Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Disidak Pagi-pagi


__ADS_3

Cakrawala kembali menjemput sang mentari untuk menerangi bumi. Cahayanya, membias masuk ke dalam kamar di mana dua insan yang sudah sah menjadi suami istri sudah hampir dua bulan,tapi baru merasakan yang namanya tidur di ranjang yang sama. Siapa lagi mereka kalau bukan Jelita dan Gavin. Bukan hanya merasakan tidur di ranjang yang sama, tapi juga baru merasakan terbang ke puncak nirwana.


Kelopak mata Gavin bergerak-gerak, pertanda kalau pria itu akan segera membuka matanya. Pria itu mengerjap-erjapkan matanya lalu melakukan peregangan sebentar. Dia meringis, ketika merasakan nyeri di punggungnya. Gavin meraba punggungnya, dia semakin meringis karena ada luka di sana, akibat dari perbuatan-perbuatan Jelita yang menancapkan kukunya saat dia hendak membobol inti isterinya itu untuk pertama kalinya.


"Haish, dia sangat liar!" gumam Gavin sembari menoleh ke arah Jelita yang masih pulas dengan tidurnya.


Melihat wajah polos Jelita, Gavin menyelipkan sebuah senyuman di sudut bibirnya, mengingat yang terjadi tadi malam.


Beberapa jam yang lalu


Jelita dan Gavin akhirnya memutuskan untuk memesan makanan, untuk makan malam mereka. Setelah selesai makan, seperti yang dikatakan oleh Gavin, Jelita tidak boleh kembali lagi ke kamar yang biasa dia tempati, tapi mereka berdua tidur sekamar dan di ranjang yang sama, seperti halnya suami istri pada umumnya.


Jelita masuk ke dalam kamar mandi, seperti biasa membersihkan wajahnya dan menggosok gigi, demikian juga dengan Gavin. Kecanggungan tercipta di antara mereka berdua.


Jelita keluar dari dalam kamar mandi lebih dulu, dan langsung naik ke atas ranjang dengan sangat hati-hati dan jantung yang berdetak kencang.


"Hmm, tadi aku sudah setengah polos kan? tapi kenapa dia bereaksi apa-apa? apa karena aku kurang menarik, atau jangan-jangan karena dia gak normal?" batin Jelita, sembari bergidik. Tanpa dia sadari, ternyata Gavin sudah keluar dari kamar mandi dan bahkan sudah duduk di sampingnya.


"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Gavin.


"Kamu nggak normal!" celetuk Jelita tiba-tiba karena terlalu kaget, mendengar suara Gavin.


"Tidak normal? maksudmu?" Gavin mengrenyitkan keningnya.


"Kamu lagi meragukanku?" sambungnya kembali.


"Bu-bukan seperti itu. A-aku tadi hanya ...." Jelita meringis tidak tahu mau berkata apa-apa lagi.


"Sepertinya kamu benar-benar meragukanku. Kamu tahu, kenapa aku tidak langsung memakanmu tadi? bukan karena tidak ingin, tapi aku tidak mau melakukan hal itu karena marah, yang otomatis akan membuat kamu merasa terhina. Jadi, apa kamu masih mau meragukan ku?" Gavin bertanya sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Jelita. Jelita mau memundurkan kepalanya, tapi tidak bisa karena sudah terganjal dengan sandaran ranjang.


Satu hal yang bisa dia lakukan hanya mengerjap-erjapkan mata, tapi justru hal itu jadi terlihat menggemaskan di mata Gavin.


Bagaikan terhipnotis, bibir Gavin tiba-tiba sudah mendarat dengan lembut di bibir Jelita. Jelita terkesiap kaget tapi tidak ada niat untuk menolak. Karena tidak mendapat penolakan, akhirnya Gavin memberanikan diri untuk melakukan lebih. Ciuman yang tadinya lembut, berubah menjadi panas. Ciuman yang semakin menuntut dan Jelita berusaha untuk membalas, dan benar-benar terlihat kaku, benar-benar pencium yang buruk.


Dalam hitungan menit, pakaian mereka sudah terlucuti, dan tubuh mereka sudah polos, tanpy sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka. Yang menempel di tubuh dua insan itu , buliran peluh yang semakin bertambah karena sudah semakin panas dan udara dingin dari AC seperti tidak cuma kuat untuk menghalau hawa panas itu.


