Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Tidak boleh jadi ini


__ADS_3

Gavin terkesiap kaget ketika melihat kalau yang yang datang bukanlah mamanya, melainkan Denis.


"Hai, Vin!" sapa Denis sembari menyelipkan senyuman di bibirnya.


Gavin tidak membalas senyuman yang diberikan oleh Denis. Pria itu nyaris saja menutup pintu kembali, tapi dengan sigap Denis langsung menahannya. "Vin tunggu! jangan tutup dulu!" cegahnya.


"Mau ngapain kamu ke sini? mau cari ribut?" suara Gavin terdengar dingin dan ketus.


"Tentu saja tidak! boleh aku masuk dulu?" Denis tidak terpancing dengan aura perang yang ditujukan oleh Gavin, karena dia cukup maklum dengan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu.


"Katakan saja apa maumu? tapi kalau kamu mau menanyakan hal Jelita, maaf kamu sebaiknya pergi dari sini," aura dingin dan tatapan tajam sama sekali belum tertanggal dari manik mata Gavin.


"Vin, izinkan aku masuk dulu! ada hal penting yang ingin aku bicarakan, dan ini bukan tentang Jelita," Denis menatap Gavin dengan tatapan memelas


Melihat tatapan Denis, membuat Gavin seketika luluh. "Baiklah, kamu boleh masuk. Tapi ingat, jangan sesekali kamu berniat untuk meraih perhatian Jelita! kalau tidak, aku tidak akan segan-segan, menendang kamu keluar!" ujar Gavin, memberi peringatan.


"Sepertinya yang dikatakan Rey benar kalau Gavin benar-benar mencintai Jelita." Denis membatin sembari menghela napas dengan berat. Jujur, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau rasa cinta buat Jelita masih melekat di dalam hatinya.


"Ah, aku tidak boleh memikirkannya lagi. Tujuanku sekarang hanya bagaimana caranya bisa menemukan Bella," kembali Denis mengajak hatinya sendiri untuk berbicara.


"Kenapa kamu diam? apa kamu keberatan dengan apa yang aku katakan tadi? atau memang sebenarnya tujuan kamu ke sini hanya untuk bertemu dengan istriku? kalau iya, sebaiknya kamu pergi!" Gavin kembali hendak menutup pintu.


"Tidak, Vin! aku berani sumpah kalau aku ke sini bukan ingin bertemu Jelita. Izinkan aku masuk dulu!"


Gavin kembali menatap Denis dengan intens untuk melihat kejujuran pria itu. Setelah melihat kesungguhan sahabatnya itu, akhirnya Gavin memberikan jalan buat Denis untuk masuk.


"Siapa yang datang, Mas?" tiba-tiba Jelita keluar dari dapur. Wanita itu seketika tercengang begitu melihat siapa sosok pria di depannya. Demikian juga Denis, darah pria itu seketika berdesir melihat sosok wanita yang masih dicintainya itu.


"Sayang, kamu masuk!" titah Gavin.


"Tidak perlu, Vin! seperti yang aku katakan tadi aku datang ke sini bukan untuk mengambil Jelita darimu, karena aku tahu kalau dia hanya milikmu. Aku sudah bisa melihat kalau kamu sangat mencintainya, dan sebagai sahabat sudah seharusnya aku mendukungmu. Untuk masalah yang tadi malam aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu kalau dia itu istri kamu. Seandainya aku tahu dari awal, pastinya aku akan mengubur perasaanku dalam-dalam." tutur Denis panjang lebar, sembari tersenyum tipis.


Gavin dan Jelita saling silang pandang, dengan kening yang berkerut. Jelita yang awalnya ingin marah karena sudah dibohongi dengan perampokan palsu itu, seketika mengurungkan niatnya karena melihat raut wajah Denis yang seperti tertimpa masalah berat.


"Kak Denis, apa kamu ada masalah?" tanya Jelita to the point.


"Hmm sepertinya kamu sangat jeli. Ya, aku punya masalah dan aku benar-benar butuh bantuanmu Gavin. Aku tahu kalau kamu bisa menolongku," Denis menatap Gavin dengan tatapan yang memohon.

__ADS_1


"Kamu duduk dulu, dan ceritakan apa yang harus aku bantu!" raut wajah tegang Gavin sudah kembali seperti biasa, demikian juga dengan nada bicaranya.


"Terima kasih!"ucap Denis, tulus sembari mendaratkan tubuhnya duduk di sofa, disusul oleh Gavin dan Jelita.


"Vin, aku butuh bantuanmu untuk menemukan kemana Bella pergi. Karena __"


"Bella? kenapa dengan Bella? apa ada sesuatu yang terjadi?" Jelita menyela ucapan Denis.


"Iya, emangnya kenapa dengan Bella? apa dia keluar dari cafe kamu tanpa izin?" Gavin menimpali ucapan Jelita.


"Dia sudah pergi ke luar negeri, gara-gara perbuatanku," jawab Denis yang semakin membuat Gavin dan Jelita bingung.


