
Jelita berusaha untuk menutup pintu dengan sekuat tenaga, dan Gavin berusaha juga untuk menahan agar pintu tidak tertutup. Karena Gavin lebih kuat, akhirnya Jelita mengalah dan akhirnya melepaskan tangannya dari pintu dan berjalan ke arah ranjang. Jelita menghempaskan tubuhnya duduk di atasnya ranjang dengan wajah ditekuk serta tangan yang bersedekap di dada.
Gavin menghela napasnya dan duduk di samping Jelita dengan sangat hati-hati.
"Jel, aku minta maaf ya! tadi aku sudah membentak kamu," Jelita tidak menjawab sama sekali. Justru wanita itu, langsung memunggungi suaminya itu.
Jelita sedikit tersentak kaget ketika tiba-tiba kedua tangan Gavin memeluk pinggangnya dari belakang dan dagu pria itu diletakkan di pundaknya.
"Apa kamu tidak mau memaafkanku, hum?" suara Gavin terdengar sangat lembut, benar-benar berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Mas, singkirkan tangan kamu!" suara Jelita terdengar sangat dingin.
"Tidak mau!" tolak Gavin dengan tegas.
"Kenapa? apa karena kamu takut semua kekayaan orangtuamu jatuh ke tanganku? kalau memang karena itu, kamu tenang aja, aku tidak akan mengambil sedikitpun harta kamu," suara Jelita terdengar semakin dingin.
Gavin bergeming, tidak berniat untuk menanggapi ucapan Jelita. Pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan, Mas ihhh! Jelita berusaha untuk menepis tangan Gavin dari pelukannya. Namun seperti biasa, dia kalah kuat dari Gavin. Akhirnya lagi-lagi wanita itu, menghentikan usahanya untuk lepas dari Gavin.
"Mas, sekarang apa mau kamu? kamu sudah mendengar kalau aku tidak berniat untuk mengambil hartamu. Aku menerima menikah denganmu, hanya karena tidak tega melihat mama memohon sambil menangis. Awalnya sedikitpun aku tidak ada niat untuk warisan itu. Sumpah demi apapun, bahkan saat menyetujui untuk menerima pernikahan ini, aku tidak tahu kalau Papa dan Mama memiliki perusahaan besar. Aku memilih untuk tetap bertahan pada pernikahan ini, walaupun kamu selalu memaki dan menghinaku, itu semua hanya karena mama. Aku merasa seperti masih memiliki mama, dengan adanya mama Melinda yang menyayangiku. Tapi, sekarang sepertinya aku sudah mulai menyerah. Sari benar, kamu tidak mungkin bisa mencintai wanita sepertiku. Jadi, seandainya kamu mau berpisah, tidak apa-apa. Aku akan pergi, tanpa menuntut apa pun dari kamu. Tapi hanya satu yang aku minta, izinkan aku untuk tetap memanggil mamamu, 'mama', " tutur Jelita panjang lebar dengan pipi yang sudah banjir dengan air mata.
Gavin sontak melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Jelita agar menghadap ke arahnya. Gavin bahkan mencengkram kuat pundak Jelita.
"Tidak! aku sama sekali tidak mau berpisah! sekarang aku tidak takut kehilangan harta. Yang sekarang aku takutkan adalah kehilanganmu. Aku takut tidak bisa melihat tawamu dan memeluk kamu lagi," ucap Gavin dengan nada yang berapi-api dan napas yang memburu
Jelita tercenung, diam seribu bahasa. Dia berusaha mencerna apa maksud ucapan Gavin, suaminya.
"Kenapa kamu diam? apa kamu tidak mau memberikan tanggapan pada apa yang aku ucapkan barusan?" tanya Gavin dengan sedikit memberikan guncangan pada bahu Jelita
"Jelita, sekarang kamu tatap mataku, apa yang kamu lihat?" Jelita melakukan hal yang diperintahkan Gavin. Jelita menatap manik mata berwarna hitam kecoklatan itu,dengan dalam-dalam. .
"Apa yang kamu lihat?" Gavin mengulangi pertanyaannya.
"Tidak ada! yang aku lihat hanya manik mata yang berwarna coklat kehitaman dan ada bayanganku di sana." jawab Jelita, seadanya.
__ADS_1
"Astaga! bukan itu maksudku?"rutuk Gavin, yang menjadi kesal mendengar jawaban polos Jelita.
"Jadi apa? aku kan jujur. Apa yang aku lihat ya itu yang aku jawab. Apa kamu mau aku menjawab aku melihat adanya berlian di sana begitu?" ucap Jelita.
Gavin mengembuskan napasnya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Dia tidak tahu, apa istrinya itu pura-pura tidak tahu apa maksudnya atau memang tidak tahu.
"Jelita, kamu tahu tidak, semua kebohongan dan apa yang dirasakan oleh seseorang itu bisa dilihat dari tatapan matanya walaupun benda itu tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Kamu juga bisa melihat ketulusan seseorang itu dari matanya."
"Ya aku tahu. Aku melihat kalau ada cinta di matamu, tapi itu kan menurutku. Belum tentu yang aku pikirkan itu benar atau tidak." ucap Jelita yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Bagaimana? apa sekarang kamu mengerti yang aku maksud?" Gavin kembali bertanya dan Jelita menggelengkan kepalanya.
