Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Go public


__ADS_3

Kalau di Canada masih pukul 9 pagi, beda dengan di Indonesia yang sekarang sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Malam ini, adalah hari aniversary pernikahan Ganendra dan Melinda, orang tua Gavin yang ke 30 tahun atau ulang tahun pernikahan mutiara. Mereka sengaja mengadakan di hotel mereka sendiri, dan mengundang banyak rekan bisnis.


Jelita berkali-kali mematut dirinya di depan cermin, merasa tidak percaya diri dengan penampilannya. Malam ini dia tampil dengan gaun berwarna putih panjang, dengan lengan panjang, karena Gavin tidak mau Istrinya itu tampil seksi. Rambutnya dia biarkan tergerai dengan gaya 'classic middle part Curl' dimana rambut lurusnya dibuat lebih bervolume, bertekstur, dan glamor.



"Sayang, apa kamu sudah siap?" Gavin tiba-tiba masuk dan langsung tertegun melihat penampilan istrinya yang benar-benar diluar Ekspektasinya. Istrinya tampak luar biasa dengan gaun yang dibelinya.



"Kamu cantik sekali, Sayang! kalau begini, lebih baik kita di kamar aja,"


"Cantik? apa benar aku cantik? apa nanti aku tidak akan malu-maluin kamu?" tanya Jelita yang masih terlihat insecure pada dirinya sendiri.


"Buat apa kamu malu? kamu itu benar-benar cantik. Seperti yang aku katakan tadi, kalau ini bukan aniversary mama dan papa, aku lebih memilih untuk tetap berada di dalam kamar," sahut Gavin, yang membuat semburat merah muncul di pipi Jelita.


"Ayo kita keluar sekarang! Mama dan papa dari tadi sudah menghubungiku terus-menerus,". Gavin meraih tangan Jelita dan menggenggamnya erat.


"Sayang, kamu tidak bohong kan?" Jelita kembali bertanya untuk memastikan.


"Tidak, Sayang. Kamu itu benar-benar cantik, Percaya sama aku!" Gavin berucap dengan tegas, meyakinkan sang istri yang dia tahu sangat gugup sekarang.


"Ayo, turun! sebelum mama nanti berubah jadi singa betina," Jelita terkekeh mendengar ucapan suaminya yang meledek mamanya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gavin dan Jelita masuk ke dalam ruangan tempat diadakannya acara perayaan aniversary kedua orang Gavin, dengan bergandengan tangan. Di dalam san sudah dipadati dengan para undangan yang bersenda gurau, makan dan sebagainya.


Mata Gavin mengedar untuk mencari keberadaan king dan ratu kadaluarsa itu, ya seperti itulah sebutan Gavin buat kedua orangtuanya, dan tentu saja tanpa sepengetahuan mereka.


"Itu mama dan papa!" Gavin menunjuk ke arah kedua orangtuanya, yang sedang asik berbincang-bincang dengan beberapa rekan bisnis.


"Sayang, apa kita harus menghampiri mama dan papa ke sana?" tampak keraguan di mimik wajah Jelita.


"Iya, emangnya kenapa?" Gavin mengrenyitkan keningnya.


"Aku malu, Sayang!" jawab Jelita dengan telapak tangan yang sudah basah, saking gugupnya.


"Ngapain malu, kamu kan pakai baju? udahlah nggak usah malu, tenang aja, ada aku di sini. Percayalah semua akan baik-baik saja," ucap Gavin sembari mengelus rambut Jelita.

__ADS_1


Jelita mengembuskan napasnya, sudah merasa lebih tenang sekarang. Gavin dan Jelita akhirnya kembali mengayunkan kaki, melangkah untuk menghampiri kedua orangtuanya.


Pasangan itu seketika menjadi sorotan karena Paras mereka yang cantik dan tampan. Bagi yang sudah mengenal Gavin tentu saja langsung tersenyum dan menyapa pria itu. Akan tetapi, banyak juga yang bertanya-tanya siapa Gavin dan wanita yang bersamanya, karena memang Gavin belum pernah diperkenalkan secara resmi ke publik secara resmi.


