
Langit sudah berganti warna menjadi jingga, pertanda malam akan datang menyapa. Jelita dan Nayla baru saja selesai membuat beberapa jembatan kue muffin yang penampilannya sangat mengundang selera. Ada Cheese muffin, banana muffin, apple muffin, chocolate muffin dan jenis yang lainnya.
"Hmm untuk awal, ini sudah cukup dulu. Sini aku photo dulu, baru aku posting ke media sosialku," ucap Nayla seraya bertepuk tangan, kecil dan wajah yang berbinar bahagia.
Wanita itu kemudian mengambil gambar muffin-muffin itu, dan seperti yang dia katakan tadi, dia mempostingnya ke media sosialnya.
"Ok, done!" serunya, bahagia. Kemudian Nayla menarik tangan Jelita dan menggenggam tangan sahabatnya itu dengan erat.
"Kita berdoa dulu, mudah-mudahan, usaha awal kamu ini lancar," mereka berdua memejamkan mata dan mengucapkan doa di dalam hati.
Tiba-tiba ponsel Nayla berbunyi pertanda ada sebuah notifikasi dari media sosialnya. Wanita itu tiba-tiba memekik gembira, hingga membuat Jelita penasaran.
"Jel, lihat ini! rekan kerjaku ada yang memesan muffin buatan kamu. Dia pesan 12 biji dengan berbagai varian rasa. Nih ada lagi orang yang pesan," Nayla mengarahkan ponselnya ke arah Jelita.
"Wah, serius ini? aku gak mengira bisa secepat ini ada yang memesan." Sorak Jelita dengan wajah yang sumringah. "Ini semua berkat kamu, Nay. Coba tadi kalau aku yang promo, aku yakin tidak akan ada yang mau pesan," Wajah Jelita, tiba-tiba berubah sedih.
"Ih, kamu nggak boleh begitu dong. Yang namanya sahabat harus saling membantu. Sekarang, ayo kita masukkan muffin-muffin ini ke kotak ini."
Jelita tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Semangat!"serunya sambil mengangkat tangan yang terkepal ke udara.
" Untuk permulaan, ini sudah menjadi awal yang bagus. Mudah-mudahan besok dan hari berikutnya semakin banyak yang memesan," ucap Nayla sembari membantu Jelita memasukkan muffin ke kotak.
"Ok, selesai tinggal kirim ke alamat mereka." Nayla meraih ponselnya kembali dan memesan ojek online yang bisa mengirimkan pesanan ke alamat. Sedangkan untuk pembayaran dilakukan dengan transfer ke rekening Nayla untuk sementara.
"Wah, sayang ya, kamu gak buat banyak, padahal masih ada yang mau memesan nih! tapi kamu tenang saja, aku bilang ready besok dan mereka mau menunggu sampai besok sore, kamu bisa kan buatnya?"
"Bisa dong, Nay. Emang yang dipesan banyak ya?"
"Emm, lumayan sih," jawab Nayla, sembari mengarahkan ponselnya pada Jelita, supaya gadis itu dapat melihat sendiri jumlah muffin yang dipesan."
"Ini masih muffin loh, Jel. Belum jenis kue yang lain, suatu saat kamu pasti bisa buka toko kue sendiri,"
"Aminn, terima kasih ya, Nay buat dukungannya! seandainya kamu tidak ada, aku tidak akan pernah bisa mengaplikasikan kemampuanku ini." Jelita berucap dengan manik mata yang berembun karena terharu.
"Udah ah, jangan berlebihan bilang terima kasihnya, tuh ojek onlinenya sudah datang, ayo kita antar ke dia," Nayla dan Jelita dengan semangat mengangkat kotak-kotak berisi muffin itu dan memberikannya pada abang ojek online.
__ADS_1
"Nay, ini udah malam. Aku sepertinya harus pulang. Nanti suamiku, bisa menuduhku yang macam-macam lagi," ucap Jelita yang seketika tersadar, begitu melihat langit yang sudah gelap.
"Emm, kenapa kamu harus peduli? toh dia gak bakal peduli juga kan?"
"Ya, iya sih, Nay. Tapi bagaimanapun dia tetap suamiku kan?"
"Ah, terserah kamu deh, Jel! aku antar kamu pulang, tapi kamu tunggu di sini dulu sebentar. Aku mau ke kamar dulu. Ada sesuatu yang mau aku ambil," Nayla beranjak pergi ke kamarnya setelah Jelita menganggukkan kepalanya.
10 menit kemudian, Nayla kembali muncul dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Jel, ini ada handphone lamaku, masih bagus banget. Kamu bisa pakai ini dulu, untuk promosi kue-kue kamu. Nanti kamu buat akun sendiri. Kamu tenang saja, nanti aku ajarin kamu dan jangan khawatir, aku tetap akan bantu untuk promosiin kue-kue kamu," Nayla meletakkan handphone yang ada di tangannya ke telapak tangan Jelita.
