
"Mas Gavin?" gumam Jelita.
"Gavin?" gumam Maya.
Raut wajah Maya, seketika berbinar dengan kemunculan Gavin. Wanita itu seketika menghambur ke arah Gavin. Berbeda dengan Jelita, wanita itu terkesiap kaget melihat reaksi Maya. Seketika dia mengingat kalau mama mertuanya pernah menyebut nama Maya.
"Apa Maya yang mama katakan kemarin Maya, yang ini? astaga, jadi Maya mantan kekasih Gavin?" batin Jelita.
"Gavin, untung kamu datang. Kamu tahu__"
"Ngapain kamu di sini?" sambar Gavin memotong ucapan Maya. Pria itu bahkan menatap Maya dengan tatapan dingin, tidak bersahabat.
"Aku ke sini mau membelikan kue kesukaanmu. Lihat, aku beli banyak muffin untukmu," ujar Maya dengan bangga, berharap Gavin senang.
"Kamu ke sini pasti mau beli muffin ini kan? sepertinya hatimu benar-benar terhubung dengan hatiku, makanya sebelum kamu beli, aku beli sendiri. Padahal setelah ini aku berencana mau ke kantor kamu, untuk memberikan kue ini," Maya berucap dengan nada yang manja, dan hendak bergelayut di lengan Gavin.
Gavin yang bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Maya, memundurkan tubuhnya, menghindar, hingga membuat wanita itu tersenyum kecut. Sudut mata pria itu bergerak melirik ke arah Jelita yang kini juga tengah menatapnya dengan raut wajah yang sangat sukar untuk dibaca.
"Ternyata mereka sedekat itu, sampai-sampai kue kesukaan Gavin juga dia tahu," bisik Jelita pada dirinya sendiri.
"Hai Jelita, apa kabar?" sapa Reynaldi mencoba untuk mencairkan kebekuan Jelita.
"Eh, hai juga Kak Rey," sahut Jelita, berusaha untuk tersenyum.
"Ehem," Gavin berdehem, dan melirik tajam ke arah Reynaldi.
"Maaf, Sob!" Reynaldi nyengir kuda.
"Hei, kamu ternyata kenal si kolot itu juga ya?" celetuk Maya, tiba-tiba pada Reynaldi dengan nada menyindir Jelita.
__ADS_1
"Siapa yang kamu katakan kolot?" nada suara Reynaldi terdengar sangat dingin. "Apa yang kamu maksud itu Jelita?" imbuhnya kembali.
"Siapa lagi yang berpenampilan aneh di sini kecuali dia?" jawab Maya dengan nada sinis.
"Asal kalian tahu, dia ini satu kelas denganku di SMA, dan dia di sana karena bea siswa. Aku kira dia sudah berubah, ternyata tetap sama aja," ejek Maya, menatap jijik ke arah Jelita.
Sementara itu, Gavin terlihat mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, matanya tiba-tiba gelap karena dirinya kini sangat marah.
Kemudian tanpa sadar, pria itu mencengkram dagu Maya dengan sangat kencang, hingga wanita itu meringis kesakitan. Tindakan yang dilakukan Gavin sontak membuat Jelita terkesiap kaget hingga membuat matanya membesar dengan sempurna.
"Sa-sakit Gavin," desis Maya, menahan sakit.
"Berani sekali kamu menghina Jelita, hah! apa kamu sudah bosan hidup?" bukannya melepaskan cengkeramannya, Gavin justru semakin mencengkram kuat dagu Maya.
"Kamu tahu, siapa yang kamu hina itu, hah? dia itu ISTRIKU!" suara Gavin meninggi, tepat di wajah Maya, hingga mata Maya terpejam.
"I-istri?" gumam Maya, di sela-sela keterkejutannya. Lupa sejenak dengan rasa sakit di dagunya.
Bukan hanya Maya yang kaget, Jelita juga tidak kalah kagetnya karena tidak menyangka kalau Gavin mengakuinya di depan Maya.
"Ti-tidak mungkin," desis Maya, lirih sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya, tidak peduli dengan rasa sakit di dagunya.
