
Gavin menepikan mobilnya di pekarangan mansion milik orang tuanya. Sari yang sedang menyiram tanaman, seketika tersenyum sumringah melihat mobil yang sangat dikenalnya itu. Namun senyum sumringahnya berubah kecut begitu melihat Jelita turun dari dalam mobil itu.
"Selamat sore, Mbak Sari!" sapa Jelita dengan ramah.
"Ya, Sore, Non Jelita!" jawab Sari dengan nada yang ketus. Kemudian wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah Gavin dan menunjukkan senyum termanisnya pada pria itu.
"Selamat sore, Tuan muda!" sapanya dengan suara yang lembut, sangat kontradiktif dengan sikapnya pada Jelita.
"Emm," sahut Gavin dengan singkat sambil berlalu pergi, membuat senyum Sari berubah kecut dan kecewa.
"Yang sabar ya! dia memang orangnya seperti itu. Kamu pasti sudah tahukan sikapnya selama ini," ucap Jelita, sembari menepuk-nepuk pundak Sari. Pada ucapannya terselip sedikit ledekan yang tidak bisa dicerna oleh Sari.
"Aku masuk dulu ya, Mbak!" Jelita mengayunkan kakinya melangkah masuk ke dalam menyusul Gavin suaminya. Namun belum sampai pintu, Melinda terlihat muncul menyambut sang menantu. Wajah wanita setengah baya itu, tampak sangat berbinar melihat kedatangan Jelita, seakan dia sudah lama tidak bertemu dengan menantunya itu.
Sari menghentak-hentakkan kakinya, melihat hal itu. Rasa iri semakin menggerogoti pikirannya.
"Udah, lanjutkan pekerjaanmu!" celetuk bik Narti yang tiba-tiba sudah berada di belakang Sari.
"Apaan sih, Bude! bikin kaget aja." Sari mengerucutkan bibirnya.
"Sudah bude bilang jangan iri pada kebahagiaan orang lain, karena yang akan rugi kamu sendiri. Selain dosa semakin bertambah, hidup kamu tidak akan pernah merasa tenang," ujar bik Narti lagi, yang tidak memperdulikan raut wajah kesal keponakannya itu. Menurutnya sudah jadi tugasnya untuk menasehati sang ponakan sebelum rasa iri ponakannya itu semakin besar.
"Auk ah, Bude!" Sari beranjak pergi meninggalkan bik Narti yang hanya bisa menghela napasnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa kotaknya tidak penuh, Sayang?" tanya Melinda begitu membuka kotak yang berisi muffin-muffin itu.
"Em, tadinya penuh, Mah, tapi dimakan sama Mas Gavin," jawab Jelita sembari melirik sinis ke arah Gavin.
"Kenapa kamu memakannya Gavin? ini kan buat mama,"
__ADS_1
"Kenapa tidak boleh, Mah? aku akan anak mama bukan orang lain," sahut Gavin dengan santai sembari mencomot kembali muffin dari dalam kotak.
"Jangan diambil lagi Gavin!" pekik Melinda sembari memukul tangan putranya itu. Akan tetapi sudah terlambat, Gavin Sudan memasukkan muffin itu ke dalam mulutnya.
"Sudah-sudah! kenapa kalian seperti anak kecil sih?" Ganendra buka suara. "Dan kamu, Gavin, kenapa kamu cepat sekali pulang kantor? kata Reynaldi, kamu pusing, tapi kenapa tidak terlihat kalau kamu itu sedang pusing?" tanya Ganendra dengan tatapan menyelidik.
"Tadi, memang aku sempat pusing, Pah. Setelah minum obat sudah baikan," jawab Gavin asal.
"Aku rasa bukan karena itu. Kamu tidak sabarankan untuk bisa bertemu dengan Jelita?" goda Melinda seraya mengerlingkan matanya.
"Bukan, Mah. Aku memang sempat pusing tadi," tegas Gavin yang tidak mau membuat Jelita besar kepala.
"Baiklah kalau begitu! papa sebenarnya tidak masalah kalau kamu pulang jika memang benar-benar urgent. Tapi, kalau boleh, kalau tidak terlalu urgent, kamu jangan terlalu menganggap sepele pekerjaan walaupun kamu seorang pemimpin. Karena perusahaan bisa maju dengan kepemimpinan yang bagus. Akan percuma SDM yang bagus kalau pemimpinnya tidak bisa memimpin dengan baik." Ganendra kembali memberikan nasehat.
