dengan nada dingin.
__ADS_1
"Tapi aku punya bukti-buktinya, Tan." Maya kembali mengeluarkan photo-photonya dengan Gavin yang memperlihatkan seakan mereka romantis di photo itu. Maya juga memperlihatkan sebuah kertas hasil pemeriksaan kandunganya, yang entah dari mana dia dapatkan.
"Brengsek! dasar anak tidak tahu diuntung! benar-benar bikin malu keluarga," umpat Ganendra sembari memukul meja dengan keras.
"Kamu sekarang boleh pergi. Kalau kalian berdua memang saling mencintai, ya udah kalian berdua menikah saja," ucap Ganendra.
"Pa!" protes Melinda menatap tajam ke arah suaminya.
"Yes! akhirnya aku akan jadi nyonya muda di rumah ini," sorak Maya dalam hati
"Biarkan ajalah, Ma, mereka menikah. Tapi seperti yang kita rencanakan dulu, Gavin benar-benar akan kita hapuskan dari hak waris, dan semua harta kekayaan jatuh ke tangan Jelita," ucap Ganendra kembali.
"Apa? apa? coba ulangi sekali lagi, Om! maksud Om Gavin tidak akan mendapatkan apa-apa?" wajah Maya seketika berubah panik, karena kaget mendengar ucapan yang terlontar dari mulut papanya Gavin.
"Iya! apa kurang jelas? anak itu akan, kami depak keluar dari rumah dan bukan bagian dari keluarga Bagaskara lagi. Karena lebih baik kami tidak memiliki anak daripada memiliki anak yang seperti dia,"
"Kenapa Om tega pada anak sendiri? Om membuang dan membiarkan anak om sendiri sengsara demi Jelita, yang bukan darah daging om dan Tante?" protes Maya, berdecak kesal.
"Jelita memang bukan darah daging kami, tapi dia menantu yang sudah kami anggap seperti putri sendiri. Jadi sekarang tunggu apa lagi? kami boleh keluar sekarang! kamu dan Gavin sekarang bebas untuk menikah. Aku sendiri nanti yang akan mengurus perceraian Gavin dan Jelita," pungkas Ganendra sembari menarik tangan Melinda untuk beranjak pergi meninggalkan Maya.
"Om, Tante! kalian tidak boleh seperti itu! yang anak Om dan Tante itu, Gavin bukan Jelita!"Maya berteriak, masih berusaha untuk mencegah keputusan orang tua Gavin. Namun Ganendra dan Melinda seakan tidak mendengar teriakan Maya, kedua orang itu tetap saja melangkah tanpa menoleh sama sekali.
Merasa tidak dipedulikan,Maya akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah mewah itu,dengan perasaan yang sangat dongkol.
"Sialan! kalau Gavin tetap tidak mendapatkan apa-apa, sama aja Zonk dong! sia-sia yang aku lakukan untuk mendapatkan dia kembali. Buat apa aku menikah dengannya kalau hidup miskin," Maya menggerutu dalam hati.
"Sepertinya, aku salah target. Yang seharusnya aku lakukan itu, membuat Gavin dan kedua orang tuanya,membenci Jelita dan membuat diriku seakan-akan menjadi pahlawan yang telah berhasil membongkar keburukan Jelita. Jadi, mereka akan mengusir Jelita dan menyuruh Gavin untuk menceraikan wanita itu. Nah, setelah itu mereka akan meminta Gavin untuk mencintaiku,"
__ADS_1
Tbc