Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Bab 62


__ADS_3

"A-apa kamu bilang? a-aku hamil?" tanya Jelita, memastikan, dan Nayla menganggukkan kepala membenarkan.


"Kamu tidak berbohong kan?" tanya Jelita kembali.


"Buat apa aku berbohong? apalagi pada sahabatku sendiri, tidak ada gunanya sama sekali kan?" ujar Nayla yang semakin mempertegas ucapannya.


Air mata Jelita, kembali mengalir dengan deras dengan perasaan yang campur aduk, antara sedih dan bahagia.


"Selamat ya, Ibu Jelita!" Mia buka suara disusul dengan rekannya.


"Terima kasih ya!" sahut Jelita, memaksakan untuk tersenyum.


"Kalau begitu kami kembali bekerja ya, Bu! Ibu istirahat aja, dan jangan dipikirkan nenek lampir itu. Kami sangat yakin kalau wanita itu sedang berbohong," ucap Mia dengan intonasi yang berapi-api.


"Terima kasih! aku juga berharap seperti itu." Jelita sangat bersyukur karena memiliki karyawan yang tulus seperti Mia dan yang lainnya.


"Kalau begitu kami keluar ya, Bu!" Mia dan rekannya, akhirnya keluar dari ruangan Jelita untuk kembali bergabung dengan dua rekan lainnya.


"Apa benar yang kami katakan tadi kalau Maya tidak mungkin hamil?" tanya Jelita, memastikan setelah tangisnya sedikit mereda.


"Tentu saja! aku bertanya sendiri pada dokter bedah yang melakukan pengangkatan rahimnya. Soalnya dia ditangani di rumah sakit tempat aku bekerja," jawab Nayla, lugas.


"Jadi, kenapa dia ada photo-photo bersama dengan mas Gavin? bukannya berarti kalau mereka memang memiliki hubungan?".wajah Jelita kembali sendu.


"Jelita, kamu ini kenapa sih? aku yakin kalau dia hanya mencoba untuk memprovokasimu. Kamu tahu sendiri kan kalau dia itu selalu penuh tipu daya dan banyak muslihat," Nayla berusaha meyakinkan sahabatnya itu.


"Tapi, kenapa dia bisa tahu alasan mas Gavin dulu mau menikah denganku? kenapa dia bisa tahu kalau mas Gavin menikah denganku hanya demi supaya harta kekayaan orang tuanya tidak jatuh ke tanganku. Dari mana dia tahu coba, kalau bukan dari mas Gavin.


Nayla terdiam tidak bisa menjawab, karena sejujurnya dia juga tidak tahu.


"Jel, kalau tentang itu, aku tidak bisa jawab, tapi entah kenapa,aku sangat yakin kalau Gavin tidak mungkin melakukannya. Aku lebih percaya jika ada kabar Monas akan dipindahkan ke Sumatera Utara, daripada harus mempercayai ucapan Maya, si wanita licik itu." ujar Nayla seraya menggigit giginya sendiri, saking geramnya.


Jelita terlihat kembali diam, dengan manik mata yang kembali berembun.

__ADS_1


"Udah ah, Jel! jangan sedih lagi! kamu harus tetap berpikir positif pada suamimu. Ingat, kalau di dalam rahim kamu ini sedang ada janin yang sedang ingin bertumbuh dengan sehat. Jangan sampai karena kesedihan mamanya, perkembangan anak kamu jadi terhambat," Nayla mencoba menghibur kembali.


"Pantas saja belakangan ini dia suka melamun belakangan ini. Dan kalau ditanya suka tidak nyambung jawabannya," ucap Jelita, lirih.


"Kenapa sih kamu masih melanjutkan? kan aku sudah meminta kamu untuk tidak terlalu memikirkannya. Lagian aku yakin kalau suami juga sekarang sedang bingung. Seharusnya kamu sebagai istri harus bisa mendukungnya,"


"Aku cuma kesal,Nay. Kenapa dia tidak jujur dari saja dari dulu. Dia anggap apa aku?"


"Jelita, aku yakin suami kamu punya alasan kuat untuk tidak memberitahukannya padamu. Mungkin saja dia tidak ingin kamu kepikiran dengan semua ini," ucap Nayla, lembut.


"Tetap aja aku tidak terima. Aku tetap marah, dan tidak ingin bertemu dia untuk beberapa saat. Kamu tolong sembunyikan aku, ke tempat yang tidak terpikirkan olehnya ya? aku mau memberikan dia hukuman karena sudah tidak jujur padaku,"


"Jel, kamu tidak harus berbuat seperti ini. Kasihan Gavin, nanti." Nayla mencoba membujuk Jelita agar mengurungkan niatnya.


