Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Bab 65


__ADS_3

Sari menekan bel pintu rumah Maya berkali-kali. Namun belum ada tanda-tanda ada orang yang akan membukakan pintu.


"Kemana sih mereka? apa mereka sedang pergi?" batin Sari sembari kembali menekan bel.


"Sepertinya mereka tidak ada. Aku sebaiknya duduk di sana dulu, menunggu mereka pulang," Sari nyaris melangkah menuju kursi yang ada di teras, tapi dia menyurutkan langkahnya begitu mendengar suara decitan pintu yang dibuka oleh seseorang.


"Hai, Nona Maya!" sapa Sari dengan seringaian tipis.


Maya membesarkan matanya, kaget melihat keberadaan Sari. "Kenapa kamu bisa berada di sini? siapa yang membebaskan kamu?" tanya Maya dengan tatapan menyelidik.


" Aku lepas karena dijamin oleh budeku sendiri,"


"Apa! apa kamu mengatakan jujur kalau kamu bukan orang yang menjebak kami?" Wajah Maya seketika berubah panik.


"Tidak! akhirnya aku mengakuinya, tapi dasar budeku polos dan sangat bodoh mau memaafkanku karena aku mengatakan khilaf."


"Jadi apa maksudmu datang ke sini? apa kamu mau balas dendam? apa kamu punya cukup keberanian untuk melakukan itu?" Maya terlihat memasang sikap waspada.


"Nona Maya tenang saja! aku datang bukan untuk balas dendam. Aku justru sudah melupakannya, dan memaafkan kamu. Aku justru datang ke sini untuk tetap bisa bekerja sama denganmu, karena tujuan kita sama, yaitu menyingkirkan Jelita," tutur Sari dengan wajah yang menyeringai sinis.


Maya tersenyum dan menarik napas lega.


"Baguslah! mari kita bekerja sama!" ucap Maya, kembali bersikap tenang. "Apa kamu tahu, sebenarnya aku juga berniat akan melepaskanmu, kalau Gavin dan aku sudah benar-benar menikah. Aku menggunakan namamu hanya untuk meyakinkan Gavin kalau aku juga korban. Aku harap kamu bisa memakluminya," jelas Maya sembari mendaratkan tubuhnya duduk di kursi.


"Nona Maya tenang saja, aku cukup maklum kok. Oh ya, tapi Nona benar-benar hebat lho, bisa memiliki ide seperti itu. Aku benar-benar salut. Bagaimana cara Nona melakukannya?"


Perasaan Maya seketika melambung tinggi, karena Sari memuji kecerdasan. Tanpa berpikir panjang, Maya akhirnya menceritakan semua apa yang sudah dia lakukan untuk menjebak Gavin.


"Wah, Nona sungguh sangat hebat!" puji Sari sembari mengeluarkan tangannya dari dalam tas kecil yang disandangnya.

__ADS_1


"Iya dong! siapa coba yang bisa menolak pesona kecantikanku?" Maya, tersenyum kemenangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam ketika Gavin dan Reynaldi tiba di apartemen Gavin, setelah kembali dari rumah sakit. Gavin menghempaskan tubuhnya yang benar-benar sangat lelah seharian ini. Bukan hanya fisik yang lelah, tetapi juga dengan pikirannya.


Sementara itu Reynaldi meletakkan bukti dokumen tentang data-data Maya, di atas meja. Kemudian pria itu juga ikut menghempaskan tubuhnya duduk di atas sofa.


Baru saja Gavin hendak merubah cara duduknya, ponselnya berbunyi. Gavin merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.


Pria itu langsung menjawab telepon itu, karena itu merupakan telepon dari Sari.


"Iya Sari? bagaimana? apa kamu berhasil?" tanya Gavin to the point.


"Tentunya saja, Tuan! aku sudah merekam semua pengakuannya dan bagaimana caranya menjebak,Tuan." sahut Sari dari ujung sana.


"Bagus! sekarang tolong kamu kirimkan rekaman itu padaku!" titah Gavin.


Gavin langsung memutuskan panggilan dengan senyuman sinis di bibirnya.


"Bagaimana? apa Sari berhasil?" Reynaldi langsung bertanya karena penasaran.