"Iya, Pah. Papa tenang saja. Walaupun, aku terkesan santai, bukan berarti aku tidak serius untuk mengelola perusahaan. Papa harus percaya padaku, dan nikmati hari tua, Papa. Aku akan berusaha untuk membuat perusahan The sky Group semakin maju," tegas Gavin sembari menyesap kopi yang baru saja dihidangkan oleh bik Narti.
Pembicaraan kembali berlanjut antara papa dan anak itu, sedangkan Melinda juga asik dengan Jelita. Mereka berhenti bercengkrama, ketika bik Narti datang dan berkata kalau makan malam sudah siap.
"Tidak apa-apa, Non! lagian ada Sari tadi yang bantu," Bik Narti, menerbitkan seulas senyuman di bibirnya.
"Cih, sok baik!" Sari yang mendengar ucapan Jelita tadi, berdecih dan mengumpat dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keheningan tercipta di dalam mobil yang dikemudikan oleh Gavin, sepanjang perjalanan pulang dari mansion keluarga Maheswara ke apartemen Gavin.
Gavin terlihat fokus melihat jalanan di depannya, sedangkan Jelita melihat ke luar jendela menyusuri jalanan yang sudah tampak mulai sepi.
Jelita sedikit tersentak kaget, karena mendengar ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. Wanita itu melihat layar ponselnya, dan ada nama Nayla yang tertera di sana. Sementara itu, Gavin menggerakkan ekor matanya, melirik ke arah handphone Jelita, penasaran siapa yang menghubungi istrinya malam-malam begini.
"Halo,Nay, ada apa?" tanya Jelita to the point.
__ADS_1
"....."
"Oh, bisa, Nay. Donatnya berapa buah? dan donat apa?" ucap Jelita, karena Nayla tadi menanyakan apakah Jelita bisa membuat donat atau tidak, dikarenakan ada rekan kerjanya yang mau memesan donat.
"...."
"Hmm, bisa, bisa. Hanya itu ya?" tanya Jelita dengan sangat antusias.
"...."
"Emm, bolu gulung, empat, brownies, tiga. Ok, aku bisa kok. Besok sore kan?" tanya, Jelita memastikan.
"...."
"Ok,Nay! kamu kirimkan aja, alamatnya ya! Terima kasih ya,Nay. Bye!" Jelita kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya dengan wajah yang berbinar bahagia. Dia tidak menyangka kalau usaha yang semula diragukannya, bisa cepat membuahkan hasil.
"Siapa tadi? sahabatmu itu ya?" Gavin buka suara, ucapan pertama setelah 20 menit perjalanan.
"Iya!" sahut Jelita, singkat sembari kembali melihat ke luar jendela.
"Berapa modal yang kamu pakai?" Gavin kembali bersuara dengan pandangan yang masih tetap fokus ke depan.
"Kamu tidak perlu tahu. Yang jelas, aku tidak meminta-minta dari dia," nada suara Jelita terdengar sangat dingin. "Aku akan tetap membayar uang yang aku pakai nanti, jika aku sudah mendapatkan untung yang banyak. Kalau untuk sekarang, aku memang belum bisa mengembalikannya, karena aku amasih harus memutarnya untuk modal kembali dan untuk biaya hidupku," Jelita berucap tanpa menoleh ke arah Gavin sama sekali.
Gavin tercenung, merasa tertampar dengan ucapan Jelita. Pria itu kembali teringat dengan ucapan Reynaldi tadi siang, yang memintanya untuk menjauhkan pemikiran negatif tentang wanita yang sudah dinikahinya itu.
Gavin akhirnya memilih untuk kembali diam, karena kebetulan mereka juga sudah berada di kawasan apartemen yang mereka tinggali.
Gavin menepikan mobilnya dengan perlahan dan langsung melepaskan sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya. Pria itu memilih untuk keluar dari dalam mobil dan langsung berlalu pergi meninggalkan Jelita di belakangnya.
Tbc
__ADS_1