Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Siapa namanya?


__ADS_3

Jelita memutuskan untuk tidak berlama-lama berada di cafe milik Denis, walaupun tadi pria itu sempat menahannya dan mengajak untuk makan siang. Sebagai seorang wanita, Jelita cukup mengerti kalau sekarang Bella sedang sedih.


Satu jam yang lalu


"Emm, Pak eh Kak Denis, aku izin ke toilet sebentar ya," Jelita berdiri dari kursinya, setelah Denis menganggukkan kepalanya. Jelita memutuskan untuk lebih memilih memanggil Denis, kakak karena selain karena Gavin tidak suka dia memanggil laki-laki lain dengan panggilan yang sama dengannya, Denis lebih tua dari darinya.


Jelita pergi ke toilet bukan untuk buang air kecil ataupun buang air besar, tapi satu tujuannya yaitu untuk menemui Bella, karena dia tidak wanita itu salah paham padanya.


Di saat Jelita sudah dekat dengan toilet, Bella juga keluar dari dalam dengan mata yang sedikit sembab.


"Eh, Mbak Jelita mau ke toilet ya?" sapa Bella, berusaha untuk tetap tersenyum manis.


"Emm, tidak. Aku ke sini mau menemuimu," sahut Jelita, yang menimbulkan kerutan di kening Bella.


"Mau menemuiku? emang ada yang perlu ya, Mbak Jelita?" tanyanya.


"Emm, jangan panggil aku, Mbak dong. Panggil aja aku Jelita, ya! sepertinya kita ini seumuran."


"Emm, tapi ...."


"Please !" Jelita menangkupkan kedua tangan di depan dadanya sembari mengerjap-erjapkan matanya, hingga membuat Bella terkekeh melihat wajah manis Jelita.


"Bagaimana bisa aku membenci wanita seperti ini. Pantas saja, Denis langsung menyukainya," Bella bermonolog di dalam hatinya.


"Iya deh! emm, tadi kamu bilang kalau kamu mau menemuiku, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Bella yang sudah kembali pada sikapnya semula.


"Oh, iya!" pekik Bella sembari memukul jidatnya sendiri. "Kamu ke sini, pasti ingin meminta bayarannya kan? maaf ya, aku hampir lupa," Bella nyari melangkah, tapi tiba-tiba berhenti karena Jelita menahan tangannya.


"Tidak! aku ke sini bukan karena itu. Aku menemuimu karena aku tidak mau kamu salah paham padaku,"


Lagi-lagi kerutan timbul di kening Bella. Wanita itu menatap Jelita dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Aku merasa kalau kamu memiliki perasaan pada Pak Denis, apa aku benar?"


Bella terhenyak, mendengar ucapan Jelita yang to the point dan tepat sasaran.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? aku sama sekali tidak memiliki perasaan padanya. Aku menganggap dia atasanku saja," sangkal Bella, tidak berani menatap mata Jelita.


"Maaf, kalau menurutmu aku lancang. Menurut yang aku lihat, kamu menyukainya. Aku benarkan? Kamu jangan khawatir, aku tidak akan menceritakan hal ini padanya," Jelita menerbitkan seulas senyuman manis ke arah Bella yang menatap dirinya dengan tatapan ragu.

__ADS_1


"Kenapa kamu menanyakan hal itu padaku?" bukannya menjawab, Bella justru balik bertanya.


"Aku hanya tidak mau kamu salah paham padaku, makanya aku ingin menjelaskan padamu, kalau aku sama sekali tidak memiliki perasaan pada Pak Denis dan tidak ada niat untuk mendekatinya, kamu tahu kenapa?" Bella menggelengkan kepalanya.


"Karena sebenarnya aku sudah menikah," ucap Jelita yang sontak membuat mata Bella membesar dengan sempurna.


"Serius, kamu sudah menikah?" tanya Bella dan Jelita menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Jadi, apa pak Dennis tahu?" tanya Bella kembali.


Jelita menggelengkan kepalanya, "Tidak! buat apa aku memberitahukannya? dia kan tidak bertanya?" sahutnya santai.


"Jadi, kamu tenang saja, kamu bisa tetap berusaha untuk membuat Pak Denis membalas cintamu," Jelita menyentuh pundak Bella, memberikan semangat.


Bella membalas senyuman Jelita. Wanita itu seakan mendapatkan semangat kembali.


"Tapi, sepertinya akan sangat susah, Jel. Selama ini aku sudah berusaha untuk menarik perhatiannya, tapi semua yang aku lakukan sia-sia, sampai aku pernah berpikir untuk menyerah saja," terang Bella dengan raut wajah sedih.


