
Gavin berjalan dengan santai di lobby,tanpa memperdulikan Jelita yang mengekor di belakangnya.
Gavin menekan sebuah tombol lift dan menunggu sampai pintu lift itu terbuka. Setelah pintu terbuka, Gavin masuk disusul oleh Jelita. Pria itu terlihat menekan tombol angka 25, yang berarti tempat yang mereka tuju adalah lantai 25.
Keheningan terjadi di antara Mereka selama di dalam lift dan tidak ada niat dari mereka untuk memulai percakapan. Gavin tampak merogoh ponsel dari dalam sakunya, dan sepertinya pria itu sedang menghubungi seseorang.
"Emm, baiklah, aku tunggu kamu di apartemenku ya!" Gavin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, setelah selesai dengan panggilannya. Di saat bersamaan, pintu lift terbuka dan Gavin langsung melangkah ke luar.
Gavin terlihat menekan angka pada tombol yang terletak di depan pintu, dan begitu pintu terbuka Gavin langsung melangkah masuk.
Gavin melangkah ke dalam kamarnya, dan Jelita mengekor dari belakang.
"Kamu mau kemana?" tanya Gavin dengan nada sedikit tinggi tatapan tajam.
"Mau ke kamar? aku kan harus menaruh pakaianku ke dalam," jawab Jelita dengan polosnya.
"Kamu kira aku Sudi berbagi kamar denganmu? tujuanku pindah dari rumah papa dan mama itu, supaya aku tidak ada di ruangan yang sama dengamu. Jadi, kamu harus sadar diri!" nada bicara Gavin benar-benar menyakitkan, tapi Jelita masih tampak berusaha untuk tidak membalas ucapan pria itu. Walaupun sebenarnya, mulutnya sudah gatal ingin melawan.
"Oh, seperti itu? jadi dimana kamarku?" tanya Jelita, santai, hingga membuat kening Gavin berkerut, bingung melihat tanggapan Jelita yang biasa saja.
"Kamar kamu di sana," Gavin menunjuk ke arah pintu yang sedang tertutup tidak jauh dari kamarnya.
"Terima kasih!" Jelita, hendak melangkah meninggalkan Gavin, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti begitu mendengar Gavin kembali berbicara.
__ADS_1
"Ingat ya, jangan sampai mama dan papa tahu tentang masalah ini! Kalau mereka tahu, berarti kamu yang mengadu dan aku tidak akan tinggal diam, aku akan __"
"Kamu akan apa? kamu mau melenyapkan nyawaku? silahkan! aku tidak peduli." ujar Jelita dengan posisi tetap membelakangi Gavin.
"Kamu sepertinya sudah mulai menunjukkan siapa diri kamu ya? di depan mama kamu diam saja, agar terlihat seperti gadis baik-baik, tapi coba lihat sekarang, kamu sudah mulai melawan," Gavin berdecak sembari menyeringai sinis.
Jelita menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menahan diri agar tidak terpancing dengan ucapan Gavin. Kemudian wanita itu memutar tubuhnya, menatap Gavin.
"Maaf, kalau begitu! aku sekarang mau masuk kamar, kalau tentang masalah ini, kamu tenang saja, aku tidak akan melapor pada mama dan papa. Apa sekarang aku sudah bisa masuk kamar?" Jelita kembali bertanya seakan-akan tidak ada masalah dengan kata-kata Gavin barusan, hingga membuat pria itu kesal sendiri, merasa tidak ditakuti oleh Jelita.
"Kamu jangan berpura-pura tidak marah. Aku tahu kalau sekarang kamu masih berusaha untuk tidak menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya. Kamu hanya berpura-pura untuk sabar kan? ayo, balas ucapanku dengan kata-kata kasarmu!" tantang Gavin, yang merasa tidak puas dengan sikap mengalah Jelita.
"Mau kamu apa sih? tadi aku berbicara sedikit, kamu bilang aku sudah berani melawanmu, sekarang giliran aku gak membalas ucapanmu, kamu malah memintaku untuk membalas ucapanmu. Lagian ucapan mana yang harus aku balas lagi? aku kan sudah membalasnya sesuai dengan yang kamu mau," Jelita masih berusaha untuk menekan nada suaranya.
