
"Nay, kamu mau ke mana?" tanya Reynaldi yang kini sudah berada di samping Nayla
"Mau cari angin di luar. Di sini panas," jawab Nayla sembari terus melangkah.
"Aku ikut ya?"
"Terserah!" jawab Nayla, tanpa melihat ke arah pria di sampingnya.
Setelah sampai di belakang villa, Jelita langsung duduk di sebuah ayunan, demikian juga Reynaldi yang langsung duduk di sampingnya.
"Sekarang kamu katakan, bagaimana Gavin tahu kalau kami ada di sini?" Nayla buka suara.
"Dia merampas handphoneku dan melacak melalui nomormu. Tadi siang kamu pasti dapat panggilan yang langsung mati seketika kan?" tebak Reynaldi.
"Oh, jadi itu Gavin yang nelpon?" Reynaldi menganggukkan kepalanya, mengiyakan
"Dasar,licik," umpat Nayla sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi, nggak masalah sih. Soalnya aku juga merasa kalau amarahnya Jelita hanya di mulut saja. Padahal dia benar-benar tidak mau jauh dari suaminya,"
"Hmm, Seperti aku yang tidak mau jauh dari kamu ya?" celetuk Reynaldi, tersenyum penuh makna.
"Apaan sih?" semburat merah langsung muncul menghiasi pipi Nayla. Gadis itu bahkan sampai memalingkan wajahnya, agar Reynaldi tidak tahu kalau sekarang dirinya sedang malu.
"Lho, aku tidak berbohong! kenapa kamu selalu tidak percaya padaku?"ujar Reynaldi, dengan mimik wajah sungguh-sungguh.
"Karena aku tahu kalau kalian para pria pintar menggombal,"
"Ok, Sekarang coba kamu nilai sendiri, apa aku sedang menggombal?" Nayla tidak menjawab sama sekali, karena sejujurnya dia juga merasa kalau pria di sampingnya itu bersungguh-sungguh.
Reynaldi menghela napasnya, melihat Nayla yang hanya diam saja. "Asal kamu tahu, seorang pria yang ingin langsung menjadikan seorang wanita itu istrinya, itu berarti pria itu benar-benar mencintai wanita itu. Seperti halnya aku. Sebenarnya aku sangat sulit untuk jatuh cinta, tapi kalau boleh jujur aku merasakannya ketika mengenalmu, walaupun kamu selalu ketus saat berbicara padaku. Entah kenapa justru aku selalu menganggap sikap kamu itu sangat menggemaskan,"
"Tuh kan gombal lagi," celetuk Nayla yang pipinya kembali merona.
"Nayla, aku tidak menggombal! aku sungguh-sungguh. Kecuali, aku mengatakan 'kaulah bulanku, kaulah bintangku, lautan luas akan kusebrangi, hujan badai akan kulalui asal aku bisa bersamamu',nah itu baru gombal. Karena kalau begitu aku juga tidak mau. Aku berenang menyeberangi lautan luas, belum nyampe di tengah laut,aku udah tenggelam atau lebih parahnya dimakan paus. Kalau hujan badai aku lalui, masih ditengah jalan, aku sudah mati disambar petir. Kamunya gak dapat, lah aku mati sia-sia. Rugi kan?" tutur Reynaldi panjang lebar, yang akhirnya membuat tawa Nayla pecah.
"Jadi bagaimana? apa kamu mau menikah denganku?" tanya Reynaldi kembali setelah tawa Nayla mereda.
"Hmm gimana ya?" Nayla kembali berpikir, jujur saja, Nayla sangat susah untuk percaya pada seorang laki-laki, karena ketika masih berstatus mahasiswi, dirinya pernah menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa kedokteran juga yang selalu berkata manis, sehingga membuat dirinya terlena. Ternyata lama kelamaan, belang pria itu ketahuan, yang ternyata hanya memanfaatkan dirinya untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen, sedangkan pria itu asik bersenang- senang di diskotik. Mulai dari saat itu, Nayla menutup hatinya pada pria.
"Apa kamu masih ragu? kalau kamu masih ragu, aku akan memakai jalur memaksa," ujar Reynaldi, ambigu.
"Maksudnya?" Nayla refleks menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Astaga, Nayla, kenapa kamu menutup dadamu? kamu takut aku menerkamu? aku tidak sebejat itu, Nay." Reynaldi menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jadi, apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Nayla, masih tetap bersikap waspada.
" Maksudku, kamu dan aku tetap akan menikah, walaupun kamu tidak menjawab iya, titik no debat."
"Lho, kenapa bisa begitu? itu namanya kan pemaksaan?" protes Nayla.
"Lah, tadi kan aku bilangnya juga jalur pemaksaan," sahut Reynaldi, tersenyum kemenangan.
"Lagian, ini kan sudah janji kamu, kalau aku tidak memberitahukan Gavin tentang kehamilan Jelita, kamu akan mau menikah denganku," ucap Reynaldi, mengingatkan.
"Haish, iya deh iya,aku mau!" pungkas Nayla, akhirnya pasrah.
"Yes! nah gitu dong ...." sorak Reynaldi yang refleks ingin memeluk Nayla.
"Eits, tunggu dulu! ada syaratnya," Nayla tersenyum misterius.
"Syarat?"Reynaldi mengrenyitkan keningnya.
"Iya. Aku akan benar-benar mau menikah denganmu, kalau sekarang juga kamu menyematkan cincin di jariku," tantang Nayla, yang sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, dia takut kalau, Rey tidak bisa mengabulkannya.
"Haish, kenapa aku harus bilang syarat itu sih? kan gak mungkin dia bawa cincin, ke sini. Tapi, kalau untuk membatalkan syaratnya kan aku jadi malu," Nayla merutuki kebodohannya dalam hati. Namun, di luar perkiraan, Reynaldi justru tersenyum dan merogoh sakunya.
