
Hari ini adalah hari yang sama sekali tidak dinantikan oleh Jelita. Kalau boleh dia berharap, untuk minggu ini, jangan ada yang namanya hari Sabtu. Namun, harapan dia tidak terealisasi karena lebih banyak yang berdoa agar hari Sabtu cepat datang, khususnya para penikmat weekend dan yang ingin menghabiskan malam di Sabtu malam yang sering disebut orang malam yang panjang.
Jelita keluar dari dalam kamar
"Mas, aku benaran bisa pergi kan?" tanya Jelita, sekali lagi pada Gavin untuk memastikan.
"Boleh?" ucap Gavin, yang melihat penampilan Jelita tidak terlalu berubah secara signifikan. Wanita itu tetap saja berpenampilan biasa, tanpa make up. Rambutnya bahkan diikat asal.
Padahal, Gavin tahu jelas, kalau mamanya sudah banyak membelikan gaun dan make up buat istrinya itu.
"Oh ya, apa Mas juga hari ini jadi pergi?"
Gavin menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Iya. Aku akan ke acara itu bersama Reynaldi," jawab Gavin, santai.
Jelita semakin merasa tidak enak, karena melihat sikap suaminya yang terkesan cuek.
"Aduh, seandainya kalau aku tidak berhutang budi, aku tidak akan bersedia menemani kak Denis," batin Jelita sembari menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa kamu belum berangkat?" celetuk Gavin sembari mengrenyitkan keningnya.
"Oh, iya ini udah mau berangkat. Aku pamit dulu ya,Mas!" Jelita meraih tangan suaminya itu dan mencium punggung tangan sang suami.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jelita turun di sebuah halte bus, tempat dia janjian dengan Denis. Karena dia tidak mau dijemput pria itu di depan apartemen.
"Jelita, kenapa kamu berpenampilan seperti ini?" tanya Denis yang ternyata sudah menunggu kedatangan Jelita. Pria itu menelisik penampilan wanita pujaannya itu dari atas sampai ke bawah.
"Emang kenapa dengan penampilanku? ada yang aneh kah?" Jelita mengrenyitkan keningnya.
"Hmm, nggak aneh sih, cuma kurang sesuai dengan acara ini," jawab Denis dengan sangat hati-hati, khawatir kalau ucapannya menyinggung Jelita.
"Oh, seperti itu? maaf aku tidak tahu sama sekali. Padahal aku punya banyak gaun di rumah. Jadi bagaimana? apa kita tidak jadi pergi?"
"Please jawab 'iya'." Batin Jelita penuh harap.
"Hmm, tidak mungkin kita tidak jadi pergi. Aku sudah sangat lama menunggu momen ini. Masa sudah susah-susah, biar bisa ajak kamu, aku batalin hanya karena penampilan?" ucap Denis yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
Denis melihat sekilas ke arah arlojinya, dan tersenyum penuh makna.
"Sepertinya kita masih punya banyak waktu. Tuh di depan ada butik, sekaligus menyediakan MUA, sebaiknya kita ke sana," Denis menunjuk ke arah sebuah bangunan tidak jauh dari mereka.
Jelita mengembuskan napas kecewa, karena lagi-lagi apa yang diharapkannya tidak terjadi.
__ADS_1
"Jelita, ayo! kenapa masih diam di sana?" tegur Denis, karena melihat Jelita yang masih belum bergerak dari tempat dia berdiri.
"Oh, iya." desis Jelita, lirih sembari mengikuti langkah Denis.
Setelah mereka berdua sudah sampai di depan pintu butik itu, Denis langsung mendorong pintu yang terbuat dari kaca itu. Kedatangan mereka berdua langsung disambut dengan ramah oleh pelayan butik, dan Denis langsung meminta sang pelayan untuk memberikan gaun yang bagus untuk Jelita serta mendandani wanita itu.
Tidak perlu menunggu lama, Jelita keluar dari dalam sebuah ruangan, dengan penampilan barunya.
"Sudah! apa ini sudah terlihat bagus dan cocok?" tanya Jelita dengan risih.
Denis tidak langsung menjawab, karena dia benar-benar terpukau dengan penampilan baru Jelita. Baginya Jelita memang sudah cantik walaupun tanpa berdandan dan berpenampilan seadanya, tapi melihat Jelita malam ini, tidak bisa dipungkiri kalau kecantikan wanita itu naik 10 kali lipat menurutnya.
"Perfect! kamu benar-benar sangat cantik Jelita!" puji Denis yang sama sekali tidak bisa membuat Jelita merasa tersipu.
"Kalau begitu, apa kita sudah bisa pergi sekarang, Kak?" tanya Jelita, tanpa mengucapkan kata terima kasih, atas pujian Denis.
"Huft, sepertinya dia tidak merasa tersanjung dengan pujianku," Denis menghela napas, kecewa.
