
Jelita kini sudah berada di ruang bersalin. Karena pembukaan masih pembukaan 4 menuju ke 5, Jelita disarankan untuk berjalan,berjongkok, berjalan lagi, supaya pembukaannya cepat sampai ke pembukaan sempurna.
Dengan menahan rasa sakit, Jelita mengikuti saran Nayla. Ternyata bukan hanya Jelita yang mengikuti saran dokter, seakan terhipnotis, Gavin juga tanpa sadar mengikuti gerakan Jelita. Di Saat Jelita berjalan, dia menuntunnya, dan di saat Jelita berjongkok, Gavin pun ikut-ikutan berjongkok.
"Gavin, kenapa kamu jadi ikut-ikutan berjalan dan berjongkok? kamu tidak perlu ikut berjongkok seperti Jelita. Kami itu hanya perlu menyemangatinya!" ucap Nayla sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh, iya kah? kenapa kamu tidak bilang dari tadi? baiklah!" Gavin dengan sigap berdiri, dan mengepalkan tangan kanannya serta mengangkatnya tinggi-tinggi seraya berteriak . " Semangat, Sayang! ayo semangat, semangat!" Gavin berteriak, memberikan semangat seperti yang disarankan oleh Nayla.
"Sayang, kamu bisa diam gak sih?" bentak Jelita, merasa kesal.
"Kata Nayla, aku harus memberikan kamu semangat, Nayla!" sahut Gavin, sabar.
"Tapi, gak harus teriak-teriak seperti itu! sekarang kalau kamu tidak bisa diam, kamu mending keluar dari sini!" Dengan wajah yang meringis kesakitan dan nafas yang memburu, Jelita mendengus kesal ke arah Gavin sehingga membuat pria itu seketika menciut.
"Nay, aku sudah tidak kuat lagi, Nay." Jelita memegang perutnya yang memang rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Bahkan napas wanita itu sudah tersengal-sengal, membuat wajah Gavin seketika panik.
"Nay, aku tidak mau tahu, pokoknya sekarang,keluarkan anakku segera! Sekarang!" perintah Gavin dengan tatapan dan ucapan yang mengintimidasi.
"Enak aja, asal main keluarkan! semuanya ada prosedurnya. Kamu mau kalau anakmu asal dikeluarkan begitu saja, tapi nyawa istrimu terancam?" ucap Nayla yang merasa tidak takut sedikitpun dengan tatapan penuh intimidasi dari suami sahabatnya itu.
"Ya, nggak mau dong," protes Gavin.
"Nah, kalau begitu sebaiknya kamu diam, biarkan kami para medis yang bekerja," Gavin akhirnya terdiam tidak berani untuk berbicara lagi, daripada dokter yang merupakan sahabat istrinya itu, semakin marah.
"Buset, baru kali ini ada dokter kandungan yang cerewet sama suami pasiennya," gumam Gavin, yang tentu saja masih bisa didengar oleh telinga Nayla, sehingga wanita yang juga tengah hamil itu tersenyum samar.
"Kamu baring lagi yuk, Jel. kita coba cek lagi, sudah pembukaan berapa sekarang." ucap Nayla dengan ekspresi tetap tenang.
"Hmm, sekarang sudah pembukaan delapan. Sabar ya Jel, tinggal nunggu sebentar lagi pembukaannya akan sempurna." senyum Nayla tetap tidak tanggal dari bibirnya, berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Nay, sakit banget, Nay!" rintih Jelita kembali, sambil mencengkram kuat lengan Gavin, hingga lengan pria itu mengeluarkan darah akibat terkena kuku-kuku Jelita yang panjang. Akan tetapi, Gavin tidak memperdulikan sama sekali rasa sakit di lengannya itu, karena rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Jelita saat ini.
" Sabar ya, Jel, justru rasa sakitnya ini yang ditunggu saat mau melahirkan, kalau tidak sakit sama sekali, justru itu yang dikhawatirkan." Nayla, masih dengan sabar memberikan semangat.
"Sabar, Sayang! ingat sebentar lagi, kita akan bertemu dengan anak kita. Kamu Pasti kuat, Sayang," Gavin, ikut memberikan semangat.
Tidak berselang lama, Nayla kembali mengecek pembukaan Jelita, dan senyum wanita itu langsung mengembang ketika pembukaannya sudah sempurna.
