
Setelah selesai mengirimkan pesanan ke pada pelanggan, Jelita mengecek kelengkapan bahan-bahan kue, dan ternyata sudah banyak yang habis. Wanita itu kemudian keluar dari gudang dan menghampiri karyawannya di depan.
"Emm, bahan-bahan di gudang sudah banyak yang habis, aku belanja dulu ya. Nanti kalau suami saya datang, tolong bilangin ke dia kalau aku lagi belanja. Soalnya, ponselnya tidak bisa dihubungi," ujar Jelita.
"Apa ibu mau aku temani? nanti pasti akan banyak yang ibu, beli." ucap Mia menawarkan diri.
"Sepertinya tidak perlu. Lagian tidak jauh ini. Nanti di sana kan pasti ada yang bisa dimintain bantuan. Aku pamit dulu ya!" Jelita berlalu pergi setelah ke empat karyawannya menganggukkan kepala.
"Ibu Jelita, beruntung banget ya, bisa dapat suami seperti Tuan Gavin, udan tampan, kaya, baik lagi. Padahal kan kalau dilihat-lihat ibu Jelita tidak cantik-cantik amat," celetuk salah satu karyawan Jelita, setelah tubuh wanita itu hilang di balik pintu.
"Kamu salah, siapa bilang ibu Jelita tidak cantik? ibu hanya tampak seadanya saja," sahut Mia
"Iya benar, Ibu itu menurutku sangat cantik, dan baik. Tampilannya seperti itu saja sudah terlihat cantik, apalagi kalau ibu itu dandan, beuhh,bidadari mah sungkem," timpal yang lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jelita lebih memilih untuk berjalan kaki saja, menuju toko yang menjual bahan-bahan kue, langganannya karena memang tidak terlalu jauh.
Entah kenapa, tiba-tiba perasaan Jelita tidak enak. Ia merasa seperti ada yang membuntutinya. Wanita itu sontak menoleh ke belakang dan melihat ada dua orang pria yang tiba-tiba ikut berhenti dan menoleh ke arah lain.
Jelita mencoba berusaha tenang dan menepis kecurigaannya. Ia kembali melanjutkan langkahnya, tapi kali ini agak sedikit cepat.
"Jangan teriak! kalau kamu teriak, pisau ini akan masuk ke pinggangmu," tiba-tiba salah satu pria itu sudah berada tepat di belakangnya dengan pisau kecil yang siap ditusukkan ke pinggangnya.
Pria itu terlihat sangat lihai, karena dia melindungi pisau itu dengan jaket di tangannya, agar tidak dilihat oleh orang-orang. Sementara itu, pria yang satu lagi sudah berdiri di depannya.
"Apa mau kalian berdua?" tanya Jelita, dengan wajah yang ketakutan.
"Tidak di sini! kamu ikut kami!" bisik pria yang menodongkan pisau.
Pria di depan Jelita, pun mulai melangkah.
"Ikuti dia! ingat jangan melawan! aku tidak akan segan-segan menusukkan pisau ini. Dan tolong untuk tetap bersikap biasa, jangan pasang wajah takutmu itu!" ucap pria itu lagi dengan nada yang sangat pelan.
"Ya, Tuhan apa ini akhir dari hidupku? tolong aku ya Tuhan," batin Jelita, memohon.
__ADS_1
Kemudian pria di depan itu, berbelok ke gang yang sangat sepi, dan jarang dilalui oleh orang-orang.
"Sekarang serahkan semua uang dan barang berhargamu!" ucap pria yang berjalan di depan tadi dengan tatapan bengis.
"Apa dengan aku, memberikannya pada kalian, kalian berdua akan membiarkan aku pergi?" tanya Jelita dengan peluh yang menetes dari keningnya.
"Serahkan dulu ke sini! kamu jangan banyak bacot! atau tidak ...." Pria itu memindahkan pisau ke dagu Jelita, hingga wanita itu semakin ketakutan.
"Baiklah! aku akan kasih semua pada kalian. Tapi aku mohon biarkan aku pergi setelah ini,"
"Kami tidak berhak memerintahkan kami. Terserah kami, mau melepaskan kamu atau tidak. Keluarkan yang kamu, cepat!" bentak pria yang memegang pisau dengan berang.
