
"Pa, kenapa sih kamu tidak langsung memberitahukan Denis, kemana Bella pergi? ingat, Pah dia itu harus bertanggung jawab atas anak kita," protes mamanya Bella, setelah mereka berdua berada di dalam kamar.
"Ma, aku tahu itu. Tapi kita perlu lihat perjuangannya dulu. Kamu tahu, kalau anak kita Bella, sepertinya sudah benci pada Denis. Kalau dia masih menginginkan Denis, bisa saja dia memanfaatkan kejadian ini, untuk memaksa Denis bertanggung jawab. Tapi apa? dia lebih memutuskan untuk menghindar kan? Jadi, aku ingin anak kita Bella terketuk kembali hatinya bila melihat perjuangan Denis untuk bisa menemukannya. Karena kalau Denis datang dengan mudah, aku yakin kalau Bella tetap tidak akan mau. Kamu tahu sendiri kan bagaimana watak anak kita? Itulah maksud dan tujuanku, Ma," jelas Indra panjang lebar,pada istrinya yang diselipi dengan senyuman.
"Tapi, bagaimana kalau dia tidak berhasil menemukannya? dan bagaimana kalau anak kita hamil?" tampak raut wajah khawatir khas seorang Ibu di wajah Reni mamanya Bella.
"Mama tenang saja, Denis itu anaknya bijak dan bertanggung jawab. Papa yakin kalau dia akan berusaha untuk mencari dan pasti akan tahu kemana anak kita pergi dalam waktu yang singkat," tutur Indra berusaha menenangkan istrinya, walaupun sebenarnya ada rasa khawatir juga di dalam hatinya.
"Seperti itu ya, Pa? mudah-mudahan Denis bisa mengambil hati Bella kembali ya, Pa,"
"Amin!" ucap Indra, tulus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah rumah sakit besar milik keluarga Maheswara, atau keluarga Gavin, Reynaldi terlihat gelisah karena belum mendapat kabar dari Denis, apakah sahabatnya itu sudah berhasil bertemu dengan Bella atau tidak.
"Kamu kenapa sih, Nak? dari tadi mama lihat kamu tidak tenang dan raut wajahmu seperti punya banyak beban. Kamu ada masalah ya?" tanya mama Reynaldi dengan manik mata yang menyimpan tanda tanya.
"Nggak kok, Mah. Rey baik-baik saja dan tidak ada masalah sama sekali. Mama sekarang istirahat aja ya?" jawab Reynaldi sembari membantu wanita yang melahirkannya itu, berbaring di atas ranjang rumah sakit.
__ADS_1
"Oh, seperti itu? baiklah!" sahut Rosa mamanya Reynaldi.
"Ma, aku keluar sebentar ya! mau cari makan di luar," Reynaldi mengayunkan kakinya melangkah ke luar, begitu mendapatkan izin dari sang mama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Reynaldi merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphonenya. Dia memutuskan untuk menghubungi Denis, dari pada dia mati penasaran.
"Hallo, Rey!" terdengar suara Denis yang terdengar lemas dari ujung sana.
"Bagaimana? apa kamu berhasil bertemu dengannya? apa dia memaafkanmu, dan mau menerima tanggung jawabmu?" tanya Reynaldi, beruntun.
Terdengar helaan napas panjang dari sebrang yang membuat perasaan Reynaldi tidak enak.
"Kenapa kamu tidak bertanya kemana?" suara Reynaldi, meninggi merasa geram dengan tindakan Denis yang menurutnya lambat.
"Sudah, Rey! tapi orang tuanya tidak mau memberi tahu. Katanya aku harus berusaha untuk mencari tahu sendiri. Dan asal kamu tahu, ternyata Bella, adalah gadis yang dijodohkan denganku," terang Denis dengan lirih.
Mata Reynaldi membulat penuh, terkesiap kaget mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Denis.
__ADS_1
"Apa! serius kamu! apa dia sudah tahu sebelumnya kalau kamu itu ...."
"Ya, dia sudah tahu! Dia___" Denis akhirnya menceritakan, siapa Bella sebenarnya, dan alasan kenapa Bella melamar kerja di tempatnya, yang mana hanya untuk melihat siapa pria yang berani menolaknya.
"Oh, jadi seperti itu?" Reynaldi mengangguk-angguk kepalanya, seakan Denis ada di depannya sekarang.
"Jadi, bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan, Rey? otakku benar-benar tidak bisa bekerja sekarang," suara Denis terdengar seperti sudah menyerah dan putus asa.
Reynaldi menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kembali ke udara.
"Apa karena kejadian ini, membuat otak kamu bekerja dengan lambat? aku rasa ini hal yang tidak terlalu sulit. Yang sulit itu, bisa meluluhkan hati Bella, agar bisa memaafkanmu," tutur Reynaldi dengan nada yang sangat kesal. Seandainya Denis ada di depannya sekarang, ingin rasanya dia memukul kepala sahabatnya itu, supaya otaknya bisa bekerja dengan maksimal lagi.
"Maksudmu apa?" tanya Denis dari seberang sana, yang membuat Reynaldi semakin geram.
"Kalau kamu memang berniat untuk mengetahui kemana Bella pergi, kamu tahu pada siapa kamu datang," pungkas Reynaldi, ambigu.
Tidak terdengar suara sahutan dari Denis. Sepertinya pria itu tengah berusaha untuk mencerna maksud ucapan Reynaldi barusan.
"Iya, aku sudah tahu sekarang. Aku tutup dulu ya teleponnya!" Denis memutuskan panggilan sebelum Reynaldi mengucapkan 'iya'.
__ADS_1
"Sialan! main matiin aja," umpat Reynaldi sembari memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celananya. Kemudian pria itu mengayunkan kakinya, melangkah kembali menuju ruangan mamanya.
Tbc