Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Sangat cantik dan tidak membosankan


__ADS_3

Di pelataran parkir depan Green Cafe, Jelita langsung menghubungi Nayla karena terlalu senang. Dia ingin berbagi kebahagiaan dengan sahabatnya yang merupakan orang yang berjasa membuka jalan usaha baginya.


"Halo,Jel!" sapa Nayla dari ujung telepon.


"Halo, Nay. Apa aku mengganggu?" tanya Jelita sedikit berbasa-basi.


"Tidak sama sekali. Kebetulan ini aku baru saja mau pulang. Emangnya kenapa? ada sesuatu yang penting?"


"Emm, tidak ada. Aku cuma mau kasih kabar ke kamu kalau aku__"


"kamu hamil?" Nayla menyela ucapan Jelita, karena dari nada bicara Jelita, dia bisa menebak kalau sahabatnya itu sedang bahagia.


"Hamil apaan sih? bahkan sampai sekarang aku masih belum disentuh sama sekali. Bagaimana mungkin aku bisa hamil." Jelita mengerucutkan bibirnya, walaupun tidak tahu kalau Nayla tidak bisa melihat ekspresinya sekarang.


"Jadi, kenapa kamu terdengar bahagia?"


"Makanya, dengar dulu, jangan asal main potong aja!" bibir Jelita semakin maju ke depan.


"Iya, iya maaf! sekarang ada apa, Cantik?" tanya Nayla dengan lembut, dan bisa dipastikan kalau wanita itu pasti sedang menahan tawa di sebrang sana.


Akhirnya, Jelita pun mulai menceritakan tentang apa yang membuatnya begitu bahagia dengan semangat dan berapi-api.


"Begitu, Nay." ucap Jelita setelah dia mengakhiri ceritanya.


"Wah, selamat ya, Jel. Aku turut senang. Akhirnya usahamu membuahkan hasil."tutur Nayla yang terdengar tulus ikut bahagia dengan pencapaian Jelita.


"Semua ini, berkat kamu,Nay. Kamu yang membuka pikiran dan jalan untukku."ucap Jelita, tulus.


"Ah, kamu jangan terlalu melebih-lebihkan! ini semua juga berkat kegigihanmu. Percuma saja aku kasih jalan kalau tidak disertai dengan niat dan kegigihanmu." tutur Nayla. "Oh ya, kamu juga harus mengucapkan terima kasih pada suami gilamu itu. Kalau bukan karena sikapnya, kamu mungkin bisa termotivasi untuk bisa berusaha sendiri. Iya kan?" sambung Nayla kembali.

__ADS_1


Tawa Jelita seketika pecah, mendengar Nayla memanggil suaminya, gila. Dan lucunya, wanita itu setuju dengan sebutan itu.


"Kamu bisa aja. Ya, nanti aku akan berterima kasih padanya," sahut Jelita di sela-sela tawanya.


"Oh ya, selain kamu mau memberitahukan ini, apa kamu berniat untuk mentraktir aku makan malam?" tanya Nayla.


"Aduh, aku sebenarnya sangat ingin, tapi sepertinya aku tidak bisa karena suamiku, sakit. Jadi, aku harus pulang sekarang. Dari tadi dia sudah mencoba menghubungiku berkali-kali,"sahut Jelita dengan nada yang benar-benar merasa tidak enak.


"Kenapa kamu mesti berbaik hati untuk merawatnya? bukannya dia sudah bersikap semena-mena padamu," terdengar nada tidak suka dari Nayla.


"Hmm, walaupun seperti itu, dia itu tetap suamiku, Nay. Jadi, sebagai istri, sudah kewajibanku untuk merawatnya,"


"Ok, kamu juga istrinya, jadi sudah sepantasnya juga kalau dia bertanggung jawab atas hidupmu. Apa dia sudah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami padamu? tidak kan?" protes Nayla yang benar-benar belum bisa menerima ketika dia tahu kalau sahabatnya itu tidak dianggap dan bahkan dihina oleh pria yang katanya sudah menjadi suami sahabatnya itu.


