
Jam berputar dengan begitu cepat dan sudah memasuki jam makan siang. Nayla untuk sementara menyudahi prakteknya dan bergegas untuk keluar makan siang. Namun sebelum wanita membuka pintu, tiba-tiba dia terjengkit kaget begitu Meta masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Aduh, Dokter Meta! ngagetin aja, kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" ucap Nayla sembari mengelus-elus dadanya.
"Aku rasa tidak perlu! oh ya, apa maksud kamu, sok baik di depan tante Rosa? mau cari muka ya, biar dianggap baik?" cetus Meta to the point dengan tatapan sinis.
"Sok baik? cari muka? maksud kamu apa?" Nayla mengrenyitkan keningnya, bingung kenapa Meta datang-datang malah marah-marah.
"Jangan pura-pura tidak tahu deh. Kamu kan tahu sendiri kalau aku masih sayang pada Reynaldi, tapi kamu sok akrab dengannya dan mamanya, kamu sengaja ya, manas-manasin aku?" Meta semakin tidak terkendali.
"Astaga, Meta! bagaimana bisa kamu sampai berpikir ke arah sana? aku sama sekali tidak seperti yang kamu tuduhkan. Apa untungnya coba bagiku memprovokasi kamu? kita tidak pernah ada masalah selama ini kan?"
"Alah, kita memang tidak punya masalah selama ini, tapi aku yakin kalau sekarang kamu pasti tidak menyukaiku gara-gara aku cinta pertamanya Reynaldi. Kamu sok akrab dengan Tante Rosa, ingin menunjukkan padaku, kalau kamu menantu idamannya kan?" seringaian sinis sama sekali belum tanggal dari bibir Meta.
Nayla menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan kembali ke udara. Wanita itu berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah ya, Meta. Aku mau makan siang. Aku tidak mau berantem hanya gara-gara hal sepele seperti ini. Hal yang ada di pikiranmu saja," Nayla memutar handle pintu dan hendak berlalu pergi.
"Hei, kamu jangan menghindar seperti itu! aku belum selesai bicara!" Meta menarik tangan Nayla kembali masuk.
"Apa-apaan sih, Meta! kamu jangan buat keributan di sini! dengar, aku dan kak Reynaldi sama sekali tidak ada hubungan, dan seandainya ada hubungannya pun, apa masalahnya dengan kamu?" suara Nayla meninggi, mulai terpancing dengan sikap Meta.
"Adalah! dia itu pria yang aku cintai, dan aku yakin kalau dia juga masih mencintaiku,"
"Ya udah kalau begitu. Kalau kamu masih yakin sana ngomong sama dia, karena itu bukan urusanku!"
"Tapi aku mau kamu jangan sok dekat-dekat lagi dengan Tante Rosa!" ucap Meta kembali dengan nada dingin.
"Kalau untuk masalah itu, kamu tidak ada hak menyuruhku untuk menjauhi tante Rosa." sahut Nayla. "Kalau boleh aku katakan sebenarnya kamu juga tidak ada hak untuk melarangku dekat dengan Kak Rey. Kenapa? karena hubungan kalian hanya masa lalu. Kecuali kalau sampai sekarang kalian masih ada hubungan kamu baru berhak untuk marah," sambung Nayla kembali dengan tegas.
"Hei, tapi kan kamu tahu sendiri kalau aku masih mencintainya? seharusnya sebagai sesama perempuan kamu harus bisa memahami perasaan perempuan lainnya,"
Nayla mengembuskan napas berkali-kali, berusaha untuk menahan amarah. "Oh, sekarang aku mau tanya, apa karena kamu masih mencintainya, tidak boleh ada gadis lain yang berada di sampingnya? begitu? kalau iya, berarti kamu egois."
Meta terdiam, tidak bisa berkata apa-apa.
"Sekarang, aku juga mau tanya, apa kamu mau kembali pada kak Rey? kalau iya, itu berarti kamu juga harus membatalkan pernikahanmu dengan Reno kan?" sambung Nayla kembali.
__ADS_1
"Kamu gila! itu tidak mungkin! kamu tahu sendiri kalau pernikahan kami sebentar lagi, dan tidak mungkin dibatalkan. Itu sama saja aku mempermalukan keluargaku dan keluarganya," sambar Meta, keberatan.
"Jadi apa maksudmu, melarang ada wanita lain yang dekat dengan kak Rey? apa kamu bisa dimiliki oleh pria lain sedangkan dia tidak boleh begitu? ck ck ck," Nayla berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada ya wanita yang serakah seperti kamu?" imbuh Nayla.
Meta tercenung, tidak bisa membantah ucapan Nayla yang memang sangat tepat sasaran.
"Meta, kalau kamu memang mencintai kak Rey tapi tidak bisa membatalkan pernikahan dengan Reno, itu sama saja kamu egois. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. Kamu harus bisa melepaskan salah satu dari mereka." ucap Nayla, membuat Meta bergeming tidak menyahut sama sekali.