"Apanya yang tidak mungkin? dia ini benar-benar istriku," tegas Gavin kembali.
"Tidak! kamu pasti bercanda kan? kamu sengaja mengatakannya, karena masih marah padaku, dan berharap kalau aku merasakan hal yang sama dengan kamu dulu, iya kan? Gavin, Gavin, cara kamu ini benar-benar sangat kuno. Aku tahu jelas kriteria wanita yang kamu mau," ucap Maya, masih tetap tidak percaya.
Gavin tersenyum smirk dan mendengus.
"Apa kamu memerlukan bukti? kalau iya, lihat ini!" Gavin menarik tangan Jelita dan mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu, hingga membuat mata Jelita membesar, dan tubuhnya bergeming, tidak bisa bergerak sama sekali.
__ADS_1
Sementara itu, mata Maya juga membesar hingga hampir seperti ingin melompat ke luar, melihat tindakan Gavin. Sewaktu bersamanya, Gavin dulu hanya berani menggandeng tangannya saja, tidak mau melakukan hal yang lebih dari situ, hingga membuat Maya merasa berpacaran dengan Gavin adalah gaya pacaran yang membosankan. Sekarang melihat apa yang dilakukan Maya di depan matanya sendiri, sudah cukup membuktikan kalau hubungan Gavin dan Jelita lebih dari pacaran.
"Jadi kamu benar-benar sudah menikah, Gavin? dan apa yang kulihat tidak salah? kamu menikah dengan dia?" ucap Maya sembari menatap Jelita dari atas sampai ke bawah.
"Apa masih kurang jelas?" sahut Gavin dengan tatapan dingin.
"Aku tidak menyangka kamu bisa menikah dengan wanita seperti dia. Apa setelah putus denganku selera kamu jadi berubah rendah seperti ini? bagaimana mungkin kamu bisa menikah dengan wanita yang tidak sebanding denganku?" tutur Maya dengan nada merendahkan.
Gavin tersenyum smirk, "Ya, dia memang tidak sebanding dengan kamu, dan sama sekali tidak layak dibandingkan dengan kamu ...."
"Akhirnya kamu sadar juga," cetus Maya, merasa menang.
"Dia tidak layak dibandingkan dengan wanita rendahan seperti kamu." sambung Gavin kembali dengan tegas dan lugas.
"Apa maksud kamu?" alis Maya bertaut tajam, gagal paham.
"Apa masih kurang jelas? bagaimana mungkin Jelita bisa dibandingkan dengan wanita seperti kamu? benar-benar sangat tidak pantas. Bahkan kamu juga tidak bisa dibandingkan dengan para wanita malam yang melakukannya karena terpaksa. Mereka lebih mulia dibandingkan dengan kamu," tutur Gavin dengan sarkas.
"Kamu ...." Maya berhenti berbicara, karena tidak tahu mau bicara apa lagi. Pundaknya yang naik turun, wajahnya yang memerah, menandakan kalau wanita itu sedang sangat marah sekarang.
"Sekarang kamu tinggalkan tempat ini,. karena aku benar-benar tidak ingin melihat wajahmu lagi!"
Maya yang tidak bisa melawan lagi, memutar tubuhnya hendak berlalu pergi. Wanita itu bahkan menghentak-hentakkan kakinya,. karena sangat kesal dan merasa malu di depan Jelita, wanita yang dihinanya selama ini.
"Tunggu dulu!" Panggilan Gavin seketika menyurutkan langkah Maya. Wanita itu kembali berbalik, berharap kalau Gavin berubah pikiran dan mengatakan kalau perkataannya tadi tidak benar.
"Kamu jangan sekali-kali, datang ke kantorku, kalau kamu tidak mempermalukan dirimu sendiri. Karena begitu kamu sampai di Lobby, kamu akan langsung diusir paksa oleh satpam," ucap Gavin yang bertolak belakang dengan apa yang diharapkan oleh Maya.
"Satu lagi, jangan sekali-kali kamu mengganggu Jelita, bahkan sampai berniat mencelakainya. Kalau kamu masih mau hidup aman di bumi ini," sambung Gavin kembali.
__ADS_1
Tbc