"Arghh! apa kamu tidak bisa melihat dan merasakan kalau aku mencintaimu?! coba kamu ingat apa yang aku lakukan selama ini? aku tidak malu mengakui kalau kamu istriku, aku tidak suka saat kamu tertawa dengan pria lain walaupun itu sahabatku sendiri Reynaldi. Aku benar-benar marah saat kamu bersama dengan Denis! asal kamu tahu, aku marah bukan karena merasa kamu injak harga diriku,tapi aku cemburu, kamu dengar, AKU CEMBURU! kamu tahu kan kenapa aku bisa cemburu? itu karena aku mencintaimu, AKU MENCINTAIMU JELITA!" Suara Gavin, menggelegar memenuhi ruangan, sembari mengguncang-guncang pundak sang istri.
Jelita mengerjap-erjapkan matanya, terkesiap kaget melihat luapan emosi Gavin saat mengungkapkan perasaannya. Wanita itu tidak menyangka kalau Gavin bisa sangat berapi-api seperti itu.
"Kenapa? kenapa kamu diam? kalau aku tidak mencintaimu, aku tidak peduli kamu mau disentuh oleh pria manapun, kamu mau bersama laki-laki manapun. Apa kamu tidak bisa merasakannya? hah! Aku menyentuhmu, bukan karena berlandaskan na*fsu, tapi karena aku mencintaimu. Kalau hanya karena na*fsu kenapa dari awal aku tidak melakukannya? apa kamu tidak bisa berpikir sampai ke sana? hah!" suara Gavin kembali tidak terkontrol.
Jelita tidak menjawab apapun, tapi wanita itu menyelipkan senyuman di bibirnya. Jelita tiba-tiba memeluk Gavin dan membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, merasakan hangatnya tubuh sang suami. Kemudian wanita itu menengadah ke atas untuk bisa menjangkau wajah Gavin yang terlihat masam.
Gavin bergeming, mendengar ucapan Jelita. Seketika dia merasa malu, begitu mengingat bagaimana emosionalnya dirinya saat mengungkapkan perasaannya.
"Ja-jadi kamu sudah bisa merasakannya?" Jelita menganggukkan kepalanya, berusaha menahan tawa melihat wajah kesal suaminya.
"Jadi kenapa kamu berpura-pura seakan tidak tahu?"
"Kan aku sudah bilang, kalau aku ingin mendengar dari mulutmu," jawab Jelita santai tidak merasa bersalah sama sekali.
"Arghhh! kamu ya ...." semburat warna merah seketika menghiasi pipi Gavin bak kepiting rebus yang baru keluar dari panci.
"Jadi bagaimana, apa kamu tidak mau menanyakan bagaimana perasaanku?" giliran Jelita yang bertanya.
"Tidak perlu! kalau kamu belum mencintaiku, aku akan memaksa kamu untuk mencintaiku," jawab Gavin yang membuat Jelita mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Jadi, ternyata seperti itu?" celetuk Melinda yang ternyata dari tadi sudah berdiri di ambang pintu dan mendengar semua pembicaraan anak dan menantunya itu.
__ADS_1
"Mama!" seru keduanya bersamaan.
Melinda mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Gavin dan Jelita dengan senyum yang terkulum di bibirnya. Tiba-tiba tangan Melinda terayun dan menarik telinga Gavin.
"Aduh, aduh, sakit, Mah!" Gavin memekik kesakitan.
"Kamu ya, ternyata dulu kamu jahat dan suka memaki Jelita." omel Melinda sembari melepaskan tangannya dari telinga putranya. Gavin meringis kesakitan sembari menggosok-gosok telinganya yang memerah.
"Iya,Mah. Bahkan dia tidak memberikan uang sepeserpun untukku. Aku pinjam 10 ribu untuk ongkos angkot aja dia tidak kasih," Jelita semakin memanas-manasi.
"Apa? kamu ya!" Melinda kembali mengayunkan tangannya, hendak memukul sang putra. Beruntungnya Gavin dengan sigap berlari menghindar. Melinda tidak tinggal diam, dia pun mengejar sang anak.
"Sayang, tolongin aku!" pekik Gavin meminta bantuan dari Jelita. Akan tetapi, Jelita tidak menolong justru wanita itu tertawa terbahak-bahak, melihat penderitaan Gavin.
"Udah ah, mama capek." Melinda mendaratkan tubuhnya duduk di atas ranjang sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Setelah beberapa saat, wanita setengah baya itu kemudian tersenyum dan menatap ke arah Gavin dan Jelita.
"Tapi sekarang mama sudah lega, kalian berdua sudah saling mencintai. Jadi semua kebohongan yang kalian lakukan, mama Maafkan. Sekarang Mama mau pamit pulang dulu, ya. Mama makan siang di rumah aja," ucap Melinda yang dibumbui dengan sedikit ledekan.
"Astaga, Mama! aku lupa! Mama pulang nanti aja, aku akan masak sekarang!" ucap Jelita yang seketika merasa malu.
"Tidak perlu, Sayang! Mama memang mau pulang karena ada yang harus mama urus." Melinda menahan Jelita yang nyaris melangkah pergi.
"Benar, Mah gak pa-pa?" tanya Jelita dengan ekspresi wajah tidak enak.
"Udah, mama gak pa-pa. Lagian mama juga tidak lapar. Mama pulang dulu ya! kalian Baik-baik ya!" Gavin dan Jelita ikut melangkah keluar untuk mengantarkan Melinda.
Baru saja 5 menit Melinda pulang, ada yang menekan bel.
Gavin melangkah untuk membuka pintu, tanpa mengintip siapa yang datang, karena dia mengira mamanya yang datang kembali.
Gavin terkesiap kaget ketika melihat kalau yang yang datang bukanlah mamanya, melainkan Denis.
"Hai, Vin!" sapa Denis sembari menyelipkan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
Tbc