Nayla menghela napasnya, dengan cukup berat melihat Meta yang terdiam
"Meta, coba sekarang kamu bayangkan jika Reno tahu, kalau sebenarnya kamu sama sekali tidak pernah mencintainya, dan dia sendiri yang membatalkan pernikahan kalian. Apa yang kamu rasakan? apa kamu senang atau sebaliknya? Jika sebaliknya, itu berarti kamu sebenarnya sudah mencintanya, tapi kamu belum menyadarinya." Nayla diam sejenak untuk mengambil jeda, "Setelah itu, coba kamu bayangkan juga, jika sekarang yang ada di sampingmu adalah Reynaldi, apa kamu merasa bahagia, jika melihat wajah sedih Reno? jika kamu merasa sedih, berarti sama seperti yang aku katakan tadi, kamu sudah mencintanya. Kamu hanya kesal saja karena sikap posesifnya. Tapi menurutku itu semua akibat dari ketidakjujuranmu, atas apa yang kamu mau dan tidak mau." tutur Nayla dengan panjang lebar tanpa jeda dan dengan suara yang kembali lembut.
Meta kembali diam. Amarah yang tadinya sudah sampai ke ubun-ubun,menguap entah kemana.
"Sekarang kamu pikirkan dulu! aku keluar dulu ya! kamu mau ikut? soalnya aku sudah lapar,"
Meta tidak mengeluarkan suara, tapi gadis itu menggelengkan kepala, untuk menanggapi ajakan Nayla
"Kalau begitu aku pergi dulu, bye!" Nayla menepuk pundak Meta, dan membuka pintu. Kali ini, tidak ada yang mencegah dia lagi.
"Wah, ternyata diam-diam kamu bijak juga ya!
"Kak Rey? kamu kenapa berdiri di sini? untung aku gak punya penyakit jantung, kalau punya kamu siap bertanggung jawab?" ucap Nayla ketus, pada pria yang siap lagi kalau bukan Reynaldi itu.
"Bertanggung jawab? belum juga di apa-apain sudah nuntut tanggung jawab," ucap Reynaldi, menyelipkan candaan.
Nayla menatap tajam ke arah Reynaldi yang balik menatapnya dengan memasang wajah bodoh.
"Gak lucu sama sekali!" ucap Nayla sembari kembali melangkah.
"Emang siapa yang lagi ngelucu? kan gak ada," ucap Reynaldi sembari mengekor.
Nayla memilih untuk tidak menanggapi Reynaldi. Wanita terus saja melangkah dengan langkah yang lumayan cepat. Namun langkah cepat baginya adalah langkah santai buat Reynaldi.
"Apa-apaan sih, Kak? kamu ngapain ngikutin aku?" akhirnya Nayla menghentikan langkahnya dan menatap kesal ke arah Reynaldi.
Reynaldi berpura-pura bodoh, dan menatap ke arah lain. "Aku bicara sama, Kakak bukan orang lain," Nayla terlihat berusaha menahan rasa geramnya, mengingat kalau dirinya masih berada di area rumah sakit.
__ADS_1
"Oh, sama aku ya? kirain sama orang lain. Kamu bicara apa tadi? aku kurang dengar?"
Nayla mengembuskan napas berkali-kali berusaha untuk menahan diri agar tidak terpancing dengan sikap konyol Reynaldi.
"Kakak kenapa tiba-tiba muncul? bukannya tante Rosa pulang nanti Sore? kakak menguping pembicaraan kami ya tadi?" Nayla akhirnya mengalihkan pembicaraan.
"Nanyanya satu-satu dong! kan aku jadi bingung. Kamu mau aku jawab yang mana dulu?"
"Terserah, Kakak mau jawab yang mana dulu," sahut Nayla masih berusaha untuk sabar.
" Oh,ok. Pertama aku datang ke sini bukan untuk menjemput mama, tapi karena ini jam makan siang,dan aku mau mengajak kamu makan siang bersama. Mengenai masalah menguping, aku tidak punya niat untuk menguping, tapi sialnya kupingku tidak bisa diajak kerja sama untuk tidak menguping. Jadi kalau kamu mau menyalahkan, jangan salahkan aku, tapi salahkan kupingku," jawab Reynaldi, santai.
"Dasar gila kamu!" umpat Nayla kesal. "Kenapa kamu tidak masuk tadi? kamu kan bisa berterus terang padanya kalau kamu juga masih mencintainya," sambung Nayla kembali dengan bibir yang mengerucut.
"Kamu cemburu ya?" goda Reynaldi dengan senyum yang terlihat seperti meledek Nayla.
"Cemburu? buat apa?" Nayla berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bilang iya aja, ke. Biar aku senang." Reynaldi berpura-pura memasang wajah sedihnya.
"Dih, sayangnya aku tidak mau berbohong," cetus Nayla. "Udah ah, aku mau makan dulu, sebelum jam makan siang selesai," Nayla kembali melanjutkan langkahnya dan Reynaldi kembali mengekor.
"Jadi kamu belum ke ruangan Tante Rosa?"
"Belum." jawab Reynaldi santai.
"Kenapa?"
"Ya karena tujuanku emang mau makan siang,"
"Jadi kenapa harus datang ke sini? restoran di dekat kantormu kan ada."
"Karena aku tahu kamu lapar dan aku lapar, makanya aku ke sini.
"Kan bisa makan di tempat yang berbeda." ucap Nayla dengan intonasi suara yang berusaha menahan kesal.
"Tapi, tadi perutmu menelepon perutku. Katanya mereka mau diisi bersama dan di tempat yang sama," ucap Reynaldi yang benar-benar di luar nalar manusia.
__ADS_1
"Ihh, kamu ya ...." Nayla mengembuskan napasnya kembali dan akhirnya memilih untuk diam.
Tbc