"Kamu mau membantuku atau tidak, Nay? kalau tidak mau biarkan aku cari sendiri tempatnya," ucap Jelita dengan tegas, tapmi terbantahkan.


"Terserah kamu deh! kenapa kamu makin ke sini, makin keras kepala sih? bawaan bayi kamu kali,ya?" Nayla menggerutu, sembari menghela napasnya dengan berat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sari, apa benar kamu yang merencanakan untuk menjebak Gavin dan Maya?" Reynaldi mencoba bertanya dengan nada suara yang lembut untuk memberikan kenyamanan pada Sari.


"Tidak, Pak Rey! aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah merencanakan hal seperti itu," sangkal Sari, memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya.


"Tapi, bagaimana dengan rekaman suara kamu, yang mengatakan kalau kamu sangat benci pada Jelita dan akan menyingkirkannya, dengan cara apapun?" Reynaldi kembali menyelidik.m


"Aku memang membenci Jelita, karena aku merasa kalau dia lebih beruntung dariku, tapi sumpah demi apapun, Pak, aku sama sekali tidak pernah menjebak Tuan Gavin dan non Maya," Sari berusaha meyakinkan.


"Aku memang memberitahukan dia tentang alasan Tuan Gavin menerima menikah dengan Jelita, karena aku tahu kalau,non Maya ternyata mantan kekasih Tuan Gavin. Aku hanya ingin Non Maya semangat kembali untuk merebut Tuan Gavin dari Jelita, agar Jelita hancur, tapi, aku tidak menyangka kalau wanita licik itu ternyata malah mengkambinghitamkan aku untuk memuluskan rencananya," tutur Sari dengan mata yang berkilat-kilat, marah.


"Jadi, dari kejadian ini, apa yang bisa kamu dapatkan?"


"Aku kini menyadari kalau orang yang aku anggap teman teryata bisa jadi musuh yang bisa membawa kita jatuh ke dalam jurang," raut wajah Sari yang tadinya begitu marah, berubah penuh penyesalan.

__ADS_1


"Baguslah, kalau kamu sudah sadar. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, rasa iri dan dengki yang kamu rasakan, tidak akan pernah berbuah kebahagiaan. Justru hidup kamu tidak akan pernah merasa tenang," ujar Reynaldi lagi.


Sari terdiam, berusaha mencerna ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Reynaldi. Kemudian wanita itu beralih menatap ke arah Gavin yang dari tadi tidak buka suara.


"Tuan Gavin, aku minta maaf! aku mohon tolong bantu aku keluar dari sini. Aku janji tidak akan menggangu non Jelita lagi," mohon Sari dengan wajah yang memelas.


Gavin bergeming tidak langsung menjawab.


"Entah kenapa aku belum sepenuhnya yakin kalau kamu akan berhenti ingin berbuat jahat pada Jelita," Gavin buka suara untuk pertama kalinya.


"Aku tidak akan bohong, Tuan. Setelah Tuan melepaskan aku nanti, aku berjanji akan kembali ke kampung halamanku," mohon Sari dengan wajah yang sangat memelas.


"Baiklah, aku akan melepaskan kamu, tapi kamu harus melakukan satu tugas untukku. Setelah kamu menyelesaikan tugasnya, kamu bisa langsung pulang ke kampungmu dan jangan pernah muncul lagi di depan kami.


"Baik, Tuan! katakan saja apa yang harus aku lakukan. Aku akan berusaha melakukannya dengan baik," ujar Sari menyanggupi.


Gavin menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan kembali ke udara. Kemudian pria itu membaberkan apa yang harus dilakukan oleh mantan asisten rumah tangga di rumah orangtuanya itu.


"Bagaimana? apa kamu sanggup?" tanya Gavin setelah menyelesaikan ucapannya.


"Aku sanggup, Tuan!" sahut Sari tegas..


"Baiklah, kalau begitu kamu akan aku keluarkan dari sini, dan ingat jangan pernah macam-macam, karena kamu akan tetap di bawah pengawanku," pungkas Gavin sembari menyelipkan sebuah ancaman.


Tbc


Guys, kali ini aku mau promosiin karya saudara kembar online, beda ibu beda bapak dan beda suku, agama, tapi tetap bersatu jua ( apaan ya?😁) Apanya yang kembar? Zodiaknya, warna karpet,warna cat tembok rumah, gorden, semuanya kami kembar. 😁


Bagi yang menyukai tentang mafia, bolehlah mampir ke karyanya. Bagus banget! unsur mafianya dapat banget.



__ADS_1


Penasaran kan, Guys? mampir ke sana ya!🙏🏻


__ADS_2