"I-iya. Nih kalian ambil semua!" Nayla memberikan tas yang menggantung di bahunya pada pria di depannya.
Bugh
Tiba-tiba pria yang menodongkan pisau, terpental jatuh, begitu juga dengan pisau di tangannya.
"Berani-beraninya kalian sama perempuan!" bentak seorang pria, yang tadi sudah menendang pria yang jatuh itu.
"Hei, siapa kamu! beraninya kamu mencampuri urusan kami!" bentak pria yang masih tegak berdiri sembari menyerang Denis.
Denis yang sudah mempersiapkan diri, dengan sigap mengelak dan balik melayangkan tendangan ke arah pria itu.
Sementara pria yang tadi sudah terjatuh lebih dulu, kini sudah bangkit berdiri dan langsung membantu rekannya menyerang Denis.
"Denis terlihat kewalahan, menghadapi dua orang itu, membuat Jelita semakin panik.
"Tolong! tolong!" wanita itu berteriak minta tolong, hingga membuat dua orang pria itu kabur meninggalkan Denis dan Jelita.
"Kak Denis, Kakak tidak apa-apa?" Jelita menghambur ke arah Denis dan membantu pria itu untuk berdiri.
"Aku tidak apa-apa kok. Justru aku khawatir sama kamu, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Denis dengan ekspresi khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Ini semua berkat, Kakak yang datang tepat waktu. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi jika, Kakak tidak datang," ucap Jelita, tulus.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu!" sahut Denis.
"Kakak kok bisa ada di sini?" tanya Jelita yang memang penasaran kenapa Denis bisa ada di tempat itu
"Tadi aku mau ke toko kue yang kamu bilang padaku, aku tiba-tiba lihat kamu jalan bersama dengan dua pria itu. Aku lihat kalau kamu sepertinya ketakutan, makanya aku mengikuti kemana dua orang tadi membawamu," jawab Denis, dengan lugas.
"Syukurlah, Kakak datang tepat waktu kalau tidak aku tidak tahu, apa yang akan terjadi padaku, mereka mungkin akan membunuhku," ucap Jelita sembari bergidik membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi padanya tadi, bila Denis tidak datang tepat waktu.
"Sudahlah, jangan diingat-ingat lagi! yang penting sekarang kamu sudah baik-baik saja," ucap Denis sembari meringis kesakitan, menyentuh wajahnya.
"Sakit ya, Kak? aduh aku jadi gak enak. Gara-gara menolongku, Kakak jadi kesakitan seperti ini." ujar Jelita dengan raut rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, ini bukan kesalahanmu, kok! tapi ...."
"Tapi apa, Kak?" tanya Jelita antusias.
"Tidak ada! aku yakin kalau aku kasih tau, kamu juga pasti tidak akan mau menolongku,"
"Kak Denis jangan begitu! aku akan berusaha menolong Kakak kalau aku mampu. Kak Denis kan sudah banyak membantuku selama ini," sahut Jelita dengan raut wajah yakin.
"Serius? kamu benaran mau membantuku?" tanya Denis, memastikan.
"Iya,Kak aku serius! lagian aku memang harus membalas kebaikan, Kakak, khususnya yang tadi,"Jelita memasang tampang serius.
"Hari Sabtu ini, aku ada acara reuni dengan teman-teman SMA, tapi aku tidak punya teman yang bisa dijadikan pasangan di acara itu, apa kamu mau menemaniku ke acara itu?" tanya Denis to the point.
"Hah? acara Reuni? tapi ...." Jelita menggantung ucapannya, karena merasa ragu.
"Kalau kamu tidak mau, ya tidak apa-apa! Kau sudah yakin kalau kamu pasti tidak mau," Denis memasang wajah memelas.
"Emm, Baiklah, aku akan menemani,Kakak ke acara itu," pungkas Jelita akhirnya.
"Yes! akhirnya. Tidak sia-sia aku membayar dua orang tadi," sorak Denis dalam hati. Pria itu bahagia karena rencananya berhasil.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya guys. Thank you 🙏🏻🥰