"Ma, Pa!" sapa Gavin yang langsung meraih tangan papa dan mamanya dan mencium punggung tangan kedua orangtuanya itu.


"Ma?pa?" maksudnya?" tanya salah satu rekan


bisnis, Ganendra yang memang belum pernah melihat Gavin sebelumnya.


"Oh, iya, Pak. Kenalkan ini putraku satu-satunya dan ini menantuku Istrinya," jawab Ganendra dan Gavin serta Jelita tersenyum sembari menganggukkan kepala ke arah para rekan bisnis papanya.


"Kamu cantik sekali, Nak!" bisik Melinda tepat di telinga Jelita, hingga membuat wanita muda itu tersipu malu.


"Mama juga cantik," balas Jelita, tulus.


"Wah, anak dan menantumu sangat serasi ya? tampan dan cantik," celetuk seorang wanita yang merupakan istri dari pria yang bertanya. tadi.


"Terima kasih, Bu!" sahut Jelita yang tidak lupa untuk tersenyum.


" Ya udah, kami ke panggung dulu ya, Bapak-bapak, ibu-ibu!" ucap Ganendra yang kemudian langsung menggandeng tangan Melinda Istrinya, mengayunkan langkah menuju panggung. Ganendra juga tidak lupa untuk mengajak Gavin dan Jelita untuk ikut serta.


Suasana yang tadi penuh dengan suara, kini sudah terlihat hening. Semua mata kini menatap ke arah panggung ,dimana sang tuan rumah sedang berdiri di sana.


"Hadirin sekalian, terima kasih atas kehadirannya pada acara yang sederhana ini! Kami sangat mengapresiasi anda semua yang masih menyempatkan waktu untuk menghadiri acara ini di tengah kesibukan kalian." terdengar suara Ganendra berkumandang untuk memulai kata sambutannya.


"Sederhana? begini di bilang sederhana? gila! kalau begini aja sederhana, bagaimana dengan mewahnya," batin Jelita sembari berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Di sini kami mau memperkenalkan, putra kami satu-satunya, pewaris The Sky group, Gavin Melviano Maheswara dan yang berdiri di sampingnya itu adalah menantu kami, Jelita yang merupakan istri dari putra kami. Mereka sudah menikah sudah hampir 3 bulan, dan memang belum diadakan resepsi. Sekarang mereka sedang berusaha untuk mencetak penerus The Sky group, selanjutnya. Mohon doanya ya!" sambung Ganendra kembali yang disambut dengan riuh tepuk tangan para tamu.


Setelah Ganendra selesai dengan kata sambutannya, Gavin juga mengambil bagian untuk memberikan kata sambutan yang tidak jauh, dari meminta dukungan pada posisinya sekarang yang menjabat seorang CEO, juga meminta doa dan restu atas pernikahannya dengan Jelita.


Sementara itu, di sebuah rumah yang bisa dikatakan tidak terlalu mewah, tampak seorang wanita yang menghamburkan barang yang terletak di atas nakas. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Maya, yang kesal dan marah melihat acara di televisi yang menyiarkan acara, dimana pemilik The Sky group, memperkenalkan Gavin sebagai pewarisnya dan juga mengumumkan Jelita menantunya. Niat hati menonton siaran bisnis, ingin mencari target baru, yang bisa didekati, malah yang dia dapat adalah kekesalan.


"Maya! ada apa denganmu? kenapa kamu menghancurkan barang-barangmu? hah!" tanya seorang wanita yang merupakan mama dari wanita itu.


"Mama coba lihat di TV, aku kesal Mah, kenapa aku bisa meninggalkan orang sekaya itu?" ucap Maya, merutuki kebodohannya.


"Lah, itu kebodohanmu!" sahut mamanya Maya.


"Apa? kebodohanku? bukannya Mama yang memintaku untuk meninggalkan Gavin?" Maya terlihat tidak terima atas ucapan mamanya.

