Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Berusaha mengumpulkan bukti-bukti.


__ADS_3

Gavin turun dari dalam mobilnya dan langsung berlari masuk ke dalam rumah kedua orangtuanya. Dia sangat panik ketika tidak menemukan Jelita di toko dan di apartemennya. Pria itu semakin panik, ketika mereka mendengar kalau Jelita tadi didatangi oleh Maya.


"Jelita! Sayang!" teriaknya memanggil karena dia yakin kalau Istrinya itu pasti ke rumah orangtuanya.


"Tidak ada Jelita di sini!" ucap Melinda mama Gavin yang tiba-tiba sudah berdiri di anak tangga.


"Mama jangan bohong! dia pasti ada di sini kan?" desak Gavin sembari menatap ke arah kamarnya dulu.


"Buat apa mama bohong? dia sama sekali tidak ada di sini," Melinda kembali menegaskan.


"Emangnya Jelita tidak ada di apartemenmu? apa kamu menyakitinya?" tanya Melinda berpura-pura tidak tahu.


"Tidak, Ma. Aku tidak ada masalah apapun dengannya. Kami baik-baik saja dari tadi pagi," Gavin masih berusaha untuk berbohong.


"Oh ya? bagaimana dengan Maya? apa Benar kamu masih berhubungan dengannya sampai dia mengandung anakmu?"


Manik mata Gavin membesar dengan sempurna, begitu mendengar apa yang baru saja ditanyakan oleh mamanya.


"Da-dari mana, Mama tahu tentang itu?" tanya Gavin dengan jantung yang berdetak kencang.


"Wanita ular itu sendiri yang datang ke sini, dan memberitahukan semuanya. Apa itu benar?" tatapan Melinda terlihat sangat tajam dan mengintimidasi.


"Mah, aku berani bersumpah kalau itu sama sekali tidak benar. Dia sudah menjebakku dan sekarang aku dan Reynaldi, sedang berusaha menyelesaikannya," Gavin akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, mulai dari awal dia bisa bertemu dengan Maya dan bagaimana dia bisa berakhir di kamar.


"Kenapa kamu tidak menceritakan masalahmu pada istrimu? kenapa kamu menyembunyikan masalah berat seperti itu?"


"Mah, bukannya aku tidak mau cerita, tapi aku takut kalau Jelita tidak bisa terima dan meninggalkanku. Aku juga tidak mau melihat dia sedih, Ma." ucap Gavin dengan wajah sendu.


"Tapi, justru hal yang kamu lakukan itu membuat Jelita semakin sedih, karena dia harus mengetahui itu dari mulut wanita iblis itu,"

__ADS_1


"Maksud, Mama?"


"Kamu pasti sudah tahu kalau Jelita sudah mengetahui semuanya kan? Jelita sekarang marah dan tidak mau bertemu dengan kamu lagi. Dia sudah pergi, Vin!" ujar Melinda yang memang sudah dihubungi Jelita sebelumnya, bahkan sebelum Maya datang menemui dia dan suaminya tadi. Bahkan Melinda juga sudah tahu kalau menantunya itu sedang hamil.


"Ma, tolong jangan bercanda! Jelita pasti ada di sini kan?" desak Gavin yang sama sekali tidak percaya dengan ucapan mamanya.


"Mama tidak bercanda, Vin. Jelita memang benar-benar tidak ada di sini. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh periksa seluruh ruangan," Melinda meyakinkan Gavin.


"Tapi, Ma kenapa dia harus pergi? kenapa dia pergi tanpa mendengarkan penjelasanku?" Gavin tersungkur duduk menyender ke belakang sofa. Tanpa terasa cairan bening sebening kristal, menetes membasahi pipinya.


"Itu hukuman buatmu, karena sudah tidak mau jujur,"


"Ma, bukannya aku sudah mengatakan alasan kenapa aku tidak jujur? aku benar-benar dilema, Ma," Gavin menggusak Rambutnya dengan kasar.


Melinda menatap Gavin dengan tatapan sendu. Wanita setengah baya itu, merasa kasihan dengan Putranya itu. Sebenarnya dia ingin memberitahukan kemana Jelita pergi, tapi bagaimanapun dia harus menghormati keputusan menantunya itu. Lagian ada alasan tersendiri bagi Melinda merahasiakan di mana Jelita sekarang.


"Mama pasti tahu kan Di mana Jelita sekarang? pasti di menghubungi Mama dan memberitahukan kemana dia pergi." Gavin kembali berdiri, karena dia yakin kalau mamanya itu pasti tahu.


