
Waktu berlalu begitu cepat. Jadwal Jelita melahirkan tinggal menunggu hari saja. Wajah Jelita yang dulu tirus kini sudah semakin chubby. Bukan hanya pipi, tubuhnya pun semakin padat berisi, tapi anehnya makin terlihat seksi di mata Gavin.
Sudah beberapa hari ini, Gavin juga tidak berangkat kerja. Semuanya dia serahkan pada Reynaldi dan dia hanya memantau dari rumah. Itu semua dia lakukan karena dia takut kalau tiba-tiba nanti Jelita akan melahirkan, padahal jelas-jelas di rumah masih ada Melinda yang selalu siap siaga menjaga sang menantu.
Pagi ini, seperti biasa Gavin mengajak Jelita untuk jalan-jalan pagi. Pagi ini ada yang berbeda, kalau biasanya setiap pagi mereka berdua hanya berjalan-jalan di area pekarangan mansion mereka, tapi kali ini, Jelita menginginkan untuk berjalan-jalan di luar mansion. Walaupun, Gavin sangat enggan untuk keluar, tapi dia tetap saja menuruti kemauan Jelita, supaya Istrinya itu tidak kecewa.
Sepanjang jalan, Gavin benar-benar merasa risih karena setiap berpapasan dengan wanita, baik itu gadis muda atau sudah ibu-ibu, mereka selalu menatap Gavin dengan tatapan kagum dan memuja.
"Sayang, sepertinya kita sudah jalan lumayan jauh, sekarang kita pulang saja ya?" tanya Gavin sembari menggenggam tangan Jelita.
"Kenapa harus langsung pulang? aku lapar, Sayang. Kita cari makan dulu, baru kita pulan, gimana?" tolak Jelita yang masih enggan untuk pulang.
"Emm, kita makan di rumah aja ya? aku benar-benar risih dilihatin sama wanita-wanita itu," mohon Gavin, berharap Jelita berubah pikiran.
"Biarin aja mereka melihatmu! itu sudah resiko kamu, memiliki wajah tampan, yang penting kan mereka tidak mengganggumu," Jelita tetap kekeh ingin mencari makan di luar.
Gavin menghela napasnya, pasrah dengan kemauan Jelita yang memang sepertinya tidak bisa dibantah lagi.
"Jadi kita mau beli sarapan dimana?" tanya Gavin akhirnya.
"Beli bubur ayam,aja!" manik mata Jelita berbinar-binar sambil menelan air liurnya mengingat asap yang ngebul dari mangkok bubur ayam.
"Aku gak mau!" cetus Gavin menolak dengan tegas.
"Kenapa?" Jelita, mengernyitkan keningnya.
"Aku tidak suka bubur ayam, Sayang. Kita cari yang lain aja ya?"
"Kalau begitu kita makan nasi uduk aja," Jelita menyarankan alternatif lain.
"Boleh! di mana kita bisa menemukannya?" Gavin mengiyakan karena dirinya memang suka makan nasi uduk.
"Kita jalan saja dulu, sambil mencari," Gavin menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Kemudian, pria itu menggandeng tangan Jelita dan kembali mengayunkan kaki, melangkah dengan mata yang mengedar mencari penjual nasi uduk.
"Tuh, ada penjual nasi uduk!" tunjuk Jelita dengan wajah berbinar.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo ke sana!" Gavin dan Jelita melangkah menghampiri penjual nasi uduk, yang ternyata dijual oleh seorang wanita yang masih sangat muda, seusia Jelita.
Gavin melangkah mendekati wanita penjual nasi uduk itu, sementara Jelita langsung duduk.
Wanita penjual nasi uduk itu, menatap Gavin tanpa berkedip, karena benar-benar terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh pria itu.
"Mbak, tolong kasih Nasih uduknya dua ya!" pesan Gavin yang tidak menyadari tatapan wanita itu.
"Ba-baik, Mas ganteng,"
Gavin sontak mengrenyitkan keningnya, mendengar jawaban wanita itu yang memakai embel-embel mas ganteng di belakangnya.
"Mau dikasih apa aja, Mas ganteng?" wanita itu kembali bersuara dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, bermaksud menggoda.
"Maaf, kami tidak jadi pesan," tiba-tiba Jelita sudah berdiri di samping Gavin dengan tatapan yang menghunus tajam.
"Lho, kenapa, Mbak? yang pesan kan mas ganteng ini, urusannya dengan Mbak apa?" tanya wanita itu menatap tidak senang pada Jelita. Wanita itu memang tidak melihat Kalau Gavin dan Jelita tadi datang bersama.
"Ya tentu saja jadi urusanku. Karena kamu sebagai penjual sangat genit sama suamiku," sahut Jelita ketus.