__ADS_1


"Itu karena kamu bilang kalau dia hanya karyawan biasa kan? pantas dong, Mama memintamu untuk mencari yang terbaik. Lagian kamu juga bilang kan kalau kamu juga gak niat untuk menikah dengannya, karena kamu juga mengira dia tidak sekaya Haris yang akhirnya mencampakkanmu kaya sampah.


Maya bergeming, tidak membantah ucapan sang mama yang memang tepat sasaran.


"Aku tetap tidak terima, Ma! bagaimana aku bisa dikalahkan dengan Jelita, gadis miskin dan kolot itu? aku harus bisa mendapatkan simpati Gavin kembali, bagaimanapun caranya," ucap Maya dengan mata yang berkilat-kilat penuh tekad.


"Mama sih setuju aja. Yang penting kamu benar-benar pulih dulu. Ini aja kamu masih harus bed rest. Kalau tidak kamu bisa-bisa pendarahan lagi "


"Ini semua gara-gara, Mama! Mama yang memaksaku untuk menggugurkan bayi itu,"


"Hei, itu semua demi kebaikanmu! Kalau perut kamu semakin membuncit nanti, dan kamu tidak memiliki suami, apa yang akan dipikirkan oleh orang lain tentangmu? selain itu bagaimana kamu bisa menggaet pria-pria kaya kalau perutmu membuncit? coba pikirkan itu!"


Lagi-lagi Maya terdiam dengan ucapan mamanya.


"Aduh! maaf-maaf!" tiba-tiba seorang gadis terjatuh masuk ke dalam kamar Maya, karena tanpa sadar menyender di pintu yang tidak tertutup dengan sempurna.


"Sari! kamu ngapain di situ? kamu menguping pembicaraan kami ya?!" bentak Maya dari ranjangnya.


"Maaf, Ibu, Non! aku tidak sengaja tadi, karena mendengar kalian menyebut nama Gavin dan Jelita. Aku juga kesal,Non sama wanita yang bernama Jelita itu. Sok cantik dan angkuh," ucap Sari dengan raut wajah bengis.


Sementara itu Maya dan Mamanya saling silang pandang, heran dengan sikap Sari, pembantu baru mereka yang bahkan belum dua hari, yang sepertinya sangat demdam


"Kamu kenal Gavin dan Jelita?" tanya Maya pada pembantu yang baru dua hari ini kerja di rumahnya.


"Ya, tentu saja!" jawab Sari tegas.


"Kenapa bisa kamu mengenalnya?"


"Aku dulu kerja di rumah Tuan Ganendra dan ibu Melinda, orang tua dari Tuan Gavin. Aku dipecat ya karena si Jelita itu. Aku cuma bilang padanya kalau Tuan Gavin gak mungkin bisa mencintainya, karena Tuan Gavin juga menerima menikah dengan Jelita karena diancam sama Ibu Melinda yang akan memberikan semua hartanya pada Jelita kalau Gavin menolak."


"Apa? jadi Gavin tidak benar-benar mencintai Jelita?" pekik Maya yang sedikit mendapat semangat kembali.


"Aku rasa seperti itu, Non! Aku yakin kalau Tuan Gavin hanya berpura-pura untuk terlihat seperti sangat mencintai Jelita di depan ke dua orang tuanya," ucap Sari kembali.


"Ma, Mama dengarkan? sepertinya aku masih punya kesempatan untuk membuat Gavin kembali padaku. Aku juga sependapat dengan Sari, tidak mungkin dia bisa mencintai wanita sepertiku Jelita," ujar Maya dengan semangat.


"Tapi menurut, yang mama lihat wanita itu sangat cantik,dan Gavin menatapnya dengan penuh cinta," Mama Maya berucap sembari melihat ke layar kaca.


"Tidak, Ma. Itu hanya pencitraan, yakinlah "


"ya udah deh, apapun yang akan kamu lakukan akan tetap mama doakan.

__ADS_1


Tbc


Maaf ya, kalau seandainya aku telat up. Aku sempat menulis di saat anak-anak tidur siang dan di malam hari di saat anak akan tidur malam. Kalau pagi tidak ada up, berarti aku ketiduran saat menidurkan anak 😁😁 Terima kasih 🙏🏻


__ADS_2