Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Gavin mengutarakan niatnya


__ADS_3

"Pagi, Mah, Pah!" sapa Jelita dengan seulas senyuman di bibirnya begitu melihat kedatangan kedua mertuanya itu.


"Lho Jelita, kamu ikut memasak, Sayang?" tanya Melinda dengan wajah berbinar.


"Emm, hanya bantu-bantu sedikit, Mah. Aku kan gak terlalu bisa masak, masakan seperti ini. Aku bisanya hanya masakan kampung," sahut Jelita dengan malu-malu.


"Tapi, Non Jelita cepat belajar kok, Nyonya. Cuma sekali diajarin, dia langsung bisa," Bik Narti buka suara, menimpali ucapan Jelita.


"Bibi, bisa aja!" sahut Jelita dengan pipi yang memerah. Sementara itu Sari terlihat memalingkan wajahnya, dengan mulut yang miring dan raut wajah tidak suka.


"Wah, mama sih yakin, kalau Jelita pasti serba bisa dan cepat beradaptasi," puji Melinda yang membuat Sari, memalingkan wajahnya, dengan mulut yang miring dan raut wajah tidak suka mendengarkan pujian Nyonya besarnya itu.


"Oh ya, mana Gavin?" Ganendra buka suara dengan mata yang mengedar mencari keberadaan putranya itu.


"Mas Gavin belum turun, Pah."


"Oh, kalau begitu kamu panggilkan suami kamu, biar kita sarapan bersama," kali ini Melinda yang buka suara.


"Aduh! membangunkannya? bagaimana ini?" batin Jelita sembari menggigit bibirnya.


"Jelita? kenapa masih berdiri di sana, Sayang? ayo kamu bangunkan suami kamu?" suara Melinda begitu lembut, tapi tetap saja tidak bisa membuat hati Jelita merasa tenang.


"Baik, Mah!" ucap Jelita dengan lirih dan beranjak dari tempat itu.


Akan tetapi, baru saja Jelita melangkah beberapa langkah terlihat sosok yang sedang dibicarakan muncul, hingga membuat wanita itu mengembuskan napas lega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar memenuhi ruang makan.


"Oh ya, Gavin apa rencana kamu sekarang?" Ganendra buka suara setelah terlebih dulu membersihkan sisa makanan dari mulutnya menggunakan tissue.


Gavin yang baru saja selesai makan, tidak langsung menjawab. Pria itu meraih gelas yang berisi air putih dan meneguknya sampai tandas. Kemudian dia melakukan hal yang sama seperti dilakukan oleh papanya tadi.


"Menurut, Papa bagaimana? aku nurut saja."


"Kamu sudah waktunya mengelola perusahaan menggantikan papa. Sekarang kamu sudah punya istri yang harus kamu tanggung jawabi,"

__ADS_1


"Mama setuju!" Melinda menyeletuk tiba-tiba.


"Walaupun kamu selama ini memiliki uang yang banyak, tapi itu kebanyakan pemberian dari mama dan papa, bukan murni hasil kerjamu kan?" sambung Melinda kembali.


"Ya, Nak mulai sekarang kamu harus mandiri, karena __"


"Apa Papa dan Mama lupa kalau aku pernah bekerja sebagai karyawan biasa? apa itu bukan termasuk mandiri?" Gavin menyela ucapan papanya. Jangan lupakan Jelita yang hanya diam, memutuskan untuk hanya jadi pendengar yang baik saja.


"Papa tahu, Gavin, tapi sekarang kamu sudah menikah kan? kamu harus mulai bekerja lagi,"


"Iya, aku akan bekerja lagi. Aku akan mulai bekerja besok, dan aku akan meminta Renaldi untuk menjadi asistenku, boleh kan, Pah?"


Ganendra tampak diam seperti memikirkan sesuatu. Kemudian pria itu mengangguk-anggukan kepala, seraya tersenyum.


"Baiklah, dia tidak terlalu buruk papa kira," ucap Ganendra,setuju.


"Pah, Mah, aku mau ngomong sesuatu, bolehkan?" tanya Gavin, setelah beberapa saat terdiam.


Melinda dan Ganendra saling silang pandang dengan kening yang berkerut, penuh tanda tanya.


"Kamu mau menanyakan apa?" Ganendra meletakkan kedua tangannya di dagu dengan siku yang menempel di atas meja.


Kedua mata Jelita membesar dan sontak menatap ke arah Gavin.


"Kapan kami membicarakan hal ini?" batinnya dengan raut wajah bingung.