"Ok, pembukaannya sudah sempurna, tapi berhubung, air ketuban belum pecah, kita pecahkan manual saja, baru bayi bisa dikeluarkan." ucap Nayla sembari menusukkan sesuatu ke jalan lahir bayi, dan air ketuban langsung merembes keluar.
Setelah ketubannya pecah, Jelita semakin meraung-raung karena, rasa sakitnya semakin bertambah, di mana bayinya sekarang benar-benar ingin menerobos jalan lahir dengan paksa.
"Ayo, Jel dorong kuat! kepala bayinya sudah terlihat, ayo semangat!" Nayla berkali-kali memberikan semangat.
"Ayo, Sayang, kamu pasti bisa! kamu wanita yang kuat. I love you, Sayang! Gavin juga tidak berhenti untuk memberikan semangat.
Pipi Gavin kini sudah basah dengan air mata, melihat perjuangan Jelita melahirkan anaknya.
"Terima kasih, Sayang! kamu sangat hebat!" Gavin memberikan kecupan di kening Jelita yang juga tersenyum bahagia.
Keluarga yang sudah berkumpul di luar seketika menarik nafas lega, begitu mendengar tangisan bayi dari dalam.
"Sekarang, kita keluarkan ari-arinya dulu ya, kamu tahan sedikit lagi ya Jel," ucap Nayla yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Jelita.
Nayla kembali melakukan tugasnya, yaitu mengeluarkan ari-ari, lalu melakukan beberapa jahitan di jalan lahir yang robek.
"Selamat ya, Jel, Vin. Akhirnya kalian sudah sah menjadi seorang ayah dan ibu," ucap Nayla sembari membersihkan Jelita.
"Terima kasih, Nay," sahut Jelita dan Gavin hampir bersamaan.
__ADS_1
"Bu dokter, pasien di sebelah belum juga melahirkan. Katanya dia mau dibantu sama Buk dokter," tiba-tiba seorang perawat yang bertugas di kamar Bella muncul untuk memanggil Nayla.
"Astaga! bisa-bisanya begitu ya!" ujar Nayla sembari beranjak keluar dari ruangan Jelita.
Nayla langsung masuk ke dalam ruangan di mana Bella masih meraung-raung kesakitan.
"Kamu lama banget sih, Nay," cerocos Denis dengan wajah panik.
"Lah, aku kan sedang menolong, Jelita. Lagian kan ada Dokter Ryan yang menolong istrimu," ucap Nayla.
"Bella tidak mau. Dia maunya kamu yang bantu persalinannya," ucap Denis yang sekarang penampilannya benar-benar sudah berantakan.
"Ya udah, sini aku lihat!" Nayla mendekati Bella dan memeriksa pembukaan wanita itu terlebih dulu.
"Wah ini mah sudah siap dilahirkan. Sekarang kamu dengarkan aba-aba dariku ya, Bel. Kalau aku bilang, dorong, kamu harus langsung berusaha untuk mendorongnya, dan satu lagi kamu harus dorong dengan kuat ya," Bella menganggukkan kepalanya, di sela-sela rasa sakitnya.
"Satu, dua, tiga, dorong!" Nayla mulai memberikan aba-aba dan Bella langsung mengejan.
"Ayo, Bell, sekali lagi ya! kepala anakmu sudah terlihat. Ayo, kali ini harus lebih kuat dari yang tadi ya," ujar Nayla kembali.
"Ayo, yang semangat, Sayang. Aku yakin kamu pasti kuat. Satu hal yang kamu ingat, aku sangat mencintaimu!" Denis tidak mau ketinggalan untuk memberikan semangat.
Seakan mendapatkan air di tengah Padang gurun, Bella kembali bersemangat. Dengan sekuat tenaga, wanita itu mengejan sampai akhirnya terdengar suara tangis bayi berjenis kelamin perempuan memenuhi ruangan itu.
Reaksi Denis, sama seperti reaksi Gavin yang langsung meneteskan air mata.
"Terima kasih ya, Sayang! Terima kasih sudah berjuang untuk melahirkan bidadari kecil kita," ucap Denis sembari berkali-kali mengecup puncak kepala Bella bertubi-tubi.
Tbc
__ADS_1