Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Mulai lagi dramanya


__ADS_3

"Masuk!"seorang opsir polisi mendorong Maya dan Mamanya ke dalam sebuah sel yang sudah berisi 4 orang wanita dan salah satunya adalah wanita hamil besar.


"Hei, brengsek! lepaskan kami bajingan!" teriak Maya, memaki sang opsir sembari mengguncang-guncang jeruji besi.


"Hei, kalian dengar tidak? kalian semua tuli ya!Maya kembali berteriak, karena tidak digubris oleh opsir itu sama sekali.l


"Ini semua salah kamu, dasar anak tidak tahu bisa diharapkan! begitu aja bisa gagal!" umpat mamanya Maya, kembali menyalahkan Maya.


"Ma, Stop menyalahkanku! kalau, Mama menyesal melahirkanku, aku lebih menyesal lahir dari wanita iblis sepertimu. Seandainya bukan kamu yang memaksaku, menggugurkan bayi itu, aku mungkin tidak akan seperti ini, Mah. Semua ini salah,murni salah, Mama!" akhirnya mereka saling menyalahkan.


"Apa! kamu menggugurkan bayi yang tidak bersalah!" pekik wanita yang hamil tua itu. " Bagaimana bisa kamu setega itu?" sambungnya kembali sembari berdiri dengan susah payah.


"Apa pedulimu? kamu aja yang bodoh, masih tetap mau mempertahankan anak itu, sementara kamu di penjara seperti ini. Kamu kira anak yang akan kamu lahirkan itu nanti akan berterima kasih padamu? justru dia akan malu punya ibu mantan narapidana, cih!" ujar Maya menatap, sinis ke arah wanita itu.


"Kenapa anaknya mesti malu? justru anak itu akan berterima kasih pada mamanya nanti yang masih mau mempertahankannya, sampai harus membunuh papa anaknya yang ingin membunuh janin di perutnya, apa kabar denganmu?" timpal salah satu narapidana itu, membela wanita hamil itu.


"Kamu yakin dia akan berterima kasih? dia mungkin akan malu, karena dicap anak haram ditambah dengan anak narapidana," Maya tidak mau kalah.


"Kamu salah! anak ini bukan anak haram. Anak ini ada dari pernikahan yang sah. Hanya saja suamiku tidak menginginkan anak yang lahir dari rahimku. Dia mau anaknya lahir dari wanita yang dia cintai," jawab wanita hamil itu sembari meneteskan air mata, sedih mengingat kembali perjuangannya mempertahankan anaknya.


Maya tercenung. Dia seakan-akan tertohok dengan cerita wanita itu.


"Sedangkan kamu? dimana hati nuranimu saat menggugurkannya? kamu yang berbuat maksiat, tapi anakmu yang jadi korbannya. Apa pantas kalian disebut wanita? dan apa yang kamu dapatkan dari hasil menggugurkan itu? apa kamu bahagia? dengar sampai kapanpun kamu akan dihantui oleh rasa bersalah!"


"Diam kamu! jangan ikut campur dengan urusan orang!" mamanya Maya maju hendak menarik rambut wanita hamil itu. Namun 3 orang wanita lainnya langsung menghadang wanita tua itu dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Sekali tanganmu menyentuhnya, tangan kamu akan patah saat ini juga," ancam salah satu wanita narapidana yang tubuhnya cukup besar.


"Kami memang penjahat, tapi kami tahu yang mana yang harus kami lindungi," timpal satu orang lagi, yang membuat mamanya Maya ciut dan mundur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di mansion mewah milik keluarga Maheswara, Gavin terlihat merengek-rengek berusaha untuk membujuk mamanya untuk memberitahukan dimana Jelita isterinya berada.


"Ma, please dong kasih tahu. Apa, Mama tega memisahkan kami?" rengek Gavin sembari mengguncang-guncang pundak mamanya.


"Maaf, tidak bisa! ini keinginan Jelita sendiri, jadi mama harus menghargai keputusannya," jawan Melinda, cuek.


" Ih, Mama. Mama tenang saja, kalau mama kasih tahu,aku tidak akan bilang sama Jelita kalau aku tahu dari Mama. Aku akan bilang kalau aku usaha sendiri," mohon Gavin, memasang wajah memelasnya.

__ADS_1


"Kamu mau mengajarkan mama berbohong?" Melinda menatap tajam ke arah Gavin.


"Berbohong demi kebaikan, kan gak pa-pa, Ma!"


"Tidak ada! yang namanya berbohong tetap saja nggak baik," tolak Melinda, tidak terpengaruh dengan wajah memelas putranya itu.


"Idih, Mama sok idealis, deh. Padahal aku yakin kalau dulu sampai sekarang, Mama juga masih sering berbohong sama papa," tukas Gavin yakin.


"Itukan sama papa kamu, beda dong kalau ke menantu,Mama," ucap Melinda, santai.


"Astaga! Mama yang sekarang jadi anak Mama siapa sih? kenapa sekarang aku seperti anak tiri ya?" Gavin menggerutu kesal.