"Iya, dia berhasil. Sebentar lagi, dia akan mengirimkan hasil rekaman pembicaraannya dengan Maya," jawab Gavin, dengan lega.


Bagus deh! aku rasa kita sudah cukup bukti untuk membawa dia ke polisi. Sebelum dia benar-benar menyebarkan photo-photo kalian berdua di media sosial," ucap Reynaldi, memberikan saran.


"Iya, aku rasa juga begitu. Tapi akan lebih meyakinkan seandainya rekaman CCTV itu ada," ujar Gavin dengan tersenyum miris.


"Sudahlah! aku rasa ini juga sudah sangat cukup. Cuma memang itu perlu, untuk bisa menjerat pria yang membantunya itu." ucap Reynaldi.

__ADS_1


Keheningan terjeda cukup lama di antara Gavin dan Reynaldi. Mereka berdua larut dengan pemikiran masing-masing. Tiba-tiba mereka berdua tersentak kaget karena ponsel Gavin tiba-tiba berbunyi kembali.


"Siapa, Vin?" tanya Reynaldi dengan alis yang bertaut.


"Ini Denis." Gavin kemudian menekan tombol jawab dan juga tidak lupa menekan loud speaker agar Reynaldi juga bisa mendengar.


"Iya, Den?" sapa Gavin tanpa berbasa-basi.


"Vin, sekarang aku sudah di bandara bersama dengan Bella, dan akan tiba di Indonesia sekitar 20 jam an. Tapi kalian tidak perlu menunggu kami, karena tadi aku sudah menceritakan semua yang terjadi pada Bella. Tadi, Bella langsung menghubungi kepala IT di hotelnya yang merupakan temannya. Ternyata kepala IT itu sudah tidak bekerja lagi karena dipecat oleh Manager hotel. Dia dipecat gara-gara tidak mau diajak kerja sama untuk menghapus rekaman CCTV. Rekamannya sudah sempat dihapus oleh IT yang lain, tapi ketika mereka lengah, kepala IT itu berhasil menyusup dan memulihkan kembali, kemudian menyimpannya, setelah itu dia hapus kembali agar tidak ada yang curiga. Jadi, Bella sudah memintanya untuk menyerahkan bukti rekaman CCTV itu besok padamu. Nama IT itu, Rusdi." jelas Denis panjang lebar tanpa jeda.


"Waduh, terima kasih banyak, Den! ini benar-benar bukti terakhir yang ingin aku dapatkan," ucap Gavin tulus, bercampur lega.


"Sama-sama, Vin! kamu juga sudah banyak membantuku. Kamu tahu kenapa manager itu mau bekerja sama dengan Maya?"


"Kenapa?"


"Karena Maya menawarkan tubuhnya bisa dicicipi sama manager itu. Manager itu benar-benar tergiur. Jadi sebenarnya setelah kamu dibawa masuk ke dalam kamar, mereka masuk ke kamar lain yang berada tepat di samping kamar yang kamu tempati. Setelah mereka selesai, baru Maya masuk kembali ke kamarmu," tutur Denis.


"Ya ampun, sangat menjijikan! aku tidak bisa membayangkan seandainya aku jadi menikah dengannya. Oh ya sebenarnya aku juga sudah tahu dari Sari, kalau dia bekerjasama dengan manager hotel, yang aku tidak tahu, imbalan yang dia kasih ke manager itu. Aku kira dia bayar mahal tuh manager, teryata hanya di bayar dengan tubuh yang murah," ucap Gavin, sembari bergidik, jijik.


"Vin udah dulu ya! kami sudah dipanggil untuk masuk ke pesawat sekarang. Doakan penerbangannya lancar tanpa kendala yang berarti. Sampai jumpa nanti!"


Panggilan benar-benar sudah terputus sekarang.


"Vin, semua bukti akhirnya sudah lengkap, besok kita tinggal eksekusi dia. Apa rencanamu?"


"Ya kita tinggal lapor aja ke kantor polisi, lengkap dengan bukti-bukti. Selebihnya biar polisi yang bertindak. Tapi, aku akan tetap memantau kinerja polisi." sahut Gavin dengan tegas.


"Kalau begitu sekarang aku pamit pulang dulu ya! kamu istirahat aja!" pungkas Reynaldi seraya berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2