"Kamu tenang saja, sebelum ke sini aku sudah menyiapkannya. Sini'in jari kamu," Reynaldi meraih tangan Nayla dan memasukkan cincin yang memang sudah disiapkannya ke jari manis Nayla. Beruntungnya cincin itu pas di jari manis gadis itu.
"Da-dari mana kamu tahu ukuran jariku?" tanya Nayla terharu sekaligus bingung.
Nayla tampak bergeming. Pupil matanya, sudah berkilauan seperti kristal karena kini wanita itu sedang berusaha menahan tangis.
"Nah, setelah kita pulang dari sini, aku dan orangtuaku akan datang ke rumahmu untuk melamar secara resmi," ucap Reynaldi kembali, karena melihat Nayla yang hanya diam saja.
"Hmm, baiklah! aku tunggu hari itu. Sekarang sudah larut malam, sebaiknya kita sekarang tidur. Kamu juga butuh istirahat, karena aku yakin, kalau yang menyetir mobil itu pasti kamu," ucap Nayla yang mulai menampakkan perhatiannya.
"Baiklah! di mana kamar kita?" tanga Reynaldi, yang membuat Nayla mendelik ke arahnya.
"Kamar kita apa maksudmu?"
"Ya, kamar kita. Kan tadi kamu ngajak tidur," sahut Reynaldi, berpura-pura tidak mengerti maksud tatapan tajam gadis yang diciptakan itu.
"Gak ada yang namanya kamar kita. Aku tidur di kamar sendiri, kamu juga tidur di kamar sendiri," cetus Nayla.
"Kenapa kita gak tidur satu kamar aja? kan kasihan penjaga villanya, harus merapikan banyak ruangan nanti,"
"Kalau kamu kasihan, ya rapikan sendiri kamar yang kamu pakai. Aku yakin, kamu pasti bisa merapikan kamar tidur kan? kalau Gavin, aku baru tidak yakin."
__ADS_1
"Iya deh iya. Aku kirain kita tidur sekamar. Itung-itung latihan sebelum sah," goda Reynaldi sembari mengerlingkan matanya.
"Tau, ah!" Nayla, beranjak pergi meninggalkan Reynaldi yang tertawa di belakangnya.
"Sekarang aku mau tanya, apa kamu mau tidur tanpa gosok gigi?" Reynaldi mengingatkan.
"Itu dia yang aku pikirkan, bagaimana caranya aku mengambil sikat gigi di dalam sana?" mimik wajah Nayla benar-benar terlihat frustasi.
"Hmm, begini saja deh, biar aku beranikan diri untuk mengetuk pintu." ucap Reynaldi.
"Apa kamu yakin?" Reynaldi menganggukkan kepalanya.
"Vin, Gavin!" panggil Reynaldi sembari mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Jel, Jelita! apa kalian berdua sudah tidur?" gantian Nayla yang memanggil.
Sementara itu, Gavin dan Jelita yang dalam puncak gairah di dalam sana,menghentikan kegiatannya
"Sayang, Rey dan Nayla mengetuk pintu. Bukain dulu pintunya!" ucap Jelita panik.
"Biarin aja mereka, kita lanjut aja, Sayang. Aku sudah tidak tahan lagi, " ucap Gavin dengan tatapan sendu karena sudah terbakar gairah.
Sementara itu Reynaldi dan Nayla di luar kamar tidak menyerah untuk mengetuk pintu. Sehingga membuat Gavin benar-benar kesal.
"Kamu di sini aja dulu. Aku mau mengusir dua manusia idi*ot di luar sana." ucap Gavin, dengan sangat kesal.
Dengan tenaga super, seperti banteng yang marah,ketika melihat kain warna merah, Gavin membuka pintu kamarnya dengan sagat keras. Sehingga duo manusia di luar kamar terjengkit kaget melihat kemunculan Gavin dengan aura yang mengerikan.
"Mau apa kalian berdua? hah!" bentak Gavin dengan, napas yang memburu.
"Maaf,apa kami mengganggu?" tanya Nayla dengan santai.
"Kenapa kamu harus bertanya lagi? seharusnya dari raut wajahku, kamu sudah tahu kalau kalian benar-benar sangat menggangu."jawab Gavin, benar-benar jengkel.
"Maaf deh kalau begitu. Aku hanya mau mengambil sikat gigiku di dalam sana. Soalnya aku belum gosok gigi," Nayla sama sekali tidak terlihat takut dengan tatapan Gavin.
"What? hanya perkara sikat gigi kalian berdua mengetuk pintu sampai berkali-kali? kenapa kalian bisa begitu bodoh, kalau villa ini pasti menyiapkan banyak sikat gigi di laci dapur sana!"
"Oh, iya ya! maaf deh kalau begitu." ucap Nayla cengengesan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, demikian juga dengan Reynaldi.
"Kalau begitu kami ambil ke dapur dulu!," Reynaldi menarik tangan Nayla untuk menyingkir dari hadapan Gavin.
Gavin nyaris saja menutup pintu kembali, tapi diurungkannya karena Nayla kembali berbalik.
__ADS_1
"Gavin, Jelita sedang hamil muda, tolong kalau kamu mau begituan dengannya, hati-hati. Tapi, kalau boleh aku sarankan, tolong ditunda dulu, karena bisa membahayakan si bayi. Tapi, kalau kamu sudah tidak tahan, silakan! tapi ingat, pelan-pelan dan hati-hati!" Nayla memutar tubuhnya kembali, melangkah meninggalkan Gavin yang frustasi di belakangnya.
Tbc