"Ya udah, ayo kita berangkat sekarang!" Denis hendak meraih tangan Jelita, tapi wanita itu mengacuhkan uluran tangan Denis, dan berlalu melewati pria itu.
"Sepertinya aku harus kerja keras lagi, untuk bisa mendapatkan hatinya," batin Denis menatap punggung Jelita yang meninggalkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Gavin dan Reynaldi sudah tiba di tempat acara. Kehadiran kedua pria itu tentu saja langsung menarik perhatian orang-orang yang hadir di ballroom hotel itu.
Gavin tersenyum tipis sebagai bentuk sapaan pada teman-teman seangkatannya waktu SMA dulu.
Reynaldi juga bereaksi sama seperti Gavin. Pria itu untuk sesaat sempat melihat ke sekeliling, untuk mencari sosok seseorang yang pernah singgah di hatinya, tapi ternyata hanya menjadikannya sebagai pelampiasan saja.
"Hai, Gavin!" sapa beberapa wanita dan pria yang merupakan teman sekelasnya dulu.
"Oh, Hai!" Gavin menyapa balik dengan wajah datar.
"Kami tidak menyangka, ternyata kamu itu pewaris tunggal, the sky group," ujar salah seorang pria sembari menepuk pundak Gavin, sok akrab.
Gavin mengrenyitkan keningnya, dan menatap ke arah Reynaldi yang hanya bisa mengangkat bahunya. Karena dari tatapan Gavin, Reynaldi tahu, kalau Gavin ingin bertanya dari mana teman-temannya tahu status dia yang sebenarnya.
__ADS_1
"Dari mana kalian tahu?" tanya Gavin, karena tidak mendapatkan jawaban dari Reynaldi.
"Oh, dari Dika. Dia bekerja di perusahaanmu."
"Iya, Vin. Aku yang kasih tahu mereka. Aku sempat kaget dan hampir tidak percaya, ketika Pak Ganendra, memperkenalkan kamu waktu itu," timpal pria yang bernama Dika itu.
Gavin menghela napasnya, dan kembali tidak memperdulikan kehebohan teman-temannya itu.
"Oh ya, Vin. Kita kan teman sekelas dulu, boleh dong kamu naikkan jabatanku," Dika kembali buka suara, dengan nada yang sangat yakin kalau Gavin akan memberikan jawaban seperti yang diinginkannya.
"Aku tidak sembarangan menaikkan jabatan seseorang, walaupun itu orang yang aku kenal sekalipun. Karena hal itu bisa merusak citra perusahaan. Semua harus sesuai dengan kompetensi masing-masing," jawab Gavin yang membuat Dika terdiam dan malu.
"Kenapa dulu kamu merahasiakan statusmu sih?"
"Kenapa aku merahasiakan, ya untuk menghindari orang-oran ya bermuka dua, yang mau dekat hanya karena status seseorang," jawab Gavin santai, lugas dan mengandung sindiran.
Semua yang menghampiri Gavin dan Reynaldi, seketika terdiam. Mereka merasa kalau ucapan Gavin ditujukan pada mereka.
"Oh ya, kami pergi ke sana dulu ya! kami mau menyapa teman-teman yang lain," pungkas salah satu dari mereka dan langsung melangkah pergi meninggalkan Gavin dan Reynaldi.
"Rey, sepertinya kamu mencari seseorang, apa kamu mencari Meta?" celetuk seorang wanita yang tidak ikut dengan yang lainnya.
"Tidak! buat apa aku mencarinya?" sangkal Reynaldi, yang sedikit merasa malu, karena ada seseorang yang melihat gelagatnya.
"Oh, kirain kamu mencarinya. Dia tidak bisa hadir malam ini. Calon suaminya, sangat posesif tidak mengizinkan dia untuk hadir," ucap Wanita itu, menjelaskan walaupun Reynaldi tidak bertanya sama sekali.
"Calon suami? dia mau menikah ya?" tanya Reynaldi akhirnya, yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Iya. Bulan depan dia akan menikah."
"Oh, begitu?" Reynaldi sedikit lemas. Entah kenapa walaupun wanita bernama Meta itu, pernah menorehkan luka yang sangat dalam di hatinya, dia belum bisa sepenuhnya bisa melupakan wanita itu. Mungkin karena wanita itu lah pertama kali yang bisa membuatnya mengenal kata jatuh cinta.
Oh ya, tadi dia bilang, kalau kamu hadir, dia titip salam padamu,"
"Oh, salam balik!" sahut Reynaldi.
"Aku ke sana ya!" Reynaldi dan Gavin menganggukkan kepala, dan wanita itupun berlalu pergi.
Sementara itu, Denis dan Jelita terlihat masuk ke dalam gedung.
"Emm, Jelita kita cari dua sahabatku yuk! nanti aku kenalkan kami pada mereka,"
Tbc
Minta dukungannya dong guys. Like, vote dan tinggalkan komentar tentunya. Terima kasih 🙏🏻🥰
__ADS_1