"Kenapa? apa kamu tidak melakukannya?" tanya Gavin, ketika dia hendak mengarahkan senjatanya, Jelita refleks menahan dadanya.


"Bu-bukan seperti itu. Apa rasanya sakit?" tanya Jelita sembari menggigit bibirnya.


"Pasti sakit, tapi percayalah rasa sakit itu hanya sebentar, setelah itu kamu akan merasakan hal yang belum pernah kamu rasakan." ucap Gavin dengan tatapan sendu, karena gairahnya yang sudah sampai ke ubun-ubun. Hanya dia dan Tuhan yang tahu, bagaimana sekarang dia sangat membutuhkan pelepasan itu.


"Oh, seperti itu? rasa yang bagaimana? apa kamu sudah pernah merasakannya?" Jelita kembali bertanya, hingga membuat Gavin mengembuskan napas, berusaha menahan kesal.

__ADS_1


"Belum," jawab Gavin,santai.


"Kalau belum, bagaimana kamu bisa tahu bagaimana __"


"Sekarang yang penting, kamu iklas melakukannya atau tidak? kenapa seperti sedang melakukan tawar menawar sih?" cetus Gavin yang mulai tidak bisa menahan kekesalannya lagi


"Emm, baiklah! tapi pelan-pelan ya!" pungkas Jelita yang akhirnya pasrah. Karena sejujurnya dibalik rasa takutnya, rasa penasaran dan menginginkan lebih, lebih kuat dibandingkan dengan rasa takutnya.


Gavin kembali lagi membenamkan bibirnya di bibir Jelita dan menjamah setiap area-area sensitif di tubuh Jelita, untuk menyalakan kembali api gairah yang sempat hampir padam.


Suara de*sahan yang keluar dari mulut Jelita, seakan menjadi pemantik yang membuat gairah Gavin semakin membara.


Suara jeritan tiba-tiba menggema memenuhi ruangan itu, ketika Gavin berhasil memasuki inti Jelita. Bukan hanya Jelita yang menjerit, tapi juga Gavin. Jelita menjerit sakit di bagian intinya sedangkan Gavin menjerit karena kuku Jelita yang menancap di punggungnya.


"Sakit ya? maaf!" bukan Gavin yang bertanya, tapi Jelita, hingga membuat Gavin hampir tertawa.


"Harusnya aku yang menanyakan hal itu dan minta maaf, tapi kok jadi kamu yang bertanya," ucap Gavin, yang memang tidak langsung bergerak. Ia menunggu inti istrinya itu bisa beradaptasi dulu dengan benda asing yang baru saja bertandang.


"Punggung kamu kan terluka karena kukuku,"


"Oh, tidak masalah. Karena rasa sakitnya tidak sebanding dengan apa yang kamu rasakan. Bagaimana sekarang, apa sudah bisa kita mulai lagi?" tanya Gavin yang benar-benar hampir tidak bisa menahan untuk tidak langsung bergerak.


Gavin menyelipkan senyuman di bibirnya, begitu melihat Jelita menganggukkan kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gavin memutuskan untuk tidak membangunkan, Jelita karena dia tahu kalau tadi malam Istrinya itu sangatlah kelelahan.


Gavin memutuskan untuk masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berniat untuk memesan makanan saja nanti untuk sarapan pagi mereka.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Gavin keluar dari dalam kamar mandi, dan dia melihat kalau Jelita masih tertidur pulas. Tidak ingin mengganggu, pria itu keluar dari dalam kamar. Di saat yang bersamaan, pintu apartemennya, dibuka oleh seseorang, yang tidak lain adalah sang mama.


"Ma? kok, pagi-pagi sudah datang ke sini?" tanya Gavin dengan ekspresi kagetnya. Apalagi ketika melihat raut wajah mamanya yang sepertinya marah, dan Sari ikut serta datang bersamanya.


"Di mana menantu, Mama?" tanya Melinda dengan wajah tanpa senyuman seperti biasa. Jangan lupakan, Sari yang tersenyum sinis dan seperti sedang bahagia.