"Suami? jadi mas ganteng ini suami, Mbak?" wanita itu kaget dan seketika merasa malu.
"Kenapa senyum-senyum? senang ya digoda sama wanita tadi?" Jelita semakin terlihat kesal, melihat suaminya yang senyum-senyum.
"Nggak kok, Sayang. Aku justru tersenyum karena merasa lucu melihat raut wajahmu yang cemburu,"
"Aku nggak cemburu. Aku cuma kesal aja,. lihat ada wanita yang genit seperti itu," sangkal Jelita yang tidak mau mengakui kecemburuannya.
"Iya deh iya, kamu nggak cemburu," Gavin akhirnya mengalah. "Sekarang, kita mau kemana lagi? masih mau cari makan atau kita langsung pulang saja?" tanya Gavin, berharap Jelita menjawab pulang saja.
"Itu ada batagor, kita makan batagor aja yuk!" Gavin tersenyum kecut karena apa yang diharapkannya tidak terkabul, karena Jelita masih saja tetap ingin mencari makanan baru pulang ke rumah.
"Bang, bagi batagornya dua dong!" ucap Gavin,
"Baik, Tuan! Mau dibungkus atau dimakan di sini?" tanya Abang penjual batagor itu.
__ADS_1
"Makan di sini aja, Bang!" sahut Gavin sembari duduk di samping Jelita.
Tidak menunggu terlalu lama, akhirnya batagor pesanan mereka sudah datang dan Jelita langsung melahap batagor itu sampai ludes.
"Aduh perutku sakit, Sayang!" rintih Jelita tiba-tiba, sambil memegang bagian bawah perutnya yang sepertinya mengalami kontraksi. Memang beberapa hari ini, Jelita sudah mulai merasakan kontraksi, tapi karena hilang timbul, Jelita tidak memberitahukannya pada Gavin, yang memiliki tingkat kepanikan level akut. Namun, rasa sakit yang dia rasakan kali ini, dua kali lebih sakit dari rasa kontraksi sebelum-sebelumnya.
"Ini semua salah kamu! kamu taruh apa di batagornya, sampai-sampai istriku kesakitan seperti ini?" umpat Gavin pada si tukang Batagor, yang terlihat kebingungan."
"Tuan itu bukan salahku. Aku tidak menaruh apa-apa di dalam batagornya. Yang salah itu Anda Tuan. Kalau anda tidak menghamili istri anda, pasti dia tidak akan kesakitan," si tukang Batagor balik mengomel, tidak terima disalahkan.
"Maksudnya?" Gavin mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Istri anda mau melahirkan itu, Tuan. Sebaiknya langsung bawa ke rumah sakit aja,"
Gavin sontak panik dan semakin kebingungan begitu mendengar ucapan sang penjual batagor yang mengatakan kalau istrinya akan melahirkan.
"Kalau begitu, nih uang batagornya, Bang!" Gavin memberikan uang beberapa lembar uang seratus ribu an. Kemudian, dia mengangkat tubuh sang istri yang masih merintih kesakitan.
"Tuan! uang anda__"
"Kurang ya, Bang?" tanya Gavin, yang hendak menurunkan kembali sang istri.
"Bukan! justru ini kebanyakan! harganya hanya 10 ribu sepiring, jadi seharusnya hanya 20 ribu," jelas penjual batagor itu.
"Oh, kalau begitu ambil aja deh, Bang. Doakan aja, biar persalinan istriku, lancar,"
"Aduh, terima kasih banyak, Tuan! mudah-mudahan persalinan istri anda lancar. Anak dan istri anda semuanya selamat," ucap pedagang itu dengan tulus.
"Terima kasih!"Gavin berlari, mencegat sebuah taksi yang kebetulan lewat. Di dalam taksi itu, Gavin menyempatkan waktu untuk menghubungi mamanya untuk mengabari kalau Jelita akan melahirkan dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakitnya. Gavin juga menghubungi Nayla agar bersiap-siap menyambut mereka di depan rumah sakit.
20 menit kemudian, taksi yang membawa Gavin dan Jelita sudah tiba di rumah sakit yang dituju. Para perawat langsung menghambur untuk menolong Gavin. Sementara Nayla yang perutnya sudah mulai membuncit sudah menunggu di ruang persalinan.
"Lho kenapa kamu ada di sini?" tanya Gavin kaget begitu melihat ada Denis di sana.
"Bella mau melahirkan, Vin. Aku berada di luar sini, karena baru dari toilet. Kamu sendiri ngapain di sini?"
__ADS_1
"Sama! Jelita juga mau melahirkan!"
Tbc