"Tolong kamu bicara yang jelas! emangnya apa yang sudah kamu perbuat?" desak Gavin.


Denis menarik napasnya dalam-dalam, dan membuangnya kembali ke udara dengan helaan yang cukup panjang dan berat. Kemudian pria itupun mulai menceritakan apa yang sudah dia lakukan pada Bella tadi malam dan bagaimana dia baru saja mengetahui kalau Bella teryata wanita yang dijodohin dengannya. Semua diceritakannya dengan detail tanpa menambah atau mengurangi sama sekali.


"Apa! kenapa kakak tega melakukan hal itu?" pekik Jelita sembari berdiri dari duduknya. Tampak amarah terlihat di mata wanita itu.


"Kamu tahu nggak, Kak kalau dia itu sangat mencinta, Kakak." Sambung Jelita kembali dengan nada yang berapi-api.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya dia sekarang, dihancurkan oleh pria yang dia cintai," tanpa terasa cairan bening sebening kristal menetes membasahi pipi Jelita.


"Untuk itu aku datang ke sini. Selain untuk minta maaf, aku ingin. meminta tolong bantuanmu,Vin."


"Bantuan apa? apa kamu mau aku menikahinya?"


Plakk


Tangan Jelita Melayang memberikan pukulan di kepala Gavin.


"Ouch, sakit, Sayang! kenapa kamu memukulku?" Gavin meringis sembari mengelus-elus bekas pukulan Jelita.


"Makanya kalau bicara itu dipikirkan lebih dulu! masa mau menikahinya?" Jelita mengerucutkan bibirnya.


"Kan dia bicaranya nanggung, Sayang. Aku tidak tahu dia mau minta bantuan apa. Jangan cemberut gitu dong! lagian kalau dia minta begitu, aku juga bakal menolak, karena hatiku hanya untukmu," bujuk Gavin sembari mengecup pipi Jelita.


"Sial! aku dikadalin di sini. Apa mereka tidak lihat kalau ada aku di sini?" umpat Denis kesal.

__ADS_1


"Ehem, ehemm!" Denis berdeham untuk menyadarkan kedua insan di depannya, kalau dia masih ada di sana.


"Eh, iya. Jadi kamu mau minta tolong apa?" Gavin mulai kembali serius.


"Bella sekarang sudah pergi ke luar negeri, tapi aku tidak tahu kemana. Orang tuanya memintaku untuk berjuang mencari tahu sendiri. Aku mohon Vin, tolong kamu gunakan nama keluargamu sekarang untuk mencari tahu ke luar negeri mana dia pergi," mohon Denis dengan wajah memelas.


"Emm, baiklah!" pungkas Gavin. Kemudian pria itu, meraih handphonenya dan langsung menghubungi salah satu orang kepercayaan keluarganya. Tidak menunggu lama, Gavin terlihat terlibat obrolan serius dengan orang yang ada di ujung telepon.


"Siapa nama lengkapnya, Den?" tanya Gavin, menoleh ke arah Denis.


"Isabella Alicia Permana," jawab Denis dan Gavin langsung mengulangi menyebutkan nama lengkap Bella .


"Ok, Om. Aku tunggu kabar Om secepatnya ya!" Gavin memutuskan panggilan dan meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.


"Sudah,kamu tenang saja! sebentar lagi kita bakal tahu ke negara mana Bella pergi," ucap Gavin, yakin


10 menit kemudian, ponsel Gavin kembali berbunyi dan Gavin langsung menjawab panggilan itu. Gavin terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, serius mendengarkan penuturan sang pemanggil. Sementara itu, Denis terlihat sudah tidak sabar.


"Setelah diperiksa daftar manifest pesawat, Bella terbang ke Canada dan di sana dia akan bertemu dengan seorang pria yang menyayanginya dengan tulus," ucap Gavin dengan santai, tanpa beban.


"Apa?! tidak boleh jadi ini. Aku akan ke sana sekarang!" Denis berdiri dan berlalu dengan sedikit berlari. Tiba-tiba dia. kembali lagi dan memeluk Gavin.


"Terima kasih, Vin! aku pergi dulu," Denis melerai pelukannya dan hendak memeluk Jelita.


"Jangan peluk istriku!" Gavin menarik kerah kemeja Denis dari belakang.


"Ya, ya, Maaf!" ucap Denis sembari berlalu pergi.


"Mas, benaran Bella mau ketemu pria di sana?" tanya Jelita memastikan.


"Iya, Benar. Tapi itu sepupunya yang sudah memiliki istri dan menetap di sana. Sepupunya itu menyayanginya dengan tulus." Gavin terkekeh.


"Mas, kamu ya ... kamu ini sudah buat Denis salah paham dan panik." ujar Jelita geram


"Biarin aja! biar dia buru-buru ke sana, dan ngerasain takutnya ditinggalkan seseorang." sahut Gavin santai.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2