"Tidak ada penolakan! kalau kamu menolak, jangan pernah temui aku lagi!" ucap Nayla, saat Jelita berniat buka mulut hendak menolak.
"Terima kasih, Nay!" Jelita sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Wanita itu benar-benar merasa terharu dengan kebaikan Nayla sahabatnya.
"Ayo, aku antar kamu pulang!" Nayla dan Jelita berjalan beriringan menuju mobil Nayla yang terparkir. Mereka memang tidak perlu berpamitan pada orang tua Nayla, karena kebetulan orang tua Nyala sedang tidak ada di rumah karena menghadiri sebuah acara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil yang dikemudikan oleh Nayla berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang berada di kawasan elit. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Nayla menerbitkan senyum manisnya, menunjukkan kalau dirinya tidak mempermasalahkan hal itu.
"Santai aja kali, Jel. Aku maklum kok, kalau ada laki-laki stress di dalam sana," ujarnya, dengan nada meledek.
"Dan sayangnya orang yang kamu sebut stress itu, suamiku," sahut Jelita dengan tertawa kecil.
"Suami yang tidak bertanggung jawab," balas Nayla kembali, hingga membuat tawa keduanya pecah.
"Udah ah. Aku mau masuk dulu, ya!" Jelita membuka pintu mobil, turun dan menutupnya kembali.
"Jel, besok kamu bisa belanja sendiri kan bahan-bahan kuenya? aku soalnya besok ada praktek sampai sore,"
Jelita tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Nay. Lagian, aku tidak boleh bergantung sama kamu terus kan?"
"Ya udah, kalau ada yang kurang, hubungi aku ya? kalau aku ada waktu, kita buka rekening kamu sendiri, aku pamit pulang ya, Jel, bye! Nayla mengeluarkan tangan dan melambaikannya ke arah Jelita.
__ADS_1
"Bye, Nay! hati-hati!" teriak Jelita sebelum mobil Nayla menjauh.
Jelita menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya kembali dengan cukup panjang dan berat.
"Kembali ke neraka! aku sepertinya harus siap mendengar kata-kata pedasnya nanti, karena aku pulang terlalu malam," batin Jelita sembari mengayunkan kakinya melangkah menuju apartemen Gavin.
Jelita kembali mengembuskan napasnya, begitu dia sudah tiba di depan pintu unit apartemen Gavin. Wanita itu dengan tangan gemetar menekan bel. Berulang kali, Jelita menekan tombol, tapi tetap saja Gavin tidak membukakan pintu untuknya.
"Apa dia benar-benar marah, dan tidak mengizinkan aku untuk masuk ke dalam? mana aku tidak tahu lagi, password-nya" Jelita mulai panik. setelah beberapa saat lagi, dia kembali menekan bel berulangkali, dan lagi-lagi pintu tetap saja tidak dibuka untuknya.
"Apa aku, telpon Nayla balik aja ya? ah jangan deh! aku gak boleh nyusahin dia terus," batin Jelita seraya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya.
Jelita kembali menekan bel berulang-ulang, dan hasilnya tetap sama. Jelita akhirnya menyerah dan duduk sembari menyenderkan punggungnya, karena kakinya sudah mulai terasa pegal.
Jelita berulang-ulang menatap ke arah pintu, berharap Gavin berbaik hati untuk membukakan pintu. Namun apa yang diharapkan benar-benar tidak terjadi. Jelita melihat ke arah handphonenya ternyata sudah menunjukkan pukul 11 malam, berarti dia sudah ada di luar hampir dua jam lamanya. Karena terlalu lelah, lambat laun akhirnya Jelita jatuh tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di suatu tempat Gavin tiba-tiba tersadar akan sesuatu.
"Sob, aku pulang dulu," Gavin berlari, tanpa menunggu jawaban dari Reynaldi dan Denis.
"Kenapa dia? kenapa terlihat terburu-buru?" tanya Denis dan Reynaldi hanya mengangkat bahu pertanda kalau dirinya juga tidak tahu.
"Sepertinya aku juga harus pulang, Sob. Besok aku mulai kerja di perusahaan Gavin."
"Oh, ya udah deh! hati-hati ya!"
Reynaldi mengayunkan kakinya melangkah, menuju mobilnya.
Sementara itu Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung jalanan sudah sepi, karena malam sudah semakin larut.
"Dimana dia sekarang? apa dia bisa masuk ke dalam apartemen?" batin Gavin sembari mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
Gavin tiba-tiba berhenti mendadak dan mengrenyitkan keningnya. "Buat apa aku ngekhawatirin dia? dia kan bisa jaga diri sendiri. Dia pasti dengan sahabatnya itu sekarang." Gavin kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. "Tapi, tunggu dulu! sahabatnya itu laki-laki atau perempuan sih? Sial! kenapa aku bisa seperti ini," Gavin memukul kemudi dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa buat tetap ninggalin jejaknya ya guys. Mohon like, vote dan komentarnya. Kalau mau kasih hadiah juga boleh 🙏🏻😍