Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Akal bulus Gavin


__ADS_3

Pesawat yang membawa Denis dan Bella kini sudah mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Mereka berdua langsung naik taksi menunju kediaman Permana, orang tua Bella.


Setelah memakan waktu 1jam di dalam perjalanan taksi yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah mewah.


Begitu melihat yang turun adalah Bella, sang satpam dengan sigap langsung membuka pintu pagar dan membantu membawakan koper.


"Non, kenapa tidak ngasih kabar mau pulang? kan bisa dijemput sama supir," ucap Satpam itu.


"Tidak apa-apa, Pak. Kita nggak mau nyusahin soalnya. Oh ya, papa dan mama ada?"


"Ada,Non. Kebetulan juga lagi ada tamu di dalam," jawab satpam itu.


"Hallo, Pak! kita bertemu lagi," sapa Denis sembari menyelipkan senyuman di bibirnya.


"Eh, iya. Hari itu pernah ke sini kan?" satpam itu balas tersenyum.


"Oh ya, Pak. Kami ke dalam dulu ya," ucap Bella mengehentikan obrolan Denis dan satpam itu.


"Oh, iya, Non. Silakan! kopernya biar aku yang bawa ke dalam," Denis meraih tangan Bella dan menggandeng tangan wanita itu, berjalan masuk.


"Bella!"seru Reni langsung berdiri begitu melihat kemunculan Bella. wanita itu langsung menghambur memeluk putri satu-satunya itu.


"Kenapa kalian tidak kasih kabar, kalau akan pulang," Indra buka suara.


"Kami tidak mau menyusahkan,Ma, Pa." Jawab Bella.


"Ma, Pa, kenapa pagi-pagi kalian berdua sudah ada di sini?" celetuk Denis, tiba-tiba ketika melihat kedua orangtuanya ada di rumah Bella.


"Emangnya kenapa? emangnya ada larangan Kalau kami datang ke rumah ini?" jawab Danang, papa Denis, santai.


"Bukan seperti itu, Pa. Kalian ke sini ketepatan kami pulang, kebetulan sekali bukan?"


"Udah,udah kalian berdualah duduk dulu, kalian pasti sudah capek," Indra buka suara sembari mendaratkan tubuhnya duduk kembali di tempat semula.


"Akhirnya kamu berhasil juga ya, membawa pulang anak Om ke sini. Hebat kamu! padahal Bella ini sangat keras kepala," puji Indra sembari menyunggingkan senyuman.


"Huh, Om tidak tahu aja, bagaimana susahnya aku membujuknya, sampai aku berpura-pura babak belur, baru dia ketakutan kehilanganku," jawab Denis yang langsung disambut tawa orang-orang yang ada di ruangan itu kecuali Bella yang tentu saja mengerucutkan bibirnya.


"Tapi mama bahagia banget, Den. Akhirnya kamu berhasil membawa pulang menantu mama," mamanya Denis buka suara.


"Jadi, sekarang apa rencana kalian berdua? kapan kalian akan menikah?" tanya Danang antusias.

__ADS_1


Denis dan Bella tidak langsung menjawab. Mereka berdua saling pandang sembari tersenyum penuh makna.


"Rencananya kami akan menikah secepatnya, Pa. Kalau boleh dalam minggu ini," jawab Denis.


"Hei, jangan gila kamu! apa kamu kira bisa mempersiapkan pernikahan dalam waktu dekat seperti itu?" cetus mamanya Denis, protes.


"Pasti bisa, Ma. Soalnya Bella ... Bella sudah hamil, Ma. Kalau __"


"Apa? hamil!" mamanya Bella dan mamanya Denis berteriak bersamaan, sampai berdiri dari tempat duduk masing-masing.


"Mati aku! disate- disate dah, aku udah pasrah," batin Denis sembari menutup matanya, menantikan jeweran mamanya. Namun apa yang ditakutkannya tidak terjadi, justru dia kaget dengan reaksi dua wanita setengah baya itu.


"Hahaha, Mbak kita sebentar lagi punya cucu," sorak mamanya Denis.


"Iya, Des aku tidak menyangka kalau kita akan punya cucu secepat ini," sambut Reni mamanya Bella. Keduanya berpelukan sambil melompat-lompat.


"Heh? kenapa jadinya begini? baru kali ini ada orang tua yang bahagia kalau anaknya hamil sebelum menikah," batin Denis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Denis mengalihkan tatapannya, ke arah papanya dan Papa Bella yang juga terlihat bahagia, tapi tidak terlalu berlebihan seperti istri mereka.


Kemudian, Desi mamanya Denis menghampiri Denis dan memukul pundak anaknya itu.


"Kamu pindah dulu! mama mau bicara sama menantu mama," usir Desi yang membuat Denis mendengus kesal.