"Mama, bohong! aku yakin, Mama pasti tahu. Tolong kasih tau, Gavin, Mah kemana dia pergi? aku benar-benar ingin menemuinya," mohon Gavin seraya menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.


"Maaf,Vin! Mama memang tahu. Tapi untuk kali ini Mama tidak bisa memberitahukan kamu. Karena __"


"Karena apa , Ma?" desak Gavin.


"Karena ini semua demi keamanan Jelita. Mama khawatir kalau Maya berniat jahat pada istrimu itu, karena tidak terima ketika papa mengatakan kalau semua harta kekayaan keluarga Maheswara akan jatuh ke tangan Jelita. Jadi kalau mama memberitahukan kamu, mama yakin kamu akan ke sana menemuinya dan bisa aja ada orang suruhan Maya yang mengawasimu, tanpa kita tahu." jelas Melinda, lugas.


Gavin bergeming, merasa dilematis. Di satu sisi dia membenarkan ucapan mamanya, tapi di sisi lainnya dia sangat ingin bertemu dengan Istrinya itu dan memeluk wanita itu dengan erat.


"Sekarang sebaiknya kamu fokus untuk menyelesaikan masalah ini! Kalau boleh sampai dia berakhir di penjara. Kamu tenang saja, karena Jelita baik-baik saja." Sambung Melinda kembali.

__ADS_1


"Aku tahu,Ma. Aku dan Reynaldi juga sekarang sedang berusaha untuk mengumpulkan bukti-bukti yang Maya tidak bisa membantah lagi. Karena kalau bukti-bukti itu belum terkumpul, Maya masih bisa saja mengelak. Aku sudah melepaskan Sari dari penjara dan meminta seseorang untuk mengawasi pergerakannya. Sekarang aku tinggal menunggu Denis pulang dari Canada. Karena calon istrinya adalah putri pemilik hotel tempat Maya menjebakku," tutur Gavin panjang lebar tanpa jeda.


"Untuk apa?" Melinda memicingkan matanya tidak mengerti.


"Untuk mengetahui rekaman CCTV masih ada atau nggak, Ma." jawab Gavin.


"Kenapa kamu tidak menanyakannya sendiri ke hotel itu? kenapa harus menunggu mereka pulang?"


"Sebenarnya sudah, Ma. Tapi, tidak ada yang tahu, karena kepala IT, hotel itu tiba-tiba tidak bekerja lagi, dan anak buahnya mengatakan kalau sudah terhapus, tapi entah kenapa aku ragu dengan pengakuan mereka,"


"Baiklah, kalau begitu! mudah-mudahan calon istri Denis bisa membantu," ucap Melinda. "Sekarang sebaiknya kamu pulang saja, dan istirahat! untuk masalah Jelita kamu tenang saja, Jelita ditemani oleh sahabatnya. Mama sudah mengatur cutinya khusus untuk menemani istrimu," pungkas Melinda sembari naik ke atas, meninggalkan Gavin.


"Ma, apa Mama benar-benar tidak mau berubah pikiran? tolong kasih tau aku di mana Jelita sekarang. Aku janji akan hati-hati," Gavin kembali berusaha memohon sebelum mamanya itu jauh.


"Tidak akan! kamu pulang sekarang!" Melinda menyahut tanpa menoleh ke arah Gavin.


Gavin menghela napasnya dengan berat. Kemudian, pria itu memutar tubuhnya, lalu berjalan ke luar. Namun baru saja dia masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba handphonenya kembali berbunyi. Dia melihat Reynaldi sedang menghubunginya.


"Iya, Rey?" tanya Gavin dengan suara yang tidak semangat.


"Vin, aku dapat kabar baru! Tadi aku menghubungi Nayla, Nayla mengatakan kalau Maya tidak mungkin bisa hamil karena rahimnya sudah diangkat tiga minggu yang lalu, rahimnya mengalami kerusakan parah akibat aborsi paksa." tutur Reynaldi dengan nada yang berapi-api.


"What! kamu serius, Rey?" tanya Gavin, memastikan.


"Iya! dia melakukan operasi pengangkatan rahim di rumah sakit keluargamu. Jadi kamu boleh meminta dokumen pasien atas nama Maya ke rumah sakit dan kita jadikan bukti," Reynaldi terdengar sangat semangat di ujung sana.


"Iya,kamu benar! sekarang juga aku ke sana." Semangat Reynaldi menular pada Gavin.


"Aku akan menyusulmu ke sana!" ucap Reynaldi,yang kemudian memutuskan panggilan.

__ADS_1


Sementara itu, di lain tempat Maya benar-benar marah dan frustasi, karena dia tidak mengetahui di mana keberadaan Jelita sekarang.


Tbc


__ADS_2