"Dia masih tidur, Mah. Ada apa?" tanya Gavin yang terlihat semakin bingung.


"Cih, jam segini masih tidur. Istri macam apa itu? rasain kamu Jelita, kamu pasti bakal dibenci sama Ibu Melinda," batin Sari, tersenyum bahagia.


"Apa benar kamu dan Jelita tidur di kamar yang berbeda? apa kalian berdua benar sudah membohongi, mama?"


"Dari mana Mama mendapat kabar seperti itu?" Gavin mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Dari Sari. Sari kemarin menggantikan bik Narti membersihkan apartemen kamu. Dia bilang kalau kalian tidak tidur dalan satu kamar, apa itu benar?" suara Melinda mulai sedikit meninggi.


Gavin tidak langsung menjawab. Dia justru menatap Sari dengan tatapan yang sangat tajam. Ya, dia hampir lupa kalau kemarin memang Sari datang menggantikan Bik Narti untuk membersihkan apartemennya. Bukan Jelita tidak mau membersihkan, ini memang atas perintah Melinda yang tahu kalau Jelita pasti capek mengurus toko kue dan pesan-pesanan pelanggan.


"Berarti kemarin dia masuk ke kamar Jelita. Padahal sudah jelas aku katakan kalau dia hanya diizinkan membersihkan ruang tamu dan dapur saja, tapi ternyata dia tidak mematuhi perintahku," batin Gavin dengan tetap menghunuskan tatapan yang sangat tajam ke arah Sari, hingga membuat wanita itu takut dan menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu diam saja, Vin? apa benar yang dikatakan Sari?" bentak Melinda mulai tidak sabar.


"Itu tidak benar, Mah. Jelita dan aku tidur satu kamar?" jawab Gavin, tegas


"Mama tidak percaya! Mama mau lihat,"


"Jangan,Mah! dia lagi ...."


"Berarti yang dikatakan Sari benar. Awas minggir kamu, mama mau lihat!" Melinda mendorong tubuh putranya itu, ke samping.


Gavin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, pasrah jika nanti mamanya melihat tubuh polos Jelita. Pria itu hanya bisa berharap kalau selimut masih menempel di tubuh sang istri di dalam sana.


Melinda masuk ke dalam kamar Jelita dan matanya membulat penuh melihat tubuh menantunya yang dia tahu tidak memakai apapun. Memang bagian bawah masih tertutup dengan selimut tapi tidak dengan bagian atas yang menampakkan dua benda bulat dan kenyal. Tampak juga di sana semua hasil lukisan sang anak.


"Tuh kan Mah, aku dan dia tidur satu kamar," Gavin dengan sigap menutup tubuh sang isteri dengan selimut. Merasa ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya, Jelita seketika membuka matanya.


Mata wanita itu membulat penuh dan sontak duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Ma-Mama?" wajah Jelita memerah, benar-benar malu.


Melinda tersenyum geli. "Maafin, Mama ya? Mama hanya tidak suka kalau kalian berdua membohongi mama," ucap Melinda. Wanita itu benar-benar lega sekarang.


"Oh ya, kamu ganas juga ya Nak?" bisik Melinda, yang masih bisa didengar oleh telinga Jelita, hingga membuat rona merah semakin terlukis jelas di pipi wanita itu.


Kemudian Melinda mengalihkan tatapannya pada Sari yang berdiri di ambang pintu. Tatapan wanita itu benar-benar tajam, bak pisau belati yang siap menghujam Jantung.


"Kamu ya, benar-benar pembohong!" bentak Melinda yang membuat Sari tersentak, takut.


"Sekali lagi kamu mengatakan yang tidak-tidak,aku tidak akan segan-segan memecatmu, walaupun kamu itu keponakan bik Narti. Paham kamu!" sambung Melinda lagi.


"Paham, Bu!" ucap Sari sembari menundukkan kepalanya.


"Kenapa mereka bisa jadi tidur sekamar sih? bukannya kemarin mereka masih tidur di kamar yang berbeda? sial!" umpat wanita itu, merasa kesal.


"Pasti dia yang menggoda, Tuan Gavin. Dasar wanita murahan," umpatnya lagi,


Tbc

__ADS_1


__ADS_2