"Oh ya,Sayang. Jaga baik-baik cucu mama ya! Kalian tenang aja, aku dan mama kamu akan mengurus semua pernikahan kalian. Iya kan Mbak?" Reni menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Jangan panggil Tante dong! panggil aku mama," protes Desi mamanya Denis.


"I-iya, Ma," ucap Bella gugup.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di lain tempat, Gavin selalu memantau pergerakan Reynaldi. Satu-satunya yang dia incar adalah handphone sahabatnya itu. Dia berharap Reynaldi lengah, sehingga dia bisa mengambil handphone itu.


"Rey, coba periksa dokumen ini!" titah Gavin memberikan dokumen di tangannya.


"Bukannya itu sudah kamu periksa dan juga sudah kamu tanda tangani kan?" Reynaldi mengrenyitkan keningnya, bingung dengan tingkah Gavin yang dari tadi terlihat tidak tenang.


"Eh, iya ya? aku lupa," Gavin cengengesan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Tidak ada dokumen lagi kah yang bisa kamu periksa?" tanya Gavin lagi.


"Kamu kenapa sih? dari tadi tingkah kamu aneh deh," Reynaldi mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa! tingkah siapa yang aneh? aku biasa saja," sangkal Gavin.


Keheningan tercipta cukup lama di antara Gavin dan Reynaldi. Reynaldi terlihat fokus pada pekerjaannya, berbeda dengan Gavin yang fokus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan handphone Reynaldi. Karena dengan alasan kalau dia ingin menelepon seseorang karena baterai handphonenya habis, sudah bisa ketebak oleh Reynaldi.


Tiba-tiba sebuah senyuman tipis dan licik muncul di sudut bibir Gavin, ketika dia sudah menemukan caranya.


Gavin merogoh handphonenya, berdiri dari kursinya dan menghampiri Reynaldi. Kemudian dia melakukan panggilan ke handphone Reynaldi. Ketika Reynaldi merogoh ponselnya hendak melihat siapa yang menghubunginya, dengan cekatan Gavin langsung menyambar ponsel itu dari tangan Reynaldi. Kemudian pria itu lari masuk ke dalam kamar mandi, dan mengunci pintu dari dalam.


"Vin, Gavin, kembalikan handphoneku,Vin!" Reynaldi menggedor-gedor pintu dari luar yang tentu saja tidak mendapat respon dari dalam.


"Sialan! aku berhasil dikecohnya!"umpat Reynaldi sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Sementara itu di dalam sana, Gavin mencoba mencari nomor handphone Nayla dan menghubungnya sebentar. "Halo," begitu mendengar suara Nayla Gavin langsung memutuskan panggilan. Tujuannya cuma satu, melacak keberadaan Jelita melalui nomor Nayla.


Kemudian pria itu membuka pintu dan tersenyum kemenangan pada Reynaldi.


"Nih, handphone kamu!" Gavin berpura-pura melemparkan handphone itu ke arah Reynaldi. Sehingga Reynaldi tidak menangkap apa-apa.


"Sialan kamu!" umpat Reynaldi


"Hahahaha!" Gavin hanya tertawa mendengar makian Reynaldi sembari memasukkan ponsel Reynaldi ke dalam sakunya. Kemudian pria itu meraih wireless interkom yang berada di atas meja.


"Panggilkan IT, masuk ke dalam ruangan saya!" titahnya tanpa basa-basi. Hal itu membuat Reynaldi menghela napas pasrah.


"Tidak usah panggil, biar aku aja yang kasih tahu kamu, tapi kembalikan dulu handphoneku!" ucap Reynaldi.


"Aku tidak percaya kamu, bisa saja kamu nanti berbohong. Handphone ini aku sita dulu, soalnya nanti tanpa sepengetahuanku kamu menghubungi Nayla. Sudahlah sebentar lagi juga ITnya datang," tolak Gavin tidak mau terkecoh dengan Reynaldi.


5 menit kemudian, seorang pria yang merupakan IT di perusahaan Gavin masuk dan langsung membungkukkan badannya.


"Kamu tolong lacak di mana keberadaan pemilik nomor ini! titah Gavin memberikan handphonenya.


"Baik, Pak!" IT itu menerima handphone itu dan langsung melakukan tugas yang diperintahkan padanya.


Setelah memakan waktu yang tidak terlalu lama,IT itu pun memberitahukan alamat lengkap villa yang ditempati Jelita dan Nayla.


"Terima kasih! kamu boleh keluar!" ucap Gavin dengan tersenyum lebar.


"Aku akan ke sana sekarang!" Gavin berdiri dari kursinya dan hendak melangkah keluar.


"Nanti aja,Vin hari ini kita ada pertemuan dengan klien besar dari luar negri pas makan siang," cegah Reynaldi.

__ADS_1


"Haish, Sialan!" umpat Gavin kesal sembari melangkah kembali ke kursinya.


Tbc


__ADS_2