"Iya, aku tahu Nay, tapi, apa perbuatannya itu harus kita balas juga? kalau seperti itu, apa permasalahan akan selesai? justru akan semakin besar dan kebencian malah akan semakin dalam. Api itu harus dipadamkan dengan air. Kalau api dengan api yang ada akan semakin berkobar."


"Tapi, dengan sikap kamu yang terlihat diam saja itu, dia akan menganggap kamu lemah, Jel." Nayla masih tetap belum bisa menerima penjelasan Jelita sepenuhnya.


Nayla tidak menjawab sama sekali, karena memang dia belum pernah bertemu dengan Gavin suami sahabatnya itu. Jadi, dia tidak bisa memberikan penilaian. Namun, Nayla tidak bisa menyangkal kalau apa yang baru saja dijelaskan oleh sahabatnya itu, benar.


"Hmm, begitu ya? ya udah deh, Jel. Aku tahu kalau kamu orang yang bijak dalam melakukan sesuatu, aku harap apa yang kamu lakukan ini, bisa merubah jalan pikiran suamimu." pungkas Nayla akhirnya.


"Terima kasih ya, Nay. Kalau kamu sudah mengerti."


"Sama-sama, Cantik! Nayla tersenyum, lupa kalau Jelita tidak bisa melihat senyumannya.


"Oh ya, udah dulu ya, Nay. Aku harus pulang sekarang. Lain kali aku janji, bakal traktir kamu," Jelita memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, begitu Nayla mengiyakan dari ujung telepon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Kenapa kamu lama sekali pulangnya?" omel Gavin begitu baru saja Jelita masuk ke dalam apartemen.


"Tadi, jalanan macet jadi agak lama. Mas tahu sendiri kan kalau sore itu jamnya macet?" jawab Jelita yang membuat Gavin bungkam tidak membantah.


"Bagaimana? apa Mas masih merasa pusing?" Jelita mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sudah mendingan. Sekarang aku merasa lapar, bisa kamu masakan sesuatu untukku?"


"Apa kamu benar-benar sudah tidak jijik dengan apa yang berkaitan denganku?" tanya, Jelita memastikan.


"Jangan mulai lagi! kalau aku sudah memintanya, berarti aku mau. Sekarang kamu mau atau tidak melakukannya? kalau tidak, biar aku sendiri yang melakukannya," ujar Gavin yang kembali dingin sembari melangkah menuju dapur.


"Haish, mulai lagi deh, menyebalkan!" Jelita berdecak kesal sembari menyusul pria itu ke dapur.


Gavin terlihat menyalakan kompor, dan meletakkan panci yang lebih dulu sudah di isin dengan air. Kemudian pria yang sedang kesal itu, meraih mie instan dari dalam lemari, di atas kompor atau yang sering disebut above kitchen Cabinets.


"Kamu mau masak apa? jangan makan ini dulu, kamu belum terlalu sehat!" Jelita merampas mie instan dari tangan pria itu.


"Sini'in mie-nya!" Gavin menatap Jelita dengan sangat tajam. Namun kali ini, Jelita tidak merasa takut, dia malah menyimpan kembali mi instan itu ke tempat semula.


"Kenapa kamu simpan lagi? aku hanya tahu, memasak itu saja," suara Gavin mulai meninggi.


"Kamu duduk saja di sana, biar aku memasak sesuatu untukmu,"


"Nah gitu dong." ucap Gavin sembari beranjak ke kursi yang ditunjuk oleh Jelita.


Jelita memejamkan matanya sekilas dan mengembuskan napasnya dengan cukup panjang. "Sabarkan aku ya, Tuhan!" mohon Jelita dalam hati


Jelita kini terlihat mulai fokus memotong sayuran setelah sebelumnya, memasukkan ikan yang sudah dibumbuin sebelumnya ke dalam wajan.

__ADS_1


Sementara itu, tatapan Gavin tidak lepas dari wajah serius Jelita. Pria itu kini menyadari semakin dilihat dengan intens, wajah Jelita terlihat sangat cantik dan tidak membosankan untuk dilihat.


Tbc


__ADS_2