"Benar begitu, Jelita?" tanya Melinda dengan alis yang bertaut, curiga.


"Emm ...." Jelita kembali melirik ke arah Gavin.


"Be-benar, Mah." jawab Jelita akhirnya.


"Apa kamu merasa tidak nyaman berada di rumah ini, sampai kamu mau pindah?" pertanyaan Melinda terlihat semakin menyudutkan Jelita.


"Aduh, kenapa sih dia membuatku berada di situasi ini? aku harus jawab apa lagi coba? please bantu aku jawab," Jelita melirik ke arah Gavin, untuk meminta pertolongan


Namun, pria itu terlihat biasa saja, seakan tidak peduli, dan membiarkan Jelita untuk mencari jawaban sendiri.

__ADS_1


Jelita menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara dengan cukup panjang.


"Bu-bukan seperti itu,Mah. Aku sangat nyaman berada di sini. Aku sama sekali tidak ada alasan untuk tidak merasa nyaman, karena semua yang ada di sini baik padaku."


"Jadi? kenapa harus pindah?" ada nada tidak suka pada ucapan Melinda. Bagaimana tidak, baru saja dia merasa seperti memiliki seorang putri, tapi sudah harus pergi.


"Emm, sebenarnya ini bukan keinginanku, melainkan ini keinginan mas Gavin. Jadi, sebagai seorang istri, sudah sepatutnya aku mengikuti suamiku kemanapun dia pergi kan, Mah?"


"Sial! kenapa dia harus bilang kalau ini keinginanku sih?" apa dia tidak bisa cari alasan lain? umpat Gavin, menggerutu di dalam hati.


"Oh, jadi ini keinginan kamu, Gavin? kenapa? apa kamu ada rencana untuk melakukan sesuatu pada Jelita?" kening Melinda naik ke atas, menatap penuh selidik.


"Apaan sih, Mah? kenapa, Mama curiga sama anak sendiri? aku sama sekali tidak pernah ada rencana buruk untuk Jelita. Alasanku cuma satu, yaitu ingin hidup mandiri, menjalani rumah tangga pada umumnya, seperti mama dan papa dulu," Jantung Gavin berdebar, berharap mama dan papanya dapat menerima alasannya.


"Kenapa harus pinda rumah? rumah ini sangat besar, dan kalian berdua juga bisa hidup mandiri di rumah ini, bukan begitu, Pah?" Melinda meminta dukungan pada Ganendra suaminya.


"Hmm, mamamu ada benarnya, Gavin. Di sini kalian berdua juga bisa hidup mandiri," Ganendra menimpali ucapan Melinda istrinya.


"Tidak bisa disamakan, Pah. Tetap ada bedanya. Aku ingin merasakan memberikan uang belanja dapur pada Jelita, seperti suami pada umumnya. Kalau di sini, aku yakin semuanya tidak akan bisa. Mama pasti akan menyiapkannya semua belanja dapur. Jadi, secara tidak langsung, kami belum bisa disebut mandiri kan?" ucap Gavin berapi-api, dan kali ini dengan alasan yang lebih meyakinkan.


Melinda dan Ganendra saling pandang dan diam untuk beberapa saat. Kemudian terdengar hembusan napas yang berat dari mulut Melinda.


"Hmm, baiklah! walaupun sebenarnya mama tidak keberatan dengan menyiapkan semua belanja dapur. Akan tetapi apa yang kamu katakan tadi ada benarnya. Ada baiknya kami memberikan kesempatan pada kalian berdua untuk bisa hidup mandiri." pungkas Melinda akhirnya yang mendapat anggukan kepala dari Ganendra, menandakan kalau pria itu juga mendukung ucapan istrinya.


"Terima kasih, Mah, Pah!" Gavin berucap dengan gembira, berbanding terbalik dengan Jelita yang tampak pasrah.


"Apa kamu sudah beli rumah untuk kalian tinggali?" Ganendra buka suara.


"Belum, Pah. Untuk sementara, biarlah kami tinggal di salah satu apartemenku,"


"Oh, seperti itu. Baiklah, toh mama masih bisa main kok nanti ke apartemenmu," ucap Melinda dengan tersenyum tipis, menghibur dirinya sendiri.


"Jadi, kapan rencana kalian berdua pindah?" sambung Melinda kembali.


"Nih, hari ini, sehabis makan," jawab Gavin dengan santai tanpa beban.


"Hah, sekarang?" seru Melinda dan Jelita bersamaan sembari berdiri.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2