"Jangan begitu dong! kamu harus tetap semangat. Kamu harus tetap berusaha untuk menarik perhatiannya, tapi harus dengan cara yang elegan, jangan terlihat kalau kamu sangat menginginkannya,"


Bella menghela napasnya dengan sekali hentakan, menatap kosong ke arah lain.


Keheningan tercipta di antara dua wanita itu. Mereka larut dalam lamunan masing masing.


"Kamu enak ya, kamu sudah memiliki suami yang pastinya sangat mencintaimu," celetuk Bella tiba-tiba, menghentikan keheningan yang sempat tercipta.


Jelita tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia akhirnya menceritakan bagaimana kondisi pernikahannya, tapi tentu saja tanpa memberitahukan identitas Gavin.


"Waduh, bisa ya seperti itu? Aku nggak menyangka sama sekali. Aku salut sama kamu, Jel!" ucap Bella, menatap kagum pada Jelita.


"Oh ya, tolong jangan kasih tahu ya tentang aku yang sudah menikah pada pak Denis?"


"Kenapa?" alis Bella naik ke atas, curiga.


"Karena pernikahan kami tertutup. Aku takut kalau nantinya, pak Denis tidak percaya dan malah menyelidiki kebenarannya. Kalau begitu, dia bisa tahu siapa suamiku, dan aku bisa terkena imbasnya. Suamiku nanti bakal menuduh, kalau aku yang berkoar-koar memberitahukan pada orang-orang tentang identitasnya," jelas Jelita yang entah kenapa tidak ragu untuk menceritakan pernikahannya, padahal dia baru mengenal wanita itu.


"Baiklah,aku janji tidak akan memberitahukan pada siapapun," ucap Bella yang merasa kalau alasan yang diberikan oleh Jelita cukup logis.


"Oh ya, kalau begitu, aku pamit dulu, ya! karena aku masih ada pesanan lain untuk sore nanti," pungkas Jelita.

__ADS_1


"Tunggu dulu! aku akan ambilkan uang untuk bayaran hari ini," cegah Bella yang langsung beranjak pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Baru saja, Jelita masuk ke dalam taksi, mobil yang dikemudikan oleh Reynaldi justru masuk ke area Green Cafe.


Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Gavin tampak keluar lebih dulu, setelah itu Reynaldi menyusul.


Mereka berdua berjalan beriringan dengan sedikit bercanda. Tidak terlihat kalau kemarin dua pria itu yang sempat bersitegang.


"Lho, ngapain kalian berdua ke sini? bukannya ini belum masuk jam makan siang? jangan mentang-mentang kamu bosnya, jadi sesuka hati nak keluar kantor kapanpun kalian mau," tegur Denis yang nyaris akan kembali ke dalam ruang pribadinya.


"Kami ke sini, justru sedang bekerja. Sebentar lagi kami akan bertemu dengan klien dari luar negeri di kafe mu ini. Seharusnya kamu bersyukur, karena kami merekomendasikan Cafemu," jawab Reynaldi sembari menarik kursi dan duduk.


"Oh, seperti itu?" Denis menganggukkan kepalanya. "Sayang sekali kalian berdua datang terlambat. Dia baru saja pulang?" ujar Denis, ambigu yang tanpa diminta ikut duduk di depan Gavin.


"Siapa?" Gavin mengrenyitkan keningnya.


"Itu, gadis yang mensuplay kue ke cafe ku ini. Orangnya cantik, dan aku sepertinya menyukainya." Denis menjelaskan dengan raut wajah yang berbinar.


"Oh ya? maksudmu kamu jatuh cinta padanya?" tanya Reynaldi, terkesiap kaget.


"Sepertinya sih iya, karena hanya dia yang bisa membuatku ingin terus melihatnya, dan senyum-senyum sendiri."


"Wah, sepertinya dia wanita yang istimewa. Siapa namanya?" tanya Gavin, antusias.


"Namanya sangat cantik secantik orangnya," Denis senyum-senyum sendiri, membayangkan wajah Jelita.


"Cih, mau muntah aku melihat wajahmu yang seperti itu. Berlebihan tahu nggak?" Reynaldi berdecih sembari mengetuk kepala sahabatnya yang sedang jatuh cinta itu.


"Secantik apa sih orangnya? dan tadi, kamu belum kasih tahu kita siapa namanya," Gavin, mengingatkan.


"Oh, namanya __"


"Eh, Vin sepertinya itu Client kita sudah datang!" seru Reynaldi tiba-tiba seraya menunjuk ke arah dua orang pria asing yang baru saja masuk.


Denis menghela napasnya, dengan berat sembari menyingkir dari meja dua sahabatnya itu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2