
Sementara itu di tempat yang berbeda yakni di apartemen Gavin, terjadi ketegangan di antara Jelita dan Sari.
Jelita yang sedang fokus memotong sayuran, buat dimasak untuk makan siang, merasa kesal dengan sikap Sari yang dari tadi berusaha untuk memancing amarahnya.
"Kamu kemarin-kemarin emang benar kan masih tidur terpisah sama, Tuan Gavin? kenapa sekarang bisa jadi satu ranjang? pasti kamu yang menggoda Tuan Gavin kan?" ucap Sari sembari mengiris-iris bumbu.
"Apa urusan kamu bertanya seperti itu? kamu tidak punya hak untuk mengurusi sesuatu yang bukan urusanmu," jawab Jelita, ketus. Jelita benar-benar sudah hampir kehabisan stok sabar buat wanita seperti Sari.
"Kenapa tidak? Ibu Melinda adalah majikanku, aku tidak mau dia dibohongi oleh wanita seperti kamu,"
Jelita meletakkan pisau ditangannya dengan cukup keras dan langsung menoleh ke arah Sari dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Bagus, kamu sadar mengatakan kalau mama Melinda majikanmu. Berarti kamu sadar dengan posisi kamu sekarang. Aku tahu kalau kamu sangat berharap kalau mama Melinda jadi mertuamu. Kamu berharap hidupmu sama seperti cerita di novel -novel yang mana pembantu menikah dengan majikannya. Sayangnya apa yang kamu harapkan tidak terkabul karena sekarang yang jadi menantu mama Melinda, atau istri dari Mas Gavin adalah aku. Kamu tidak menyukaiku hanya gara-gara itu kan, sehingga kamu mencoba berbagai cara untuk membuat mama Melinda membenciku, begitu kan?" tutur Jelita dengan menyelipkan sindiran.
"Kamu jangan asal ngomong! Aku benar-benar tidak berniat untuk dijadikan menantu sama ibu Melinda. Aku memang murni hanya tidak ingin, ibu itu dibohongi, apalagi oleh kamu, wanita yang benar-benar tidak tahu diri," bantah Sari berpura-pura marah dengan tuduhan Jelita.
Jelita mendengus, dan tersenyum smirk.
"Apa kamu kira aku tidak dengar apa yang kamu bicarakan dengan bik Narti di hari pertama aku menjadi istri mas Gavin? Saat itu sangat jelas kamu bertanya kenapa bukan kamu yang jadi menantu mama Melinda, iya kan?
Wajah Sari seketika berubah pucat seperti tidak dialiri darah, mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Jelita.
"Aku berusaha untuk baik padamu, berharap pemikiran burukmu tentang aku bisa berubah, ternyata tidak sama sekali. Kamu malah semakin melunjak," sambung Jelita lagi yang masih berusaha menahan intonasi suaranya, karena tidak ingin mertua dan suaminya yang berada di ruang tengah mendengar perdebatan mereka.
"Ok, Kalau iya kenapa? aku memang menginginkan untuk bisa jadi istri Tuan Gavin. Apa salah? tidak kan? asal kamu tahu, alasan kenapa Tuan Gavin mau menerima menikah denganmu, itu hanya karena ibu Melinda mengancam akan memberikan semua warisan kekayaan jatuh ke tanganmu. Kalau untuk masalah cinta, tidak sama sekali. Tuan Gavin tidak akan pernah mencintaimu,"
Jelita tercenung, diam untuk beberapa saat mendengar kenyataan yang baru dia tahu kebenarannya.
__ADS_1
"Emangnya kenapa? cinta tidak cinta, yang jelas dia sudah jadi suamiku, tidak peduli alasan awal yang membuat kami menjadi suami istri. Aku menganggap kalau Tuhan memberikan cara seperti itu, untuk membuat kami berjodoh. Asal kamu tahu, pernikahan yang diawali bukan berlandaskan cinta, belum tentu berakhir dengan kehancuran, bisa jadi cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan sebaliknya juga, pernikahan yang awalnya berlandaskan cinta, belum tentu bisa bertahan untuk selamanya," tutur Jelita yang akhirnya bisa menguasai keadaan tidak terpancing dengan ucapan Sari.
"Oh ya? begitu ya? tapi entah kenapa aku yakin kalau Tuan Gavin akan bisa mencintai orang seperti kamu. Kamu itu sangat jauh dari kriteria yang Tuan Gavin mau. Aku yakin kalau Tuan Gavin tidak pernah mengatakan kalau dia mencintaimu kan? kasian sekali kamu ditiduri tanpa adanya rasa cinta," ucap Sari yang kembali membuat Jelita tercenung. Karena memang apa yang dikatakan Sari barusan sangat tepat sasaran.
"Kamu tidak bisa menjawab kan? aku benar kan? jadi jangan merasa bangga ketika dia sudah melakukan hal itu denganmu, karena tidak mungkin seorang pria normal bisa menahan na*fsunya ketika melihat tubuh seorang wanita. Dia melakukannya bukan karena cinta tapi karena na*fsu," sambung Sari kembali dengan tersenyum sinis dan merasa menang melihat Jelita yang terdiam.
Jelita berusaha untuk tidak menangis. Dia berusaha untuk tetap tenang. Wanita itu mendengus dan sudut bibirnya tertarik sedikit ke atas, tersenyum sinis ke arah Sari.
