Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Justru yang hamil itu kamu!


__ADS_3

Baiklah, Vin! sekarang kamu tenang dulu. Aku yakin kita akan bisa menyelesaikan masalah ini. Aku akan selalu ada untukmu.


Di saat Reynaldi selesai bicara tiba-tiba handphone Gavin berbunyi.


"Siapa, Vin?" tanya. Reynaldi, penasaran.


"Hanya Denis," sahut Gavin, masih dengan raut wajah gusar.


"Sini, biar aku aja yang menjawabnya," Reynaldi menerima handphone dari tangan Reynaldi


"Halo, Vin!"terdengar suara riang Denis dari ujung sana.


"Ini bukan Gavin, tapi aku, Rey."


"Lho, kenapa handphone Gavin ada sama kamu? dimana dia?" tanya Denis.


"Gavin sedang tidak bisa menerima telepon. Dia lagi sibuk, Den." jawab Reynaldi berbohong.


"Oh, begitu? padahal aku hanya ingin berterima kasih karena saran dia, Bella akhirnya luluh. Kamu tahu, aku juga sebentar lagi akan jadi seorang ayah. Bella hamil, Rey! besok kami akan langsung pulang ke Indonesia, dan kami akan langsung menikah,"


"Apa kamu tidak bisa menunggu sampai besok pagi untuk menelepon ke sini? di sana masih pukul 3 pagi kan?" protes Reynaldi.


"Aku nggak bisa tidur, Rey. Aku tahu di sana sudah siang makanya aku telepon. Kenapa kamu protes? kamu tidak mau mengucapkan selamat padaku?" Denis balik protes.


"Iya, iya selamat! udah dulu ya, aku mau lanjut bekerja," Reynaldi hampir saja ingin memutuskan panggilan, tapi tiba-tiba dia mengurungkan niatnya dan berteriak,


"Den, Denis? kamu masih di sana kan?"


"Iya, kenapa?"


"Kamu dan Bella benar-benar pulang ke Indonesia?" tanya Reynaldi memastikan.


"Iya. Kandungan Bella tidak bermasalah dan dokter sudah memberikan obat penguat janin, makanya kami bisa pulang,emangnya kenapa sih?


"Aku tidak bertanya kenapa kalian bisa pulang, padahal usia kandungan masih muda. Aku hanya memastikan kalian berdua benar-benar pulang atau tidak, itu aja,"


"Kenapa sih kamu? aku kan udah jawab kalau kami akan pulang, kenapa bertanya lagi?" suara Denis terdengar dongkol dari ujung sana.


"Iya, iya, maaf! aku sebenarnya ingin bicara dengan Bella, tapi mungkin dia sedang tidur. Ada sesuatu yang mau aku tanyakan padanya,"


"Apa yang mau kamu tanyakan, bilang aja padaku, biar aku yang akan menyampaikan padanya," nada suara Denis terdengar cemburu.


"Kamu tidak perlu cemburu? aku sebenarnya cuma mau bertanya, kapasitas penyimpanan video rekaman CCTV di hotel keluarganya bertahan berapa lama? apakah video tiga minggu yang lalu masih bisa tersimpan? itu saja," jelas Reynaldi, menjaga agar sahabatnya itu tidak salah paham.


"Hmm, kenapa kamu ingin mengetahuinya? apa ada masalah?"


Reynaldi akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Gavin dan Reynaldi sangat berharap kalau rekaman CCTV itu masih belumlah terhapus otomatis. Karena menurutnya rekaman itu sangat membantu Gavin, bisa keluar dari masalah yang dia hadapi.

__ADS_1


"Brengsek!" Denis mengumpat, kasar. "Baiklah! nanti aku akan tanyakan padanya. Mudah-mudahan hotelnya mengunakan Ram penyimpanan yang sangat besar dan sanggup bertahan selama satu bulan," ucap Denis kembali.


"Baiklah! kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa di sini!"


Reynaldi memutuskan panggilan setelah Denis mengiyakan dari ujung sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain tempat, tepatnya di toko kue Jelita, tampak Maya mendatangi toko itu dengan keangkuhannya.