"Ya kamu anak mama, dan Jelita menantu, mama, Menantu yang paling mama sayangi,"


"Iya, kan karena menantu, Mama cuma satu," timpal Gavin kesal.


"Jadi, Mama benaran gak mau nih, memberitahukan di mana Jelita?" Melinda menggelengkan kepalanya, membuat Gavin menghela napasnya, kesal.


"Kalau saja nomornya aktif,aku pasti bisa melacak keberadaannya," Gavin menggerutu sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mah, aku mohon dong! di mana Jelita?" Gavin kembali merengek seperti anak kecil. Pria itu tidak peduli ada Reynaldi yang terkekeh geli melihat tingkahnya. Sepertinya Gavin tidak mengenal yang namanya menyerah.


"Tidak akan!" tolak Melinda singkat padat dan jelas.


"Berani kamu memecatnya, kamu sendiri yang akan mama pecat jadi anak," timpal Melinda mamanya.


"Ahh,Mama! aku benaran anak kandungmu gak sih? kok aku jadi seperti orang asing ya di sini?" Gavin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak p gatal sama sekali.


"Rey, sekarang kamu lebih dengar kata mama atau kata-kataku? kamu itu sahabatku, seharusnya kamu membantuku kan?" ucap Gavin, membawa-bawa nama persahabatan.


"Rey, kalau kamu nekad memberitahukannya,kamu tidak boleh lagi menginjak rumah ini," ancam Melinda yang membuat Reynaldi semakin bingung.


"Auk, Ah! Maaf, Vin kali ini aku lebih mendengar ucapan Tante Melinda,"ucap Reynaldi sembari mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


"Ahh, kalian berdua benar-benar ngeselin. Apa aku harus terjun dari balkon apartemenku, baru kalian berdua mau memberitahukannya?"


"Lompat saja! kalau kamu mati kan kamu yang rugi nggak bisa melihat anakmu lahir nanti," ucap Reynaldi tanpa sadar.


Hal itu sontak membuat Melinda dan Gavin menatap Ke arah Reynaldi dengan tatapan yang berbeda. Melinda dengan tatapan tajamnya, Gavin dengan tatapan penuh tanda tanyanya.

__ADS_1


"Kenapa Tante menatapku seperti itu?" tanya Reynaldi yang belum menyadari ucapannya.


"Sebentar, Rey! apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Gavin menyelidik.


"Yang mana?" ekspresi Reynaldi masih sangat polos, bingung.


"Apa Jelita sekarang sedangkan hamil?" desak Gavin.


"Lho siapa bilang?"


"Kamu tadi yang bilang, Rey! aku cekik juga kamu nanti," Gavin benar-benar kesal sekarang.


"Astaga, aku keceplosan!" batin Reynaldi seketika tersadar. "Mati aku, kalau Nayla tahu. Gagal deh menikah dengannya," Reynaldi kembali membatin dengan raut wajah panik.


"Maksudku bukan seperti itu, Vin. Maksudku, kalau kamu mati,kamu kan gak bisa membuat Jelita hamil. Kamu mau kalau Jelita menikah lagi dan punya anak dari laki-laki lain?" Reynaldi berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Enak aja! jangan sampai!" Gavin melemparkan bantal sofa ke arah Reynaldi.


Sementara itu, di tempat yang berbeda Nayla membuka pesan yang dikirimkan oleh Reynaldi. Nayla membuka pesan itu yang ternyata adalah sebuah video, dimana Gavin sedang merengek-rengek.


"Hahahaha, bisa juga dia merengek-rengek seperti itu," gumam Nayla tertawa geli.


"Kamu menertawakan apa?" tiba-tiba Jelita sudah muncul di belakang Nayla, dan sontak saja Nayla langsung menyembunyikan handphonenya.


"Apa yang kamu sembunyikan?"Jelita mengrenyitkan keningnya, curiga.


"Tidak ada!" sahut Nayla sembari nyengir kuda.


"Jangan bohong! sini handphone kamu," Jelita merebutnya Handphone itu, tanpa bisa dihindari oleh Nayla lagi.


Tiba-tiba,Nayla menangis histeris melihat wajah memelas suaminya.


"Aku mau pulang! aku mau ketemu, Mas Gavin!" pekik Jelita dengan air mata yang merembes, membasahi pipinya.


"Astaga, mulai lagi deh dramanya," batin Nayla sembari menggaruk-garuk kepalanya.


"Dia sendiri yang meminta ke sini, dia juga yang minta untuk pulang. Sepertinya aku harus memberitahukan hal ini sama Tante Melinda," Nayla kembali bermonolog dalam hatinya.


Di lain tempat, tangisan Jelita tentu saja kembali mempengaruhi Gavin, pria itu langsung berlari untuk memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


Tbc


Bantu Vote dong guys. Kenapa? karena vote dari kalian semua akan terbaca oleh sistem yang otomatis mereka akan mempromosikan karya kita. Itulah alasan Author meminta like, vote dan komen serta hadiah. Terima kasih 🙏🏻


__ADS_2