Gavin terdiam, tidak bisa membalas ucapan Jelita.
"Mulai sekarang jangan panggil aku , Mas kalau kita hanya berdua. Panggil aku, Tuan!" cetus. Gavin.
"Baik, Tuan!" jawab Jelita, santai yang lagi-lagi membuat Gavim geram sendiri. Padahal tadi, dia berharap Jelita akan menangis mendengar setiap ucapannya.
"Kamu ...." Gavin menggantung ucapannya, karena dia benar-benar kesal sekarang.
Gavin tiba-tiba menyeringai sinis, menatap Jelita.
__ADS_1
"Oh ya, jangan kira aku tidak tahu tujuan kamu sebenarnya, menerima lamaran mama untuk menikah denganku. Aku tahu, kalau kamu hanya menginginkan harta kami saja kan? kamu ingin bisa seperti wanita-wanita lain, yang bisa berfoya-foya, shopping barang-barang branded dan tampil dengan pakaian-pakaian berkelas. Asal kamu tahu, kamu sama sekali tidak akan pernah mendapatkannya, karena aku sama sekali tidak akan memberikan uang sepeserpun untukmu, camkan itu!"
"Jadi, serendah itu pemikiranmu tentang aku? asal kamu tahu, aku sama sekali tidak tertarik dengan kekayaan kalian. Aku menerima permintaan mama Melinda, karena beliau menangis memohon," jelas Jelita yang masih berusaha untuk bersikap tenang.
"Alah, munafik! aku sudah hafal dengan trik-trik kotor dan sok polos dari gadis seperti kamu. Kalian para wanita itu, hanya melihat sesuatu dari harta saja." ucap Gavin dengan sengit dan raut wajah bengis.
"Ingat, semua urusan dapur aku akan meminta orang untuk menyiapkannya di kulkas. Terserah, kamu mau masak apa untukmu, karena aku tidak sudi juga untuk memakan apa yang kamu masak. Sekali lagi, aku mau ingatkan, kalau aku, tidak akan memberikan uang padamu sepeserpun. Seandainya, kamu ingin membeli sesuatu, kamu cari sendiri uangnya," pungkas Gavin sembari berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Jelita menghela napasnya, dan berjalan dengan lemas menuju kamarnya. Kemudian wanita itu masuk lalu menutup pintu kamar dengan perlahan. Air mata yang tadinya berusaha dia tahan di depan Gavin, merembes dengan derasnya sembari terduduk dengan tubuh yang menyender di pintu.
Tangis Jelita terhenti begitu ponsel jeleknya berbunyi. Wanita itu, merogoh tasnya pakaiannya dan meraih ponselnya dari dalam. Tertera nama Nayla sahabatnya yang semingguan ini tidak ada komunikasi dengannya.
"Halo, Nay!"
"Halo, Jelita. Kamu di mana? aku ke kontrakanmu, kamu sudah tidak ada di sini. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Nayla dari ujung sana. Dari nada suaranya, terdengar kalau wanita itu sedang khawatir.
"Aku baik-baik saja, Nay. Aku memang sudah tidak tinggal di sana lagi. Kamu apa kabar?"
"Jadi kamu di mana sekarang? aku mau ketemu sama kamu, aku kangen," bukannya menjawab pertanyaan Jelita, Nayla justru balik bertanya.
"Emm, aku juga kangen kamu. Bagaimana kalau kita ketemu di tempat biasa aja? soalnya ada hal yang mau aku kasih tau ke kamu,"
"Ada apa sih? kenapa sepertinya yang ingin kamu sampaikan ini sangat penting? kamu benar-benar baik-baik saja kan?" Jelita yakin, kalau kening sahabatnya itu pasti berkerut di ujung sana.
__ADS_1
"Nanti aku jelaskan, kamu tunggu aku di sana ya!" Jelita memutuskan panggilan, setelah Nayla, mengiyakan dari ujung telepon.
Tbc