"Di mana Jelita? apa dia ada di sini?" tanyanya dengan senyum sinis di sudut bibirnya.


"Maaf, Nona! anda tolong keluar dari sini! karena tuan Gavin memerintahkan kami agar tidak mengizinkan anda untuk masuk ke toko ini," bukannya menjawab, salah satu karyawan Jelita malah mengusir wanita itu.


"Hei, berani sekali kamu mengusirku? aku tidak akan pergi kecuali aku sudah berteman dengan Jelita." bentak Maya, tetap berdiri pada tempatnya.


"Tidak bisa, Nona! Anda harus tetap pergi dari sini. Kalau tidak kami dengan berat hati akan menarik paksa anda keluar dari sini."


"Emangnya kalian berani? asal kalian tahu sebentar lagi aku akan menggantikan posisi Jelita sebagai Nyonya Gavin


Melviano Maheswara," ujar Maya dengan tersenyum miring.


"Maaf, Nona! sepertinya tidur anda terlalu miring, makanya bisa bermimpi seperti itu." Mia, karyawan kepercayaan Jelita buka suara.


"Jadi kalian tidak percaya? kita lihat saja nanti! dan kalau sampai itu terjadi, aku akan meminta pada Gavin untuk menarik toko ini dan otomatis kalian semua akan kehilangan pekerjaan," suara Maya, meninggi benar-benar marah dengan para karyawan itu.


"Hai Jelita, kita bertemu kembali," sapa Maya dengan ekspresi sinisnya.


"Kamu kenapa datang ke sini lagi? dan kenapa setiap kali kamu datang, selalu saja membuat keributan? apa kamu memang terlahir untuk itu?" sindir Jelita tidak kalah sinis dari Maya.


"Aku ditakdirkan lahir hanya untuk membuat hidupmu jauh dari kata bahagia," balas Maya dengan senyum misterius.


" Terserah kamu mau mengatakan apa. Yang jelas kamu bukan Tuhan yang bisa menakar kebahagiaanku,"


"Kamu bisa saja bisa mengatakan begitu sekarang. Asal kamu tahu kalau aku sedang hamil anak Gavin!" ucap Maya, sembari menyeringai sinis.


"Dan kamu pikir aku percaya? kamu dari dulu selalu penuh dengan akal bulus, jadi aku tidak akan bisa percaya dengan kata-kata kamu lagi," sahut Jelita, yang memang tidak ingin percaya dengan ucapan Maya.


"Oh ya, kalau kamu tidak percaya coba kamu lihat ini!" Maya menunjukkan photo-photo dirinya dan Gavin mulai dari waktu berbicara di restoran sampai photo di dalam kamar.


Mata Jelita seketika berkilat-kilat penuh dengan cairan bening, melihat lembaran demi lembaran photo itu.


"Kamu mau mengatakan kalau aku menjebaknya kan? tidak sama sekali, Jelita. Asal kamu tahu, kalau Gavin masih sangat mencintaiku, karena aku ini cinta pertamanya. Dan dia menikahimu karena tidak ingin harta kekayaan orang tuanya jatuh ke tanganmu, aku benarkan?" Maya semakin merasa berada di atas angin, melihat ekspresi wajah Jelita.


"Da dari mana kamu tahu tentang itu?" tanya Jelita dengan bibir yang gemetar.


"Tentu saja dari Gavin. Siapa lagi coba?"

__ADS_1


Jelita berjalan mundur dengan air mata yang sudah mengalir keluar membasahi pipinya. Wanita merasa melihat banyak kunang-kunang yang beterbangan di kepalanya, dan akhirnya membuatnya jatuh tidak sadarkan diri.


Beruntungnya Mia dengan sigap menangkap tubuh Jelita hingga tidak sampai membuat wanita itu jatuh ke lantai.


"Bu, Ibu Jelita!" pekik Mia sembari menepuk-nepuk pipi Jelita.


Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Nayla yang memang berniat untuk mendatangi sahabat karena ingin bertanya sesuatu, masuk ke dalam toko kue Jelita.