"Kamu salah! asal kamu tahu tadi malam setiap dia mencumbuku dan menyentuh dengan lembut seluruh tubuhku, dia berulang kali memanggil namaku dan mengucapkan kata-kata cinta. Dia mengatakan kalau dia sangat mencintaiku, dan tidak akan ada wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta selain aku," sahut Jelita, berbohong, sengaja melebih-lebihkan.
"Aku tidak percaya! kamu pasti berbohong!" ucap Sari dengan wajah yang memerah..
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Karena apa yang kamu percayai dan tidak percayai itu
bukan urusanku. Lagian apa menurutmu Gavin akan mau dengan wanita seperti kamu? aku rasa sih dia pasti tidak mau,"
"Kita lihat saja nanti," ucap Sari dengan seulas senyuman licik di bibirnya.
"Emang apa salahku? apa seorang pembantu sangat hina di matamu, Non Jelita?"
"Gila kamu! sejak kapan aku menghina pembantu? ucap Jelita dengan tatapan yang menghunus tajam.
"Ada apa ini? kenapa kamu bisa menangis?" tiba-tiba Melinda dan Gavin sudah muncul.
"Bu, Non Jelita ternyata masih marah padaku tentang, yang aku mengadu pada, Ibu dan dia bilang, dasar kamu pembantu yang tidak tahu . "Sari mulai memainkan aktingnya. "Apa salah Bu, kalau aku tahu hanya seorang pembantu?
apa seorang pembantu itu sangat hina?" adu Sari dengan air mata yang semakin menetes, memperlihatkan kalau dirinya sangat merasa terhina sekarang dengan ucapan Jelita. Wanita itu ingin membuat citra Jelita buruk di depan Gavin dan mamanya.
__ADS_1
"Jelita? apa itu benar? kenapa kamu bisa jadi angkuh seperti ini?" ucap Melinda, menatap Jelita dengan alis yang bertaut.
"Apa, Mama percaya dengan dia?aku sama sekali tidak pernah menghinanya, justru dia yang menghinaku," Jelita membela diri.
"Kenapa kamu masih berusaha menyangkal, Non Jelita? tadi kamu mengatakan kalau aku ini hanya seorang pembantu, dan harus sadar diri. Kamu mengatakan kalau aku harus mematuhi semua perintahmu," ucap Sari yang semakin terlihat seperti benar-benar terhina.
"Jelita! apa itu benar?" bentak Gavin yang tidak menyangka kalau isterinya itu bisa jadi seangkuh itu.
Jelita terhenyak mendengar Gavin yang membentaknya. Semu itu Sari yang menundukkan kepalanya, tersenyum sinis.
"Iya itu benar!" ucap Jelita akhirnya mengakui hal yang sama sekali tidak dia lakukan, karena merasa kesal dengan Gavin yang mudah percaya dengan ucapan Sari.
"Kamu tahu kenapa? karena aku sangat kesal ketika dia mengatakan kalau kamu bersedia menikahiku karena takut semua warisan jatuh ke tanganku. Dia mengatakan kalau kamu tidak akan pernah mencintaiku. Kamu menyentuhku hanya karena naf*su bukan karena kamu mencintaiku. Apa salah aku mengatakan kalau dia hanya seorang pembantu, yang tidak pantas mencampuri urusan majikan? kalau kamu menganggap itu merupakan kesombongan, silakan! aku hanya ingin menjaga harga diriku sendiri, yang walaupun dia benar kalau kamu tidak akan pernah bisa mencintaiku," suara Jelita meninggi, melontarkan semua yang ada di dalam hatinya, walaupun harus membenarkan fitnah Sari,hingga membuat Gavin terdiam. Karena terlalu kesal, Jelita beranjak pergi dengan sedikit berlari meninggalkan dapur.
"Jelita!" Gavin berinisiatif mengejar sang istri.
Melinda yang mendengar semua ucapan Jelita, sontak menatap ke arah Sari.
"Apa benar semua itu Sari? dari mana kamu tahu apa alasan Gavin menerima menikah dengan Jelita, sementara tidak ada seorangpun yang kami kasih tahu? apa kamu menguping pembicaraan kami?" bentak Melinda dengan tatapan yang berkilat-kilat penuh amarah
"Sial! kenapa Jelita secerdik ini sih? Aku kirain dia akan berusaha menyangkal, ternyata dia malah membenarkan tuduhanku dan alasannya, itu lagi. Kan aku jadi ketahuan pernah menguping pembicaraan mereka," Sari menggerutu di dalam hati.
"JAWAB SARI, KENAPA DIAM!" bentak Melinda kembali. "Dengar Sari, kali ini kamu sudah sangat lancang. Apa yang kamu lakukan ini sudah tidak bisa ditolerir lagi! mulai sekarang kamu aku pecat dan jangan pernah muncul lagi di hadapan keluarga kami. Paham! Sekarang kamu pulang ke rumah, dan bereskan semua barang-barang kamu. Aku tidak ingin melihat kamu lagi nanti ketika aku pulang,"
"Maaf, Bu! jangan pecat aku! aku benar-benar minta maaf dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi," Sari menjatuhkan dirinya berlutut memohon.
"Tidak ada kata maaf lagi! KELUAR!" titah Melinda dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.
__ADS_1
Tbc
Nah sesuai permintaan, Saritil sudah disingkirkan, Guys.😁😍