"Jelita!" teriaknya sembari menghambur ke arah Jelita.


"Ada apa ini?" tanya Nayla dengan panik.


"Ini semua gara-gara wanita gila itu, Mbak Nayla!" Mia menunjuk ke arah Maya yang tersenyum sinis.


"Oh jadi ini semua gara-gara kamu?" Nayla sontak berdiri dan langsung menghampiri Maya. Tanpa bisa dihindari, tangan Nayla tiba-tiba menarik rambut Maya dengan kencang, dan memelintir tangannya yang hendak mencoba menggapai rambut Nayla.


"Kamu ya, tidak ada bosan-bosannya, mengganggu Jelita. Kamu selalu iri karena kamu tidak bisa seperti dia. Rasakan ini, nih rasakan!" Nayla semakin mengencangkan tarikannya pada rambut Maya, hingga membuat wanita itu memekik kesakitan.


"Mbak Nayla, sebaiknya kamu menolong ibu Jelita dulu, biarkan wanita iblis itu jadi urusan saya. Aku sudah lama tidak mematahkan tulang orang," ujar Mia dengan tatapan sengit ke arah Maya, hingga membuat wajah wanita itu,berubah pucat.


Nayla melepaskan tangannya dari rambut Maya dan menghampiri Jelita kembali. Sementara itu, begitu rambutnya terlepas Maya langsung berlari ke luar, tapi sialnya sebelum mencapai pintu,tendangan kaki Mia yang memang menguasai silat, mendarat telak di punggung Maya, hingga membuat wanita itu terjerembab menabrak pintu. Untungnya tendangan Mia tidak menggunakan tenaga penuh, kalau tidak bisa dipastikan kalau Maya akan muntah darah dan berakhir di rumah sakit.


"Awas kalian semua ya! aku balas kalian semua nanti!" ancam Maya, sembari keluar dari dalam toko kue Jelita.


"Tolong kalian bantu aku, mengangkat tubuh Jelita ke ruangannya!"ucap Nayla meminta pertolongan.


Mia dan salah satu temannya, segera beranjak membantu Nayla. Kemudian Nayla mulai melakukan pemeriksaan pada tubuh Jelita.


"Bagaimana, Mbak? apa Ibu Jelita baik-baik saja?" tanya Mia dengan tatapan khawatir.


"Dia baik-baik saja! Ibu Jelita sepertinya sedang hamil, tapi dia tidak menyadarinya," jelas Nayla.


"Ha-hamil? berarti sama dengan __" Mia menggantungkan ucapannya karena terdengar suara lenguhan dari mulut Jelita, yang menandakan kalau wanita itu sudah siuman.


"Jelita, kamu sudah sadar?" tanya Nayla, bernapas lega.


"Nayla Kenapa kamu ada di sini? dan kemana perginya Maya? apa aku hanya mimpi tadi, kalau Maya datang ke sini? ini hanya mimpi kan? katakan kalau ini hanya mimpi?" Jelita tiba-tiba histeris.


"Jelita, tenang dulu! jangan emosional seperti ini. Ini sebenarnya ada apa? kenapa Maya bisa ada di sini tadi?" tanya Nayla yang benar-benar bingung sekarang.


"Jadi ini bukan mimpi? jadi Maya benar-benar datang ke sini tadi?" Jelita menangis sesunggukan.


"Ini ada apa sih sebenarnya?" suara Nayla mulai sedikit meninggi.


"Mas Gavin, Nay ... mas Gavin masih berhubungan dengan Maya selama ini, dan Maya sekarang sedang hamil anaknya," Jelita kembali menangis terisak-isak, hingga membuat Mia dan rekannya juga mulai ikut menangis.


"Maya hamil? itu sangat tidak mungkin, Jel. Sebulan yang lalu rahim dia mengalami kerusakan parah karena melakukan aborsi paksa. Dan karena sudah rusak, akhirnya rahimnya diangkat. Jadi, sangat tidak mungkin dia hamil. Dia sudah membohongi kamu, Jelita! justru yang sekarang hamil itu, kamu!"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2